Daniel Kahneman: Teori Ekonomi Perilaku


Saya cuplik ceramah ybs dalam program Ted. Alamat lengkapnya disini: Cerita tentang Pengalaman dan Ingatan. Saat ini juga sedang membaca tulisannya dalam “thinking fast and slow”.

Terima kasih untuk R. Pawitra dan Judge Pau

 

Inilah ceramah Daniel selengkapnya dalam Bahasa Indonesia:

Semua orang berbicara tentang kebahagian akhir-akhir ini. Saya meminta seseorang menghitung jumlah buku yang judul bukunya mengandung kata “kebahagiaan” dan yang telah diterbitkan lima tahun terakhir. dan mereka menyerah setelah sekitar 40 (buku), padahal masih ada lebih banyak lagi. Ketertarikan terhadap kebahagiaan sangat besar,dikalangan para peneliti. Ada banyak pembimbingan kebahagiaan. Semua orang ingin membuat orang lain lebih bahagia. Tapi meskipun begitu banyak penelitian telah dilakukan,ada beberapa jebakan nalar yang membuat hampir mustahil untuk berpikir jernih tentang kebahagian

Dan pembicaraan saya hari ini sebagaian besar mengenai jebakan-jebakan nalar itu. Ini berlaku bagi orang kebanyakan yang berpikir tentang kebahagiaan mereka sendiri, dan juga berlaku bagi kaum terpelajar yang berpikir mengenai kebahagiaan, karena kenyataannya kita sama “parah”-nya dengan orang lain. Jebakan pertama adalah keengganan untuk mengakui kerumitan. Kenyataannya kata kebahagiaan itu tidak terlalu berarti lagi karena kita menggunakannya untuk terlalu banyak hal yang berbeda Saya pikir kita bisa batasi maknanya menjadi hanya satu arti tertentu tetapi secara umum ini akan menjadi suatu pengorbanan dan kita harus menerima pandangan yang lebih kompleks tentang arti kesejahteraan. Perangkap kedua adalah adanya kerancuan antara pengalaman dan ingatan:pada dasarnya ini adalah soal merasa bahagia dalam hidup anda dan merasa senang tentang hidup anda. atau merasa senang dengan hidup anda Dan kedua hal itu merupakan dua konsep yang sangat berbeda, dua hal itu adalah ganjalan dalam teori kebahagiaan. Dan yang ketiga adalah ilusi yang timbul karena pemusatan perhatian, dan kenyataan pahit bahwa kita tidak mampu memikirkan apapun yang berpengaruh pada kesejahteraan tanpa membiaskan apa yang penting. Jadi ini benar-benar sebuah perangkap nalar. Yang tidak bisa dihindari

Sekarang, saya akan mulai dengan sebuah contoh tentang seseorang yang melakukan tanya jawab setelah kuliah saya. [tidak jelas…] Dia bilang dia pernah mendengarkan sebuah simponi yang musiknya luar biasa indah tapi diakhir rekaman musik itu, ada cacat suara yang sangat jelek. Dan ia menambahkan dengan sangat emosional, hal itu merusak kesan keseluruhannya. Padahal tidak demikian. Apa yang rusak adalah ingatan tentang kesan itu. Ia tetap mengalami pengalaman itu. Ia menikmati musik yang luar biasa indah selama 20 menit. Yang hilang percuma karena sebuah ingatan; ingatan yang rusak, dan hanya ingatan rusak itulah yang ia simpan.

Apa yang ditunjukkan hal itu, sebenarnya, adalah mungkin kita memikirkankan diri kita dan orang lain dalam dua sisi yang berbeda. Kita mempunyai sisi yang mengalami, yang hidup di saat ini dan menyadari saat ini, yang mampu merasakan kembali masa yang telah berlalu padahal sisi itu hanya memiliki saat ini. Sisi yang mengalami ini yang membuat seorang dokter– biasalah, ketika dia bertanya, “Sakit tidak kalau saya sentuh disini?”Kemudian ada sisi yang mengingat, sisi yang mengingat ini yang hitung-hitungan, dan yang memelihara cerita hidup kita, yang membuat seorang dokter datang dan bertanya, “Apa yang kamu rasakan akhir-akhir ini?” atau “Bagaimana perjalanan anda ke Albania?” atau hal lain semacam itu Keduanya adalah hal yang sangat berbeda, Sisi yang mengalami dan sisi yang mengingat Ketidakmampuan membedakan keduanya adalah bagian dari kerancuan dalam teori kebahagiaan.

Sisi yang mengingat ini, adalah pendongeng. Dan sebenarnya berawal dari respon dasar ingatan kita– yang mulai dengan seketika. Kita tidak hanya bercerita ketika kita ingin bercerita. Ingatan kita senantiasa bercerita, apa yang kita simpan dari semua pengalaman kita adalah sebuah cerita. Dan ijinkan saya mulai dengan sebuah contoh. Ini adalah sebuah penelitian lama. Tentang pasien-pasien yang menjalani prosedur yang menyakitkan (pemeriksaan via dubur). Saya tidak akan perjelas. Sekarang prosedurnya sudah tidak begitu menyakitkan. namun masih menyakitkan ketika penelitian itu dilaksanakan pada tahun 1990-an. Pasien-pasien diminta melaporkan sakit yang mereka rasakan setiap 60 detik. Pada dua orang pasien. Itu adalah rekam jejak mereka. Kalau ada yang bertanya, “Siapa yang lebih merasakan sakit?” dan itu adalah sebuah pertanyaan sederhana.Sebenarnya, Pasien B lebih merasakan sakit. Proses kolonoskopi nya lebih panjang, dan dari setiap menit rasa sakit yang dirasakan oleh Pasien A Pasien B lebih lama merasakannya.

Tapi, bila ada pertanyaan lain: “Penderitaan sebesar apa yang pasien-pasien ini pikir mereka rasakan ?” Inilah kejutannya: Ternyata Pasien A memiliki ingatan lebih buruk tentang proses kolonoskopi dibanding Pasien B. Ada perbedaan cerita tentang proses kolonoskopi dan karena bagian paling kritis adalah bagaimana ceritanya berakhir — dan memang kedua ceritanya sendiri biasa-biasa saja — namun salah satu dari cerita ini meninggalkan bekas… (tertawa) salah satu dari cerita ini meninggalkan bekas lebih dalam dibanding yang lain. Dan cerita yang lebih berbekas adalah ketika rasa sakit terasa pada puncaknya di penghujung proses. Dia menjadi cerita yang buruk. Bagaimana kami mengetahuinya? Karena kami bertanya pada pasien-pasien itu sehabis proses kolonoskopi,dan bertanya lagi jauh setelah prosesnya selesai, “Seburuk apakah keseluruhan proses?”dan apa yang dalam ingatan A jauh lebih buruk daripada yang di ingatan B.

Disini ada konflik tajam. antara sisi yang mengalami dan sisi yang mengingat. Dari sudut pandang sisi yang mengalami, tentunya, B yang lebih menderita. Sekarang, apa yang bisa dilakukan terhadap pasien A, dan kami sungguh-sungguh melakukan eksperimen klinis,yang sudah pernah dilakukan dan terbukti berhasil, kita sebenarnya bisa memperpanjang proses kolonoskopi pasien A dengan membiarkan selangnya tetap didalam tanpa terlalu banyak menggoyangnya. yang akan tetap menyebabkan pasiennya menderita, namun hanya sedikit dan sakitnya jauh lebih berkurang dari sebelumnya. Dan apabila hal ini dilakukan selama beberapa menit, kalian telah membuat sisi yang mengalami dari Pasien A merasa lebih parah, Dan membuat sisi yang mengingat dari Pasien A merasa lebih baik,karena sekarang kita telah memberikan Pasien A cerita yang lebih baik tentang pengalamannya. Apa hakekat sebuah cerita? Dan ini berlaku untuk semua cerita yang diceritakan oleh ingatan pada kita, dan juga berlaku untuk semua cerita yang kita karang.Hakekat sebuah cerita adalah perubahan. perubahan besar antara momen dan akhir cerita.Akhir cerita adalah sangat penting dan dalam hal ini, akhir cerita menjadi penentu.

Sedangkan, sisi yang mengalami hidup terus menerus tanpa akhir. Ia memiliki momen-momen pengalaman sambung menyambung Lalu, Apa yang terjadi dengan momen-momen itu? Jawabannya cukup jelas. Mereka hilang untuk selamanya. Maksud saya, hampir semua momen hidup kita — dan saya hitung — dimana keberadaan kejiwaan adalah sepanjang kira-kira 3 detik. Yang artinya adalah, kalian tahu, dalam satu kehidupan terdapat sekitar 600 juta (keberadaan psikologis) Dalam sebulan terdapat 600.000. Hampir semua tidak meninggalkan jejak. Hampir semua terabaikan. oleh sisi yang mengingat.Namun, meski begitu, kita tetap merasa bahwa mereka adalah penting, dan yang terjadi pada saat mengalami momen-momen tersebut adalah hidup kita. Terhadap sumberdaya terbatas yang kita habiskan ketika kita masih dibumi ini. Cara menghabiskannya tampak menjadi seusatu yang relevan, namun cerita itu bukan cerita yang disimpan oleh sisi yang mengingat.

Jadi kita memiliki sisi yang mengingat dan sisi yang mengalami. dan keduanya sangat berbeda satu dengan lainnya. Perbedaan terbesar antara mereka adalah dalam memaknai waktu. Dari sudut pandang sisi yang mengalami, ketika berlibur, dan minggu kedua sama bagusnya dengan minggu pertama, maka pengalaman liburan selama dua minggu dua kali lebih baik dari pada liburan satu minggu. Itu tidak berlaku bagi sisi yang mengingat. Bagi sisi yang mengingat, liburan selama dua minggu tidak jauh berbeda dengan liburan selama satu minggu karena tidak ada penambahan ingatan baru. ceritanya belum berubah. Dalam hal ini, waktu merupakan variabel yang kritis yang membedakan sis yang mengingat dari sisi yang mengalami Waktu hanya sedikit berpengaruh pada cerita ini.

tapi sisi yang mengingat melakukan lebih dari sekedar mengingat dan bercerita. Sisi yang mengingatlah yang sebenarnya membuat keputusan karena, bila kalian memiliki seorang pasien yang pernah… mengalami dua proses kolonoskopi dengan dua dokter yang berbedadan sedang memutuskan untuk memilih (dokter) yang mana, yang memilih adalah sisi yang mempunya ingatan yang lebih menyenangkan dan dengan cara itulah dokter tersebut terpilih. Sisi yang mengalami tidak memiliki suara dalam hal ini. Kita sebenarnya tidak memilih berdasarkan pengalaman-pengalaman. Kita memilih berdasarkan ingatan dari pengalaman-pengalaman. Bahkan ketika kita berpikir tentang masa depan, kita biasanya tidak menganggap masa depan kita sebagai pengalaman. Kita menganggap masa depan kita sebagai ingatan yang kita harapkan. Dan pada dasarnya memang tampaknya, kita dijajah oleh sisi yang mengingat, dan kalian bisa berpikir bahwa sisi yang mengingat seperti menyeret sisi yang mengalami kedalam pengalaman-pengalaman yang tidak dibutuhkan sisi yang mengalami.

Saya merasa begitu ketika kita pergi berlibur dan ini yang biasanya sering terjadi, alasan kita berlibur sebagian besar karena demi memuaskan sisi yang mengingat itu. Dan ini memang agak kurang masuk akal menurut saya Maksud saya, seberapa banyak sebenarnya ingatan yang kita pakai ? Ini salah satu penjelasan tentang besarnya dominasisisi yang mengingat ini Dan ketika saya memikirkan ini, saya teringat pada liburan kami di Antartika beberapa tahun lalu, yang merupakan liburan terbaik yang pernah saya alami, dan secara relatif saya lebih sering memikirkan liburan itu dibanding liburan-liburan yang lainSaya mungkin hanya menggunakan ingatan saya tentang liburan selama tiga minggu itu, mungkin, sebanyak kurang lebih 25 menit dalam 4 tahun terakhir. Jika saya membuka folder yang berisi 600 foto, saya mungkin akan menghabiskan 1 jam waktu tambahan. Nah, liburannya tiga minggu, tapi ingatannya paling lama satu setengah jam. Kelihatannya ada suatu keanehan. Mungkin ini terdengar sedikit berlebihan, mengenai begitu mnimnya keinginan saya untuk mengkonsumsi ingatan, namun, meskipun saya melakukan lebih banyak lagi, akan tetap muncul sebuah pertanyaan. Mengapa kita sangat menekankan ingatan dibandingkan pengalaman?

Jadi mari kita lakukan sebuah percobaan terhadap pikiran kita Bayangkan jika liburan kalian selanjutnya anda tahu pada akhir liburan semua foto-foto kalian akan rusak, dan kalian akan meminum obat penghapus ingatan sehingga kalian tidak mengingat apa-apa. Nah, apakah kalian akan memilih liburan yang sama? (Tertawa) Meski anda memilih liburan lain, akan tetap terjadi konflik antara kedua sisi itu. dan kalian butuh memikirkan jalan keluar dari konflik itu, dan sebenarnya tidak semua mudah dimengerti karena, jika kalian berpikir berdasarkan waktu, maka kalian akan mendapat satu jawaban. Dan bila kalian berpikir berdasarkan ingatan, kalian juga bisa mendapatkan jawaban yang lain. Kenapa kita memilih liburan yang kita lakukan, hal ini adalah sebuah masalah yang kita hadapi sebuah pilihan diantara kedua diri kita

Saat ini, kedua diri kita memunculkan dua teori kebahagiaan. Tetapi terhadap diri kita, kedua konsep kebahagiaan itu hanya bisa diterapkan salah satu dari konsep itu. Jadi anda bisa tanya tentang: Seberapa bahagia sisi yang mengalami itu ? Dan anda bisa tanya tentang: Seberapa bahagia momen-momen dalam hidup sang sisi yang mengalami ? Dan semua itu — kebahagian dalam tiap momen adalah sebuah proses yang rumit. Emosi-emosi apa saja yang bisa diukur? Dan, ngomong-ngomong, sekarang setelah kita punyapemahaman yang lumayan bagus tentang kebahagiaan dari sisi yang mengalami sejalan dengan waktu. Bila kalian bertanya tentang kebahagiaan dalam sisi yang mengingat akan menjadi suatu hal yang sangat berbeda. Ini bukan mengenai seberapa bahagia kehidupan seseorang ini adalah mengenai seberapa puas seseorang ketika ia memikirkan tentang hidupnya. Hal yang sangat berbeda. Siapa saja yang tidak dapat membedakan hal itu, akan mengacaukan penelitian tentang kebahagiaan, dan saya adalah bagian dari peneliti kesejahteraan yang sudah lama ikut mengacaukan pelajaran mengenai kebahagiaan karena hal itu.

Keberadaan dari kebahagiaan sisi yang mengalami dan kepuasan sisi yang mengingat telah diakui secara luas dalam beberapa tahun terakhir, dan saat ini ada upaya-upaya untuk mengukur keduanya secara terpisah, Gallup Organization mengadakan sebuah pollingdimana setengah juta orang telah diwawancara tentang apa opini mereka tentang hidup mereka sendiri dan tentang pengalaman mereka. Dan telah ada upaya-upaya lain di jalur yang sama Jadi beberapa tahun terakhir ini kita telah mulai mempelajari tentang kebahagiaan dalam dua diri kita. Dan pelajaran utama yang kita dapat menurut saya,adalah keduanya sangat berbeda. Kalian dapat mengetahui seberapa puas seseorang terhadap hidup mereka. tapi itu tidak memberikan pencerahan apa-apa tentang seberapa bahagia mereka dalam menjalani hidupnya, dan sebaliknya. Hanya untuk memberikan kalian sedikit korelasi, korelasi ini mengenai 5 Apa artinya bila kalian bertemu seseorang,dan anda diberitahu, oh ayahnya setinggi 6 kaki, Tapi apa yang kalian tahu tentang tingginya? Kalian mungkin mengetahui sesuatu tentang tinggi orang itu, namun ada banyak ketidakpastian. Sama tidak pastinya ketika saya memberitahu kalian bahwa ada orang yang memberi nilai 8 tentang hidupnya dalam skala 1 sampai 10, Ada banyak sekali ketidakpastian mengenai seberapa bahagia sisi yang mengalami dalam diri mereka Jadi korelasinya rendah.

Kita tahu tentang sesuatu yang mengontrol kepuasan dalam kebahagiaan diri. Kita tahu bahwa uang itu sangat penting, tujuan adalah sangat penting. Kita tahu bahwa kebahagiaan pada dasarnya adalah merasa puas dengan orang-orang yang kita sukai, menghabiskan waktu dengan orang-orang yang kita sukai. Ada banyak kesenangan-kesenangan lain, namun hal ini mendominasi. Jadi, bila kalian ingin memaksimalkan kebahagiaan dalam dua diri, kalian akan berakhir melakukan dua hal yang sangat berbeda. Pada dasarnya yang saya katakan disini adalah kita seharusnya tidak usah memikirkan kebahagiaan sebagai sebuah pengganti kesejahteraan Itu adalah dua hal yang berbeda.

Sekarang, singkatnya, alasan lain kita tidak dapat berpikir jernih mengenai kebahagiaankarena kita tidak memperhatikan hal yang sama ketika kita berpikir tentang kehidupan, dan ketika kita menjalani hidup. Jadi, kalau kalian menanyakan pertanyaan sederhana tentang seberapa bahagia orang-orang di California, kalian tidak akan mendapat jawaban yang tepat. Ketika kalian menanyakan hal itu, kalian berpikir orang-orang pasti lebih bahagia di California, dibandngkan, sebut saja, orang yang hidup di Ohio. (Tertawa) Dan yang terjadi adalah ketika kalian berpikir tetang hidup di California, kalian memikirkan kesenjangan yang ada antara California dan tempat-tempat lain, dan kesenjangan itu, sebut saja, ada dalam iklim. Namun, ternyata iklim tidak begitu penting bagi sisi yang mengalami dan bahkan tidak seberapa penting bagi cerminan diri yang memutuskan seberapa bahagia seseorang itu. Sekarang, karena cerminan diri itu lebih berkuasa, kalian mungkin akan memutuskan — beberapa orang mungkin akan memutuskan pindah ke California. Dan menarik untuk diikuti apa yang kemudian terjadi pada orang-orang yang pindah ke California dengan harapan lebih bahagia. Sisi yang mengalami dari diri mereka tidak akan menjadi lebih bahagia. Kita tahu itu. Namun satu hal akan terjadi. Mereka pikir mereka lebih bahagia, karena, ketika memikirkan kebahagiaan mereka teringat pada seberapa buruk iklim di Ohio. Dan mereka akan merasa kalau mereka membuat keputusan tepat.

Akan sangat sulit untuk berpikir jernih tentang kesejahteraan, dan saya harap saya telah memberikan kepada kalian gambaran kesulitan itu.

Terima kasih.

(Tepuk tangan)

Chris Anderson: Terima kasih. Saya memiliki satu pertanyaan untuk anda. Terima kasih banyak. Ketika kita melakukan pembicaraan telepon beberapa minggu lalu, anda mengatakan bahwa ada satu hasil menarik yang muncul dalam survei Gallup. Apakah anda bisa cerita tentang hal itu karena anda masih memiki sisa waktu saat ini?

Daniel Kahneman: Tentu saja. Saya kira hasil paling menarik yang dapat kita temukan dalam survei Gallup adalah suatu pencerahan yang kita tidak sangka akan temukan. Kita menemukan itu dalam hal kebahagiaan sisi yang mengalami. Juga ketika kami melihat bagaimana perasaan dipengaruhi perbedaan pendapatan. ternyata, pendapatan dibawah60.000 dollar per tahun untuk seorang Amerika, dan ini dari jumlah sampel yang sangat besar sekitar 600.000 orang Amerika, jadi sampelnya cukup mewakili, adalah ketika pendapatan orang dibawah 600.000 dollar per tahun…

CA: 60,000.

DK: 60.000. (Tertawa) 60.000 dollar pertahun, orang-orang kurang bahagia, dan makin miskin orangnya, secara progressif mereka jadi makin tidak bahagia Diatas itu, kita mendapatkan garis yang sangat rata. Maksud saya, saya jarang menemukan garis yang serata itu. Sudah jelas yang terjadi adalah uang tidak bisa membeli pengalaman bahagia,namun kurangnya uang sudah pasti membuat penderitaan, dan kita dapat mengukur penderitaan itu dengan sangat-sangat jelas. Tetapi dalan konteks diri yang lain, sisi yang mengingat kita mendapatkan cerita yang berbeda. Semakin banyak uang yang kalian hasilkan semakin kalian merasa puas. Namun hal itu tidak berlaku terhadap emosi.

CA: Tapi Danny, seluruh usaha orang Amerika adalah mengenai kehidupan, kebebasan dan mengejar kebahagiaan. Bila orang-orang menanggapi serius temuan tersebut, maksud saya, sepertinya akan membalikkan semua yang kita percaya, sebut saja, kebijakan pajak, dll. Apakah mungkin beberapa politisi, sebagian besar penduduk, akan menganggap serius temuan itu dan menjalankan kebijakan publik berdasarkan hal tersebut?

DK: Kalian tahu saya pikir sudah ada yang mengakui mengenai peranan penelitian kebahagiaan dalam kebijakan publik. Pengakuan ini akan lambat di Amerika, pastinya, tapi di Inggris, hal ini sedang terjadi, dan di negara-negara lain juga sedang terjadi. Masyarakat mulai mengakui mestinya mereka lebih memikirkan tentang kebahagiaan ketika mereka berpikir tentang kebijakan publik. Akan memakan waktu, dan masyarakat akan berdebatapakah mereka mau mempelajari pengalaman kebahagiaan, atau mereka mau mempelajari evaluasi kehidupan, jadi kita perlu untuk melakukan debat itu dalam waktu dekat,Bagaimana meningkatkan kebahagiaan, caranya akan sangat berbeda tergantung pada bagaimana kita berpikir, dan apakah kita bertolak dari sisi yang mengingat atau bertolak dari sisi yang mengalami. Hal ini saya kira akan mempengaruhi kebijakan dalam beberapa tahun kedepan. Di Amerika, upaya-upaya sedang dilakukan untuk mengukur kebahagiaan yang dialami oleh populasi yang ada. Dalam beberapa dekade kedepan, hal ini menurut saya akan menjadi bagian dari statistik nasional.

CA: Jadi bagi saya, hal ini akan atau paling tidak mestinya menjadi, diskusi kebijakan yang paling menarik untuk diikuti untuk beberapa tahun kedepan. Terima kasih banyak sudah menciptakan ekonomi perilaku. Terima kasih Danny Kahneman.

Pendapat:

Menurut saya pemikiran Daniel akan sangat berguna dalam proses kerja pengawasan perbankan termasuk motif perilaku kaum banker dan kemungkinan dalam kesadaran melakukan fraud.

Iklan

Pidato Gubernur Bank Indonesia di Acara Perpisahan dengan Pegawai Bank Indonesia Yang Ditempatkan di Otoritas Jasa Keuangan


SAMBUTAN GUBERNUR BANK INDONESIA UPACARA KHUSUS DALAM RANGKA PENUGASAN PEGAWAI BANK INDONESIA KE OTORITAS JASA KEUANGAN
20 Desember 2013
Yang Kami hormati,
Deputi Gubernur Senior dan Anggota Dewan Gubernur
Asisten Gubernur
Para Pimpinan Satuan Kerja di Kantor Pusat dan di Kantor Perwakilan
Dalam Negeri
Para Pegawai Bank Indonesia yang kami cintai dan kami banggakan,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salam Sejahtera
untuk kita semua.
1. Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa, karena hanya atas perkenan-Nya kita semua bisa hadir dalam kesempatan dan suasana yang baik ini. Pada pagi hari ini, kita tidak hanya akan meneguhkan tekad kita untuk membangun Indonesia yang lebih baik, namun juga menyampaikan rasa bangga kepada para pegawai yang akan mengemban tugas khusus membangun perekonomian dan sistem keuangan Indonesia yang lebih tangguh.
Anggota Dewan Gubernur dan Para Pegawai yang kami cintai,

2. Sebagaimana lembaga pemangku kebijakan publik lainnya, Bank Indonesia memiliki keunikannya tersendiri dalam keseluruhan
kontinuum kebijakan publik di negeri kita. Bank Indonesia adalah salah satu lembaga utama penyedia tiga pilar stabilitas yang menjadi penopang dan elemen-elemen penyinambung (elements of continuity) proses pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

3. Tiga pilar stabilitas tersebut adalah: (a) stabilitas nilai rupiah, (b) industri perbankan yang sehat dan tangguh sebagai penopang
stabilitas sistem keuangan, dan (c) sistem pembayaran modern yang lancar, aman, cepat dan murah untuk mendukung kegiatan transaksi dalam perekonomian.

4. Kami dapat mengatakan bahwa upaya untuk mewujudkan berbagai aspirasi yang terkandung dalam mandat tadi telah membuahkan hasil-hasil yang sangat penting, yang telah turut menjaga momentum kesinambungan pembangunan perekonomian nasional. Hasil-hasil tersebut telah diperoleh dalam semangat kemandirian pelaksanaan tugas, sesuai arah dan langkah yang selaras dengan kepentingan masyarakat.

5. Oleh karenanya pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan apresiasi pada seluruh jajaran di Bank Indonesia, yang telah
memberikan kerja dan karsa terbaiknya, serta menunjukkan kualitasnya sebagai first rate professionals yang mandiri dalam
berpikir, dan senantiasa mengambil keputusan yang mendahulukan kepentingan masa depan rakyat dan negerinya.
Anggota Dewan Gubernur dan para pegawai yang kami banggakan,

6. Perwujudan kongkrit dari hasil dharma bhakti dan profesionalisme yang terus dipupuk di jajaran Bank Indonesia antara lain tampak pada kinerja sistem perbankan yang membesarkan hati. Hari ini, tigapuluh tahun sejak era perbankan modern dimulai, Indonesia sudah memiliki sistem perbankan yang dapat dipersandingkan dengan negara-negara lain di Asia. Indonesia kini memiliki bank-bank yang memiliki ketahanan tinggi dan mampu mendukung perekonomian nasional dengan pembiayaan yang beragam, untuk memfasilitasi aktivitas ekonomi dan bisnis di semua lapisan masyarakat.

7. Kita bersama-sama juga menyaksikan bagaimana lembaga perbankan secara efisien mengalirkan likuiditas kepada kegiatan produktif dan masyarakat hingga di pelosok pedesaan. Itu semua adalah bukti nyata dari pengabdian para pemeriksa dan pengawas bank, serta para cendekia perumus kebijakan perbankan, sebagai putera-puteri terbaik
Bank Indonesia.

8. Namun demikian, kita tidak boleh berhenti hanya sampai disini dan berpuas diri serta terlena dengan segala pencapaian tadi. Pengabdian masih harus terus berlanjut. Masih banyak yang harus dilakukan untuk memperbaiki modal dasar perekonomian, agar akselerasi pembangunan ekonomi dapat direalisasikan. Sebagai pengawal sistem perbankan nasional, masih banyak kerja yang harus kita lakukan untuk perumusan strategi pengembangan sistem, produk, teknologi, jaringan dan layanan perbankan serta sistem keuangan lainnya.

9. Keahlian pegawai Bank Indonesia untuk melakukan pengaturan dan pengawasan bank tidak ada yang meragukan lagi. Berbagai
pengakuan dari komunitas bank sentral dan lembaga keuangan internasional telah membuktikan prestasi dan keunggulan itu. The
Asian Bankers pada tahun 2012 telah menobatkan Bank Indonesia sebagai The Best Systemic and Prudential Regulator . Bahkan hasil Financial Sector Assesment Program yang dilakukan World Bank dan IMF di tahun 2012 menyimpulkan bahwa Bank Indonesia telah secara efektif melakukan perbaikan pada sistem perbankan paska krisis 1997/1998.

10. Selain keberhasilan dan pengakuan dunia internasional diatas, kita pernah pula mengalami peristiwa dan catatan yang kurang
menggembirakan, ketika harus melakukan penutupan maupun penyelamatan bank bermasalah. Namun demikian, kami meyakini
bahwa hal ini bukanlah karena sistem pengawasan yang kurang tertata. Tidak ada satu sistem pengawasan pun di dunia ini yang
dapat menjamin tidak adanya bank bermasalah. Pengawasan bank oleh Bank Indonesia adalah garda kedua, sementara faktor manajerial dan governance serta komitmen pemegang saham merupakan garda terdepan, sekaligus faktor penentu kelangsungan usaha bank. Anggota Dewan Gubernur dan Para Pegawai yang kami cintai,

11. Beberapa hari lagi kita akan bersama-sama menyaksikan hari bersejarah bagi Republik Indonesia, khususnya di sistem keuangan. Pada 31 Desember 2013 nanti, fungsi, tugas, dan kewenangan pengaturan dan pengawasan mikroprudensial bank akan beralih dari Bank Indonesia kepada Otoritas Jasa Keuangan.

12. Disini ada dua tantangan yang mengemuka. Pertama, bagaimana agar proses pengaturan dan pengawasan bank dapat terus berjalan baik dan tidak menjadi terganggu dengan adanya pengalihan tersebut. Kedua, bagaimana agar fungsi, tugas, dan kewenangan Bank Indonesia lainnya tetap dapat berjalan efektif paska pengalihan diatas.

13. Ketika pengalihan sudah efektif dilaksanakan, tentunya kita tidak menginginkan sistem pengawasan yang selama ini dibangun dan diakui oleh dunia internasional menjadi tidak optimal, karena tidak tertangani dengan baik. Putera-puteri terbaik Bank Indonesia harus turun tangan mengawal dan menjaga kelangsungan pengawasan bank, serta mengembangkannya untuk menjadi lebih baik lagi, dan terintegrasi dengan pengawasan sektor jasa keuangan lainnya.

14. Selain itu, putera dan puteri terbaik Bank Indonesia yang mengemban tugas di Otoritas Jasa Keuangan juga diharapkan dapat memfasilitasi sinergi kerjasama antar otoritas, untuk memastikan masing-masing lembaga dapat menjalankan fungsi, tugas, dan kewenangannya secara efektif. Termasuk dalam hal ini adalah kelancaran koordinasi pengawasan makro-mikroprudensial antara Bank Indonesia dengan Otoritas Jasa Keuangan.

15. Ibarat sebuah permata yang akan tetap berkilau dimana pun permata itu berada, kami meyakini hal tersebut juga akan tampak pada pegawai Bank Indonesia yang akan bertugas di Otoritas Jasa Keuangan. Etos kerja, kompetensi, dan keahlian mengawasi bank yang selama ini ditempa, merupakan modal utama yang melekat kepada setiap pengawas bank dan akan terus menjadi kilau yang bersinar dimana pun mengabdi dan bertugas. Para Pegawai Bank Indonesia yang kami cintai dan kami banggakan,

16. Dimana pun kita mengabdi dan melaksanakan tugas, ingatlah bahwa pada akhirnya kita masih anak bangsa yang sama, dengan cita-cita kebangsaan yang juga sama. Dimanapun kita mengabdi, kita tetap melangkah di bumi Indonesia yang sama, menghirup udara Indonesia yang sama, menghidupkan spirit satu Indonesia yang sama, dan mempersembahkan pengabdian kepada rakyat dan bangsa yang sama.

17. Oleh karena itu, kepada para pegawai yang dipercaya untuk mengawal kelangsungan pengaturan dan pengawasan bank, serta
mereka yang berkontribusi di shared function Otoritas Jasa Keuangan, kami berpesan untuk terus menunjukkan kualitas terbaik
dalam bekerja. Tidak perlu ragu, bimbang, dan ada kekhawatiran mengenai penugasan ini. Laksanakan dan jalankan tugas di Otoritas Jasa Keuangan sepenuh hati dan dengan tekad bulat, membawa nama baik Bank Indonesia.

18. Bawalah rasa kebanggaan lembaga ini, sebagai bekal keyakinan untuk membuktikan keutamaan keahlian putera dan puteri terbaik Bank Indonesia di tempat tugas yang baru. Kerja keras dan kerja cerdas untuk membuat sistem perbankan dan keuangan yang efisien, sehat, dan govern, tidak boleh berhenti.

19. Bank Indonesia akan berbesar hati jika kemudian ada pegawainya yang dalam penugasan merasa terpanggil dan memilih untuk terus memberikan kontribusi terbaik kepada negara, bangsa, dan masyarakat melalui Otoritas Jasa Keuangan. Kami juga akan merasa bangga dan tersanjung jika ada pegawai dalam penugasan yang mendapatkan kepercayaan penuh dari Otoritas Jasa Keuangan dan diminta untuk melanjutkan pengabdian di lembaga tersebut. Hal ini merupakan pengakuan atas kredibilitas, kompetensi, dan keahlian sebagai pengawas yang sudah terbangun selama ini di Bank Indonesia.

20. Akhir kata, kami atas nama Dewan Gubernur dan seluruh pegawai Bank Indonesia mengucapkan selamat kepada Saudara/Saudari yang akan menunaikan tugas negara di Otoritas Jasa Keuangan. Kami percaya kehormatan dan nama baik Bank Indonesia akan senantiasa dijaga dalam setiap kerja dan karsa, dimana pun berkarya. Mudah-mudahan semua yang kita lakukan untuk kemajuan negara, bangsa, dan masyarakat diridhoi Tuhan Yang Maha Kuasa, dan kita semua diberikan kekuatan untuk menjalaninya. Amiin.
Billahittaufik WalHidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh.
Gubernur Bank Indonesia
Agus D.W. Martowardojo

BI Beri Penghargaan Kepada Pelapor Terbaik LLD dan DHE


BI Beri Penghargaan Kepada Pelapor Terbaik LLD dan DHE  
04 Desember 2013
 
 
 

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyerahkan penghargaan kepada para pelapor terbaik Lalu Lintas Devisa (LLD) dan Devisa Hasil Ekspor (DHE). Penghargaan ini diserahkan dalam acara Temu Akhir Tahun Pelapor Lalu Lintas Devisa dan Devisa Hasil Ekspor 2013 yang digelar 4 Desember 2013 di Bank Indonesia Jakarta.

Penghargaan ini diberikan kepada bank maupun lembaga bukan bank yang menjalankan kewajiban pelaporan LLD dan DHE. Penilaian LLD ditetapkan berdasarkan jumlah dan variasi laporan, kualitas data, kecepatan dan ketepatan penyampaian laporan, serta kerjasama dan kecepatan respons petugas pelapor LLD terhadap permintaan BI.

Pelapor DHE dibagi dalam dua kelompok, yaitu Bank yang menyampaikan Rincian Transaksi Ekspor (RTE) dan Eksportir. Penilaian terhadap bank RTE didasarkan pada kriteria jumlah penerima DHE dan record RTE, serta dokumen pendukung kesesuaian laporan RTE dengan laporan transaksi. Sementara itu, kriteria yang dipergunakan untuk eksportir pelapor DHE adalah besarnya nilai DHE, rasio DHE terhadap Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB)free on board, dokumen pendukung, serta kesesuaian PEB dengan DHE dan dokumen pendukung.

Berikut para penerima penghargaan dimaksud:

Pelapor LLD –Lembaga Bukan Bank (LBB)

 

PT. GARUDA INDONESIA PERSERO, TBK,

PT. TRIMEGAH SECURITIES, TBK,

PT. CHEVRON PACIFIC INDONESIA,

PT. BINASAWIT ABADI PRATAMA,

PT. INDO BHARAT RAYON

Pelapor LLD – Utang Luar Negeri (ULN)

 

PT. SUMMIT OTO FINANCE,

PT. INDOCHEMICALS CITRA KIMIA,

PT. PINDO DELI PULP AND PAPER MILLS,

PT. INDIKA INTI ENERGI,

PT. SUMBER INDAH PERKASA, TBK

Pelapor LLD -Bank

 

CITIBANK, N.A.,

CIMB NIAGA,

DEUTSCHE BANK AG,

PT. BANK INTERNASIONAL INDONESIA, TBK.,

PT. BANK PERMATA, TBK.

Pelapor Bank Rincian Transaksi Ekspor (RTE)

 

THE BANK OF TOKYO-MITSUBISHI UFJ LTD,

PT. BANK SUMITOMO MITSUI INDONESIA,

PT. BANK MIZUHO INDONESIA,

STANDARD CHARTERED BANK,

PT. BANK DANAMON INDONESIA

Eksportir Pelapor DHE

 

PT. ADARO INDONESIA,

PT. INTIBENUA PERKASATAMA,

PT. SIIX ELECTRONICS INDONESIA,

PT. NITORI FURNITURE INDONESIA

“Perkembangan pelaporan LLD dan DHE pada 2013 menunjukkan hasil yang membaik. Hal ini tercermin dari meningkatnya jumlah pelapor dan kualitas data laporan,” demikian disampaikan Perry Warjiyo mengawali acara tersebut.

Bank Indonesia menyadari bahwa pelaporan LLD dan DHE telah menyita waktu dan tenaga lembaga pelapor. Namun perlu kita sadari bersama bahwa data ini sangat dibutuhkan sebagai dasar analisa dan perumusan kebijakan moneter.”Kontribusi pencatatan statistik LLD dan DHE yang lengkap, reliable, akurat dan tepat waktumerupakan amunisi yang diperlukan dalam perumusan kebijakan baik di bidang moneter, makroprudensial dan perbankan maupun sistem pembayaran. Dengan pelaporan yang efektif maka hal ini diharapkan dapat berkontribusi besar pada stabilitas makro ekonomi, sehingga pelaku bisnis yang diantaranya termasuk pelapor LLD dan pelapor DHE juga akan dapat menjalankan roda bisnisnya dengan lebih baik. Untuk itu, dalam kesempatan ini, Saya berpesan agar laporan LLD harus senantiasa dijaga baik kualitas maupun kuantitasnya secara lengkap, benar dan tepat waktu,” demikian Perry Warjiyo menekankan.

Pada awalnya kewajiban laporan LLD dimulai dari LLD bank yang melaporkan kegiatan LLD yang dilakukan oleh Bank sebagai pelaku sendiri maupun nasabahnya. Kemudian berikutnya dikuti dengan laporan LLD–Lembaga Bukan Bank. Demikian pula untuk laporan LLD–Utang Luar Negeri (ULN) yang sebelumnya bersifat sukarela (voluntary) menjadi wajib dilaporkan kepada Bank Indonesia sejak tahun 2000. Dalam rentang waktu hampir 13 tahun sejak diluncurkan ketentuan dimaksud, pelaporan LLD menunjukkan kontribusinya yang semakin signifikan dalam memasok data bagi perumusan kebijakan di Bank Indonesia.

Pada posisi September 2013, jumlah pelapor LLD – Bank, LLD LBB dan LLD – ULN  secara berturut-turut sebesar 120 pelapor, 2.514 pelapor  dan 2.313 pelapor.  Sedangkan pelapor DHE saat ini berjumlah sekitar 11.700 eksportir.

 

sumber: intrenal