coba belajar ngeblog di blogspot


bagi sebagian blogger, mungkin perbedaan platform wordpress dan blogspot tidak seruncing nikon dan canon bagi para pemotret.

oleh karenanya, saya sekarang lagi belajar ngeblog via blogspot. masih kagok sana sini sih. apalagi soal mengatur tata letak.

perbedaan utama tentu saja soal theme. wordpress lebih banyak pilihan (lebih dari 200 tema) namun kaku. blogspot sedikit pilihan tema namun tata letak lebih mudah diatur sesuai selera. untuk lakukan itu, wordpress hanya mengutak ngatik widget dan header serta background. sisanya harus bayar untuk kostumisasi css.

kelebihan blogspot lainnya adalah kekuatan atau malah kedekatan dengan keluarga besar google sehingga lebih seo friendly.  atau tidak juga? entahlah. saya suka blogspot karena kesederhanaannya. sedangkan wordpress karena kemudahan dan dukungannya

apakah kamu masih rajin ngeblog?

Iklan

Pengalaman


Pengalaman. Mengalami. Panca indera merasakan, menikmati dan meng-alam-i. bukan sekadar logika dan alam pikiran saja.

Ben Stiller mengalami bagaimana kehilangan waktu bersama keluarga dalam film CLICK. Ia akhirnya menyesal dan diberi kesempatan oleh Morty, Sang Malaikat penyabut nyawa.

Bagaimana dengan Anda?

Saya, Senin kemarin 10 Desember 2012 mengalami apa yg disebut dengan operasi THT.
Saya lupa namanya, namun yg jelas anak lidah, lubang hidung kiri dan langit-langit mulut saya dibedah untuk memberikan ruang yg cukup untuk pernapasan saya.

saya baru tahu bahwa tenggorokan saya tergolong kecil dan menyebabkan tidur saya selalu mendengkur, bahkan seringkali saya terbangun oleh suara dengkuran saya dan seringkali kesulitan bernapas. Efeknya saat bangun pagi, saya tidak sesegar buah buahan di indomaret.

Namun satu hal yang cukup membuat saya takjub adalah soal bernapas ini. Saat ini, pasca operasi, bahkan untuk minum pun saya selalu tersedak karena hidung sama sekali masih mampat dan bernapas menggunakan mulut. Saya harus menahan napas sebelum menelan air minum bahkan makanan sehalus apapun.

Padahal saat saya dalam kondisi normal, bahkan merokok sambil tiduran pun sering saya lakukan. Makan sembari nonton tipi, dan minum sembari berlari.

Terkadang, saat mengalami sendiri atas apa yang sedang terjadi membuat kita jauh lebih menghargai. Bernapas. Minum dengan normal, makan dengan baik dan tidur tanpa mendengkur.

Pengalaman, melebihi kepala sekolahmu. ia bukan saja guru terbaik. ia juga yang mengongkosi segala sesuatunya dengan hikmah. 🙂

selamat malam.

Sent from my iPad

Dokumen Bertumpuk di Meja dan Bagaimana Menanganinya


dalam beberapa kesempatan, saya selalu dikritik soal kondisi meja saya yang tidak mencerminkan seorang central banker. Anda tentu tahu maksudnya. Saya sendiri suka berpikir dari mana datangnya dokumen yang sedemikian banyak nya menumpuk. ada dus, map, file, kertas kerja, catatan-catatan,  buku agenda, laporan, kotak cd musik, kotak makan, majalah, hingga saos tomat.

rupanya ada yang perlu dicermati dan dianggap serius soal “kebiasaan kerja” yang tanpa disadari mengakibatkan meja saya penuh dengan banyaknya dokumen. Mengapa? ini sebabnya:

  1. tidak memisahkan secara tegas barang pribadi dan pekerjaan.
  2. tidak bersahabat dengan mesin racik.
  3. terlalu bersandarkan pada kenangan.
  4. merasa haus akan ilmu.

 

penjelasannya sebagai berikut:

1.tidak memisahkan secara tegas barang pribadi dan pekerjaan.

wilayah kepulauan meja saya semacam daratan eropa. batas antar negara sumir alias tidak jelas. seharusnya meja saya layaknya nusantara. jawa, sumatra, kalimantan terpisah tegas oleh laut. dokumen pribadi saya seperti majalah newyorker, undangan kursus, buku agenda, kotak kartu nama, bahkan buku novel, dibiarkan erlalu erat berhubungan dengan kertas kerja, naskah draft laporan, catatan-catatan, dan beberapa dokumen pendukung dan aktor utama pekerjaan saya.

Seharusnya mau gak mau saya memberikan jarak. ini pribadi dan mana wilayah pekerjaan.

2. tidak bersahabat dengan mesin racik.

Pekerjaan saya secara kualitas, dijamin oleh persetujuan berjenjang. setiap dokumen resmi keluar secara berjenjang dari level siput hingga elang. Kadangkala dalam rantai makanan itu saya melakukan kesalahan penulisan atau bahkan frame arah substansi  laporan. Ini tentunya akan dikoreksi atasan. hasil koreksi, idealnya jika tidak terlalu substantif segera diracik. hilang. musnah. tinggal dokumen “net”.

Nyatanya. bertumpuk juga jasad-jasad dokumen lain yang seharusnya sudah diajak salaman dan ucapkan good bye.

mesin racik, sebisa mungkin berdekatan dengan meja saya. (ini usul! 🙂 )

3. terlalu bersandarkan pada kenangan.

kebanggaan saya tidak pernah membeli bensin subsidi membuat saya sering menyimpan bukti pembayarannya. bahkan kuitansi makan bakso, tiket konser, juga fotokopi surat tugas terkait penanganan permasalahan yang signifikan dan sensitif, sering bertumpuk di atas meja saya.

saya semacam pria yang sulit melupakan masa lalu mungkin? Nope!

saya hanya tidak tahu harus diletakkan dimana itu. seharusnya saya telah memiliki kotak khusus mengenai barang-barang memorabilia (gak jelas) itu.

4. merasa haus akan ilmu

bahan materi mengajar, biasanya juga ada materi bahan seusai ikuti seminar, atau ada bahan materi baru yang saya dapat dari kawan. bisa jadi regulasi baru, atau bahkan sekadar wacana baru. janjinya sih akan saya baca, sebagai bahan tambahan ilmu. Biar gagah. Biar mantep.

Nyatanya, bahan yang bertumpuk dan semakin menumpuk itu hanya terbaca tidak lebih dari 30%nya. Jadi seperti jakarta. semakin padat dan lahan tidak ada lagi.

padahal, kebiasaan membaca e-book melalui laptop, iphone, dan gadget lainnya bisa. hanya saja tidak bisa pamer. orang lain ndak tahu apa yang saya baca.

🙂

 

untungnya, sekarang meja saya (sementara ini) sedang normal. bersih. entah bertahan beberapa lama. semoga saja, tulisan ini menjadi mesin pengingatnya.

 

selamat malam.