Demokrasi Kopidangdut

Demokrasi itu “menopause masyarakat barat”. Sebuah idea yang ditawarkan selepas revolusi. Sebuah istilah yang dinasbihkan Baudrillard.

 

Lalu apakah kita mau menjalankan masa-masa menopause itu? Gairah yang hilang dimakan usia?

 

Dalam tahap penyesuaian kita melangsungkan Pilkada. Memilih pemimpin lewat kotak suara. Sunyi? Ternyata tidak! Tujuh dari sepuluh kepala manusia dewasa bersedia menjadi angka-angka. Identitas KTP yang mewujud menjadi perlambang sokongan. Bukti nyata sudah ada dari tanah sunda.

 

Lantas apakah serta-merta kita akan sejahtera?

Modal di awal segera tergantikan dengan usaha sana-sini. Jual ini dan itu. Terima dari si Anu dan si Fulan. 

 

Rupanya sejahtera dan demokrasi masih sulit bertatap muka. Narsisme dan self glory para pemenang masih menggelora. Walau kecendrungannya semakin menipis.

 

Apakah ada cara yang lebih baik daripada demokrasi ini? Yang selaras dengan iklim Nusantara. Turun dari kehendak Alam, Tuhan dan para hamba jelata.

 

Semoga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s