Iklan
 

Konyol

Mei 3, 2019

“Pokoknya” adalah tanda hubungan yang tidak begitu baik. Sebuah pemaksaan kehendak. Lalu muncul sebuah paksaan. Sebetulnya banyak cara untuk tidak meluncurkan kata “pokoknya”. Sepanjang saling percaya, jauh dari arogansi, dan menyayangi sesama.

Pokoknya harus ada. Pokoknya aku mau kesana. Pokoknya harus ada di meja saya. Pokoknya aku mau kesana di mana matahari terbit dari Barat.

Lalu kita akan bertanya-tanya, apa gunanya memaksa. Toh hidup masih panjang. Tidak musti semuanya harus. Sesekali hidup diberi warna apa adanya. Kecewa itu bagian dari doa. Karena katanya, hidup adalah doa yang panjang. Bertahan adalah doa. Sedih adalah doa. Semua adalah doa. Bahkan doa, justru sejatinya bukan doa. Doa orang kebanyakan adalah pemaksaan. Pokoknya aku harus lulus. Kalau Tuhan sayang aku, maka kabulkan semua pintaku.

Tak perlu doa semacam itu. Tuhan sudah bosan. Berikan kesempatan doa muncul dari keringat kerja. Biarkan doa muncul dengan sendirinya dari duka lara. Biarkan doa hinggap dari manusia-manusia yang tak pernah kenal lelah.

Bagaimana?

Iklan