Bank Indonesia di Persimpangan Jalan

Saya kerja di Bank Indonesia. Gede, sayang enggak ada ATM-nya.🙂

Persimpangan jalan? Iya, karena BI akan disunat dengan melepaskan kewenangan pengawasan perbankan yang siap-siap dilebur bersama Bapepam-LK untuk mengawasi lembaga keuangan bank dan non bank, yang meliputi industri asuransi, bank, pasar modal, hingga pasar becek semacam perusahaan leasing.

Central Banker yang akan Menjadi Ojekers.

Bagi saya, status central banker begitu membanggakan. Central Banker itu bergengsi. Apa buktinya? ya buktinya saya, yang merasa (terlalu) bangga dengan ke-central banker-an saya. Sayang-seribu sayang status ini harus dilepas. Pengawas bank diharapkan bergabung dengan OJK, otoritas jasa keuangan. Siapa yang mau?

Saya? tidak mau.

Ada yang bilang Bank Indonesia itu negara dalam negara, terlalu pongah dengan menerbitkan uang yang beredar, mengatur laju inflasi, mengatur kestabilan rupiah, juga ngurusi sistem pembayaran, dan terakhir ngurusi bank. Kebanyakkan!

Ah, siapa bilang.

Jika ada bank kolaps, apa iya masalah ditimpakan pada pengawas? tentu tidak!

Pihak yang paling bertanggung jawab atas kelangsungan hidup bank adalah seluruh pengurus bank itu sendiri. mereka harus mati-matian menjaga kelangsungan usaha. Buat siapa?

Buat MASYARAKAT dong! yang rela menyisihkan uangnya untuk ditabung alih alih buat foya-foya. Uang itu lah yang selanjutnya diputar bank untuk investasi dalam bentuk kredit dan surat-surat berharga.

Bank yang benar yaitu bank yang amanah, yang tidak lupa kucing akan kumisnya. Tahu bahwa uangnya adalah hasil jerih payah masyarakat. Tahu kalau uang itu adalah uang yang harus dikembalikan saat pemilik membutuhkan. Jadi, bank harus menjadi penjaga amanah yang baik. Jika ada yang beranggapan bahwa bank berguna untuk menyalurkan kredit, tidak sepenuhnya benar. Toh, renternir pun boleh memberikan kredit.

Bank menjadi istimewa karena ia boleh menghimpun dana masyarakat.

__

Kembali ke masalah OJK. Siapa yang akan percaya pada OJK jika lembaga itu tidak jelas juntrungannya mau berjenis kelamin apa? Lelaki, waria, atau nenek nenek setengah tua?

Tarik ulur kepentingan, menjadi pangkal-ujung-pangkal-badan-ujung dan  mbuhlah *ruwet*

Otoritas Jasa Keuangan katanya dipicu oleh kegagalan Bank Indonesia dalam menata industri perbankan. Siapa bilang? Lantas mengapa Pemerintah juga ngebet banget ingin ikut dalam proses penerbitan uang rupiah? dipicu oleh apa?

Apa ndak sekalian aja fungsi “lender of the last resort” diambil pemerintah. Eh tunggu dulu pemerintah yang mana ya? Apakah bisa dibuktikan saat ini kita memiliki pemerintah, misalnya lembaga eksekutif dan legislatif yang eksis dan dihayati benar oleh warga? saya rasa tidak, dan saya semakin ragu soal ini. :p

Urusan bank itu urusan rumit namun juga mudah. Asal kompeten dan berintegritas, semuanya lancar. Sayangnya bank banyak dihuni para banker yang “greedy”, mau gampang kaya, mau terkenal, mau ikut mencicipi tampuk kekuasaan, misalnya dari Dirut jadi Menkeu lah gitu.🙂

Bank jika dihuni para petualang yang semuanya serba numpang, ya susah deh. Bank yang benar-benar menjalankan proses intermediasi dengan menyalurkan secara konsekwen dana masyarakat untuk kepentingan masyarakat? emang ada?

Saya jadi bertanya-tanya, sebetulnya pemerintah ingin mengubah konstelasi industri perbankan dan sistem stabilitas keuangan itu atas desakan siapa?

Untuk apa sesuatu yang sedang tumbuh berjalan sesuai dengan rel-nya harus dikulik dan diutak-atik demi kepentingan sesaat.

Sesaat? iya sesaat dan sesat!

Banyak bank hanya menjadi korban mesin politik memperebutkan kue durjana bernama kekuasaan. Bank Bali, Bank century, bank global, dan bank-bank lainnya selalu bermasalah manakala pemilihan umum akan dilangsungkan.

__

Ada baiknya Bank Indonesia juga berbenah diri. Jangan terlalu asik bermasturbasi dengan teori-teori tak membumi yang diimpor dari swiss sana. Juga dengan banyakanya orang pinter yang mau sekolah, padahal cuma cari uang saku tambahan dan enak mengenyam pendidikan luar negeri. Bank Indonesia harus bekerja. Jangan hanya numpang hidup. Jadi assets dan hindari bersikap malas yang menjadikannya liabilities.

Apakah pegawai Bank Indonesia baik-baik semua? Tegas saya jawab tidak!

Namun saya yakin dan percaya, bahwa itupun sudah sangat baik dibandingkan dengan institusi lainnya yang warnanya serba abu-abu. Bukan berarti suka korupsi, tapi kekembungan menenggak minuman penuh konspirasi. (opo tho iki?).

Selamat malam,

Jika tersinggung jangan diambil hati. Cukup diambil hikmahnya saja.

Hihihihi..

21 Comments

  1. Wah, berarti di BI gak ada posisi Pengawas Bank lg donk ya mas..?🙂
    Apa ini berpengegaruh pada hasil test Rekrutmen PTU yang sudah 1 bulan lebih blm diumumin…? kan disitu ada posisi Pengawas Bank Pertama🙂

  2. Wah, beneran tha mas kopdang…? beneran neh, H2C nunggu pengumuman Rekrutmen PTU Umum neh….🙂 mbok yo kalo bisa minta tolong ditanyain ke DSDM knp koq belum ada pengumumannya….. hehehe. Makasih ya mas Kopdang🙂

    *ngarep.com*

  3. wah2 mas kopdang ini selalu menginspirasi saya…..siap menjaga Amanah dan tidak mendzolimi yg laen…berjalan sesuai Sisdur…menjalankan apa yg menjadi kewajiban dan haknya sesuai porsi masing2, krn secuil kita makan yg bukan haknya maka sebenarnya kita telah memakan hak yg lain…pdhl yg kita makan lebih membuthkn daripada kita yg sudah berkecukupan makan….intinya selalu bersyukur dgn ap yg ada sekarng dan ikhlas…….
    he2 gpp kayak kultum mumpung hari Jum’at persiapan ngisi khotbah…he…
    dan akhirnya…..kapan ni pengumuman PTU nya….hiks2….
    sabar…sabar…sabar….

  4. salam kenal mas, saya mahasiswa hukum PK ekonomi di unp*d bandung
    seblelumnya mohon maaf krna postingan/coment agak ga nyambung dngan judul, soalnya ditempat yg nyambung udah pjg skali komen nya, saya merasa cukup down dengan keadaan saya skrng, judul skripsi saya awalnya didasari dengan idealisme, nyari yg bener baru tp berunjung pada “patah arah”. pembahasan saya mengenai sistem pengawasan BI pada private banking di kegiatan Bank umum,

    awalnya sangat antusias, sya membaca beberapa literaur asing mngenai private banking krna di indonesia sendiri cukup sulit, dan sedikit yg membahas ini, sudah hampir 3bulan masa penelitian+nunggu(bimbingan dosen) , berakhhir pada sabtu kemarin ketika dosen sya menganjurkan untuk ganti judul,, memang cukup sulit mendapatkan bahan mengenai private banking ini soalnya bank-bank lokal di indonesia sendiri belum ada yg menerapkanya dengan sesuai pada praktek diluar negri , bank asing seperti citbank,hsbc dll yg menerapkanya, sedangkan bank lokal sendiri hanya menerapkan “priority” yg berbeda dengan private yg ada “wealth managementnya” dosenya menunujuk untuk melakukan penelitian yg merinci dan khusus pada private banking itu (dimana di indonesia blum ada dasar pelaksanaan private banking ini bgaimana bisa dliaksanakan, tp BI pun tetap mengakuinya dengan “membiarkan” praktek itu tetap ada), sedangkan yg saya inginkan dalam sistem pengawasanya yg krna saya pikir memang salahsatu kekurangan yg cukup crucial dlm perbankan kita ada lah masalah pengawasan ini,ya hapir sluruh aspek di negara kita ini ya dalm pengawasan, sya coba ke BI bandung wktu itu namun yg saya dapat tidak sprti yg sy inginkan, ke beberapa bank lokal, yg sy dpt pun mrka meamng hnya priority ya tetap menyimpan dana+layanan spesial sja, ke bank asing sgt sulit memninta data…..wah bisa pjg si mas ini klw dituliss, saya sangat ingin bisa berdiskusi dan minta saran mas melalui email ….bagaimana sebaiknya apakahh saya mengganti judul tolong beri masukanya,atau mas ada masukan sbaiknya saya membahas apa,,intinya kesulitan saya ada pada data yg sulit untuk diaskes..,sya sgt tertarik dengan sistem pengawasan ini dn sudah ya seperempat jalan , klw bisa sy msh mau mmbhas mengenai sitem pengawasan bank…trimakasih banyak mas atas perhatianya….

    1. ah masa sih? coba deh rumusan masalahnya apa?

      judulnya apa? coba aku mau tahu. nanti kita ulas samasama.

      aku enggak mau via email ah. enak lewat sini aja.

      Sent from my iPad

      1. wah makasih banyak mas,,😀 senangnya di balas.

        karena saya belum sidang UP judul msh bisa berubah mas,,tp kemaren yg diterima “sitsem Pengawasan Bank Indonesia Terhadap Kegiatan Private
        Banking di Bank Umum Dihubungkan
        Dengan Peraturan Perbankan tentangi sistem pengawasan perbankan (krna saya blum belum mndptkan kpstian dst dr pelaksanaan private banking itu apa, jd peraturan yg jd acuanya msh ditulis sprti itu, tp dr yg sudah sya baca saya pikir hal in i msk dlm PBI manajement resiko,PBI direktur kepatuhan,PBI pelaksanaan GCG,dan kasusnya pada PBI Anti Pencucian Uang dan Pemberantasan Pendanaan Terorism.

        rumusan mslhnya ,

        1. Bagaimana Efektifitas pengawasan yang dilakukan oleh Bank Indonesia terhadap kegiatan Private Banking di Bank Umum ?
        2. Bagaimana Pertanggungjawaban Bank Indonesia/Bank Umum atas kerugian yang diderita oleh nasabah bank pengguna Private Banking terkait adanya penyalahgunaan wewenang oleh relation Manager/Personal Bank Officer ?

        latarblakanya Private banking dengan segala kekhususanya termasuk sifat yang sangat “private/personal” antar nasabah dan pihak bank yang diwakili oleh relation Manager/Personal Bank Officer ini memberikan kesempatan terjadinya penyalahgunaan wewenang yang besar bila tidak diikuti dengan sistem pengendalian yang baik, slh stunya contoh kasus melinda, t

        p mengenai kasus melinda ini dr beebrapa sumber yg saya dpt merka bilang bhwa ini karena slah satu nasabah melinda tidak tau bagaimana cara kerja bank officer dlm private banking, yg memang mengelola dana yg mereka “titipkan” ke bank officer utk dikelola, perubahaan mata uang dr Rp ke Dollar atau ke yen dsbgnya kdang2 juga sring trjadi hal ini untuk mendapaktkan nilai investasi yg memang ada dlm private banking (wealth management) sehingga nasabah tersebut melaporkan nya ke kepolisian, bisa dilihat beberapa nasabah lainya pun tidak mempermasalahkan, mereka hanya mengiginkan uang yang ditangani melinda (yg sedang dlm proses hukum) bisa di kembalikan,krna tentunya bila bank officernya tidak bekerja uang mereka pun tidak bisa dprgunakan. jd kasus ini menurut dosen saya tidak mrupakan suatu mslh, tindakan dr BI untuk membekukan/memberikan peringatan terhadap 23 bank itu dia blg hanya merupakan tindakan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakt saja, dan kegiatan mereka pun tetap berlangsung, walaupun bebereapa bank diantaranya hanya melakukan kegiatan “priority bank” saja yng memang berbeda dr private banking. namun krna apa yg diketahui masyarakat banyak dan praktek yang ada di perbankan istilah2 ini menjadi disalahartikan menjadi sama.

        yang menjadi masalh utamanya dlm perjalanan skripsi sya ini mas, data dari kegiatan private banking ini yg saya sulit saya akses, apa dasar pelaksanaan nya,,apakah pengawasanya tetap sama perlakuanya dengan kegiatan bank umum lainya, dr wawancara sy dengan bbrp org BI di bagian administrasi pngwasan sy mendapti bhwa dsr dr kegiatan ialah adanya “kesepakatan” antara pengawas dan pihak bank yg melakukan presentasi, bila bank terkait dapat melakukan mitigasi yg cukup atas resiko kegiatanya maka diberikanlah “izin” untuk melaksanakanya, slanjutnya dilakukan pelaporan berkala atas kegiatanya tersebut, nah yg saya agak miss disini “izin” nya berupa suatu kebijakan peraturan kah?atau seperti apa bgtu..

        sprti yg sy blg sblumnya sy sbnarnya ingin membahas mengenai sistem pengawasanya, namun dlm perjalanya tntunya sy prlu memahami private banking itu apa, dosen sya sgt menekankan dlm private banking ini, krna dia brpendapat ya itu mas aturan indonesia blm ad yg mengaturnya, dr yg saya baca diberbagai artikel di internet katanya PBBI wealth management sedang digodok dan rampung JUNI 2011 namun smpai saat ini sya belum mendegarnya lagi,,mungkin nasibnya jd kaya OJK jg..

        ,maaf mas bila pnjelasan saya bila agak tak ter-arah,,
        trimakasih mas,ditungg masukanya,,pencerahanya,,bantuanya,,

  5. dosen sya si menganjurkan coba untuk meneliti kasus bank mega itu yang pembobolan berkali2,kan mengenai sistem pengawasn juga,, tp sya jd agak rahut lg bgaiman mendapatkan data yg diperlukanya..

    jd kepikiran buat bikin skripsi yg “mudah”,lihat contoh skripsi di universitas lain,,dn sdkit di modifikasi sprti kbanyakan…..;P tuntutan lulus dari ortu slh stu fktornya :p

  6. yang saya liat mas,,bahwa yg perlu disorot mengenai sistem pengawasan dari bank BI, mengenai prinsip kehati-hatian yg dterapkan,,,bagaimana saat ini cakap terjadi kasus2 seperti frau,pnyalahgunaan wewenagn, bagaimna pngawasan manajemen resiko yg diterapkan oleh BI, memang tidak bisa dipungkiri dlm suartu instansi dmana ada niat tidak baik, smua hal dpt dilakukan namun dalam hal ini pengawasan berkala yg efektif kmudian manajemen resiko dan prinsip kehati-hatian ini diterapkan dengan baik tentunya dapat mencegah hal ini dngan dp melihat adakah kegiatan2 yg mencurigakan transaksi yang mencurigakan , bila ada lgsng bisa ditindak lajuti, dan jgn sampai menunggu terjadi sesuatu,,menurut sya ini yng namnya pengawasan dan pengendalian itu,,ya bicara/teori memang mudah sprtinya,,ya plg tidak saya yg masih sbagai akamemisi bisa berbicara ya dalam ranah itu saja,krn itu yg kami ge;luti..

    1. terima kasih atas uraiannya.
      tapi ada satu hal yang mendasar yang perlu diperhatikan yaitu private banking merupakan “layanan bank” atau aktifitas bank, sehingga tentu saja ada “aturan mainnya” dalam SOP masing-masing bank.

      kenapa enggak menyoroti itu saja?

      maksudnya adalah bahwa perbankan adalah institusi yang menurut saya harus paling tertib. Dunia boleh semrawut, namun para bankir harus secara konservatif menjalankan job desc dan SOP yg berlaku.

      tentu saja banyak kendala untuk meneliti private banking. Namanya juga private (?!).

      Ada baiknya lebih spesifik misalnya:

      1. Hubungan hukum atas transaksi antara nasabah dan RM melalui instruksi via telepon dalam pelayanan private banking.

      2. Penerapan teori hukum Vicarious Liability dalam permasalahan transaksi tanpa hak yang dijalankan Marketing atas dana nasabah serta pelaksanaan tanggung bank.

      3. Masih banyak hal lain yang masih bisa dikupas.

      cobain dulu deh.
      Biar skripsinya hukum banget, terus jangan kebanyakkan main tumblr.
      hiihii.
      🙂

      1. wah makasih banyak bgt atas masukanya, n waktunya mas, misalnya ni mas klw objeknya saya ganti bukan private banking,,yang datanya lebih mudah untuk di akses,,apa ya mas kira2,,maaf mereporkan..

        soal tumblr, selingan aja kok mas klw lg sumpek,,hehehe

      2. maaf mas klw postinganya mengganggu
        mengenai masukan yang mas kasih tentang vicarious liability, maksudnya permasalahan transaksi “tanpa hak” yang dijalankan marketing atas dana nasabah ini bentuknya seperti apa mas, contoh konkritnya,,say msh belum mengerti,

        apakah kegiatan marketing yg dilakukan pihak ketiga terhadapa kegiatan bank? dengan tidak adanya hak yang diberikan oleh pihak bank?

        atau apakah kegiatan marketing yg dilakukan oleh bank dalam mengelola dana yang dititip/disimpan oleh nasabah, demi keperluan transaksi lainya sperti peminjaman kredit yang secara tidak langsung menggunakan dana nasabah , yang dimana nasabah tidak memberikan hak nya kepada bank untuk “memarketingkan” dana mereka? namun bukanya hal ini biasanya sudah menjadi dalam perjanjian baku dalam pembukaan rekening ya mas…?
        maaf bila ngawur

        1. oia mas, brrti yang menjadi dasar pelaksanaan private banking di suatu bank itu kan SOP nya, SOP itu yng menjadi dasar hukum plaksanaany kan? brrti tiap bank punya SOP nya masing2 bgtu kan mas?

          1. yes.

            setiap aktivitas dan produk bank harus seizin Bank Indonesia, terutama terkait dng business process-nya. oleh karena SOP selalu ada, dan berbeda diatur oleh masing masing bank.

            menarik.
            bagi saya, teori vicarious liability akan mengupas sejauh mana peran tanggung jawab pengurus bank dan entitas dalam hal adanya kerugian-gugatan-yang dilakukan oleh karyawan bank.

            hal ini bisa kamu lihat dalam kasus kematin irzen okta di citibank, juga melinda dee.

            citibank dengan profesional mengganti kerugian nasabah jika berdasarkan keterangan yg didapat dan penelitian mereka diyakini bank harus mengganti.

            kelakuan MD dianggap sbg representasi dari citibank.

            coba baca teori vicarious liability. peran tanggung jawab pengurus. keren deh..

            hal ini beda dengan kasus bank mega,
            di mana keterlibatan pinca kcp jababeka dianggap sebagai perbuatan perseorangan yang menjadikan bank mega tmerasa tidak perlu mengganti dana elnusa. juga dengan upaya delik korupsi pada kasus pemkab batubara, menjadikan unsur kesalahan ada pada pemkab dan bukan pada bank mega.

            ini menarik

            coba deh kamu kaji sanksi pembinaan bank indonesia buat dua kasus ini. satu citibank dan satunya bank mega.

            berbeda atau sama?
            bagaimana tanggapan bank?

            bagaiaman proses hukum dan proses penggantian keruggian atas dana nasabah.

            enak tuh. kaji ya.
            pasti keren ntar skripsinya.

            1. iya mas sya sudah baca2 sedikit ttg vicarious liability itu, dmn contohnya sperti tndakan citibank trhadap takibat tindakan melinda, mudah2an datanya ga susah,,,brrti 1 mesti ke citibank klw bisa mnta akses SOP nya(ttg private banking), 2. K BI buat mnta pndapat wwncara (ini mah bsa sama mas aja ya :p) 3. ke…..

              hmm brarti klw bahas vicarious liability ini ke BI aja mngkn lebih tepat ya,,, tepatnya ke bagian apa yah mas,,

              makasih banyak mas,,,coba bisa dapat dosen pembimbing dengan karakter sperti mas🙂 memberi masukan dan arahan …

  7. mas kopdang.. ehehehe..
    tolong itu komentar yg mau cari duit saku dikoreksi ya.. merusak kredibilitas pegawai BI saja. uang saku sekolah mmg besar kalo dipandang dari rupiah, tapi disini hidup ga pake rupiah.. dsb dsb..

    dan kita bekerja mmg butuh ilmu, ga asal ngember aja😛 gak terima ni, soalnya kita2 pada abis2an fight disini biar bisa survive, baik unt hidup (terutama yg bawa keluarga) maupun studi.

    piss ehehehe..😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s