Sastra Versus Budaya

 

 

Hari itu seperti  hari biasanya, saya dan beberapa teman nongkrong ganteng di warung burjo kabita, entah cabang keberapa di Daerah lempong sari Sleman. Kira-kira musim semi di tahun 1999, saat saya berdiskusi santai dengan salah satu dosen Universitas Proklamasi Jogja, saya lupa nama lengkapnya, namun yang sedikit saya ingat saya selalu memanggil dengan nama Mas Hendar.

Kami berselisih pendapat mengenai apakah penggunaan kata Fakultas Budaya merupakan tanda kemajuan bagi sebuah universitas?  Mas Hendar berpendapat bahwa penggunaan istilah Budaya adalah langkah  mundur dari lembaga pendidikan, dibandingkan dengan menggunakan kata Sastra.  Ia lebih memilih Fakultas Sastra dibandingkan Budaya. Lebih impresif, menurutnya.

“Sastra itu sejarah Mas. Budaya itu pra-sejarah”, katanya.

Saya menyangkal: “Budaya itu Negara, sastra itu provinsi”.

“Nah, permasalahannya  adalah provinsi mana, DKI Jakarta atau Papua? Berapa banyak novel, puisi, literatur lainnya yang berasal dari Papua, berlandaskan budaya Papua atau setidaknya manusia Indonesia berdarah Papua”, tanyanya.

Saya diam, tapi sambil ngunyah indomie.

Entah kenapa akhirnya kami meluaskan permasalahan dari perkara budaya dan sastra, menuju perkembangan budaya setiap jengkal wilayah nusantara. Kami bicara siapa sastrawan batak. Apa bedanya budayawan dan sastrawan, mengapa Jawa lebih banyak melahirkan pengarang dibandingkan wilayah Kalimantan, misalnya. Terus-dan terus banyak saling bual di anatara kami. Hingga secangkir kopi tak bersisa lagi.

Saat itu Arundhati Roy sedang naik daun.

“Lihat itu anak muda si Roy, lihat novelnya yang bicara budaya India, dengan bahasa Inggris, ditulis di luar negaranya, dan kisahnya sungguh mengakar mengenai budaya India. Ini lah sastra. Sebuah langkah sofistikasi, memuliakan, mencanggihkan sebuah budaya. Bukan lagi budaya natural yang jebrol langsung kita nunut. Ia dimodifikasi, diberi tambahan personifikasi dari individu yang mengapresiasikan budaya itu, menjadi sastra. “

“Jadi novelnya Roy ini sastra India apa sastra Inggris?”, tiba-tiba teman saya nyeletuk.

Kami berdua akhirnya bingung sendiri. Jika twitter sudah lahir, mungkin saya bisa menghemat Rp.7000 untuk semangkok indomie goring telor, secangkir kopi dan dua batang kretek.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s