Ekonomi Periuk Nasi


Lama ga ngga ngeblog, karena lebih sering ngetwit. Sama ya? Hihi.

ngeblog itu sebetulnya bisa lebih mengasyikkan dalam merangkai logika dan menyusun struktur dalam berpikir.

“Halah, ngeblog kok njlimet banget to?”

Biar ringkas, sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui. Sekalian curhat, apa salahnya belajar mengemukakan pendapat lewat ngeblog dengan disertai argumentasi yang kuat.

Kalau ngetwit, pilihan kata lebih utama. Kudu ngirit kata untuk menyampaikan sebuah gagasan. Atau dua buah. Semuanya bermanfaat bagi kita dalam melatih komunikasi tertulis.

“Lantas kalau ada menteri komunikasi menyampaikan ralat, banyolan via twitter hingga berjilid-jilid, bagaimana?”

Boleh saja dan kita harus bersyukur sehingga kita diberi contoh komunikasi efektif itu seperti apa, yang blunder itu bagaimana, dan yang (maaf) kampungan juga bagaimana.

Hal yang menggelikan justru muncul dari pilihan kata pak tifatul ( http://twitter.com/tifsembiring ) yang entah karena kurang percaya diri atau jengah dengan followers-nya yang doyang ngeritik dengan menuliskan:

“Kalau tidak suka jangan baca”.

Bingung ga? Kalau saya super-duper bingung. Logika berpikir yang aneh.

1) Tidak suka dengan siapa? Atau apa? Tulisannya atau @tifsembiring nya? 2) Bagaimana tidak baca, lha wong timeline-nya sekonyong-konyong masuk kok. 3) Bukannya kalau sudah baca, baru bisa bilang tidak suka?

Bukannya yang lebih tepat itu seperti ini:

1) Yang tidak suka tulisan ini jangan comment.
2) Yang tidak suka saya unfollow saja.
3) Yang sudah terlanjur baca kalau garing ya sudah.
4) Kalau tidak suka saya ga perlu komentar.
5) Saya ga suka kamu. Kamu mau apa. Suka-suka gw mau nulis apa.

Mungkin nomer 5 ini yang harusnya dilontarkan Pak Menteri komunikasi yang merasa asyik ini.

Akhir kata, saya jadi ingat kata-kata mendiang Asmuni, yang cukup satu kata menyatakan kata pengakhir sekaligus berarti tak dapat ditolong lagi:

“Wassalam”.

Jakarta, 11:57:43 AM Sun, Feb 28, 2010

Iklan