Gayus, Wig dan Merapi


Adakah hubungannya antara tiga kata di atas? Saya tak tahu pasti. Namun yang jelas, ketiga kata tersebut sedang hangat-hangatnya diperbincangkan warga.

Gayus begitu menggoda. Ganteng sih nggak, tapi kalau dilihat dari jumlah duitnya yang masih belum jelas juga berapa jumlahnya, siapa yang tak penasaran. Gayus bikin ulah lagi. Semakin mempersulit posisi Ditjen Pajak. Apa kata dunia?

Ia jalan-jalan di saat masa tahanannya masih berlaku. di ranah twitter, ia dianggap sebagai “the nekat traveller”. Konyol sekaligus lucu. Keluar kandang tapi kok di tempat keramaian.
Entahlah apakah ini berhubungan dengan kehadiran Bakrie di pertandingan tenis di saat yang bersamaan.

Apalagi saat dia ketahuan menggunakan piranti mengelabui warga: Wig. Hihihi. Apa sih yang dpikirkan Gayus dengan sebuah wig. Seberapa hebatkah khasiatnya sehingga ia dengan percaya diri menikmati tenis (atau malah tidak menikmatinya?), dan berada di kerumunan massa.

Ulahnya yang membuat heboh ini tentu saja merepotkan. Bukan rahasia lagi bahwa masa tahanan memang masa yang penuh keragu-raguan. Dengan negosiasi dan angpau sejumlah tertentu orang boleh hilir mudik dengan lasan periksa kesehatan dan alasan lainnya. Tapi apa ya tidak terpikir bahwa Gayus adalah persona istimewa.

Gedung Pajak di manapun akan disebut sebagai gedungnya Gayus. Guyonan anak kecil gak lagi bicara harta karun untuk menunjukkan kepemilikkan uang yang cukup. “ih, Gayus lho..tumben dompet lo tebel, traktir dooong..”.

Wig bukan sesuatu yang menutupi wajah. Ia hanya penghilang ciri khas. Gayus dan orang-orangnya lupa, bahwa wajahnya sudah begitu melekat di hati warga. Ia fenomena. Anak pajak yang kaya raya. Hebat bukan?

Seketika itu juga kita lupa, bahwa masih saja ada warga yang berjuang demi masa depannya. Merapi masih menggelora. Masih mengeluarkan dahak dan sedikit batuk-batuk. Merapi kalah suara dari Mas berwig itu.

Bagaimana pun juga, inilah Indonesia. Penuh cerita romantika. Bahkan yang tak mungkin ada di negeri lainnya. Indonesia, tanah pusaka. Namun juga penuh cerita ria jenaka.

Iklan

Rekrutmen Bank Indonesia


Saat ini sedang diadakan ujian via online untuk posisi Pegawai Tata Usaha Bank Indonesia. Namun apa boleh buat, antara jumlah peserta dan kapasitas server sepertinya tak berbanding lurus, sehingga banyak keluhan susahnya melakukan login.

Perlu kiranya panitia rekrutmen memikirkan kembali proses ujian dengan cara online. Walaupun ringkas dan murah, namun pelaksanaan yang penuh gangguan, tidak membuat nyaman peserta.

Saya memang tidak ikut ambil bagian, hanya saja karena internal BI banyak juga yang turut serta, maka keluhan ini sampai juga ke telinga saya, hingga kalimat ini ditulis.

Sekian dan terima kasih.
🙂

Mencairkan Blog


Maksud saya mencairkan di sini mirip dengan istilah dalam kredit. Yap! Artinya lebih kepada menerima uang. Mencairkan kredit, menerima uang kredit. Deal!

Nah, selama ini sepertinya belum banyak blog yang berhasil mendapatkan keuntungan dari iklan seperti halnya situs berita. Entah apakah http://dailysocial.net/ sudah dapat melakukannya. Bahkan blog dengan sosok terkenal di jagat media sosial semacam http://ndorokakung.com/ lebih banyak meraup keuntungan finansial melalui postingan dengan konten tertentu mirip advertorial pada surat kabar.

Oh iya, dalam hal ini, adSense google tidak saya kategorikan sebagai pemasang iklan, karena berbeda dengan pemasangan iklan dalam artian memasang banner tanpa perlu memperhitungkan jumlah “klik”.

Apakah karena jumlah pengunjung yang sedikit? Tidak juga.

Coba sesekali Anda tengok blog seperti http://terselubung.blogspot.com/ .
Sehari, blog tersebut bisa dikunjungi 50 ribu kali. Admin blog tersebut pun sudah mempersilahkan pemasang iklan untuk bekerja sama dengannya. Namun, hingga saat ini belum ada banner iklan satu pun yang nyantol di sana.

Ada apa?

Entahlah. Target iklan tidak hanya bicara jumlah pengunjung rupanya. Namun juga “pengakuan dan segmen yang dituju”. Detik.com, kompas.com sudah jelas siapa pembacanya. Situs berita itu sudah layak dan terpercaya, walau dalam tanda kutip. Okelah, gak adil kalau dibandingkan dengan itu. Bagaimana dengan techcrunch? ( http://techcrunch.com/ ). Ah itu memang blog namun ia berada di Amerika. Gak adil juga dan susah dibandingkan karena situasi dan kondisinya yang beda.

Lantas siapa?
Dailysocial.net? Yang digawangi oleh @rampok? Saya pun belum begitu jelas apakah memang benar-benar blog yang mirip techcrunch ini sudah dapat meraup iklan, dibiayai oleh capital venture, atau bagaimana? Karena saya dengan Bung Rama Mamuaya, si @rampok sudah dapat konsentrasi mengelola blog-nya tersebut tanpa perlu bekerja di tempat lain. Kabar burung yang baik.

Lantas bagaimana dengan blog karismatik peraup komentar dan pujian, misalnya blogombal.org ( http://blogombal.org/ ) . Apakah juga telah dapat menarik perhatian pengiklan? Atau jangan-jangan malah si empunya tidak berkenan blognya dibebani iklan kedap-kedip gak keruan. Mungkin lebih memilih untuk menggunakan cara advertorial seperti ndorokakung (dahulu).

Saya bukan ahli dunia virtual dan segala tetek bengek bisnisnya, seperti yang ditasbihkan oleh Nukman luthfie, bahkan tidak dapat dikatakan sebagai pemerhati blog, karena saya pun jarang blogwalking apalagi kopi darat dengan para penggiat blog (blogger). Apalagi profesional dunia maya seperti Budi Putra (@budip) yang menggawangi Yahoo! Indonesia.

Cuma saya hanya merenung dan penasaran sampai sejauh apa para pemasang iklan mau menyambangi dunia blog sebagai media yang layak untuk meraih konsumennya.

Apakah blog di Indonesia hanya berkutat pada dunia paguyuban. Guyub dan mengguyubi, tanpa bisa menjadi sebuah lahan mata pencaharian?! Entahlah. Dunia nge-blog adalah dunia yang menarik. Seharusnya, setiap hal yang menarik, manis, akan didatangi semut. Namun hingga saat ini sepertinya blog masih mutar-muter di situ-situ saja.

Oh iya, dan sepertinya adsense ala google pun telah diikuti segera oleh sitti, http://sittibelajar.com/ yang menawarkan kerjasama antara blogger dan sitti untuk pemasangan iklan. Kita lihat saja bagaimana perkembangannya ke depan.

Baiklah. Itu cuma renungan. Bukan urun rembug dan sumbang saran apalagi pencerahan. Maklum, hanya penonton.

Wassalam.