Pemikir

setelah lama saya pikir-pikir, sepertinya saya memang lebih berbakat sebagai pemikir. iya pemikir sejati. hanya berpikir. itu saja. sudah. tidak seperti menjadi penulis, yang menuangkan buah pikir dalam tulisan, menjadi pemikir lebih enak. sekadar berpikir. tanpa hasil apapun kecuali pikiran yang berkecamuk. atau malah jangan-jangan pemikir itu dapat berpikir secara efektip dan efisien sehingga dalam berpikir dapat dilakukan ‘secukupnya’ saja.

menjadi pemikir akan menghayati segala kejadian secara lebih intim, intens dan ikrib. semua dipikirkan dari pangkal hingga ujung. dicara hal-ihwal, sebab musabab, asal mula, mengapa begini mengapa begitu, hingga proses kejadian, apa yang terjadi, apa dan bagaimana, kapan hingga pada akhirnya hasilnya menjadi demikian. pemikir adalah orang yang melakukan proses jalan sunyi. jangan-jangan pemikir lebih ampuh daripada filsuf maupun para sufi. pemikir tidak perlu menuangkan apa-apa sebagai tanda hasil pekerjaannya. dia ndak mau riya. cukup disimpan dalam logika, jalan pikir, daya ingatan dan diwujudkan dengan perbuatan. dia diam-diam berubah. diam-diam memperbaiki diri. tidak menyuruh tapi meneladani dan memberi tauladan. nah ini baru bener. pemikir yang tujuannya untuk mengubah diri sendiri menjadi lebih oke. sebelum dia memberikan contoh bagi orang lain.

tapi apa ya kuat. banyak mikir tanpa sempat berak intelektualitas dan menjadikannya buah lisan dan buah tulis itu pasti ngempet banget. banyak pikiran tapi ndak diutarakan. bisa stres sendiri. bisa-bisa senewen. bakalan galau. kalau kata mare, anak saya, ini namanya garut. galau rutin. hhe hhe.

toh pada akhirnya pemikir itu semacam olahraga kata pada bela diri karate. dia bergerak penuh tenaga, dengan gongfu meyakinkan, dalam setiap kelebatnya menyiratkan disiplin berlatih diri. pemikir banyak berlatih dengan logika, analisa, hipotesa, dan coba merumuskan pemecahannya hingga terbukti apa yang dipikirkannya dengan menyelaraskan fakta kejadian yang sebenarnya. pemikir juga akan coba menampuh jalan kegelapan berupa mencari titik terang atas sesuatu yang masih gulita. tapi pada akhirnya ia butuh lawan tanding. perlua ada hasrat yang disalurkan.

dalam bentuk ngomyang? bisa jadi. butuh teman ngobrol? bisa jadi. lebih elegan jika pemikir menuangkan buah pikirnya dalam bentuk tulisan. dan akhirnya pemikir itu menjadi seorang penulis.

naik derajat apa turun derajat.

jika melihat urut-urutan waktu dan kejadian dalam proses tulisan tertuang, maka penulis sejatinya lebih hebat dari pemikir. tapi dengan satu syarat: apa yang ia tulis memang dipikir dulu.

gitu.

 

selamat sore.

 

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s