Moralitas Pesta Seks


Polisi mendapat lampu sorot dengan pengrebekan pesta seks di Kelapa Gading, Jakarta. Ada beberapa hal yang perlu dicermati:

  1. Tidak ada pesta seks, dengan makna hubungan sejenis secara seksual, yang ada adalah tarian telanjang dan mereka tertangkap tangan. (Nasriadi di Mapolres Jakut, sumber)
  2. Pasal apa yang akan dijerat polisi? Pasal 292 KUHP? Meski tidak ada legalitas soal status homoseksual di Indonesia,  aturan pidana terkait hubungan sesama jenis yang terdapat dalam Pasal 292 KUHP yang berbunyi: “Orang yang cukup umur, yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain sama kelamin, yang diketahui atau sepatutnya harus diduga, bahwa belum cukup umur, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun” (catatan: syarat belum cukup umur).
  3. Apakah polisi akan menjerat dengan tidak adanya izin Usaha? Salah peruntukan usaha? Pelacuran terselubung?

Di saat kita belum dapat menemukan ketentuan apa yang dapat menjerat mereka secara bijak, masyarakat terlanjut disuguhi soal hegemoni moralitas. Bahwa stigma kaum homo itu penyakit masyarakat berhasil disampaikan oleh polisi dan media yang memberitakan.

Bukankah ini hanya soal tempat usaha yang tidak sesuai dengan peruntukannya? Apakah polisi mengetahui arti Gym dan Fitness, namun digunakan sebagai tempat hiburan.

Ketika pelaku yang dianggap “tertangkap tangan” difoto dan disebarluaskan, sejatinya justru pelaku pemotret dan penyebar foto tersebut secara etika moral tidak dapat dibenarkan.

Homo itu menggiurkan. Jualan paling mudah di negeri ini. Cara receh polisi mendapat nama.

Ada pendapat lain?

Iklan

Transformasi dan Pondasi


Banyak perusahaan ingin melakukan transformasi dengan harapan perusahaannya terus berkembang dan tak lekang oleh zaman (dibaca: digilas zaman).

transformasi/trans·for·ma·si/ n 1 perubahan rupa (bentuk, sifat, fungsi, dan sebagainya): Asia Tenggara diliputi suasana transisi dan — akibat kemenangan mereka; terjemahan puisi yang baik kerap kali menuntut — secara besar-besaran; 2 Ling perubahan struktur gramatikal menjadi struktur gramatikal lain dengan menambah, mengurangi, atau menata kembali unsur-unsurnya;

mentransformasikan/men·trans·for·ma·si·kan/ v 1 mengubah rupa (bentuk, sifat, fungsi, dan sebagainya); mengalihkan: Pemerintah berhasil ~ benteng itu menjadi objek pariwisata; 2 Ling mengubah struktur dasar menjadi struktur lahir dengan menerapkan kaidah transformasi
Lantas apakah transformasi adalah pilihan terbaik saat ini untuk mengantisipasi gejolak zaman?  Pertanyaan utamanya sebetulnya adalah apakah benar transformasi diperlukan? Saat kondisi apa transformasi tercipta? Kapan dimulai? Apa syaratnya?
Seorang perempuan gendut akan memiliki kecenderungan lebih mudah ngemil ketika dirinya di tanggal muda baru saja membeli alat olahraga. Dalam benaknya jika ia ngemil sebungkus roti, dia berjanji akan berjalan di atas alat olahraganya sejauh 5 mil. Apa yang terjadi? Ngemilnya lanjut terus, olahraganya nanti-nanti.
Juga ketika fenomena munculnya banyak klab kesehatan jiwa maupun raga, semisal klab Yoga, Pilates, Thai boxing, Pencak silat, Cross Fit, dll. Warga kota lebih tenang menghadapi permasalahan fisik. Namun baru sekadar tenang, belum menjelma fakta untuk berolahraga.
Transformasi pun demikian. Sudahkah kita siap menjadi transformer. Menjadi autobot, menjadi bumble bee. Transformasi utama muncul dari kesadaran diri bahwa perubahan adalah keniscayaan. Ia tak menjadi pilihan, ia adalah mutlak harus dilakukan. Berbenah diri untuk menjadi yang adaptif.
Menjadi terbaik dalam diri sendiri muncul dengan kesadaran kolektif, bahwa perusahaan adalah loka bersama sekadar loka bekerja atau segalanya? Perusahaan adalah bagian dari keluarga masing-masing individu dan menjadi bagian jati diri atau sekadar bagian dari pengabdian atas ilmu yang dimiliki.
Pastikan dahulu pertanyaan-pertanyaan tadi, sebelum kita teriak melakukan transformasi.