Karena menulis adalah sebuah keniscayaan.

Jika menulis memerlukan alasan, maka menulis tak akan menjadi kegiatan yang menyenangkan. Menulis terkadang tak perlu sebuah alasan. Menulis yang tak tentu tujuan dan latar belakang akan terasa lebih menyenangkan. Sepertinya..

Menulis tanpa alasan bisa jadi hanya omong kosong belaka dan menghabiskan waktu. Tapi setidaknya waktu tak terbuang percuma diisi dengan lamunan. Eits, jangan-jangan lamunan pun perlu dan menyehatkan. Bisa jadi.

Apakah suatu hal harus dengan alasan dan tujuan. Apakah semua kegiatan harus dikatakan sebagai kegiatan yang bermanfaat? Mengeja kata, merangkumnya dalam bentuk tulisan, menuangkan buah pikir, bahkan hanya ocehan bisa jadi sekadar menjaga kewarasan. Nah, ini dia. Jangan-jangan kegiatan menulis adalah obat penyembuh luka, pengerem dari perasaan senang berlebihan, dan memumulihkan gundah gulana. Sekali lagi: bisa jadi.

Media tulisan yang sedemikian bergelimpangan membuat gairah menulis malah terhenti. Kita terlalu terbiasa menjadi reaksioner. Mendengar dari telinga kanan, tanpa sempat diendapkan lantas menjadi ucapan. Menulis membantu kebiasaan itu dengan sedikit proses, atau banyak, atau bahkan tak sempat ditulis. Endapan pikiran akan menjadi alasan dalam menulis. Tapi bisa jadi tulisan spontan terwujud hanya karena sebuah lintasan pendengaran dan bukan buah pikiran. Tapi sekali lagi: tak apa. Toh setidaknya menulis mengharuskan kita berdialog dengan diri sendiri. Apa yang hendak diutarakan. Apa yang hendak disampaikan. Apa yang hendak kita bicarakan.

Menulis bagi sebagian orang adalah bagian dari pekerjaan. Sebagian hanya untuk kesenangan. Sebagian kecil lainnya sekadar untuk membunuh waktu dengan tanpa melibatkan perasaan. Toh menulis ya tetap menulis. Tanpa ada maksud dibaca ulang. Bahkan tak perlu dibaca lagi oleh penulisnya sendiri seketika setelah tulisan terbentang. Semacam buang hajat di kala pagi hari. Kebelet, salurkan, dan lupakan. Keliru? Terserah.

Lantas kapan waktu terbaik menulis? Pagi. Siang. Malam. Atau tak tentu? Jika kita sibuk kapan sebaiknya, maka tulisan tak akan terwujud. Menulislah selakgi mampu. Maka menulis akan menjadi sebuah kewajiban yang jika tidak dilaksanakan tidak berbuah dosa, namun merasa kehilangan. Menyia-nyiakan waktu tanpa pernah meninggalkan jejak buah pikir. Merugi bukan?

Ah, kenapa terjebak pada perihal untung dan rugi. Atau jangan-jangan memang kita diciptakan dalam bayang-bayang transaksional. untung-rugi. Bicara keuntungan. Bicara kerugian.

Ada baiknya, sepertinya, menulis dan hal apapun yang kita kerjaan tanpa dasar perhitungan semacam ini. Menulis tanpa memikirkan apa manfaatnya bagi penulis. Sejak huruf disusun, sejak kata dirangkai, sejak kalimat dipadupadankan, dan akhirnya menjadi sebuah tulisan, penulis akan banyak sekali pertimbangan. Pilihan kata. Penggunaan tanda baca. Pemikiran bagaimana tulisan akan diakhiri.

Saat generasi instan semakin dominan, menulis panjang jadi sesuatu yang membosankan. Segera ditinggalkan. Tulisan menjelma menjadi sebuah hal yang menarik perhatian. Tidak ada tanggapan, apa asyiknya. Komentar dan tanggapan sebegitunya diharapkan. Padahal menulis sejatinya tak perlu pamrih. Menulis sajalah tanpa perlu banyak harapan. Menulis menulis dan menulis.

Menulis surat cinta, menulis laporan, menulis angka-angka pengeluaran per bulan, menulis tentang kesengsaraan, menulis tentang perjalanan, menulis tentang kehidupan, menulis tentang tuhan, menulis tentang menulis.

Karena kita bahagia saat menyatakan seuatu, baik lisan maupun tulisan. Namun menulis akan lebih memuaskan. Bagi saya tentu saja.

Apakah menulis perlu mengajak teman-teman? Perlukah menulis mengharap decak kagum pembaca? sah-sah saja. Namun bukan lagi menjadi suatu hal yang hakiki, yang melampaui arti kemuliaan hidup ini. Menulis dengan penuh hasrat akan menjadi titik ekstase bagi sebagian orang. Masturbasi intelejensi? Ah terlalu melayang-layang. Menulis bisa jadi justru menjadikan kita terus menjejakkan kaki ke bumi. Menulis tentang hal apa saja secara jujur dan tanpa dibuat seolah-olah.

Kita sudah terlalu terjebak pada citra diri. Merawat imaji. Menciptakan persepsi dan sibuk untuk mengarahkan pandangan orang lain terhadap diri kita. Kapan sebenarnya kita dapat merdeka? Bagi saya, sekali lagi, adalah saat kita sibuk menulis. Kejujuran yang tidak perlu dipikirkan masak-masak. Toh menulis dalam taraf paling sederhana adalah mencurahkan apa adanya tentang kita sendiri. Curhat.

Jadi perlukah tulisan diawali dengan alasan-alasan dan atau tujuan?

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s