Perintah Atasan

Januari 18, 2011

Sejauh mana perintah atasan harus ditaati?

Pasti teman-teman yang sudah bekerja memahami maksud pertanyaan di atas. Bahkan di tempat saya bekerja, di mana setiap urusan harus tertulis pun, kegamangan terhadap “perintah atasan” selalu ada. Ya. Beruntunglah saya dengan suasana kerja yang setiap kegiatannya selalu tertulis. Semua disposisi harus ditulis dalam secarik lembar disposisi. Namun nyatanya sebagai kaum jelata, selalu saja ada kebimbangan saat mengintepretasikan perintah tersebut.

Eh tunggu dulu, sebelum mengintepretasikan, apakah sih perintah itu?

“Tolong buatkan risalah pertemuan tadi..”
“Mas, bisa ambilkan buku agenda saya di ruang rapat tadi..”
“Sudah lah, temuan tadi di-drop saja, mereka teman baik kita kok. Saya jamin..”
“Coba buka baju kamu..”. 🙂

Dari 4 perintah tadi, atau mungkin lebih tepat sebagai “permintaan”, mana yang paling cocok di sebut perintah dalam lingkungan kerja?

Ya. Sepakat: Nomer 1.

Untuk kalimat Nomer 2, itu lebih tepat sebagai minta bantuan. Memang bukan tugas utama kita. Tapi toh, bukan berarti harga diri kita tiba-tiba jatuh hanya karena dimintakan tolong atasan mengambilkan buku agendanya yang tertinggal di ruang rapat.

Kalau Nomer 3?

Itu memang perintah atasan, namun semu. Bisa jadi itu karena tidak sesuai dengan apa yang menjadi prinsip utama dalam bekerja seorang Profesional: Integritas dan Kompetensi. Gampangnya mah Jujur dan Mampu.

Jika perintah Nomer 3 di atas disampaikan atasan kepada anak buahnya apa yang dapat diperbuat oleh anak buah?

Saya tak pernah bekerja di instansi militer yang konon katanya ada “garis komando” yang tegas dan keras, bahwa perintah atasan adalah mutlak. Entahlah apakah itu benar adanya atau hanya isapan jempol belaka.

Namun bagi teman-teman dan saya yang bekerja di sebuah lembaga, baik negeri maupun swasta, ada kalanya perintah atasan penuh dengan kepentingan. Bisa saja kita tutup mata, dan ABS (Asal Bapak Senang) dengan menjadi tukang sebut “Yes Sir..!” tanpa ragu tanpa malu, tapi apa itu ya benar dan patut?

1. Kesadaran diri.

Kelemahan dari para pegawai/ anak buah adalah tidak mengetahui secara pasti dan sadar apa yang menjadi kewajiban dan haknya. Dalam bahasa PNS: Tupoksi, Tugas Pokok dan fungsi. Bukan masalah hak kewajiban gaji dan tunjangan lho ya… 🙂

Dengan tidak taunya mereka, maka pegangan satu-satunya yang niscaya akan selalu menjadi acuan adalah “atasan”. Ini berbahaya.

Juga tidak tahunya mereka pada aturan main dalam bisnis proses. Siapa yang bertanggung jawab, apa risikonya, dan apa manfaatnya?

Pegawai Akun Ofiser (AO- Account officer) pada sebuah bank, sejatinya bertanggung jawab pada SOP adanya pemberian kredit dan bukan kepada Kepala Cabang. Bila ada kredit komando atau titipan, bila secara profesional tidak layak, untuk apa juga dipaksakan untuk diproses hingga pencairan? itu namanya kebodohan. Apalagi sampai memalsukan data, mereka-reka jaminan, memalsukan tanda tangan.

Bertanggung jawablah pada jabatan.

2. Kompetensi

“Tidak semua orang baik, cakap dalam bekerja”

Jangan salah. Kamu bisa jadi karyawan terbaik. Namun kamu juga bisa jadi karyawan yang baik. Beda bukan? Karyawan yang terbaik idelanya dia paham akan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Target tercapai, hubungan dengan rekan kerja baik, dengan customer juga oke, dengan boss pun harmonis. Apalagi ia menguasai pekerjaannya.

Apabila kita tidak terlalu paham dengan apa yang dikerjakan, tanya lah teman, rekan, atau senior bahkan atasan yang sekiranya cukup paham tentang permasalahan. Kebodohan dan ketidaktahuan pun dapat mencelakakan.

Bukankah Kanjeng Nabi pun pernah berpesan:

“Tunggulah kehancuran jika suatu urusan tidak dijalankan oleh orang yang mampu?” Kurang lebihnya begitu lah..

maka, baik saja tidak cukup. Senyam-senyum tidak cukup. Patuh saja pun tidak cukup. Anda harus mengetahui apa yang anda kerjakan, perlu apa saja untuk mengerjakan sesuatu tersebut, dan pastikan target waktunya.

Skill, pengalaman, dan pengetahuan harus terus dikembangkan. Orang jawa bilang : LUMINTU. Sustainable, Berkelanjutan. Bahasa Orba: Berkesinambungan.

Jangan pernah merasa jaman SMA jadi murid teladan lalu di kantor Anda akan selalu jadi nomor satu. Jangan merasa pernah jadi Ketua BEM Anda layak selamanya jadi pemimpin. Asah terus. Jangan bosan. Kalau bosan, boleh ganti istri. eh, maap ya ‘A.

3. Berani

Ini yang paling susah.

Kita lama dijajah. Gen sepertinya lebih banyak unsur takut dibandingkan keberanian. Sama atasan hanya bisa bilang. “Baik”…

“Siap…”

“Oke  pak”

Padahal, ada kalanya juga kita perlu pertanyakan kembali. Perlu di-challenge. perlu didiskusikan terlebih dahulu.

Parah apabila tahu bahwa petunjuk, arahan, atau perintah atasan adalah salah, namun kita tetap melakukannya. andaikan pun posisi kita terjepit, sana salah sini salah, dan takut di PHK, berlindunglah kepada Tuhan YME dengan modal kepandaian yang tersisa.

Misal: Diminta membuat sesuatu yang sifatnya kesalahan fatal. Buatlah dahulu dokumen dengan sebaik-baiknya. Atasan akan mengkoreksi sesuai selera. Nah, soft copy konsep simpan baik-baik, juga hard copy dokumen yang menunjukkan coretan atasan untuk memperbaiki sesuai seleranya. Maka itu akan menjadi pegangan anda jika dikemudian hari hal ini dipermasalahkan banyak pihak.

4. Fair

Tidak adil juga kita sebagai anak buah untuk menjelek-jelekkan atasan kita sendiri. Pastikan kita hormati mereka. Jangan pernah menjebak atasan, apalagi melakukan kecurangan pada atasan. Kecuali..

nah..kecualinya, silahkan Anda isi sendiri.

🙂

Jakarta- Pojok Monas,

18 Januari 2010.


Hikmah Cicak Buaya Dalam Iklim Keterbukaan Informasi

November 3, 2009

Pada tingkatan tertentu, sepertinya kita memang harus berbagi kesusahan. Dapat dibayangkan bila saja Bibit dan Chandra berjalan sendirian, atau Susno berkelahi tanpa teman, mungkin gak terlalu heboh dan tidak ada banyak cerita yang dapat kita ambil hikmahnya.

1. Rahasia sangat dekat dengan kebohongan, karena kerahasiaan akan memberi kesempatan pada ketidakjujuran. Berbeda dengan berksikap transparan, semua pihak tahu, maka bila ada kebohongan akan terkuak dengan cepat. Birokrasi harus terus berusaha bersikap transparan. Bukan materi atau substansi yang memang perlu ada rahasia, tapi pada “proses”.

2. Polisi perlu terus didukung masyarakat. Kekuasaan tanpa dukungan rakyat, sama saja seperti cebok pake tisu. Gak marem dan terus-menerus diikuti perasaan tidak nyaman.

3. Media makin mengambil peranan sebagai kekuatan baru. Apalagi dengan tingkat peradaban yang makin maju dan kemajuan cara berkomunikasi, dalam sekejab informasi tersebar tanpa dapat dikendalikan secara penuh. Hidup new media!

4. Opini publik makin gampang untuk dipancing, namun ya itu tadi, sulit untuk dikendalikan. Kalau untuk beberapa waktu, pengelabuan wacana hangat dengan menghembuskan berita baru yang lebih heboh dan menarik perhatian memang manjur, namun ingat. Nuarani masih ada di sini, Bung!

5. Hikmah terbesar adalah, penguasa tak lagi menganggap remeh masyarakat, terutama kelas menengah yang bekerja, dengan asumsi terdekat lebih berpendidikan, lebih kritis dan terpenting: berani mengambil sikap. Apakah kita perlu bicara substansi?

Maka coba tim pencari fakta Bibit-Chandra dibubarkan saja, dan ganti dengan Tim-tim pencari fakta berikut ini:

1. Kasus Century

2. Kasus Dana Yayasan Kepedulian apa gituh. (ane lupa) yang dewan pembina isinya terdiri dari 4 menteri yang sekarang bercokol.

3. Jangan coba berani-berani BIN dikepalai Polisi. Bakal runyam mulu ntar.

4. Mereview kasus Bank Indonesia dengan melibatkan besan.

Apalagi ya…?


Selain David Hartanto Widjaja Ternyata Ada Staf NTU Yang Juga Meninggal

Maret 8, 2009

 

Kasus kematian David Hartanto Widjaja perlu dicermati secara serius. Selain beliau, terdapat satu orang lagi dari NTU yang uga meninggal.  Terdapat titik terang, bahwasanya dibalik “cerita” masih ada “fakta” lain yang belum terungkap.

 

http://mediacare.blogspot.com
—– Original Message —– 
From: Christovita Wiloto 
Sent: Saturday, March 07, 2009 5:55 AM
Subject: [mediacare] STOP PRESS: Selain David Hartanto Widjaja, ternyata ada staf NTU yg juga meninggal

Rekan2 sekalian,

Kasus kematian David Hartanto Widjaja semakin misterius setelah ditemukannya banyak kejanggalan antara pemberitaan media Singapura dengan bukti-bukti di TKP. 

Selain itu berita ditemukannya mayat seorang staff NTU EEE membuat kasus ini semakin misterius. Beritanya bisa dibaca di bawah ini. 

Kami menghimbau rekan-rekan media untuk lebih dalam lagi melakukan investigasi kasus ini. Selama ini berita-berita di media Singapura yang ada sangat menyudutkan David dengan pola yang diatur seperti ini:

David anak jenius—-> keranjingan game —-> sampai lupa tugas belajar —-> nilainya jeblok —-> beasiswanya di cabut —-> depresi —-> nekad menusuk profesornya —-> kemudian nekad bunuh diri

Mohon bantuan untuk melakukan check and recheck, serta investigasi lebih dalam. Juga perlu dilakukan REPOSISI persepsi publik yang sudah terlanjur buruk terhadap mahasiswa Indonesia ini. Untuk menjaga citra Indonesia dan perlindungan warga negaranya.

Kita berharap agar pemerintah Singapura dapat segera mengungkap kasus ini. Dan pemerintah Indonesia dapat berperan lebih aktif.

Untuk rekan2 yang prihatin dengan kasus kematian David Hartanto Widjaja, bisa bergabung di Facebook di http://www.facebook.com/group.php?gid=67772059154&ref=ts 

Salam hangat

Christovita Wiloto

——————————————————-
http://singaporeenquirer.sg/?p=2500 

NTU officer found hanged
March 7, 2009 

A NANYANG Technological University infocomm project officer was found hanged in a staff apartment at the NTU campus on Friday night.
Mr Zhou Zheng, 24, a Chinese national from the Division of Information at the School of Electrical and Electronics Engineering (EEE) was pronounced dead in his flat at Block 101C Nanyang Heights at about 10.50 pm. Baca entri selengkapnya »