Kaka dan Dede


Iklan

Demo Aksi Berbeda dengan Demokrasi?


Sebulan lalu, tepatnya 4 November, demo masak terjadi. Juga dua hari lalu. Demo lanjutan. Menu masakannya sama.

Maka jangan salahkan orang dulu yang bilang bahwa agama dan politik di negeri ini memang sulit dipisahkan. Untuk kepentingan politik boleh bawa-bawa agama. Dan demi kepentingan agama juga sebagian besar bawa urusan politik.

Sebagai seorang birokrat, maka saya pribadi ini adalah sebuah hal biasa. Mesin birokrasi harus jalan terus. Dia apolitis. Siapapun dirijennya, lagu harus terus diputar.

 

Dering Hape


Beberapa hari yang lalu hape saya berdering di waktu jam makan siang. Saya tengok dan nomor yang tidak saya kenal. Saya diamkan. Berhenti sendiri. Lalu berdering lagi. Begitu terus berulang kali.

Esok harinya saya mengikuti sebuah rapat di pinggiran kota jakarta. Saat meeting hape saya berdering dengan nomor yang sama kemarin. Saya angkat. Ternyata yang menelpon adalah orang yang duduk dua korsi di sebelah saya.

“Oh kirain hapenya rusak. Bisa diangkat juga toh”.

Saya ndak paham maksud dia. Dia menganggap bahwa kewajiban bagi setiap insan untuk angkat telpon demi sopan santun. Saya malah lebih menjaga privasi. Jika memang hendak menghubungi saya, kenapa tidak sms dahulu dan perkenalkan diri. Sehingga jika saya tahu itu siap, saya dapat pertimbangkan untuk angkat telpon atau tidak.

Hingga saat ini saya tidak tahu nama Bapak itu.

 

salam,