Iklan
 

Gurita Cikeas: Sekadar Makanan Ringan Demi Keuntungan?

Desember 28, 2009

Peluncuran Buku Gurita Cikeas

Cara marketing yang ampuh supaya produk cepat laku salah satunya adalah memanfaatkan momen terhadap “trending topics”.

Tentu saja, saat ini yang lagi ramai adalah urusan gurita cikeas.

George Junus Aditjondro memang ahlinya urusan mengintip kekayaan dan kehidupan penguasa.

Dulu ia mempublikasikan tetek bengek keluarga cendana. Sekarang ia berkisah tentang cikeas. Wow! Hobi yang menggiurkan. Intip, hitung, tulis, (kasih bumbu), lantas jual. Apa bedanya dengan infotainment?

Lantas bagaimana substansi dari buku itu, yang katanya sulit ditemui di toko buku? Apakah benar? Apakah fitnah? Atau kah penuh bumbu? Semi-benar (opo iki?)..? Ah, sebelumnya boleh saja kita bertanya: “Apa perlu?”.

Bagi saya ini 100% bermotifkan materialistik alias jualan buku.

Mengapa? Baca entri selengkapnya »

Iklan

Revolusi Sosial Sesungguhnya

November 5, 2009

Orang Eksakta (bahasa jadul ortu kita) sudah punya karya besar (opus magnum) sehingga kemajuan ilmu pasti mengalami lompatan besar (quantum leap), seperti yang dilakukan oleh Galilei, Newton dan Einstein. Lantas bagaimana dengan Orang sosial?

Baca entri selengkapnya »


Inggris Yang Arogan

Agustus 13, 2009

Inggris Yang Arogan: Tanggapan terhadap Artikel Gordon Brown di Harian bendera_britania-554x443Kompas Berjudul  “Pengadilan Memalukan di Burma”

 

Sejak lahir nama ane Kopdang. Suatu saat, oleh temen-temen, ane dipanggil Ganteng (entah kenapa). Lalu ketika ane sadar bahwa ane gak ganteng-ganteng amat, maka ane minta orang-orang manggil ane Kopdang saja. Karena itu memang nama ane. Tapi temen-temen ane sebagian kecil tetep manggil ane Ganteng. Padahal yang punya nama ane. Tapi ia (temen ane itu), tetap bersikukuh memanggih Ganteng buat ane, walaupun ane sudah secara resmi mengumumkan bahwa nama ane adalah kopdang.

😯

 

Temen ane itu adalah Negara Inggris. Dan Ane adalah Negeri Myanmar.

Coba deh ente baca koran Kompas pagi ini. Dalam kolom Opini (hal. 6 terbitan 13/8), Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown menulis dengan judul besar: “Pengadilan Memalukan di Burma”.

Tanpa melihat isinya, saya justru mengecam gaya arogan Inggris. Kenapa? Karena nama negara itu adalah Myanmar, bukan Burma lagi.

Burma dulu ada karena Inggris menjajah Myanmar. Burma diambil dari Burmese, suku mayoritas negeri Myanmar. Jadi bayangkan saja Inggris menamakan negeri kita dengan sebutan Indies atau Jawa.

Betapa konyolnya gaya Inggris.

😛 Baca entri selengkapnya »


Pembangunan Politik Indonesia: SDM yang memprihatinkan..

Agustus 10, 2009

Pembangunan Politik Indonesia511px-Garuda_Pancasila%2C_Coat_Arms_of_Indonesia_svg

Pembangunan politik adalah pembangunan yang intangible. Wujudnya tak kelihatan, namun dampaknya begitu dominan.

Seperti pembangunan-pembangunan lainnya, faktor utama tentu saja sumber daya manusia yang unggul, mumpuni dan berintegritas.

Apakah SDM politik kita sudah memenuhi syarat dimaksud?

Untuk lebih mudahnya buatlah permisalan bahwa membangun kehidupan politik seperti membangun rumah.

Tanah kavling yang akan dibangun sebagai rumah harus legal. Dalam hal ini tentunya dapat diartikan bahwa negara ini sudah berdaulat dan diakui oleh negara lainnya.

Indonesia, tentunya diakui oleh hampir seluruh negara, dan memiliki hubungan diplomatik yang sangat luas. Berbeda dengan Taiwan, Israel atau Negeri Tibet yang masih penuh dengan tarik-ulur mengenai kedaulatan dan hubungan diplomatik dengan negara lainnya.

Jadi dapat disimpulkan bahwasanya secara legal formal, keberadaan tanah kavlingan Indonesia, sudah benar dan legal bersertipikat.

Lantas bagaimana dengan pondasinya..?

Pondasinya tentu saja sudah cukup kuat. Pancasila mengajarkan adanya bentuk kerakyatan (yang berdaulat) yang diarahkan berdasarkan kebijaksanaan dalam  permusyawaratan dan perwakilan. Hal ini adalah suatu hal pokok bagaimana jalannya negara didasarkan pada kedaulatan rakyat dan diberikan amanah kepada masing-masing perwakilan yang telah ditunjuk. Baca entri selengkapnya »


Privatisasi

Juli 25, 2009

privatization

Mas, privatisasi, washington concensus, dan neo liberalisasi itu opo tho?

Mana nih yang ditanya? Privatisasi apa neolib nya?

Privatisasi deh.. Apaan tuh?

Gini, ndul. Awalnya ada pemikiran di Barat sono bahwa BUMN harus “dikomersialisir” dan dibuat layaknya perusahaan swasta.

Barat? Siapa tuh?

Ya, itu. Mereka yang menghuni Downing Street. No 10. Mereka mulai mengkaji soal “korporatisasi” BUMN.

Wah, berarti negara Barat ya yang pertama gagas?

Hooh. Tapi beberapa orang penting seperti Margaret Thatcher dan Keith Joseph justru beranggapan itu saja belum cukup. Pengelolaan BUMN secara profesional, berorientasi profit, dan dikelola dengan baik bukan itu yang dituju. Baca entri selengkapnya »


Calon Kabinet Blackmagic

Juli 13, 2009

barack-obama-blackberry2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Apa perbedaan antara Barack Obama dibandingkan salah satu pemimpin kita?” Baca entri selengkapnya »


SBY itu Seperti Fernando Torres, JK itu Sama Seperti Raul Gonzales

Maret 1, 2009

torres-kb3Susilo Bambang Yudhoyono

Cuy…
Ente pada suka nongton sepak bola kan? Pastinya kenal donk ye ama Fernando Torres, Raul Gonzales, Beckham, Ronaldo atau Anelka..

Mereka pinter banget giring bola, ada juga yang jago ngumpan, ada yang jago cetak gol, tapi juga jangan lupa, mereka pun tak segan-segan menjegal kaki lawan. Gedebruk..klontang-klontang..!

Ente pastinya juga paham di mana mereka bermain. Entah di Liverpool, Madrid, Inter, Milan, MU, Chelsea, atau Arsenal.

Nah, ente juga mestinya paham, mereka punya pelatih di klub masing-masing. Ada Benitez, ada Maurinho, ada si Wenger, dan lainnya. Terkadang pelatih terlihat elegan, pandai membuat strategi namun juga seringkali terlihat arogan.

Mereka membela klub mati-matian. Sikap professional. Biar bisa ngangkat pila kejuaraan, biar ndak dipecat dan biar bisa (tetep) jadi jutawan.

“Lah hubungannya sama SBY dan JK apaan, Boy..?”

Sabar…

Ente juga tentunya suka nongton sampe pagi pan? Begadang, ditemenin kacang, kopi, kemulan sarung, atau bagi yang berduit tentu saja lebih maknyuss kalau dibarengi taruhan duit. Persis kaya kelakuan Herjunot Ali di film “Gara-gara Bola”.

Penggila bola bisa jadi termotivasi kalau timnya menang, atau setidaknya pemain idolanya mencetak gol. Syukur=-syukur malah dapet menag taruhan. Cihuy abizzzz..!

Tapi apakah kita setelahnya terus merasa seneng? Toh esok harinya, paling banter jadi obrolan pagi (hingga berbusa-busa dan beraoma jigong!) dengan teman sekantor, rekan kerja, teman kuliah atau bahan obrolan dengan calon mertua.

Seminggu kemudian?
Sudah lupa…

Begitu pun politik. Baca entri selengkapnya »