Project Harta Bangsa


Berapa sih jumlah harta negeri ini yg dibawa kabur ke luar negeri? iya, misalnya harta hasil korupsi, merampok, penggelapan pajak, pidana lain dan kejahatan lainnya. Coba deh kita bayangin berapa duit itu harta keluar saat koruptor pun kabur ke Luar Negeri?

Atau bisa jadi koruptornya ada di sini, tapi hartanya? ilang entah ke mana?

Bagaimana kalau diskusi tentang semua hal itu. Kita bisa sama-sama diskusi tentang Stolen Asset Recovery initiative yang digagas World Bank, atau kerjaannya UNCAC: The UN convention against corruption, dan jangan kuatir, aku juga belum tahu itu semua, dan kita sama-sama belajar.  Juga mengenai proses penyitaan aset di luar negeri itu bagaimana/ toh kayaknya sampe negeri ini ada dan berdiri, para koruptor satu dua orang  sih masih berkeliaran dan ngumpetin duitnya di Luar Negeri. Gimana?   Tertarik dan Menantang bukan?

Kalo tertarik, komentar di sini aja ntar aku invite sesuai alamat email kamu untuk diskusi lebih lanjut dan semoga menghasilkan sesuatu.

Aku uda bikin sih blog untuk project ini. silakan tengok ke http://hartabangsa.wordpress.com/

Apalagi kalau kamu kerja di PPATK, Kementerian Hukum dan HAM, Deplu, yang punya pengetahuan tentang ini, bisa berkenan untuk berbagi ilmunya.

Sip lah. Makasih ya.

Iklan

Beda Pendapat? Mari Kita Diskusikan


Bila mengemis itu diharamkan, apakah mengemis jabatan juga bagian dari yang haram itu?

Bila hal terbaik adalah sikap ramah dan senyuman, lantas mengapa terkadang kita respek pada “lawan” atau “musuh” dibandingkan kepada teman kita secara diam-diam? Karena dia lebih jujur dan bersikap ksatria?

Banyak hal yang dapat dipertanyakan, dan lebih banyak lagi yang perlu diperdebatkan. Banyak fakta yang hambar dan banyak prinsip yang diabaikan. Lalu kita sibuk mengulang ingatan, menyusun alasan dan pada akhirnya mengejar kepentingan.

Pernahkah Anda diam sejenak. Mewaktu dan membatu. Tak berproses, tak hidup barang sebentar namun juga tak mati. Bukan malas pun bukan giat. Tak melamun dan tak berpikir. Tak eling juga tak edan. Sekadar melepas kemanusiaan Anda.

Tak berperan sebagai angka Nomor Induk Pegawai, tidak berdiri sebagai suami, tidak berakting sebagai Guru. Tidak memikirkan obsesi, cita-cita, masa lalu, dan keinginan jangka pendek yang membelenggu. Biar kejujuran apa adanya, tanpa bungkus, gincu dan manipulasi semu yang meniadakan esensi kedirian kita.

Jabatan itu palsu, popularitas itu semu.

Beda Pendapat? Mari kita Diskusikan..

🙂