Apa Kabar Century?


Catat! Ini adalah tulisan dengan pendapat pribadi. Penulis tidak dalam kapasitas Pegawai Bank Indonesia. 🙂

Apa kabar Century? Dengan segala daya dan upaya, judul besar kasus Century bukan lagi mengenai siapa yang patut dipersalahkan, namun akan lebih elok menjadi apa yang dapat dilakukan?

Salah satu jawabannya adalah Pengembalian asset (asset recovery). Lantas apa yang dapat dilakukan Pemerintah dan Manajemen Bank? Menelusuri aset di dalam negeri maupun di luar negeri? Bagaimana caranya? Ada yang tahu?

Sejatinya Pemerintah telah membentuk Tim Terpadu untuk melakukan penelusuran aset ini dan berupaya melakukan pengembalian aset. Salah satu caranya adalah dengan pelaksanaan Mutual Legal Assistance (MLA) yang dilakukan dan dipimpin oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Dalam pelaksanaan MLA ini, Tim Terpadu telah berkoordinasi dengan lebih dari 10 negara yang diduga merupakan tempat aset-aset PT Bank Century berada dan sebagaian juga merupakan aset milik pengurus dan pemilik PT Bank Century, Tbk yang lama (Robert Tantular Cs).

Salah satu negara yang menanggapi secara positif adalah Swiss.  Tapi perlu diingat bahwa MLA pada umumnya, dan khususnya versi Swiss berjalan dalam pondasi hukum pidana, terutama adanya dugaan delik Korupsi, dimana negara yang ditempatkan dananya dapat melakukan upaya pengembalian aset apabila secara sah dan meyakinkan dan dikuatkan oleh Putusan Pengadilan Negara setempat (Indonesia) para pemilik aset merupakan terpidana dan dimuat dalam amar putusan untuk pengembalian aset yang dimilikinya.

Lantas apakah Peradilan Pidana  dalam kasus PT Bank Century, Tbk telah usai? Kalau tidak salah, Pengadilan terkait dugaan Korupsi (Pengadilan in absentia) dengan terdakwa Hesham Al Waraq dan Rafat Ali Rizvi telah divonis, namun mengenai apa amar putusannya, belum diketahui secara pasti. Ada yang tahu? (Kalau tidak salah masing-masing divonis 15 tahun penjara)

Di lain pihak, Manajemen Bank Century, sekarang berganti nama menjadi Bank Mutiara, juga telah melakukan beberapa upaya pengembalian aset Bank Century, misalnya dengan mengajukan turut serta dalam sengketa security asset yang  penempatan dananya  sebesar USD 156juta di Dresdner Bank (saat ini berganti menjadi LGT Bank) dengan atas nama Telltop Holding. Putusan Pengadilan Tinggi Zurich, Swiss tanggal 29 Oktober 2010 yang pada pokoknya mengabulkan permohonan penitipan dari LGT Bank (d/h Dresdner Bank) atas dana security deposit  sebesar USD156juta atas nama Telltop Holdings, Ltd. 

Masih ada babak selanjutnya di mana manajemen Bank Mutiara akan bertarung dengan Tarquin limited untuk memperebutkan aset senilai USD 156juta. Tentu saja, ada hal lain yang dapat ditempuh, misalnya melalui akta perdamaian win-win solution. Atau setidaknya untuk menghemat waktu dengan proses arbitrase. Hal tersebut disesuaikan dengan rencana divestasi Pemerintah terhadap kepemilikannya di PT Bank Century, Tbk.  Tapi apa boleh buat. Berdamai justru akan merepotkan.

Kok repot?

Ya, karena di sisi lain Pemerintah gencar menindaklanjuti kesepakatan MLA dengan Pemerintah Swiss dalam forum G to G untuk mendapatkan aset PT Bank Century, Tbk, maka setiap gerak manajemen bank seyogyanya harus seiring sejalan dengan apa yang sedang diupayakan oleh Pemerintah walau berbeda ranah medan pertempuran. Manajemen Bank Mutiara punya kewenangan penuh untuk  sekuat tenaga berjuang  mendapatkan seluruh aset yang (diklaim) dimilikinya dan tidak membaginya sepeserpun kepada Tarquin Limited.

Tapi apa boleh bikin, posisi sementara ini angin sepertinya berhembus pada pihak Tarquin. Jika hingga tanggal 2 Maret 2011 Bank Mutiara tidak mengajukan gugatan kepada Tarquin Limited, otomatis aset sebesar USD 156juta akan diserahkan kepada Tarquin, mengingat bahwa Tarquin Limited hingga saat ini memilik hak gadai atas security asset tersebut. Namun jangan berkecil hati, dengan penggunaan Hukum Inggris apabila dapat dibuktikan bahwa ada itikad tidak baik antara Tarquin Limited dan Telltop terhadap asset itu (dugaan hubungan entitas bisnis di antara keduanya), maka aset dapat diberikan kepada Bank Mutiara.

Semoga..

Eh iya, apa ya yang sedang dilakukan anggota DPR?

Mungkin mereka sedang melobbi Kantor Akuntan Publik mana yang sanggup melakukan forensic audit PT Bank Century, Tbk semenjak periode 2000-an hingga sekarang. Semoga saja, ini melalui tender yang benar, walaupun sejatinya pelaksanaan audit ini mubazir dan mengada-ada mengingat telah dilakukan oleh BPK, Bank Indonesia dan ieternal bank.

Bagi saya ni sekadar tata cara penundaan yang dianggap sebagian anggota DPR elegan, walau tak perlu dan hanya menghambur-hamburkan uang negara.

Demikian.

🙂

Iklan

Arah Kebijakan Bank Indonesia 2011


diambil dari situs resmi BI.

Arah Kebijakan Bank Indonesia Tahun 2011

 
 
   
 

Malam ini, Jumat, 21 Januari 2011, Bank Indonesia telah menyelenggarakan Pertemuan Tahunan Perbankan 2011. Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Bank Indonesia Bp. Darmin Nasution menyampaikan Arah Kebijakan Bank Indonesia tahun 2011. 

Berikut ikhtisar kebijakan tersebut:

Kita telah melewati masa krisis global 2008/2009 dan boleh dikatakan ekonomi Indonesia selama 2010-2011 berada dalam tahapan transformasi dari pemulihan menuju pertumbuhan yang berkesinambungan melalui penguatan stabilitas.

Sebagai first line of defense, Bank Indonesia senantiasa mengedepankan pengelolaan kebijakan moneter dan perbankan secara berhati-hati (prudent) dan konsisten. Respon kebijakan Bank Indonesia yang telah ditempuh selama 2010 dalam rangka menjaga stabilitas makro dan sistem keuangan. Sebagaimana tema yang diusung pada kesempatan ini, dengan memperkuat stabilitas diharapkan akan menopang proses transformasi ekonomi Indonesia paska krisis global menjadi ekonomi yang tumbuh berkelanjutan (sustainable).

Kebijakan Bank Indonesia selama tahun 2011 akan berbentuk penguatan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial sebagaimana yang telah ditempuh selama tahun 2010. Penguatan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan seluruh instrumen yang tersedia untuk kemudian dikalibrasi secara optimal. Instrumen-instrumen dimaksud meliputi:

  1. Kebijakan suku bunga (BI rate) diarahkan agar tetap konsisten terhadap pencapaian sasaran inflasi yang telah ditetapkan, yaitu 5%±1% dan 4,5%±1% pada tahun 2011 dan 2012, dengan mewaspadai risiko tekanan inflasi yang akan meningkat ke depan.
  2. Kebijakan nilai tukar diarahkan untuk membantu pencapaian sasaran inflasi, dengan tetap konsisten pada pencapaian sasaran makroekonomi lain, serta memberikan kepastian bagi dunia usaha. Solusi possible trinity akan berbentuk konfigurasi optimal dari stabilisasi nilai tukar, pengendalian arus modal, dan respon suku bunga. Dengan kata lain, mempertimbangkan berbagai kompleksitas yang dihadapi, Bank Indonesia mensiasati kerangka impossible trinity melalui pemilihan middle ground solution, bukan corner solution.
  3. Operasi moneter dan kebijakan makroprudensial untuk pengelolaan likuiditas domestik diarahkan agar konsisten dan mendukung kebijakan suku bunga dalam pencapaian sasaran inflasi dan pengendalian permintaan domestik.
  4. Kebijakan makroprudensial lalu lintas modal diarahkan untuk mendukung kebijakan nilai tukar, dengan tidak menimbulkan dampak terhadap likuiditas domestik secara berlebihan. Dua dari paket kebijakan yang diterbitkan pada Desember 2010 lalu yaitu kenaikkan giro wajib minimum (GWM) valas dan penerapan kembali batas posisi saldo harian pinjaman luar negeri (PLN) bank jangka pendek, merupakan instrumen makroprudensial yang juga terkait dengan pengelolaan arus modal. Di tengah derasnya modal masuk, kenaikan GWM valas akan memperkuat managemen likuiditas perbankan. Sementara itu, pembatasan posisi saldo harian pinjaman luar negeri bank jangka pendek, akan memperkuat prinsip kehati-hatian dalam mengelola pinjaman luar negeri bank jangka pendek.

Perumusan dan implementasi bauran kebijakan tersebut sangat penting mempertimbangkan keterkaitan stabilitas moneter dan stabilitas keuangan. Bank Indonesia juga akan terus melakukan kalibrasi agar bauran kebijakan yang diambil tetap memberikan hasil optimal antara stabilitas moneter, stabilitas sistem keuangan, dan kesinambungan pertumbuhan ekonomi.

ARAH KEBIJAKAN BANK INDONESIA

Meningkatnya kegiatan ekonomi tahun 2010 ditopang oleh ketahanan dan kinerja sektor perbankan yang positif, tercermin dari terjaganya stabilitas. Financial Stability Index yang mencapai sebesar 1,75 atau jauh lebih rendah dibandingkan pada saat krisis 2007/2008 sebesar 2,43. Fungsi intermediasi juga meningkat meski masih ada peluang untuk lebih tumbuh, risiko kredit masih terjaga (NPL dibawah 5%), permodalan yang memadai (CAR mencapai 16%).

Sebagaimana diketahui Bank Indonesia telah mengeluarkan Paket Kebijakan Desember 2010 dengan sasaran utamanya adalah untuk memperkokoh stabilitas makroekonomi dan meningkatkan intermediasi dan ketahanan perbankan, yaitu:

  1. Kebijakan untuk meningkatkan intermediasi perbankan yang dilakukan guna menjamin ketersediaan pasokan melalui pendalaman pasar, mendorong biaya pinjaman yang lebih efisien, melonggarkan bobot risiko untuk kredit ritel dan KMK serta upaya mengurangi asymmetric information dengan penyediaan data informasi kredit yang lebih akurat dan lengkap. Untuk lebih mendorong keluasan jangkauan dan kedalaman intermediasi, dilakukan upaya-upaya besar melalui program perluasan akses kepada lembaga keuangan (financial inclusion) dan program BPD Regional Champion.
  2. Kebijakan untuk meningkatkan ketahanan bank yang dimaksudkan untuk lebih mendukung pertumbuhan bank, daya saing dan kemampuan dalam menyerap risiko. Untuk mencapainya akan dilakukan penguatan melalui penyempurnaan aturan terkait dengan fit and proper test, peningkatan fungsi kepatuhan bank umum, aktiva tertimbang menurut risiko, dan manajemen risiko terkait kerjasama bisnis Bancassurance.
  3. Kebijakan untuk penguatan kelembagaan, daya saing dan ketahanan bank perkreditan rakyat dan bank syariah yang ditujukan untuk membangun kesetaraan playing field dengan bank konvensional. Upaya ini akan didukung penyempurnaan aturan yang terkait penilaian kualitas aktiva produktif, restrukturisasi pembiayaan bank dan unit syariah, batas maksimum pembiayaan dana BPR syariah, dan perubahan perizinan bank umum menjadi bank syariah.
  4. Kebijakan untuk meningkatkan efektivitas fungsi pengawasan bank yang ditujukan untuk meningkatkan fungsi detektif early warning system dan penerapan macroprudential supervision. Untuk mencapainya dilakukan penyempurnaan aturan-aturan terkait dengan sistem pengawasan bank berdasarkan risiko, penetapan status dan tindak lanjut pengawasan bank (exit policy) dan penilaian tingkat kesehatan bank berdasarkan risiko.

Arah kebijakan ke depan difokuskan pada upaya untuk mentransformasikan kondisi perekonomian dan perbankan paska krisis saat ini, menuju pertumbuhan yang berkesinambungan, melalui:

  1. Pemanfaatan pasokan devisa yang berkesinambungan untuk menutupi kebutuhan impor dan kebutuhan pembiayaan, disamping dapat digunakan untuk memperdalam pasar keuangan serta menopang stabilitas makro, utamanya nilai tukar.
  2. Peningkatan permodalan dan kelembagaan serta daya saing perbankan nasional dengan mempercepat proses konsolidasi untuk menyongsong penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN.
  3. Mendorong pertumbuhan yang produktif dan meningkatkan efisiensi dengan mendorong NIM perbankan ke arah yang lebih rendah, efisien, dan kondusif bagi dunia usaha, termasuk sektor UMKM.
  4. Partisipatif dalam meningkatkan akses dan keterhubungan masyarakat dengan jasa keuangan maupun lembaga perbankan.
  5. Pengembangan Sistem Pembayaran yang diupayakan agar lebih efisien, handal, mudah, dan aman dilakukan dengan menitikberatkan pada pembangunan infrastruktur, pengembangan sistem, dan penguatan aturan hukum. Upaya pengembangan di bidang Sistem Pembayaran tersebut juga terkait dalam rangka mendorong financial inclusion.
  6. Arah implementasi Arsitektur Perbankan Indonesia (API) dilakukan dengan mendudukkan berbagai jenis bank pada posisi yang tepat, sesuai dengan alasan keberadaannya masing-masing agar satu sama lain dapat saling bersinergi dan mempertimbangkan roadmap API berdasarkan best practice perbankan.
  7. Mempertimbangkan potensi demografis Indonesia dan relatif masih rendahnya akses keuangan masyarakat, Bank Indonesia bersama pemerintah sedang merumuskan strategi nasional keuangan inklusif.
  8. Penguatan tata kelola untuk mencegah pengambilan risiko secara berlebihan bagi eksekutif yang berpotensi memunculkan moral hazard.

 

Patembayan


Beberapa waktu lalu, saya coba mengamati data statistik pengunjung. Salah satu yang mengherankan saya adalah bahwa posting tentang “Patembayan” dan “Paguyuban” sangat banyak. Adapun yang saya maksud ini postingan ini: https://kopidangdut.org/2007/09/26/320/

Lantas saya jadi berpikir, jika Anda mengetik kata “patembayan” di search engine seperti google dan bing, maka yang pertama kali muncul dan di daftar paling atas adalah blog ini, maka kajian mengenai paguyuban maupun patembayan sangat sedikit.

Atau jangan-jangan Anda pun tak tahu artinya? 🙂

Paguyuban itu sejatinya ya memang seperti banyak perkumpulan di belahan Nusantara. Nuansa kekeluargaan tanpa melibatkan urusan materi. 

Sedangkan Patembayan merupakan kegiatan, aktivitas dari kelompok masyarakat dengan motif dan mengikutsertakan materi.

Contohnya Apa? 

Paguyuban: Kelompok Pengajian, Kelompok Sepakbola di Kampung, Karang Taruna, Kelompok Pecinta Alam.

Patembayan: Perusahaan, Perkumpulan MLM, Asosiasi Pedagang Ketoprak Wilayah Tebet.

Jadi? Sudah Pahamkan?

Kalau tak ada aral merintang, saya akan kupas deh perihal paguyuban dan patembayan ini dengan lebih mendalam. Kenapa? Karena ini begitu khas Indonesia.

🙂

Terima kasih.

credit: http://www.flickr.com/photos/adamjackson/4198765687/sizes/s/in/photostream/

Jika Kamu Belum Korupsi, Maka Kamu Merugi


Jika kamu saat ini ambil kredit rumah dengan jangka waktu 15 tahun, maka saat gayus keluar dari penjara nanti, ia bebas, kaya raya dan kamu masih juga nyicil utang. Merugi?

Tentu tidak! Sangat tidak!

Memang apa sih yang dicari dari itu semua? kekayaan, kemakmuran? lantas untuk apa? Bisa gaya, semangat ke tempat reuni? bisa berlagak di keluarga besar, hidup nyaman? berkualitas, gaya hidup mewah? sampai kapan? Untuk cucu hingga keturunan ke-1000?

Ah sudahlah.

Adil dan pengadila memang layaknya saudara sepupu, mereka dekat tapi tak pernah tegur sapa. Apalagi berpelukan. Nehi-nehi dendi. tak usah ye. Kasihan.

Negeri kita terlalu lama menunggu yang memang seperti tak perlu ditunggu. Jemput paksa. Godot, Ratu adil, dan sekarang: “rasa keadilan”.

Payah ah. Negeri kita terlalu payah hanya sekadar mengurusi penyakit korupsi ini. Apakah ini kutukan? Atau jangan-jangan memang penyakit bawaan.

Gayus sementara ini divonis 7 tahun penjara. Sedangkan jika tak ada aral melintang beberapa kasus dengan pengenaan pasal berlapis masih menunggu dirinya: paspor palsu, pengenaan pasal-pasal penggelapan pajak dan atau pasal lainnya terkait penanganan pada 152 perusahaan, termasuk chevron, freeport, xl, mcDermott, wika dan lainnya.

Tapi tak apa lah. Kalau Gayus memang dikenakan beberapa pasal termasuk korupsi ini, amaka terbukti bahwasanya era reformasi hanya lanjutan dari era-era sebelumnya. Era korupsi takkan mati.

Oh yeaaah!

Perintah Atasan


Sejauh mana perintah atasan harus ditaati?

Pasti teman-teman yang sudah bekerja memahami maksud pertanyaan di atas. Bahkan di tempat saya bekerja, di mana setiap urusan harus tertulis pun, kegamangan terhadap “perintah atasan” selalu ada. Ya. Beruntunglah saya dengan suasana kerja yang setiap kegiatannya selalu tertulis. Semua disposisi harus ditulis dalam secarik lembar disposisi. Namun nyatanya sebagai kaum jelata, selalu saja ada kebimbangan saat mengintepretasikan perintah tersebut.

Eh tunggu dulu, sebelum mengintepretasikan, apakah sih perintah itu?

“Tolong buatkan risalah pertemuan tadi..”
“Mas, bisa ambilkan buku agenda saya di ruang rapat tadi..”
“Sudah lah, temuan tadi di-drop saja, mereka teman baik kita kok. Saya jamin..”
“Coba buka baju kamu..”. 🙂

Dari 4 perintah tadi, atau mungkin lebih tepat sebagai “permintaan”, mana yang paling cocok di sebut perintah dalam lingkungan kerja?

Ya. Sepakat: Nomer 1.

Untuk kalimat Nomer 2, itu lebih tepat sebagai minta bantuan. Memang bukan tugas utama kita. Tapi toh, bukan berarti harga diri kita tiba-tiba jatuh hanya karena dimintakan tolong atasan mengambilkan buku agendanya yang tertinggal di ruang rapat.

Kalau Nomer 3?

Itu memang perintah atasan, namun semu. Bisa jadi itu karena tidak sesuai dengan apa yang menjadi prinsip utama dalam bekerja seorang Profesional: Integritas dan Kompetensi. Gampangnya mah Jujur dan Mampu.

Jika perintah Nomer 3 di atas disampaikan atasan kepada anak buahnya apa yang dapat diperbuat oleh anak buah?

Saya tak pernah bekerja di instansi militer yang konon katanya ada “garis komando” yang tegas dan keras, bahwa perintah atasan adalah mutlak. Entahlah apakah itu benar adanya atau hanya isapan jempol belaka.

Namun bagi teman-teman dan saya yang bekerja di sebuah lembaga, baik negeri maupun swasta, ada kalanya perintah atasan penuh dengan kepentingan. Bisa saja kita tutup mata, dan ABS (Asal Bapak Senang) dengan menjadi tukang sebut “Yes Sir..!” tanpa ragu tanpa malu, tapi apa itu ya benar dan patut?

1. Kesadaran diri.

Kelemahan dari para pegawai/ anak buah adalah tidak mengetahui secara pasti dan sadar apa yang menjadi kewajiban dan haknya. Dalam bahasa PNS: Tupoksi, Tugas Pokok dan fungsi. Bukan masalah hak kewajiban gaji dan tunjangan lho ya… 🙂

Dengan tidak taunya mereka, maka pegangan satu-satunya yang niscaya akan selalu menjadi acuan adalah “atasan”. Ini berbahaya.

Juga tidak tahunya mereka pada aturan main dalam bisnis proses. Siapa yang bertanggung jawab, apa risikonya, dan apa manfaatnya?

Pegawai Akun Ofiser (AO- Account officer) pada sebuah bank, sejatinya bertanggung jawab pada SOP adanya pemberian kredit dan bukan kepada Kepala Cabang. Bila ada kredit komando atau titipan, bila secara profesional tidak layak, untuk apa juga dipaksakan untuk diproses hingga pencairan? itu namanya kebodohan. Apalagi sampai memalsukan data, mereka-reka jaminan, memalsukan tanda tangan.

Bertanggung jawablah pada jabatan.

2. Kompetensi

“Tidak semua orang baik, cakap dalam bekerja”

Jangan salah. Kamu bisa jadi karyawan terbaik. Namun kamu juga bisa jadi karyawan yang baik. Beda bukan? Karyawan yang terbaik idelanya dia paham akan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Target tercapai, hubungan dengan rekan kerja baik, dengan customer juga oke, dengan boss pun harmonis. Apalagi ia menguasai pekerjaannya.

Apabila kita tidak terlalu paham dengan apa yang dikerjakan, tanya lah teman, rekan, atau senior bahkan atasan yang sekiranya cukup paham tentang permasalahan. Kebodohan dan ketidaktahuan pun dapat mencelakakan.

Bukankah Kanjeng Nabi pun pernah berpesan:

“Tunggulah kehancuran jika suatu urusan tidak dijalankan oleh orang yang mampu?” Kurang lebihnya begitu lah..

maka, baik saja tidak cukup. Senyam-senyum tidak cukup. Patuh saja pun tidak cukup. Anda harus mengetahui apa yang anda kerjakan, perlu apa saja untuk mengerjakan sesuatu tersebut, dan pastikan target waktunya.

Skill, pengalaman, dan pengetahuan harus terus dikembangkan. Orang jawa bilang : LUMINTU. Sustainable, Berkelanjutan. Bahasa Orba: Berkesinambungan.

Jangan pernah merasa jaman SMA jadi murid teladan lalu di kantor Anda akan selalu jadi nomor satu. Jangan merasa pernah jadi Ketua BEM Anda layak selamanya jadi pemimpin. Asah terus. Jangan bosan. Kalau bosan, boleh ganti istri. eh, maap ya ‘A.

3. Berani

Ini yang paling susah.

Kita lama dijajah. Gen sepertinya lebih banyak unsur takut dibandingkan keberanian. Sama atasan hanya bisa bilang. “Baik”…

“Siap…”

“Oke  pak”

Padahal, ada kalanya juga kita perlu pertanyakan kembali. Perlu di-challenge. perlu didiskusikan terlebih dahulu.

Parah apabila tahu bahwa petunjuk, arahan, atau perintah atasan adalah salah, namun kita tetap melakukannya. andaikan pun posisi kita terjepit, sana salah sini salah, dan takut di PHK, berlindunglah kepada Tuhan YME dengan modal kepandaian yang tersisa.

Misal: Diminta membuat sesuatu yang sifatnya kesalahan fatal. Buatlah dahulu dokumen dengan sebaik-baiknya. Atasan akan mengkoreksi sesuai selera. Nah, soft copy konsep simpan baik-baik, juga hard copy dokumen yang menunjukkan coretan atasan untuk memperbaiki sesuai seleranya. Maka itu akan menjadi pegangan anda jika dikemudian hari hal ini dipermasalahkan banyak pihak.

4. Fair

Tidak adil juga kita sebagai anak buah untuk menjelek-jelekkan atasan kita sendiri. Pastikan kita hormati mereka. Jangan pernah menjebak atasan, apalagi melakukan kecurangan pada atasan. Kecuali..

nah..kecualinya, silahkan Anda isi sendiri.

🙂

Jakarta- Pojok Monas,

18 Januari 2010.

Tidak Dilarang Lagi


Cihuy, ternyata blog ini bisa dibaca lagi lewat komputer kantor. Sebelumnya blog ini susah diakses. Digolongkan sama dengan situs porno kali ya. Eh, ini beneran.

Awalnya sih aku kira cuma sementara waktu karena ada penyesuaian cara filtrasi situs di kantor. Ternyata malah keterusan, blog ini bisa aku lihat kalau melalui gadget atau di rumah. Ya bagaimana lagi,  akses via jaringan internet kantor ga bisa je’.

Ya syukurlah..

Makasih Mas-mas di bagian IT Hihihi. 🙂

#sebelumnya kalau ketik kopidangdut.org ada tulisan “restricted”. Padahal gak mengandung malware, apalagi tupperware. adanya cuma oxone kali ya. (sekalian promosi)   🙂

Lowongan Bank Indonesia Untuk Jabatan Pengelola Portofolio Muda


Agak telat sih, tapi kayaknya masih bisa dicoba. 🙂

====

Bank Indonesia mengundang Putra/Putri terbaik lulusan Perguruan Tinggi dalam maupun luar negeri untuk berkarir dan menjadi bagian dari tim kerja yang professional.

Jika Anda seseorang yang memiliki semangat kuat untuk berkembang, dinamis, serta mampu bekerja pada lingkungan yang kompetitif, menyukai tantangan dan berjiwa inovatif, kami mengundang Anda untuk bergabung sebagai:

PENGELOLA PORTOFOLIO MUDA

Persyaratan:

  • Warga Negara Indonesia, dengan usia maksimal 28 tahun (per tanggal 8 Januari 2011)
  • Pendidikan S1 dan/atau S2 dari jurusan: Ekonomi (Manajemen Keuangan/Bisnis, Accounting, Studi Pembangunan); Hukum; Matematika
  • IPK minimal 3.00 dari skala 4.00
  • TOEFL minimal 500 (Institusional) atau IBT score minimal 61
  • Memiliki pengalaman kerja minimal 1 (satu) tahun di bidang pengelolaan portofolio, treasury, forex trading, pasar modal/sekuritas
  • Bersedia mulai bekerja dalam waktu dekat

Untuk informasi lebih lengkap dan cara melamar, silahkan kunjungi:

http://jobs.experd.com/portfoliomanager

Hanya kandidat terpilih yang akan diundang dalam proses seleksi lebih lanjut

Adapun untuk informasi mengenai fasilitas call center yang disediakan sbb:

Telepon :
021- 96603787
021- 96608663
021- 96578377

Email: jobs@experd.com

Menulis? Siapa Takut


Lambat laun blog ini ketahuan coraknya untuk lebih banyak mengemukakan ide-gagasan- serta informasi terkait dunia kerja bagi pekerja pemula. Oleh karenanya, bila kamu punya sesuatu yang pantas ditulis dan perlu terkait informasi dan tips seputar dunia kerja, kirim dong ke sini, atau tulis di blog kamu sendiri terus kasih link-nya ya..

Imbalannya ya amal aja deh. Namanya juga berbagi. 🙂

Temanya?

Ya misalnya soal bagaimana menghadapi bos yang galak. Bagaimana menyususn CV yang baik. Atau Bagaimana cara bernegosiasi gaji di Perusahaan Swasta. Atau apalah gitu, yang sekiranya bisa menjadi masukan bagi teman-teman yang lain.

Terima kasih lho sebelumnya.

Muaccchhhh…

Di Awal Tahun Bikin Polling Ah…


 Mosok cuma SBY dan para punggawanya yang bisa bikin survey..

Isi ya.. Hihihi.