Fraudonomics dot com


Selamat pagi.

Blog ini adalah merupakan pecahan dari blog kopidangdut yang terkenal itu. Saya hanya coba untuk memisahkan diri dari berbagai topik yang berkelindan di blog kopidangdut untuk secara spesifik memberikan kesempatan topik mengenai kecurangan – fraud diulas secara teliti, hati-hati dan (semoga) mendalam.

Siapa Pembaca Blog Ini 

Saya berharap pembaca merupakan bagian dari pelaku dunia finansial, terutama para petugas yang mengendalikan sistem, mengatur dan menjalankan fungsi pengawasan pada lembaga keuangan baik bank maupun non bank. Lebih spesifik lagi pengambil kebijakan dan auditor yang memiliki rutinitas untuk mengelola dan mengawasi jalannya operasional lembaga keuangan.

Bagi pembaca umum tentu saja boleh menikmati juga blog ini. Hanya saja, mungkin banyaknya istilah yang tidak populer akan sedikit menyulitkan dalam mencerna berbagai topik yang akan saya bahas. Harap maklum.

Apa Topik Diskusinya? Lanjutkan membaca “Fraudonomics dot com”

Iklan

Hiduplah dengan Seimbang


ini pelajaran berharga yang saya dapat saat saya melakukan pemeriksaan di bank.
banyak kejadian fraud, seringkali disebabkan sifat tamak, kurangnya kompetensi dan terutama integritas yang lemah.

hiduplah seimbang.
tidak ngoyo, tapi juga tidak sekadar nrimo.
🙂

Sent from my iPad

Musim Bomb (Lagi)


berita terkini dari negeri norwegia membuat saya terhenyak. Apakah musim Bom lagi?

bbc news menyampaikan:

“Norwegian police confirm that a bomb caused the explosion outside the prime minister’s office – and there are deaths and injuries.”

sebelumnya:

“An explosion hits buildings near the Norwegian prime minister’s office in Oslo, causing major damage and an unknown number of casualties.”

For more details: http://www.bbcnews.com

Sent from my iPad

20110722-235908.jpg

update:
diduga pelaku adalah seorang lelaki berusia 32th penganut kristen dan mason ekstrim. 🙂

https://twitter.com/#!/AndersBBreivik/status/92651821369266176

Apa Yang Rahasia Sesungguhnya?


Pada saat pemeriksaan ke bank, biasanya untu mempercepat alur dokumentasi, saya berkomunikasi dengan bank melalui email. Terbukti selama ini media surat elektronik efektif dalam berkirim dokumen. Tentu saja bagi bank harus mengubah formatnya dahulu menjadi soft copy dengan cara dipindai (scan).

Hal yang menarik adalah terkadang saat saya meminta data berupa rekening nasabah atau data lainnya terkait penjurnalan di pembukuan bank, tanpa ragu karyawan bank mengirimkan kepada saya melalui email kantor bank ke alamat email kantor saya. tanpa enkripsi, tanpa dilindungi password.

Sedangkan saat saya minta data, misalnya daftar gaji pejabat eksekutif atau pegawai setingkat officer ataupun clerk, terkadang orang bank malah melindungi emailnya yang dikirim itu dengan pengaturan password dan malah terkadang dengan sistem perlindungan read only, tanpa bisa dicetak, diforward dan disave.

Mana sih yang lebih rahasia?
rekening nasabah atau gaji pegawai?

Bagi saya, data nasabah justru yang lebih perlu dilindungi, bahkan Undang undang Perbankan mengatur bahwa kerahasiaan bank yang utama adalah terkait data rekening nasabah. Gaji pegawai? ia rahasia juga, bagi karyawan internal saja.

Tak dapat disalahkan juga, toh bagi sebagian dari kita, soal penggajian masih dianggap sesuatu yang sensitif.

🙂

Sent from my iPad

3 Type Pemimpin


Tipe pemimpin.

Berdasarkan pengalaman saya, tipe pemimpin itu cuma ada 3.

  1. Pemimpin masa depan. Biasanya ini pemimpin yang muda, enerjik, punya bakat manajemen, dipercaya, pandai dan jujur.
  2. Pemimpin masa lalu. Biasanya tipe pemimpin masa lalu itu Karismatik, berwibawa, tegas dan berani.
  3. Dan terakhir tipe pemimpin masa gitu.  “Masa gitu kok jadi pemimpin?”

Terjebak dalam dunia digital?


google+ telah diluncurkan. Anda bisa melihat perkembangannya di http://plus.google.com/

Ada yang bilang ini akan mengalahkan facebook. Juga akan lebih menarik dari twitter. Apa iya?

Secara pribadi saya mengikuti segala perkembangan dunia digital, dan saya terhanyut. Mirip manusia analog yang ingin tak tergerus roda zaman untuk mengikuti arah teknologi. Apa iya?

akun twitter saya banyak. akun facebook saya juga banyak. Akun twitter saya followernya ada yang mencapai 3200-an. Itu tentu saja memakai nama samaran. Namun saat ini sepertinya saya sedang kehilangan minat untuk apdet tweet.

Apalagi facebook. Akun itu lebih banyak saya gunakan untuk pekerjaan. Iya pekerjaan saya sebagai investigator di Bank Indonesia. Saya gunakan nama, foto dan alamat palsu untuk mengikuti beberapa profil dalam facebook yang pada waktunya perlu saya ikuti.

Sewaktu saya menjalani pemeriksaan Bank Century, saya mengikuti seluruh kerabat yang diduga adalah sanak family dari Robert Tantular. Saat saya menjalani pelaksanaan investigasi pada bank lainnya, saya pun biasanya melakukan hal serupa.

Dengan bnatuan teknologi seperti bbm, google, twitter, blog, hingga gadget dengan kemampuan luar biasa bahkan berlebih membuat pekerjaan menjadi lebih mudah. Apa iya?

Terkadang malah kita terlena dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk meraih eksistensi di dunia maya.

Cukup.

Saya pikir saya sudah mencapai titik jenuh untuk melakukan pencarian pengakuan di dunia maya. Sebutuhnya saja. Jika memang sedang ingin, ya saya pakai, jika tidak, dunia lebih menarik tanpa kehadiran digitalisasi rupanya.

daun-daun yang jatuh berguguran, bahkan asap knalpot pun menarik bagi saya. Jauh lebih menarik dari sekedar mention, tag, Retweet, reply, follow, unfollow, stalking dan segala LOL-LOL yang bertebaran di linimasa.

Apakah anda termasuk orang yang (pernah) terjebak dalam dunia digital?

 

Sederhana


Apa yang menarik dari sebuah kesederhanaan? Sikap rendah hati. Biasa-biasa saja, tidak mau untuk menonjolkan diri? Saya tidak tahu persis. Namun pada akhirnya kesederhanaan yang membuat saya mengganti theme blog ini dengan tampilan yang sederhana dan pastinya ringan.

Hidup sudah susah dan berat. Termasuk pemakaian bandwidth akses internet kita. Sengaja gunakan theme ini untuk menghemat. Blog ini bisa dibuka dengan ringan lewat henpon, warnet dan koneksi jaringan internet dial up sekalipun.

Pada akhirnya konten akan lebih berharga daripada penampilan. Ini juga menjadi salah satu alasannya.

Terima kasih.

Segera Hapus akun Twitter Anda!


ini serius. Dijamin kehidupan anda akan normal lagi. Tidur teratur, keluarga mendapat perhatian lagi, dan terutama menjaga kesehatan jiwa dan raga.

Dahulu facebook bikin masalah, lantas group BBM, lantas twitter.

Saya punya akun twitter lebih dari lima soalnya.

Semua saya lepas semua. Enggak diutak-atik lagi hingga detik ini. Hidup serasa di surga.

🙂

Berani Kopidangdut


Jadilah pemberani.

Berani tidak ada batasnya seperti kejujuran. Karena jalan lurus takkan berujung. Berani dan jujur butuh energi sangat tinggi.

Jadilah penjilat.

Jadi penjilat itu enak, membual sedikit, rendahkan diri dan buat senang orang lain, maka kamu layak mendapat apa yang kamu inginkan. Mirip kamu ngambil jalan pintas saat berkendara. Saat selamat kamu merasa benar, padahal kamu melanggar peraturan dan menyebabkan banyak pengendara lain kerepotan. JIka kamu mau jadi penjilat silakan. Toh kesuksesan, kegagalan, semua ada di pundak kamu. Tuhan akan membiarkan. Kecuali kamu disyanag, belum apa-apa sudah ditegur dengan berbagai cobaan.

Jadilah orang jujur.

Honesty is the best solution.

Jika kamu sudah mentok, maka ambil jalan kejujuran saja. Dimarahi ya enggak papa. itu memang risiko yang akhirnya ditanggung. Tapi hati kamu tetap semulia intan. Kamu akan selamat secara batin. Kamu orang merdeka sesuai dengan cita-cita Bapak Bangsa.

Jangan malu dengan kenyataan. Jadilah manusia apa adanya. Jika kamu bercita-cita jadi dewa ya silakan. Bicara yang mengawang-awang. Bicara mengenai hal-hal mulia tanpa kerja nyata.

Berani. Berani dan berani.

Hidup sekali, lalu mati.

Jadi suami harus berani. Jadi lelaki harus berani. Jadi karyawan harus berani. Jadi buruh harus berani. Jadi bos apalagi. Jadi pemimpin apalagi.

Khusus bagi kamu yang merasa memimpin sesuatu, apalagi sebuah negeri yang seharusnya gemah ripah loh jinawi cuma ada satu kalimat:

“Berani atau banci”..

Bank Indonesia di Persimpangan Jalan


Saya kerja di Bank Indonesia. Gede, sayang enggak ada ATM-nya. 🙂

Persimpangan jalan? Iya, karena BI akan disunat dengan melepaskan kewenangan pengawasan perbankan yang siap-siap dilebur bersama Bapepam-LK untuk mengawasi lembaga keuangan bank dan non bank, yang meliputi industri asuransi, bank, pasar modal, hingga pasar becek semacam perusahaan leasing.

Central Banker yang akan Menjadi Ojekers.

Bagi saya, status central banker begitu membanggakan. Central Banker itu bergengsi. Apa buktinya? ya buktinya saya, yang merasa (terlalu) bangga dengan ke-central banker-an saya. Sayang-seribu sayang status ini harus dilepas. Pengawas bank diharapkan bergabung dengan OJK, otoritas jasa keuangan. Siapa yang mau?

Saya? tidak mau.

Ada yang bilang Bank Indonesia itu negara dalam negara, terlalu pongah dengan menerbitkan uang yang beredar, mengatur laju inflasi, mengatur kestabilan rupiah, juga ngurusi sistem pembayaran, dan terakhir ngurusi bank. Kebanyakkan!

Ah, siapa bilang.

Jika ada bank kolaps, apa iya masalah ditimpakan pada pengawas? tentu tidak!

Pihak yang paling bertanggung jawab atas kelangsungan hidup bank adalah seluruh pengurus bank itu sendiri. mereka harus mati-matian menjaga kelangsungan usaha. Buat siapa?

Buat MASYARAKAT dong! yang rela menyisihkan uangnya untuk ditabung alih alih buat foya-foya. Uang itu lah yang selanjutnya diputar bank untuk investasi dalam bentuk kredit dan surat-surat berharga.

Bank yang benar yaitu bank yang amanah, yang tidak lupa kucing akan kumisnya. Tahu bahwa uangnya adalah hasil jerih payah masyarakat. Tahu kalau uang itu adalah uang yang harus dikembalikan saat pemilik membutuhkan. Jadi, bank harus menjadi penjaga amanah yang baik. Jika ada yang beranggapan bahwa bank berguna untuk menyalurkan kredit, tidak sepenuhnya benar. Toh, renternir pun boleh memberikan kredit.

Bank menjadi istimewa karena ia boleh menghimpun dana masyarakat.

__

Kembali ke masalah OJK. Siapa yang akan percaya pada OJK jika lembaga itu tidak jelas juntrungannya mau berjenis kelamin apa? Lelaki, waria, atau nenek nenek setengah tua?

Tarik ulur kepentingan, menjadi pangkal-ujung-pangkal-badan-ujung dan  mbuhlah *ruwet*

Otoritas Jasa Keuangan katanya dipicu oleh kegagalan Bank Indonesia dalam menata industri perbankan. Siapa bilang? Lantas mengapa Pemerintah juga ngebet banget ingin ikut dalam proses penerbitan uang rupiah? dipicu oleh apa?

Apa ndak sekalian aja fungsi “lender of the last resort” diambil pemerintah. Eh tunggu dulu pemerintah yang mana ya? Apakah bisa dibuktikan saat ini kita memiliki pemerintah, misalnya lembaga eksekutif dan legislatif yang eksis dan dihayati benar oleh warga? saya rasa tidak, dan saya semakin ragu soal ini. :p

Urusan bank itu urusan rumit namun juga mudah. Asal kompeten dan berintegritas, semuanya lancar. Sayangnya bank banyak dihuni para banker yang “greedy”, mau gampang kaya, mau terkenal, mau ikut mencicipi tampuk kekuasaan, misalnya dari Dirut jadi Menkeu lah gitu. 🙂

Bank jika dihuni para petualang yang semuanya serba numpang, ya susah deh. Bank yang benar-benar menjalankan proses intermediasi dengan menyalurkan secara konsekwen dana masyarakat untuk kepentingan masyarakat? emang ada?

Saya jadi bertanya-tanya, sebetulnya pemerintah ingin mengubah konstelasi industri perbankan dan sistem stabilitas keuangan itu atas desakan siapa?

Untuk apa sesuatu yang sedang tumbuh berjalan sesuai dengan rel-nya harus dikulik dan diutak-atik demi kepentingan sesaat.

Sesaat? iya sesaat dan sesat!

Banyak bank hanya menjadi korban mesin politik memperebutkan kue durjana bernama kekuasaan. Bank Bali, Bank century, bank global, dan bank-bank lainnya selalu bermasalah manakala pemilihan umum akan dilangsungkan.

__

Ada baiknya Bank Indonesia juga berbenah diri. Jangan terlalu asik bermasturbasi dengan teori-teori tak membumi yang diimpor dari swiss sana. Juga dengan banyakanya orang pinter yang mau sekolah, padahal cuma cari uang saku tambahan dan enak mengenyam pendidikan luar negeri. Bank Indonesia harus bekerja. Jangan hanya numpang hidup. Jadi assets dan hindari bersikap malas yang menjadikannya liabilities.

Apakah pegawai Bank Indonesia baik-baik semua? Tegas saya jawab tidak!

Namun saya yakin dan percaya, bahwa itupun sudah sangat baik dibandingkan dengan institusi lainnya yang warnanya serba abu-abu. Bukan berarti suka korupsi, tapi kekembungan menenggak minuman penuh konspirasi. (opo tho iki?).

Selamat malam,

Jika tersinggung jangan diambil hati. Cukup diambil hikmahnya saja.

Hihihihi..

Pelatihan Kopidangdut


Jika kamu karyawan perusahaan, maka biasanya secara periodik kamu akan diminta untuk mengikuti pelatihan. Betul?

Lucunya, pelatihan biasanya diikuti oleh karyawan yang jarang bekerja, spesialisasi pelatihan, banyak waktu luang dan itu-itu saja. Betul?

Bagi karyawan yang hobi kerja, pelatihan sulit dilakukan mengingat pekerjaan rutin yang terus bergiliran duduk manis menunggu antrian. Maka, jatuhnya pelatihan itu pada karyawan santai yang memang waktu senggangnya itu melebihi waktu kerjanya. Betul?

__

Padahal pelatihan bagi perusahaan yang bagus, akan masuk dalam KPI. Biasanya sih masuk dalam kolom continuous learing, termasuk di dalamnya coaching and counseling, juga training.

Misalnya saya, sebagai pengawas atau auditor. maka waktu yang tersita banyak dilakukan di “lapangan”. Mirip wartawan, bekerja sebagai reporter akan banyak dihabiskan mencari sumber berita primer atau narasumber. Nah, sebagai auditor, bagaimana mungkin diminta pelatihan yang panjangnya 2 minggu, lokasi dalam kota dan di saat jam kerja. Mimpi kali yeee?

Anehnya, SDM akan cuek beibeh. Mereka pun dikejar target KPI dalam pemenuhan pelaksanaan KPI-nya sendiri untuk memberikan pelatihan kepada masing-masing karyawan.

Idealnya SDM mendata dan menelaah, adanya kesenjangan kompetensi dan beban tugas jabatan. Jika masih banyak hal yang kurang pada diri karyawan, mbok yao itu karyawan diberi pelatihan dan pemenuhan kompetensi. Terserah bentuknya, bisa kursus singkat, program magang, ikut seminar, pelatihan terpusat, dan lain-lainnya.

Namun kenyataannya terkadang gap atau kesenjangan kompetensi memang didata dan ditelaah, sayangnya pada saat gilirannya, program pelatihan yang cocok bagi karyawan tersebut tidak terlaksana karena si karyawan tidak dapat meninggalkan pekerjaan rutin sehari-hari.

Akhirnya, karyawan yang sedang main soliter, sibuk bbm, haha hihi ngetwit, yang bakalan ketiban duren runtuh untuk berangkat pelatihan. Karyawan rajin? kerja mulu…

Betul?