Zakat


sebagian menangisi kepergian bulan suci ramadan. di kala barokah dari yang maha pemberi barokah akan berakhir, tibalah hari kemenangan. hari sang juara.

juara karena dalam waktu yang singkat telah berupaya menjadi yang lebih baik. tujuannya satu: menjadi orang yang bertaqwa. yang selalu menjalankan perintah tuhan dan menjauhi larangan-Nya. untuk menjadi patuh secara ikhlas. untuk berbuat baik. lebih baik. terbaik. dan mendarah daging.

lantas apakah lebaran dirayakan dengan mudik sudah cukup? bermaaf-maafan dengan sesama dianggap rampung?

ada desakan ekonomi yang harus dihadapi.
bayar zakat fitrahmu.
tunaikan dan sucikan hartamu.
sholat, puasa, dan berzakat.

zakat adalah ibadah berdimensi sosial ekonomi. puncak dari ibadah ruhani? bagi saya iya. keikhlasan membagi sebagian rejeki adalah sesuatu yang mulia.

berhasil secara ekonomi tentunya akan dituntut untuk berhasil secara sosial. sebagian dari harta kita adalah milik mereka yang tak berpunya.

bagi. dan rayakan.
senyum bersama. menciptakan kesejahteraan lahir dan batin.

semoga.

Iklan

Pemikir


setelah lama saya pikir-pikir, sepertinya saya memang lebih berbakat sebagai pemikir. iya pemikir sejati. hanya berpikir. itu saja. sudah. tidak seperti menjadi penulis, yang menuangkan buah pikir dalam tulisan, menjadi pemikir lebih enak. sekadar berpikir. tanpa hasil apapun kecuali pikiran yang berkecamuk. atau malah jangan-jangan pemikir itu dapat berpikir secara efektip dan efisien sehingga dalam berpikir dapat dilakukan ‘secukupnya’ saja.

menjadi pemikir akan menghayati segala kejadian secara lebih intim, intens dan ikrib. semua dipikirkan dari pangkal hingga ujung. dicara hal-ihwal, sebab musabab, asal mula, mengapa begini mengapa begitu, hingga proses kejadian, apa yang terjadi, apa dan bagaimana, kapan hingga pada akhirnya hasilnya menjadi demikian. pemikir adalah orang yang melakukan proses jalan sunyi. jangan-jangan pemikir lebih ampuh daripada filsuf maupun para sufi. pemikir tidak perlu menuangkan apa-apa sebagai tanda hasil pekerjaannya. dia ndak mau riya. cukup disimpan dalam logika, jalan pikir, daya ingatan dan diwujudkan dengan perbuatan. dia diam-diam berubah. diam-diam memperbaiki diri. tidak menyuruh tapi meneladani dan memberi tauladan. nah ini baru bener. pemikir yang tujuannya untuk mengubah diri sendiri menjadi lebih oke. sebelum dia memberikan contoh bagi orang lain.

tapi apa ya kuat. banyak mikir tanpa sempat berak intelektualitas dan menjadikannya buah lisan dan buah tulis itu pasti ngempet banget. banyak pikiran tapi ndak diutarakan. bisa stres sendiri. bisa-bisa senewen. bakalan galau. kalau kata mare, anak saya, ini namanya garut. galau rutin. hhe hhe.

toh pada akhirnya pemikir itu semacam olahraga kata pada bela diri karate. dia bergerak penuh tenaga, dengan gongfu meyakinkan, dalam setiap kelebatnya menyiratkan disiplin berlatih diri. pemikir banyak berlatih dengan logika, analisa, hipotesa, dan coba merumuskan pemecahannya hingga terbukti apa yang dipikirkannya dengan menyelaraskan fakta kejadian yang sebenarnya. pemikir juga akan coba menampuh jalan kegelapan berupa mencari titik terang atas sesuatu yang masih gulita. tapi pada akhirnya ia butuh lawan tanding. perlua ada hasrat yang disalurkan.

dalam bentuk ngomyang? bisa jadi. butuh teman ngobrol? bisa jadi. lebih elegan jika pemikir menuangkan buah pikirnya dalam bentuk tulisan. dan akhirnya pemikir itu menjadi seorang penulis.

naik derajat apa turun derajat.

jika melihat urut-urutan waktu dan kejadian dalam proses tulisan tertuang, maka penulis sejatinya lebih hebat dari pemikir. tapi dengan satu syarat: apa yang ia tulis memang dipikir dulu.

gitu.

 

selamat sore.

 

whatsapp


dulu bbm grup yang begitu dominan sebagai media jejaring pertemanan. teman smp, sma, kuliah, sepermainan, klab hobi kumpul dalam bbm grup ini. kira-kira sejak 2008 hingga 2012. lantas berangsur-angsur seiring semakin mudahnya akses internet, murah, lancar dan menjamurnya gawai layar sentuh yang didominasi sistem operasi android maka aplikasi whatsapp menggantikan bbm grup ini.

bb tinggal kenangan. whatsapp lebih menjanjikan. ringan dan mudah. apalagi terintegrasi dengan nomor gawai kita.

seperti biasa, bahasa lisan, kebiasaan kongkow dan senang bercanda terakomodir hampir sempurna dengan whatsapp ini. akhirnya, semua grup pindah ke whatsapp.

cetang cetung tiada henti.

apalagi jika seluruh grup aktip. teman sepermainan bawel. temen alumni kuliah apalagi. belum teman rekan kerja. kalau terus diladeni kita tiada henti merespon setiap notifikasi.

bagaimana kita harus menyikapinya? klise: perlakukan dengan bijak. padahal ya itu tadi, sembari tidur-tiduran kita dapat melepas rindu. sembari di kamar mandi kita bisa ketawa-ketiwi. dunia.. oh dunia. kapan lagi kamu berhenti menebar racun dunia.

jika kita anggap sarana ini adalah ajang silaturahmi, maka whatsapp menjadi sesuatu yang begitu membantu. namun tentu saja, noise yang ditimbulkan dapat mengganggu ritme kerja, ritme bercengkrama secara langsung.

mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.

tapi apa boleh buat, demikian adanya.

salam cetang cetung
kopdang.
yang baru saja dipaksa masuk grup whatsapp jaman kuliah. ūüėĀ

Bulan Puasa


Seberapa sering puasa hadir dalam kehidupan kita? puasa ramadan, tentu saja. Setiap tahun. sebulan penuh. Karena puasa adalah kewajiban.

lantas bagaimana dengan puasa dalam artian lain. menahan sesuatu. tidak hanya soal menahan sesuatu dari makan-minum namun juga kepada keinginan-keinginan printilan yang menghiasi keseharian kita. Misalnya saja perlukah kita memiliki sepatu sedemikian banyak. baiklah. tidak banyak. hanya beberapa.  dua pasang untuk kerja, dua pasang untuk olahraga, sepasang untuk santai, satu lagi untuk renang. wajar? masih wajar sepertinya. bagi sebagian dari kita.

bagaimana dengan tas. sedemikian banyak tas kita miliki. untuk kerja saja ada lima. untuk berpergian tiga. untuk jalan-jalan empat. untuk arisan sepuluh. ah masa sih segitunya? fakta berbicara.

sisi material yang mulai mendarah daging dalam kehidupan, memang agak mencemaskan. jika kita tilik dari sisi kewajaran karena fungsi, bisa jadi begitu banyak alasan pembenaran. karena menyesuaikan lingkungan. karena kepraktisan. karena keindahan. karena saya mampu. karena tas adalah bagian dari syarat tampil prima.

koleksi. ini bisa jadi menjadi alasan utama pembenaran. karena koleksi duduk manis bersama hobi. jika sudah hobi maka perlu disematkan kata wajar. yang berlebihan menjadi kewajaran. yang kemahalan menjadi untuk dan atas nama hobi sebagai sesuatu yang patut dimiliki. kepuasan batin.

jadi ini soal refleksi sebetulnya. kemarin saya menghitung kaos oblong saya sudah berjejalan dalam lemari. satu-dua-tiga-blablabla.. delapan belas! padahal kaos oblong itu kaos oblong yang bukan untuk tidur. itu kaos oblong jalan-jalan. lain lagi dengan kaos oblong yang enak buat diajak bobo. untungnya celana jins saya cuma dua. itupun yang satu tak tahu rimbanya. hilang ditelan tumpukan cucian.

bagaimana dengan cd? nah ini juga penyakit lainnya. saya begitu kalap untuk soal cd musik. duta suara begitu bahagia jika saya datang. satu-dua, tidak. ada 4 dus. ini belum termasuk saya membeli secara daring dengan mengunduh musik di iTunes.

masih ada hal lain? yap. buku. begitu banyak buku yang terbeli namun sempat tersentuh. Selalu membayangkan hal-hal menyenangkan yang dapat dilalui bersama buku  ketika tangan saya menimang buku, membaca ringkasan sampul belakang dan mencermati harganya. mahal tapi berilmu. ilmu tiada batasnya. beli saja. kan enak bisa sembari tidur-tiduran. kenyataannya: bahkan masih dengan sampul plastik. bukan sampul plastik buku dengan bandrol harga lho ya. tapi dengan plastik kresek gramedia atau gunung agung. bahkan dikeluarkan dari itu pun belum.

__

memang soal kebutuhan manusia [patut diperjuangkan. singkatnya sandang, pangan, papan. bekerja untuk beli beras sudah begitu jarang terdengar. gaji itu buat ke salon, beli pulsa, tagihan cicilan gawai, bensin non-subsidi, cicilan mobil, belikan kerudung, belikan kosmetik, dan apalagi? isi sendiri.

seberapa tinggikah kita pada standar hidup. makan di warteg dengan fine dining tentu saja beda. soal selera. soal harga. soal prioritas. makan abuba, holycow, outback tentu saja beda. pizza hut, dominos, express, atau pizza e bira tentu juga beda. bahkan soal gawai dari evercross, mito, xiaomi, oppo, samsung, nokia, hingga iphone. ini semua ada rupa dan harga.

__

sandang pangan papan.

pendidikan bagaimana? pendidikan swasta. apakah juga sebuah tindakan yang berlebihan? untuk menulis hal ini saya agak malas. mungkin Anda bisa membrikan tambahan. Silakan.

 

Karena menulis adalah sebuah keniscayaan.


Jika menulis memerlukan alasan, maka menulis tak akan menjadi kegiatan yang menyenangkan. Menulis terkadang tak perlu sebuah alasan. Menulis yang tak tentu tujuan dan latar belakang akan terasa lebih menyenangkan. Sepertinya..

Menulis tanpa alasan bisa jadi hanya omong kosong belaka dan menghabiskan waktu. Tapi setidaknya waktu tak terbuang percuma diisi dengan lamunan. Eits, jangan-jangan lamunan pun perlu dan menyehatkan. Bisa jadi.

Apakah suatu hal harus dengan alasan dan tujuan. Apakah semua kegiatan harus dikatakan sebagai kegiatan yang bermanfaat? Mengeja kata, merangkumnya dalam bentuk tulisan, menuangkan buah pikir, bahkan hanya ocehan bisa jadi sekadar menjaga kewarasan. Nah, ini dia. Jangan-jangan kegiatan menulis adalah obat penyembuh luka, pengerem dari perasaan senang berlebihan, dan memumulihkan gundah gulana. Sekali lagi: bisa jadi.

Media tulisan yang sedemikian bergelimpangan membuat gairah menulis malah terhenti. Kita terlalu terbiasa menjadi reaksioner. Mendengar dari telinga kanan, tanpa sempat diendapkan lantas menjadi ucapan. Menulis membantu kebiasaan itu dengan sedikit proses, atau banyak, atau bahkan tak sempat ditulis. Endapan pikiran akan menjadi alasan dalam menulis. Tapi bisa jadi tulisan spontan terwujud hanya karena sebuah lintasan pendengaran dan bukan buah pikiran. Tapi sekali lagi: tak apa. Toh setidaknya menulis mengharuskan kita berdialog dengan diri sendiri. Apa yang hendak diutarakan. Apa yang hendak disampaikan. Apa yang hendak kita bicarakan.

Menulis bagi sebagian orang adalah bagian dari pekerjaan. Sebagian hanya untuk kesenangan. Sebagian kecil lainnya sekadar untuk membunuh waktu dengan tanpa melibatkan perasaan. Toh menulis ya tetap menulis. Tanpa ada maksud dibaca ulang. Bahkan tak perlu dibaca lagi oleh penulisnya sendiri seketika setelah tulisan terbentang. Semacam buang hajat di kala pagi hari. Kebelet, salurkan, dan lupakan. Keliru? Terserah.

Lantas kapan waktu terbaik menulis? Pagi. Siang. Malam. Atau tak tentu? Jika kita sibuk kapan sebaiknya, maka tulisan tak akan terwujud. Menulislah selakgi mampu. Maka menulis akan menjadi sebuah kewajiban yang jika tidak dilaksanakan tidak berbuah dosa, namun merasa kehilangan. Menyia-nyiakan waktu tanpa pernah meninggalkan jejak buah pikir. Merugi bukan?

Ah, kenapa terjebak pada perihal untung dan rugi. Atau jangan-jangan memang kita diciptakan dalam bayang-bayang transaksional. untung-rugi. Bicara keuntungan. Bicara kerugian.

Ada baiknya, sepertinya, menulis dan hal apapun yang kita kerjaan tanpa dasar perhitungan semacam ini. Menulis tanpa memikirkan apa manfaatnya bagi penulis. Sejak huruf disusun, sejak kata dirangkai, sejak kalimat dipadupadankan, dan akhirnya menjadi sebuah tulisan, penulis akan banyak sekali pertimbangan. Pilihan kata. Penggunaan tanda baca. Pemikiran bagaimana tulisan akan diakhiri.

Saat generasi instan semakin dominan, menulis panjang jadi sesuatu yang membosankan. Segera ditinggalkan. Tulisan menjelma menjadi sebuah hal yang menarik perhatian. Tidak ada tanggapan, apa asyiknya. Komentar dan tanggapan sebegitunya diharapkan. Padahal menulis sejatinya tak perlu pamrih. Menulis sajalah tanpa perlu banyak harapan. Menulis menulis dan menulis.

Menulis surat cinta, menulis laporan, menulis angka-angka pengeluaran per bulan, menulis tentang kesengsaraan, menulis tentang perjalanan, menulis tentang kehidupan, menulis tentang tuhan, menulis tentang menulis.

Karena kita bahagia saat menyatakan seuatu, baik lisan maupun tulisan. Namun menulis akan lebih memuaskan. Bagi saya tentu saja.

Apakah menulis perlu mengajak teman-teman? Perlukah menulis mengharap decak kagum pembaca? sah-sah saja. Namun bukan lagi menjadi suatu hal yang hakiki, yang melampaui arti kemuliaan hidup ini. Menulis dengan penuh hasrat akan menjadi titik ekstase bagi sebagian orang. Masturbasi intelejensi? Ah terlalu melayang-layang. Menulis bisa jadi justru menjadikan kita terus menjejakkan kaki ke bumi. Menulis tentang hal apa saja secara jujur dan tanpa dibuat seolah-olah.

Kita sudah terlalu terjebak pada citra diri. Merawat imaji. Menciptakan persepsi dan sibuk untuk mengarahkan pandangan orang lain terhadap diri kita. Kapan sebenarnya kita dapat merdeka? Bagi saya, sekali lagi, adalah saat kita sibuk menulis. Kejujuran yang tidak perlu dipikirkan masak-masak. Toh menulis dalam taraf paling sederhana adalah mencurahkan apa adanya tentang kita sendiri. Curhat.

Jadi perlukah tulisan diawali dengan alasan-alasan dan atau tujuan?

 

PCPM BI Vs PCS OJK


Hal yang cukup jarang terjadi dalam satu kawasan gedung BI adalah bertemunya warga beda institusi. Biasanya di kawasan perkantoran BI isinya ya orang BI semua. Sisanya pihak ketiga yang menjadi warga penunjang BI. Nah, dengan adanya kehadiran teman-teman OJK maka terbitlah harapan saling curi pandang, curi tampil dan curi perhatian.

PCPM adalah anak kinyis-kinyis BI. PCS adalah anak kinyis-kinyis OJK. Mana yang menjadi bintang di komplek perkantoran bank indonesia?

1. Penampilan.

Anak PCPM pakai kemeja yang sama dengan PCS. Mirip ladhen. Celana hitam kemeja putih. Bedanya anak PCPM pakai dasi biru. PCS? Merah.

2. Paras

PCPM BI masih unggul soal paras ini. Lebih lucu-lucu. pada wajah PCS dapat terlihat jelas guratan  perjuangan hidupnya.

3. Postur

Anak PCPM BI jauh lebih unggul. dasi biru dan tubuh sintal lebih keren daripada dasi merah dengan postur tubuh proporsional. Postur PCPM BI pria lebih gagah dan cocok mengenakan putih hitam.

4. Komunikasi

Belum jelas, karena belum berimbang. Saya lebih banyak berinteraksi dengan PCS karena masih dalam penempatan di OJK. Oh, wait.. apa karena saya lebih sering beriteraksi dengan PCS OJK makanya lebih menyukai rumput tetangga.

5. apa lagi?

Gaji?

Nah ini dia! untuk soal ini PCS OJK lebih unggul dari PCPM BI. hhe hhe…

 

ya nanti diteruskan lagi soal PCPM vs PCS ini.