Dokumen Bertumpuk di Meja dan Bagaimana Menanganinya

dalam beberapa kesempatan, saya selalu dikritik soal kondisi meja saya yang tidak mencerminkan seorang central banker. Anda tentu tahu maksudnya. Saya sendiri suka berpikir dari mana datangnya dokumen yang sedemikian banyak nya menumpuk. ada dus, map, file, kertas kerja, catatan-catatan,  buku agenda, laporan, kotak cd musik, kotak makan, majalah, hingga saos tomat.

rupanya ada yang perlu dicermati dan dianggap serius soal “kebiasaan kerja” yang tanpa disadari mengakibatkan meja saya penuh dengan banyaknya dokumen. Mengapa? ini sebabnya:

  1. tidak memisahkan secara tegas barang pribadi dan pekerjaan.
  2. tidak bersahabat dengan mesin racik.
  3. terlalu bersandarkan pada kenangan.
  4. merasa haus akan ilmu.

 

penjelasannya sebagai berikut:

1.tidak memisahkan secara tegas barang pribadi dan pekerjaan.

wilayah kepulauan meja saya semacam daratan eropa. batas antar negara sumir alias tidak jelas. seharusnya meja saya layaknya nusantara. jawa, sumatra, kalimantan terpisah tegas oleh laut. dokumen pribadi saya seperti majalah newyorker, undangan kursus, buku agenda, kotak kartu nama, bahkan buku novel, dibiarkan erlalu erat berhubungan dengan kertas kerja, naskah draft laporan, catatan-catatan, dan beberapa dokumen pendukung dan aktor utama pekerjaan saya.

Seharusnya mau gak mau saya memberikan jarak. ini pribadi dan mana wilayah pekerjaan.

2. tidak bersahabat dengan mesin racik.

Pekerjaan saya secara kualitas, dijamin oleh persetujuan berjenjang. setiap dokumen resmi keluar secara berjenjang dari level siput hingga elang. Kadangkala dalam rantai makanan itu saya melakukan kesalahan penulisan atau bahkan frame arah substansi  laporan. Ini tentunya akan dikoreksi atasan. hasil koreksi, idealnya jika tidak terlalu substantif segera diracik. hilang. musnah. tinggal dokumen “net”.

Nyatanya. bertumpuk juga jasad-jasad dokumen lain yang seharusnya sudah diajak salaman dan ucapkan good bye.

mesin racik, sebisa mungkin berdekatan dengan meja saya. (ini usul!🙂 )

3. terlalu bersandarkan pada kenangan.

kebanggaan saya tidak pernah membeli bensin subsidi membuat saya sering menyimpan bukti pembayarannya. bahkan kuitansi makan bakso, tiket konser, juga fotokopi surat tugas terkait penanganan permasalahan yang signifikan dan sensitif, sering bertumpuk di atas meja saya.

saya semacam pria yang sulit melupakan masa lalu mungkin? Nope!

saya hanya tidak tahu harus diletakkan dimana itu. seharusnya saya telah memiliki kotak khusus mengenai barang-barang memorabilia (gak jelas) itu.

4. merasa haus akan ilmu

bahan materi mengajar, biasanya juga ada materi bahan seusai ikuti seminar, atau ada bahan materi baru yang saya dapat dari kawan. bisa jadi regulasi baru, atau bahkan sekadar wacana baru. janjinya sih akan saya baca, sebagai bahan tambahan ilmu. Biar gagah. Biar mantep.

Nyatanya, bahan yang bertumpuk dan semakin menumpuk itu hanya terbaca tidak lebih dari 30%nya. Jadi seperti jakarta. semakin padat dan lahan tidak ada lagi.

padahal, kebiasaan membaca e-book melalui laptop, iphone, dan gadget lainnya bisa. hanya saja tidak bisa pamer. orang lain ndak tahu apa yang saya baca.

🙂

 

untungnya, sekarang meja saya (sementara ini) sedang normal. bersih. entah bertahan beberapa lama. semoga saja, tulisan ini menjadi mesin pengingatnya.

 

selamat malam.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s