JISDOR


(Kolom Gatot)

Selamat Datang JISDOR

 

Dalam keseharian, akurasi indikator bisa sangat menentukan.  Termometer memerlukan akurasi untuk mengukur suhu tubuh. Speedometer perlu akurat untuk memastikan kecepatan kendaraan yang cukup aman. Indikator bias bisa menimbulkan konsekuensi membahayakan.  Speedometer aus menyebabkan kendaraan melesat terlalu tinggi tanpa disadari pengemudi, hingga membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Referensi Nilai Tukar

Pembentukan kurs referensi dimaksudkan sebagai representasi harga spot USD/IDR yang kredibel di dalam negeri. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan transparansi pasar keuangan khususnya valas berdasar prinsip kehati-hatian.

Di pasar valas banyak tersebar informasi harga spot USD/IDR, seperti dari Reuters, Bloomberg, kurs transaksi BI, serta kurs pajak dan bea cukai. Informasi tersebut bersumber dari kuotasi yang merupakan penawaran bank untuk menjual atau membeli valas. Kuotasi tersebut hanya gambaran minat bank untuk melakukan transaksi, bukan sebagai realisasi transaksi.

Beruntung otoritas bank sentral mempunyai perangkat sistem untuk menatausahakan transaksi valas secara aktual, yaitu transaksi antar bank atau yang dikenal dengan SISMONTAVAR (sistem monitoring transaksi valas rupiah). Sistem ini dapat mengakses transaksi valas antar bank secara real time untuk menggambarkan realisasi transaksi. Tidak semua negara mempunyai monitoring berharga semacam ini.  

SISMONTAVAR

Bank sentral negara lain lazim mengumumkan kurs sebagai representasi harga pasar. Jenis kurs yang diterbitkan bergantung kesiapan informasi masing-masing bank sentral. Malaysia dan India menggunakan kuotasi transaksi  Reuters sebagai sumber informasi. Sedangkan Philipina dan Korea memanfaatkan data realisasi transaksi sebagai gambaran harga nilai tukar secara faktual, namun dengan jeda waktu 1 hari kerja.

Di dalam negeri, SISMONTAVAR menampilkan harga nilai tukar berdasar realisasi transaksi sebagai representasi harga paling kredibel. Kurs referensi diumumkan jam 10.00 tiap hari kerja, menggunakan rata-rata tertimbang transaksi antar bank sejak pembukaan pasar sampai mendekati pengumuman kurs. Diantara bank sentral, kurs referensi ini tercatat paling kredibel dan real time dalam mencerminkan harga pasar.

Dalam satu hari, transaksi valas mencapai lebih dari 8000 kejadian. Nilai transaksi terbesar dilakukan melalui kegiatan valas antar bank dengan frekuensi lebih dari 200 kali transaksi. Sekian banyak transaksi tersebut menggunakan kurs yang berbeda-beda tergantung credit risk, likuiditas, dan waktu transaksi. Acuan harga kredibel akan meminimalkan asimetri informasi. Nasabah memperoleh harga  secara wajar. Persaingan antar bank terbentuk lebih sehat dan mendukung terciptanya efisiensi harga.

Kredibilitas

Kredibilitas kurs referensi diharapkan membantu proses pendalaman pasar secara sehat. Transparansi harga pasar menumbuhkan keyakinan antara penjual dan pembeli untuk bertransaksi. Kewajaran harganya menjadikan dinamika pasar untuk berkembang.

Kredibilitas harga juga memungkinkan transaksi yang memerlukan referensi kurs menggunakan acuan harga di dalam negeri. Kasus NDF yang mencuat di akhir 2012 menunjukkan kegiatan transaksi di luar negeri dapat mempengaruhi rupiah di dalam negeri. Seperti LIBOR, fixing NDF sempat bermasalah karena pembentukan harga yang diduga manipulatif (Reuters, 27 Januari 2013). Moral hazard terjadi karena pihak yang melakukan kuotasi mempunyai posisi sehingga tidak terbebas dari kepentingan.

Bertepatan hari kebangkitan nasional, tanggal 20 Mei 2013 pukul 10 pagi ini terlahir Kurs Referensi, menandai kebangkitan pasar valas domestik untuk makin berkembang. Pelaku pasar mengenalinya sebagai JISDOR atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate. Pembentukan Kurs Referensi dimaksudkan membangun transparansi pasar valas berbasis kehati-hatian. Kurs Referensi terlahir untuk menyediakan harga pasar yang kredibel melalui kejelasan metode perhitungan dan kualitas sumber data yang terpercaya.

Kemampuan dalam mencerminkan harga pasar yang representatif sangat menentukan kredibilitas JISDOR. Kredibilitas tersebut menjadi jaminan kurs referensi akan digunakan sebagai acuan dalam transaksi valas. Kurs referensi diharapkan mengurangi asimetri informasi yang dapat merugikan nasabah. Variasi harga antar pelaku diharapkan tidak terlampau lebar sehingga mendukung efisiensi harga. Dalam jangka panjang referensi kurs diharapkan menyeimbangkan mikro efisiensi usaha dan makro pasar valas yang berkembang secara sehat.

*****

Iklan

Mereduksi Oligopoli Bank.


(Kolom Gatot)

Mereduksi Oligopoli Bank

Hampir tiga dekade menjelang, deregulasi perbankan dilaksanakan. Tepatnya 1 Juni 1983 melalui gebrakan Sumarlin. Pagu kredit dari bank sentral dihapuskan. Bank dianggap sudah dewasa untuk menghimpun dana sendiri. Suku bunga deposito pun ditentukan sendiri oleh bank. Bank sentral tidak lagi mematok suku bunga.

Tiga puluh tahun kemudian terjadi kehebohan. Bank dikeluhkan banyak kalangan menggunakan praktek kartel, yang menyebabkan bunga kredit bertengger tinggi. Bahkan bank sentral ikut dicurigai (Harian Neraca, 12 April 2013).

Etika Persaingan

Semua kalangan tahu bank sentral dengan segala cara mendorong bank menurunkan bunga agar kredit mengalir. Bank diminta terbuka menyampaikan suku bunga dasar kredit. Instrumen GWM berbasis LDR juga diperkenalkan untuk lebih mendorong bank menyalurkan kredit. Bahkan, bunga instrumen moneter bergerak di koridor bawah kebijakan suku bunga.

Bank sentral mempunyai keinginan sangat kuat agar kredit mengalir ke sektor produktif. Dana mengendap hanya membebani biaya moneter. Tersalurnya kredit produktif meningkatkan kapasitas produksi nasional, ikut meredakan tekanan inflasi. Tugas bank sentral terbantu untuk menjaga inflasi. Maka dapat dimengerti kenapa bank sentral berkepentingan membuat bunga ramah untuk sektor produktif.

Sayang struktur perbankan dalam negeri masih terkonsentrasi pada beberapa bank. Total aset 16 bank terbesar mencakup 60% dari industri keuangan domestik. Struktur yang oligopolistik yaitu cenderung didominasi beberapa penyedia jasa. Dari sejarahnya, perbankan domestik memang mengidap oligopoli. Tahun 1983, bank persero menguasai 78% dari seluruh total aset perbankan. Saat ini aset bank plat merah mempunyai porsi hanya 35% saja. Tingkat oligopoli sudah jauh mereda.

Persaingan bank tidak bisa dilepas sepenuhnya bebas. Jargon kebebasan laissez faire Adam Smith dicetuskan saat ekonomi merupakan cabang ilmu etika. Amartya Sen dalam bukunya on ethics and economics mengingatkan kebebasan harus disertai rambu etika agar memberi manfaat ekonomi.

Kalangan akademisi internasional telah banyak mengulas dampak persaingan bank, untuk melihat kebaikan dan keburukannya. Hasilnya mengonfirmasi terkonsentrasinya bank menimbulkan efek negatif berupa biaya kredit tinggi (Cetorelli, 2001).

Mengikis Oligopoli

Di dalam negeri langkah mengurangi konsentrasi bank menjadi program yang berkelanjutan. Arsitektur perbankan mendorong bank agar melakukan merger dan konsolidasi. Khususnya bagi bank kelompok menengah dan kecil. Kebijakan konsolidasi berdampak positif menurunkan tingkat konsentrasi bank (Mulyaningsih, 2011). Kondisi berlawanan terjadi di Amerika Latin. Konsolidasi dilakukan inisiatif bank sendiri untuk meningkatkan konsentrasi dan mendapat posisi oligopolistik.

Upaya perbaikan tidak hanya melalui penurunan konsentrasi bank. Mahalnya bunga kredit disebabkan biaya perolehan dana yang tinggi. Nasabah bank terkonsentrasi pada beberapa BUMN dan korporasi besar. Lebih dari 50% simpanan bank dimiliki nasabah dominan yang menerima bunga deposito diatas bunga penjaminan LPS. Dominasi nasabah ini mempunyai daya tawar kuat membentuk oligopsoni, yaitu terkonsentrasi pada beberapa deposan.

Struktur oligopoli bank berhadapan dengan oligopsoni nasabah. Oligopsoni nasabah mengerek biaya dana bank naik. Sedangkan oligopoli bank menahan bunga kredit di level tinggi. Kombinasi keduanya mengangkat biaya kredit semakin mahal.

Bank juga berlomba-lomba merebut hati nasabah ritel melalui program undian berhadiah. Penghimpunan semacam ikut meningkatkan biaya penghimpunan dana. Promosi semacam tidak mendidik mental menabung secara baik seyogianya perlu dilarang. Persaingan seharusnya hanya dalam bentuk layanan dan fasilitas yang lebih baik kepada nasabah.

Di sisi kredit, bank sentral berupaya menurunkan bunga melalui transparansi bunga. Sejauh mana bunga kredit bisa turun tergantung pada bank. Risiko kegagalan penyaluran dana dihadapi bank sendiri. Risiko nasabah diperhitungkan dalam bentuk bunga kredit tinggi. Namun alasan bank menganggap risiko tinggi nasabah dipertanyakan saat non performing loan (NPL) rendah dibawah 2%. Dengan risiko terkendali seharusnya bank mengurangi premi hingga bunga kredit lebih rendah.

Perlu Gebrakan

Pemahaman detil bank kepada nasabah akan terbantu dengan terbentuknya biro kredit, yang menyediakan informasi rekam jejak nasabah secara komplit. Bank menjadi lebih akurat memberi penilaian risiko nasabah. Nasabah yang mempunyai riwayat historis bagus berhak mendapat bunga lebih rendah. Bank tidak lagi menyamaratakan risiko nasabah yang berujung pada bunga kredit mahal.

Bank sentral bertugas membentuk iklim persaingan bank secara sehat. Bank dituntut bersaing kompetitif menyediakan layanan intermediasi, terutama bunga ramah untuk kredit produktif. Bunga kredit produktif memang turun lebih besar dibanding konsumsi. Bunga kredit investasi dan modal kerja turun 76 dan 66 poin, lebih besar penurunannya dibanding konsumsi 57 poin. Inisiasi penurunan lebih didorong kebijakan makroprudensial bank sentral. Ketentuan loan to value ratio dan down payment ditujukan menghambat kredit konsumtif agar lebih mengalir pada kegiatan produktif.

Kinerja bank sangat mengkilap dengan pertumbuhan kredit 22.6% tahun 2012. Non performing loan sangat rendah. Laba moncer dengan tumbuh 23%. Adagium pasar keuangan bahwa risiko rendah diikuti return rendah tidak berlaku. NPL rendah diikuti profit tinggi, indikator yang mengarah pada terlalu besarnya bank mematok marjin keuntungan.

Mengenang ulang tahun ke 30 gebrakan Sumarlin, rasanya Pak Agus Marto juga perlu menggebrak dalam merealisasikan penertiban bunga kredit. Bank dituntut bersaing kompetitif dalam mengemban fungsi penyaluran dana. Sangat disayangkan bila banyak kegiatan usaha potensial tidak terealisasi akibat mahalnya biaya dana.

Sent from my iPad