“Bergeraklah ke Arah yang Benar..”

kata, A. Riawan Amin. Saya kutip dari majalah Infobank. Ia menambahkan.

Manusia harus selalu merenungi apakah karir dan hidupnya sudah searah dengan jalan yang benar, bukan sekadar saling berlomba bahkan mati-matian bersaing menjadi pemenang.

Menjadi yang pertama bukan satu-satunya yang terpenting. Bergerak ke arah yang benar adalah segalanya.

Saya memahami dengan jelas apa yang ia maksud. Tentunya juga Anda.

Sengaja saya tulis dengan warna biru pada kalimat terakhir, karena bagi saya itu fokus utama yang akan ia sampaikan. 

Arah yang benar. Jalan lurus. shirothol mustaqim. Termasuk dalam mengerjakan segala sesuatunya. Mulai dari bangun tidur, boker, maem, bobo, bangun lagi, kerja, berbicara, melapor, menulis, hingga bobo lagi dan bangun lagi. dan seterusnya. dan seterusnya.

Lantas bagaimana penerapannya di lingkungan kerja?

Ternyata hal yang begitu mudah dipahami dan diiyakan semua orang, penerapannya sangat sulit. Apalagi bagi golongan muda. Termasuk saya.

Lingkungan kerja terdiri dari beberapa generasi yang berbeda zaman. Ada yang berasal dari zaman batu, zaman klingon, zaman majapahit sampai zaman sm*sh dan cherrybelle dan saya sepertinya berada di tengah-tengah antara zaman nirvana dan zaman dewa 19.

Seorang atasan sebuah lingkungan kerja pernah berujar pada suatu kesempatan dalam rapat:

anak muda zaman sekarang memang pandai, pintar, jenius, tapi sayang tidak punya etika! percuma pandai tanpa etika! lembaga ini tidak butuh kejeniusan tanpa etika. jika itu yang terjadi maka lembaga ini menjadi organisasi sampah!

setuju. saya setuju jika itu disampaikan pada sebuah forum diskusi terbatas dan sifatnya informal. justru dengan menyatakan itu dalam sebuah acara resmi, menandakan bahwa etika yang dimaksud Bapak itu berbeda dengan etika kekinian. etika kembang kempis yang senyam-senyum, tunduk, jalan pelan, cengar-cengir, plin-plan, asal oleh yang lebih senior dibilang beretika.

etika zaman sekarang adalah etika kejujuran. bicara apa adanya dengan konteks yang tepat dan bercermin selalu. Bapak itu ternyata bayar uang kas pun tak mau. ada sumbangan untuk duka di antara karyawan tak mau.

maka ucapan ia, bagi saya seperti buah mangga yang busuk dan mengapung di sungai. terlihat, tapi tak ada manfaat. bukan sampah. tapi sumber penyakit.

hihihi.

susah menjadi golongan muda jika iklim kerja adalah iklim yang dibuat dengan semangat senioritas menggebu-gebu dan tanpa didasari semangat demokrasi.

dan memang demokrasi dalam birokrasi itu nihil. tak akan berjalan.

Hahaha. mesti ini demokrasi ala zaman batu lagi. bedanya ini batu akik. bukan batu berlian. birokrasi memang membutuhkan garis komando yang baik, saling menjaga dan menghormati. tapi kritik dan saran selalu terbuka luas. usulan perlu dibina dan masalah keputusan berkata lain, itu urusan atasan. ini demokrasi dalam birokrasi. bawahan memberi usul dan saran. tapi keputusan? itu tugas atasan.

maka berbahagialah para kaum muda yang berani menampilkan warna dan memberikan warna. juga memperhatikan etika.

“Mas kenapa orang jaman dulu kalo atasan gak berani senda gurau dan lebih banyak pasang tampang nyeremin plus gak mau ajak ngomong bawahan?”- seorang kawan bertanya.

saya jawab:

“agar gak ketahuan bodo”.

 

demikian.

 

 

 

Iklan