Iklan
 

Konyol

“Pokoknya” adalah tanda hubungan yang tidak begitu baik. Sebuah pemaksaan kehendak. Lalu muncul sebuah paksaan. Sebetulnya banyak cara untuk tidak meluncurkan kata “pokoknya”. Sepanjang saling percaya, jauh dari arogansi, dan menyayangi sesama.

Pokoknya harus ada. Pokoknya aku mau kesana. Pokoknya harus ada di meja saya. Pokoknya aku mau kesana di mana matahari terbit dari Barat.

Lalu kita akan bertanya-tanya, apa gunanya memaksa. Toh hidup masih panjang. Tidak musti semuanya harus. Sesekali hidup diberi warna apa adanya. Kecewa itu bagian dari doa. Karena katanya, hidup adalah doa yang panjang. Bertahan adalah doa. Sedih adalah doa. Semua adalah doa. Bahkan doa, justru sejatinya bukan doa. Doa orang kebanyakan adalah pemaksaan. Pokoknya aku harus lulus. Kalau Tuhan sayang aku, maka kabulkan semua pintaku.

Tak perlu doa semacam itu. Tuhan sudah bosan. Berikan kesempatan doa muncul dari keringat kerja. Biarkan doa muncul dengan sendirinya dari duka lara. Biarkan doa hinggap dari manusia-manusia yang tak pernah kenal lelah.

Bagaimana?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: