Iklan
 

Demokrasi Kopidangdut

Juni 3, 2016

Demokrasi itu “menopause masyarakat barat”. Sebuah idea yang ditawarkan selepas revolusi. Sebuah istilah yang dinasbihkan Baudrillard.

 

Lalu apakah kita mau menjalankan masa-masa menopause itu? Gairah yang hilang dimakan usia?

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Segera Hapus akun Twitter Anda!

Juli 4, 2011

ini serius. Dijamin kehidupan anda akan normal lagi. Tidur teratur, keluarga mendapat perhatian lagi, dan terutama menjaga kesehatan jiwa dan raga.

Dahulu facebook bikin masalah, lantas group BBM, lantas twitter.

Saya punya akun twitter lebih dari lima soalnya.

Semua saya lepas semua. Enggak diutak-atik lagi hingga detik ini. Hidup serasa di surga.

🙂


Berani Kopidangdut

Juli 4, 2011

Jadilah pemberani.

Berani tidak ada batasnya seperti kejujuran. Karena jalan lurus takkan berujung. Berani dan jujur butuh energi sangat tinggi.

Jadilah penjilat.

Jadi penjilat itu enak, membual sedikit, rendahkan diri dan buat senang orang lain, maka kamu layak mendapat apa yang kamu inginkan. Mirip kamu ngambil jalan pintas saat berkendara. Saat selamat kamu merasa benar, padahal kamu melanggar peraturan dan menyebabkan banyak pengendara lain kerepotan. JIka kamu mau jadi penjilat silakan. Toh kesuksesan, kegagalan, semua ada di pundak kamu. Tuhan akan membiarkan. Kecuali kamu disyanag, belum apa-apa sudah ditegur dengan berbagai cobaan.

Jadilah orang jujur.

Honesty is the best solution.

Jika kamu sudah mentok, maka ambil jalan kejujuran saja. Dimarahi ya enggak papa. itu memang risiko yang akhirnya ditanggung. Tapi hati kamu tetap semulia intan. Kamu akan selamat secara batin. Kamu orang merdeka sesuai dengan cita-cita Bapak Bangsa.

Jangan malu dengan kenyataan. Jadilah manusia apa adanya. Jika kamu bercita-cita jadi dewa ya silakan. Bicara yang mengawang-awang. Bicara mengenai hal-hal mulia tanpa kerja nyata.

Berani. Berani dan berani.

Hidup sekali, lalu mati.

Jadi suami harus berani. Jadi lelaki harus berani. Jadi karyawan harus berani. Jadi buruh harus berani. Jadi bos apalagi. Jadi pemimpin apalagi.

Khusus bagi kamu yang merasa memimpin sesuatu, apalagi sebuah negeri yang seharusnya gemah ripah loh jinawi cuma ada satu kalimat:

“Berani atau banci”..


Beda Pendapat? Mari Kita Diskusikan

Maret 1, 2011

Bila mengemis itu diharamkan, apakah mengemis jabatan juga bagian dari yang haram itu?

Bila hal terbaik adalah sikap ramah dan senyuman, lantas mengapa terkadang kita respek pada “lawan” atau “musuh” dibandingkan kepada teman kita secara diam-diam? Karena dia lebih jujur dan bersikap ksatria?

Banyak hal yang dapat dipertanyakan, dan lebih banyak lagi yang perlu diperdebatkan. Banyak fakta yang hambar dan banyak prinsip yang diabaikan. Lalu kita sibuk mengulang ingatan, menyusun alasan dan pada akhirnya mengejar kepentingan.

Pernahkah Anda diam sejenak. Mewaktu dan membatu. Tak berproses, tak hidup barang sebentar namun juga tak mati. Bukan malas pun bukan giat. Tak melamun dan tak berpikir. Tak eling juga tak edan. Sekadar melepas kemanusiaan Anda.

Tak berperan sebagai angka Nomor Induk Pegawai, tidak berdiri sebagai suami, tidak berakting sebagai Guru. Tidak memikirkan obsesi, cita-cita, masa lalu, dan keinginan jangka pendek yang membelenggu. Biar kejujuran apa adanya, tanpa bungkus, gincu dan manipulasi semu yang meniadakan esensi kedirian kita.

Jabatan itu palsu, popularitas itu semu.

Beda Pendapat? Mari kita Diskusikan..

🙂


Patembayan

Januari 21, 2011

Beberapa waktu lalu, saya coba mengamati data statistik pengunjung. Salah satu yang mengherankan saya adalah bahwa posting tentang “Patembayan” dan “Paguyuban” sangat banyak. Adapun yang saya maksud ini postingan ini: https://kopidangdut.org/2007/09/26/320/

Lantas saya jadi berpikir, jika Anda mengetik kata “patembayan” di search engine seperti google dan bing, maka yang pertama kali muncul dan di daftar paling atas adalah blog ini, maka kajian mengenai paguyuban maupun patembayan sangat sedikit.

Atau jangan-jangan Anda pun tak tahu artinya? 🙂

Paguyuban itu sejatinya ya memang seperti banyak perkumpulan di belahan Nusantara. Nuansa kekeluargaan tanpa melibatkan urusan materi. 

Sedangkan Patembayan merupakan kegiatan, aktivitas dari kelompok masyarakat dengan motif dan mengikutsertakan materi.

Contohnya Apa? 

Paguyuban: Kelompok Pengajian, Kelompok Sepakbola di Kampung, Karang Taruna, Kelompok Pecinta Alam.

Patembayan: Perusahaan, Perkumpulan MLM, Asosiasi Pedagang Ketoprak Wilayah Tebet.

Jadi? Sudah Pahamkan?

Kalau tak ada aral merintang, saya akan kupas deh perihal paguyuban dan patembayan ini dengan lebih mendalam. Kenapa? Karena ini begitu khas Indonesia.

🙂

Terima kasih.

credit: http://www.flickr.com/photos/adamjackson/4198765687/sizes/s/in/photostream/


Sejarah dan Semesta Peristiwa Silsilah Bangsa

Januari 4, 2010

dari flickr.com

creative commons

Rosihan Anwar mengumpulkan tulisan-tulisannya yang ringkas namun mendalam dalam Sejarah Kecil “le petit historie” yang berjumlah (sementara ini) 3 jilid buku.

Sejarah kecil ini secara sederhana dapat diartikan sebagai kisah-kisah lain yang luput dari garis besar sejarah bangsa. Bukan bagian dari arus utama. Hanyalah anak sungai yang mencabang dalam belantara sejarah Indonesia yang gelap gulita. Cerita tentang si Fulan, tentang si Toyib atau siapapun yang kisahnya asyik untuk diceritakan, walau tidak selalu terkait hal-hal yang besar, yang mengubah arah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Beberapa hari yang lalu, ketika di Medan, sembari menyantap sajian makanan laut, ane sempat mengobrol ngalor-ngidul sama sohib ane disana, namanya Ryan. Kami bicara perlunya kita mengambil jarak ketika menelusuri sejarah antara kita sebagai subyek dan pokok bahasan sejarah sebagai objek, sehingga sejarah bukanlah dipandang sebagai sepenggal kisah pembenar atas keunggulan golongan si penelusur, namun semata-mata menyambung puzzle fakta yang terserak dalam berbagai artefak, catatan, buku ekspedisi, tutur lisan yang dapat dipercaya, atau dugaan-dugaan yang selama ini hanya disebut sebagai dongeng belaka.

Dalam kesempatan itu kami bicara sejarah pra kemerdekaan. Bagaimana Danau Toba terbentuk, bagaimana dalam budaya batak terdapat gambar perahu, bagaimana warna kulit dan bentuk wajah orang Aceh sangat khas, berbeda dengan suku Batak. Bagaimana Sriwijaya, konon katanya merupakan pusat perkembangan ilmu Budha dan bukannya negeri China. Lantas cerita Arung Palaka, cerita daerah Angke (Jakarta) yang dalam bahasa Makassar Sulawesi Selatan artinya harta diduga merupakan pemberian Belanda atas bantuannya menguasai Batavia-bersama-sama dengan Kapten Jonker dari Maluku (yang mendapatkan jatah daerah Marunda). Baca entri selengkapnya »


Inul dan Gus Dur

Januari 1, 2010

Entah kenapa, setiap inget Gus Dur, otomatis ane inget sama si goyang ngebor, Inul.

Dua-duanya lucu. Gus Dur lucu karena kepinterannya, dan Inul lucu karena kepolosannya. Dua-duanya dari Jawa Timur. Dua-duanya dekat dengan masyarakat “bawah” seperti ane. Makanya, waktu Gus Dur diberitakan telah kembali, ane merasa merugi.

tebak siapa dia?

inul-ku

Gus Dur itu kocak. Bikin terhibur. Semua hal adalah banyolan. Justru itu ane demen banget dah! Sudut pandang yang indonesia banget. Love melulu. Mangan-ora mangan sing penting haha-hihi.

Setiap orang pasti punya kesan sendiri-sendiri tentang beliau.

Begitu pun dengan Inul. Entah mengapa ia sekarang jarang muncul. Kisah nyata bagaimana puan polos yang menarik hasrat sebagian pria saat berlenggak-lenggok menghibur kita semua.

Saya yakin ia bukan mengutamakan liukan tubuh. Tapi semangat dan enerjiknya yang begitu serta-merta. Mantap! Bukan syahwat yang ane dapat, tapi sekadar hiburan semata. Sungguh. 😀

Gus Dur dan Inul adalah fenomena. Mereka Indonesia banget, tak didapat dan ditemukan di negeri lain. Sama halnya seperti Waljinah, atau Sudjiwo Tedjo. Mereka begitu khas. Baca entri selengkapnya »


Gurita Cikeas: Sekadar Makanan Ringan Demi Keuntungan?

Desember 28, 2009

Peluncuran Buku Gurita Cikeas

Cara marketing yang ampuh supaya produk cepat laku salah satunya adalah memanfaatkan momen terhadap “trending topics”.

Tentu saja, saat ini yang lagi ramai adalah urusan gurita cikeas.

George Junus Aditjondro memang ahlinya urusan mengintip kekayaan dan kehidupan penguasa.

Dulu ia mempublikasikan tetek bengek keluarga cendana. Sekarang ia berkisah tentang cikeas. Wow! Hobi yang menggiurkan. Intip, hitung, tulis, (kasih bumbu), lantas jual. Apa bedanya dengan infotainment?

Lantas bagaimana substansi dari buku itu, yang katanya sulit ditemui di toko buku? Apakah benar? Apakah fitnah? Atau kah penuh bumbu? Semi-benar (opo iki?)..? Ah, sebelumnya boleh saja kita bertanya: “Apa perlu?”.

Bagi saya ini 100% bermotifkan materialistik alias jualan buku.

Mengapa? Baca entri selengkapnya »


Emosi

Desember 26, 2009

"emosi?"

AngRy

Apa sih yang lebih hebat dari emosi manusia, tentu saja selain urusan ketuhanan lho ya?

Mesin bisa diatur setelannya. Rumah bisa dirancang mau jadi apa. Tapi emosi manusia, siapa yang bisa atur?

Bahkan dirinya sendiri pun mati-matian menjaga emosi.

Ane ga ngerti juga apakah emosi disini sama dengan nafsu, plus alam pikiran, plus sikap batin, plus suara hati nurani. Tapi yang jelas emosi yang maksud adalah output/ keluaran yang ada dan mempengaruhi pola pikir, pola bicara, pola tindak dan suasana hati kita.

Bisa jadi seorang bos merasa disegani dengan nurutnya seluruh karyawan saat diperintah. Tapi ia tak tahu kalau 90% karyawannya menyimpan dendam kesumat pada bosnya yang begitu otoriter dan tak pernah mendengar. Lama-kelamaan, karyawan akan melakukan hal-hal yang sejatinya merugikan bosnya. Dari memperlama pekerjaan, mengerjakan tugas asal-asalan, berangkat telat dan pulang “tenggo”, dan masih banyak lagi kelakuan anak buah yang sejatinya adalah bentuk dari perlawanan (diam-diam).

Sikap batin sulit diarahkan. Bahkan diciptakan.

Banyak pencipta robot dan rekayasa mesin apapun yang dapat mengerjakan perintah sesuai “task” yang diminta. Tapi belum ada satu pun engine yang mampu menanamkan emosi pada mesin dan robot secara mandiri. Yang ada hanyalah emosi yang ditanamkan sesuai program. Bisa saja unpredictable, namun sesungguhnya hanyalah hasil randomisasi/ pengacakan dari berbagai “if” yang telah dipersiapakan oleh pencipta.

Apakah emosi sama dengan mood? Baca entri selengkapnya »


Hancock Tetap Tipikal Film Hollywood

Desember 10, 2009

hancock

poster film Hancock

Ada yang sudah menyaksikan film Hancock?

John Hancock, adalah tokoh dalam film tentang PR (pencitraan), percintaan dan tentu saja kepahlawanan. Baru saja saya tonton filmnya di HBO Hits. Hancock, itu judul filmya.

Hancock yang tanpa sengaja bertemu “mantan istrinya”, dan tiba-tiba seluruh kekuatan supernya hilang. Ia menjadi manusia biasa. Menjadi pemuda, menjadi lelaki, menjadi manusia yang berdarah bila tertembak.

Ada yang berbeda dari film khas hollywood lainnya. Lewat film Hancock, Peter Berg, si pembuat film ingin mencoba ramuan lain untuk menampilkan wajah baru pahlawan yang membumi. Dewa yang menjadi manusia. Namun, lagi-lagi seperti film khas hollywood lainnya, pembuat film tetap gatal untuk menjadikan super hero tetaplah super, dengan akhir cerita yang khas Amerika. Maskulin, tak terkalahkan dan berakhir bahagia.

Film Hancock tak ubahnya seperti kisah Hulk. Pahlawan tempramental yang jatuh cinta pada anak Jendral. Menjadi makhluk hijau mengerikan namun bisa dikendalikan oleh si pujaan hati.

Tentu saja konsep kepahlawanan versi Hollywood berbeda dengan kepahlawanan versi Timur seperti Jepang atau versi Prancis seperti kisah dalam film Taxi (yang sekuelnya hampir menyaingi Sinetron tersanjung itu).

Versi Jepang seperti Sailor Moon, Doraemon, atau Dash Yankuro (walau yang terakhir hanyalah film endorse produk mainan mobil-mobilan Tamiya), namun menampilkan wajah pahlawan yang berbeda dengan Hollywood. Baca entri selengkapnya »


Prita, maukah kamu jadi bintang iklan rumah sakit?

Desember 5, 2009

Saya cuma iseng. Bayangkan bahwa sekarang perlawanan cerdas sudah darurat dibutuhkan untuk tidak memperdalam masalah.

Prita.
New york times sudah membahasnya. Kisah perlawanannya melawan omni hospital makin ramai dan tak berkesudahan.

Ada cara terbaik, yang win-win solution.
Cari saja rumah sakit mahal yang berani menjadikan Prita bintang iklan. Bayarannya cukup Rp204juta.

red cross

kotak nyawa

Prita cukup tampil dengan mengatakan:
“Rumah sakit ini, jauh lebih baik..”

Ringkas, mengena, baik, dan tidak tendensius.

Rumah sakit yang lain itu sebaiknya rumah sakit swasta skala internasional, yang mampu dan cukup cerdas memanfaatkan momen ini.

Lantas, gerakan koin untuk keadilan?
Silahkan saja tanyakan pada penggagasnya mau diapakan.

Biasanya kaum influencer, punya banyak cara kreatif, selain menarik perhatian..

😀


Pahlawan Sosial (Media) Budaya

November 9, 2009

 

Romo_Mangun_by_lasigared

Sudah saatnya kita luruskan arti pahlawan. Bukan lagi kaum ksatria pembela negeri yang memanggul senjata, berlumuran darah, dan berbau milterisme. Ya, memang bukan berarti jajaran “pahlawan” Indonesia melulu dipersepsikan dengan kaum militer, namun setidaknya dominasi dan yang terngiang di benak kita arti kata pahlawan adalah pria berani mati yang bertempur dan menyusun strategi dalam perlawanan fisik.

Pahlawan lahir juga dari kaum sipil. Diplomasi tiada henti, mendidik anak negeri, pemrakarsa cipta rasa karsa dalam budaya yang mengisi kemerdekaan, juga dapat dikatakan pahlawan. Baca entri selengkapnya »


Revolusi Sosial Sesungguhnya

November 5, 2009

Orang Eksakta (bahasa jadul ortu kita) sudah punya karya besar (opus magnum) sehingga kemajuan ilmu pasti mengalami lompatan besar (quantum leap), seperti yang dilakukan oleh Galilei, Newton dan Einstein. Lantas bagaimana dengan Orang sosial?

Baca entri selengkapnya »


Privatisasi

Juli 25, 2009

privatization

Mas, privatisasi, washington concensus, dan neo liberalisasi itu opo tho?

Mana nih yang ditanya? Privatisasi apa neolib nya?

Privatisasi deh.. Apaan tuh?

Gini, ndul. Awalnya ada pemikiran di Barat sono bahwa BUMN harus “dikomersialisir” dan dibuat layaknya perusahaan swasta.

Barat? Siapa tuh?

Ya, itu. Mereka yang menghuni Downing Street. No 10. Mereka mulai mengkaji soal “korporatisasi” BUMN.

Wah, berarti negara Barat ya yang pertama gagas?

Hooh. Tapi beberapa orang penting seperti Margaret Thatcher dan Keith Joseph justru beranggapan itu saja belum cukup. Pengelolaan BUMN secara profesional, berorientasi profit, dan dikelola dengan baik bukan itu yang dituju. Baca entri selengkapnya »


Wangi Di Buntut

Juli 6, 2009

Kalau diminta bagian mana dari pesawat yang menjadi favorit ane, maka jawabannya bagian belakang alias buntut.

Iya buntut.

Lebih ke belakang lagi dari letak lavatory. Isinya bahan makanan dan minuman, tapi yang terpenting: wangi.

Tentu saja wangi para pramugari yang kinyis-kinyis mental mentul itu.

Di sana ane bisa minum red wine ditemani cekikikan mbakyu pramugari. Syukur-syukur dapat nomor telepon, jadi bisa dilanjut untuk kopi darat.

Yap! Benar-benar kopidarat. Sungguhan kopidarat! Baca entri selengkapnya »


SBY itu Seperti Fernando Torres, JK itu Sama Seperti Raul Gonzales

Maret 1, 2009

torres-kb3Susilo Bambang Yudhoyono

Cuy…
Ente pada suka nongton sepak bola kan? Pastinya kenal donk ye ama Fernando Torres, Raul Gonzales, Beckham, Ronaldo atau Anelka..

Mereka pinter banget giring bola, ada juga yang jago ngumpan, ada yang jago cetak gol, tapi juga jangan lupa, mereka pun tak segan-segan menjegal kaki lawan. Gedebruk..klontang-klontang..!

Ente pastinya juga paham di mana mereka bermain. Entah di Liverpool, Madrid, Inter, Milan, MU, Chelsea, atau Arsenal.

Nah, ente juga mestinya paham, mereka punya pelatih di klub masing-masing. Ada Benitez, ada Maurinho, ada si Wenger, dan lainnya. Terkadang pelatih terlihat elegan, pandai membuat strategi namun juga seringkali terlihat arogan.

Mereka membela klub mati-matian. Sikap professional. Biar bisa ngangkat pila kejuaraan, biar ndak dipecat dan biar bisa (tetep) jadi jutawan.

“Lah hubungannya sama SBY dan JK apaan, Boy..?”

Sabar…

Ente juga tentunya suka nongton sampe pagi pan? Begadang, ditemenin kacang, kopi, kemulan sarung, atau bagi yang berduit tentu saja lebih maknyuss kalau dibarengi taruhan duit. Persis kaya kelakuan Herjunot Ali di film “Gara-gara Bola”.

Penggila bola bisa jadi termotivasi kalau timnya menang, atau setidaknya pemain idolanya mencetak gol. Syukur=-syukur malah dapet menag taruhan. Cihuy abizzzz..!

Tapi apakah kita setelahnya terus merasa seneng? Toh esok harinya, paling banter jadi obrolan pagi (hingga berbusa-busa dan beraoma jigong!) dengan teman sekantor, rekan kerja, teman kuliah atau bahan obrolan dengan calon mertua.

Seminggu kemudian?
Sudah lupa…

Begitu pun politik. Baca entri selengkapnya »


Debat Kusir [Ber] Kacamata Kuda

Januari 18, 2009

 381621368_33029f0e77

 

 

Debat kusir itu mengasyikkan namun menjerumuskan. Asyik, karena kita bisa seolah-oleh duduk di depan kamera, disaksikan jutaan pemirsa, seperti layaknya komentator olah raga. Bisa mengeritik tanpa perlu pusing memberikan solusi.

 

Andaikan pun solusi dikehendaki, bisa asal comot dari pemikiran tokoh A di Koran S, tokoh U di radio I, atau jawaban dari rumusan sendiri yang tidak perlu secara ilmiah dipertanggungjawabkan metode dan sistematika berpikirnya.

 

Asal lawan debat tak berkutik, itu adalah sebuah kemenangan. Apalagi bila disaksikan oleh banyak pendengar setia. Biasanya hal ini terjadi di warung kopi, angkringan, atau warung indomi.

 

Namun, debat kusir bisa menjerumuskan. Jauh panggang dari api. Terkadang pembahasan tentang asbak, bisa diperdebatkan menjadi bagaimana bisa duren tumbuh di atas ruang tamu yang mejanya terdapat asbak. Susah. Tidak nyambung. Ndak kontekstual. Yang penting manggung!

 

Sakit memang bila kita berdebat secara elegan dengan orang bijak yang berwawasan luas. Kita bisa bertekuk lutut. Namun, banyak makna yang tak terpermanai. Banyak pengetahuan yang kita dapatkan. Ilmu yang tersedot dan masuk ke dalam jiwa raga kita.

 

Namun akan jauh lebih sakit bila kita berdebat dengan orang kerasa kepala namun sejatinya bodoh dan modal nekat. Kita hanya menghabiskan waktu, dan menjadi merugi. Mengapa? Karena tak ada apa-apa yang kita dapatkan. Tiada hikmah, yang ada malah sumpah serapah dan sampah.

 

Terkadang volume suara dalam perdepatan yang live show sangat menentukan. Diskusi jalanan yang benar-benar jalanan. Terkadang ada ekspresi melecehkan, melotot, nyengir kuda meremehkan, hingga suar menggelegar.

 

Beda juga dengan jaman masa kini, bilamana debat berlangsung hiruk pikuk di mailing list dan forum dunia maya. Tidak seperti perdebatan teman-teman Asterix yang meributkan dagangan ikan, daging  dimulai dengan tamparan dan diakhiri dengan tumpuk-tumpukkan para pendebat diiringi alunan sang musikkus Galia, mailing list atau milis biasanya perdebatan dimulai dengan pernyataan SARA, perbedaan pandangan politik, ideologi dan paling utama ya itu tadi, SARA, khususnya masalah agama. Baca entri selengkapnya »


Cirebon dan Budaya Indonesia

Januari 11, 2009

topeng cirebon

topeng cirebon

Saya lahir di Kota Cirebon. Kota wali. Kota budaya. Kota udang. Bukan otak udang.

 

Terima kasih yang teramat besar atas liputan asoy geboy dari papabonbon. Tulisannya tentang persiapan ke Tjeribon. Juga perihal nasi jamblang yang memang tiada duanya dan perihal denyut nadi industri rotannya.

 

Cirebon sejatinya adalah kota tua peninggalan sejarah pantura. Mistis. Menarik. Menakjubkan. Sungguh!

 

Menyesal juga tidak bisa menemani blogger keren nan beken ini keliling Cirebon. Mau bagaimana lagi, saya harus menemani anak-istri menuju Boyolali di saat tahun baru kemarin.

 

Kota tua dan kota budaya bukanlah hasil rekayasa seketika. Perlu proses menahun bahkan ratusan tahun untuk menjadikannya. Affandi, sang Maestro, lahir di daerah Plumbon Cirebon. Nano Rintiarno penggagas Teater Koma, besar di kota ini. Saya dan Anjar juga.

😛

 

Cobalah tengok gaya hidup masyarakat Cirebon tradisional dengan bermacam budaya yang bernafaskan keislaman. Pengaruh Sunan Gunung Jati sangat kentara.

 

Tahukah anda dengan “Salawat Brahi”? Atau gamelan Cirebon yang khas, sampai dipelajari oleh Richard North warga kebangsaan Amerika Serikat. Juga budaya tari topeng yang melegenda.

 

Apakah anda pernah menyaksikannya sendiri, di pelataran rumah pinggir pematang sawah, dengan nuansa cuaca pantura yang terik, namun sejuk, yang terang dan rupawan?

 

Tentu saja gamelan bukan semata-mata milik warga Cirebon. Hampir seluruh kota di pulau Jawa-Bali, bahkan hingga Malaysia terdapat seni gamelan. Maka tak aneh bila berbagai lembaga kebudayaan dunia, sangat antusias mempelajari seni budaya eksotis ini.

 

Silahkan dengarkan sendiri di sini.

 

Tercatat beberapa lembaga seperti komunitas gamelan network di Inggris dan American Gamelan Institute yang menyediakan gamelan siap dengar via iTunes. Bayangkan, bagaimana sejatinya budaya lokal sangat diminati dan dimaknai secara keilmuan bahkan meresap dalam budaya-gaya hidup warga asing.

Salawat Brahi

Salawat Brahi

 

Sujiwo Tejo pernah berujar:

 

“Saya yakin setiap daerah memiliki kekayaan budayanya masing-masing. Saya percaya penjajahan fisik sudah tak ada, tetapi mereka, Eropa dan Amerika meninggalkan Bank Sentral di setiap negara, dan mengembalikan kepala negara dengan Bank Sentralnya…

Tetapi yang sangat lupa Eropa dan Amerika meninggalkan estetika kepada kita..

Sehingga yang dikenal anak-anak kita adalah do-re-mi-fa-so-la-ti-do, padahal di Banyuwangi, Batak, Flores dan setiap daerah tangga nadanya berbeda…”

 

Maka dengarkanlah melodi banyuwangi dalam “PADA SUATU KETIKA” menang dalam MTV ASIA tahun 1998.

 

Sampai kapan angkara murka ini berakhir..

Ada yang melihat sebaran daun kara

Berkabarlah..

Untuk sementara waktu pengakhir angkara murka..

Titi kala mongso..

Momentum…

 

Cirebon. Indonesia. Budaya. Manusia. Bersyukur dan berdamailah…