“Puasa Versus Waktu”. Sebuah Renungan Singkat

Apa ndak sayang-sayang ya jika saat puasa justru kondisi psikologis kita lebih mengutamakan “semoga cepetan maghrib” dibandingkan “mumpung belom maghrib, ngapain lagi ya?”

Karena konsep puasa harusnya tetap bertalian dengan dunia produktivitas. Memiliki sesuatu yang bermakna dan ada nilai tambah, bukan semata-mata mencapai adzan maghrib.

Jujur saja, dan termasuk saya. Hehehe. Bobo di karpet masjid di siang hari adalah cara paling murah sekaligus mewah di bulan Puasa.

Sepertinya ada yang salah. Ada pelanggaran offside tersembunyi yang kita nikmati dan biarkan. Bahwa permakluman bulan puasa adalah hal yang lumrah.

Semoga, puasa adalah bulan penuh karya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s