Tuna Nikmat, Tuna Harga Diri.

Kamu tahu slideshare.com sepertinya, situs yang menawarkan diri menjadi media berbagi tayanan, powerpoint atau dokumen dalam bentuk slide. Tim slideshare digawangi oleh pendirinya yaitu seorang perempuan muda yang berasal dari India dan telah menetap di San Fransisco Amerika: “Rashmi”. Dia  memiliki gelar PhD dalam keilmuan  “Cognitive NeuroPsychology”.

Menurut wikipedia:

adalah cabang dari psikologi kognitif yang bertujuan untuk memahami bagaimana strukturdan fungsi otak berkaitan dengan proses psikologis tertentu. Ini menempatkan penekanan khusus  mempelajari efek kognitif dari cedera otak atau penyakit neurologis dengan maksud untuk menyimpulkan model fungsi kognitif yang normal. Bukti didasarkan pada studi kasus pasien mengalami kerusakan otak individu yang menunjukkan defisit di daerah otak dan dari pasien yang menunjukkan dissociations ganda. Dari penelitian tersebut peneliti menyimpulkan bahwa area otak yang berbeda sangat spesifik. Hal ini dapat dibedakan dari kognitif neuroscience yang juga tertarik pada pasien rusak otak, tetapi  mengutamakan keilmuan yang  mengungkap mekanisme saraf yang mendasari proses-proses kognitif.

Saya tidak tahu pasti apa arti dai cabang ilmu tadi hingga sampai dipelajari dan mendapat gelar PhD. Tapi yang membuat saya menarik adalah bahwa persoalan psikologi akan terus berkembang dan sangat menarik untuk dipelajari terus menerus di masa yang akan datang.

Bagi ilmu sosial psikologi mengambil peranan penting terhadap perilaku massa maupun individu. Terlebih dengan kondisi kehidupan yang semakin kompetitif, individualis, dan konsumtif. Pasar terus menggempur benak kita untuk melahap seluruh bujuk rayu tas nama gengsi, kebutuhan masa datang, investasi dan segala tetek bengek lainnya.

Efeknya adalah perilaku setiap individu semakin unik dan variatif, namun lucunya semakin sensitif. Individu ingin menjadi unikum yang lain daripada yang lain, namun sekaligus sadar akan trend, mode, gengsi, dan penggiringan perilaku ekonomi yang menjadikan setiap individu menjadi gembala kapitalisme.

Mereka hedonis? Burukkah hedonis? Belum tentu. Sepertinya gaya hidup hedoni pengaruhnya hampir sama dengan gaya hidup asketik yang mengalpakan diri dari ranah duniawi. Sama-sama ekstrim. sama sama berada di pucuk bandul sikap hidup. ekstrim.

Hal ini sangat berkaitan erat dengan pekerjaan utama saya sehari-hari sebagai investigator.

Banyak kejadian perilaku menyimpang terkait dengan dunia perbankan adalah soal gaya hidup. Pelaku kejahatan perbankan dikategorikan sebagai kejahatan white collar crime. Kejahatan yang dilakukan oleh orang necis, parlente, berdasi, wangi dan terhormat. Namun mereka tuna nikmat. Manusia-manusia yang tak penah mengenal kata puas. Lagi. lagi dan lagi.

Entah apa yang ada di benak mereka ketika mereka tidak lapar, mereka tidak bodoh, dan mereka mengaku takut Tuhan, namun dengan sadar melakukan banyak hal yang sesungguhnya adalah perbuatan curang. Sistem yang telah dibuat sedemikian rupa dicar-cari kelemahannya. Dengan kepandaiannya, mereka berpikir bahwa apa yang dilakukannya tidak salah tapi benar. Siapa yang salah? Mereka yang membuat aturan: “kenapa masih bisa kebobolan?”. Saya melakukan bukan karena saya salah, tapi saya dapat mencari jalan yang membuat sistem membolehkan dan tidak ketahuan. Mereka berpikiran seperti itu sementara waktu. Mereka pandai mencari pembenaran. Terang benderang bahwa pembenaran sudah pasti tidak benar yang dibenar-benarkan. Seperti justifikasi, sudah pasti sesuatu yang tidak adil namun dibuat seolah-olah adil. dan sesuai ketentuan.

Setahun yang lalu saya melakukan kursus kilat di Austin Texas yang diselenggarakan ACFE. Soal sederhana. Wawancara. Teknik mewawancarai. Mereka beri judul tingkat Advance. Masih kalah jauh dibandingkan tingkat dewa. Saya, investigator, masih belajar tingkat mahir, mereka, para pelaku sudah melakukannya dengan sedikit keahlian tingkat dewanya.

Para pelaku kejahatan perbankan adalah mereka yang memiliki ramuan dipercaya, pandai, berpengaru dan mempengaruhi dan memiliki akses di dalam tubuhnya.  Hanya orang-orang seperti itulah yang berhasil mengelabui pencatatan, mengelabui audit intern, mengelabui Tuhan.         dengan catatan: sementara waktu.

Pada akhirnya: adakalanya. kala titi mangsa. Ketika tiba waktunya, kebenaran akan muncul. walau desah lirih, kebenaran akan mencuat dan berkembang ke seluruh penjuru. Kesalahan akan terungkap.

Namun bagi mereka ini belum akhir segalanya. Ada cara lain untuk menolak kesaksian. Tidak mengaku. Putar otak sedikit, dan yang paling mudah menujuk batang hidung orang lain. Dunia memang adil. siapapun yang berusaha lebih gigih dan berani biasanya berhasil begitupun dengan usaha jahat.  apalagi ditambah nekat.

belum cukup: sewa pengacara. Jika perlu gugat orang yang menuduhnya. Tuhan tahu apa soal uang. begitu menurut mereka.

Jika ada mesin waktu, saya hanya ingin sedikit mengintip latar belakang budaya keluarga mereka, para pesakitan itu. apakah kurang kasih sayang orang tua, kurang perhatian, orang susah, kurang pergaulan, tidak kenal tuhan, ataukah memang tercipta sejak mereka dilahirkan, dengan pola pikir yang aduhai namun tanpa kesadaran untuk mengutamakan kebenaran, kebaikan, dan bukannya kenikmatan dan kemasyhuran.

Beberapa kali saya bertemu dengan banyak pelaku kejahatan perbankan. Mereka paham. mereka tahu. mereka ahli. tapi mereka lupa atau sengaja melupakan diri.

selamat sore.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s