Setengah Juta


Saya tidak begitu paham cara perhitungan wordpress. Namun, dengan jumlah hits 500 ribu lebih blog ini, setidaknya setengah juta kali blog ini ditengok oleh siapapun juga, mungkin termasuk Anda.

Terima kasih, itu sangat berarti.

Iklan

Di Awal Tahun Bikin Polling Ah…


 Mosok cuma SBY dan para punggawanya yang bisa bikin survey..

Isi ya.. Hihihi.

Berita di Detikcom: Hampir 80% Pegawai Bank Indonesia Menolak OJK


Wah apakah benar?
tulisan dari Herdaru Purnomo – detikFinance
Jakarta – Mayoritas pegawai Bank Indonesia (BI) menyatakan penolakannya untuk bergabung dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ikatan Pegawai Bank Indonesia (IPEBI) mengungkapkan dari 473 responden pegawai BI, 76,98% menyatakan menolak bergabung dengan OJK.

“Hasil survei dengan responden sebanyak 473, dimana 61% responden-nya dari jumlah pengawas bank di Kantor Perwakilan, yang menyatakan untuk menolak bergabung di OJK sebanyak 76,98%,” ujar Ketua IPEBI, Agus Santoso kepada detikFinance di Jakarta, Kamis (02/12/2010).

Agus juga mengungkapkan, hanya sebanyak 14,3% bersedia untuk ditempatkan di OJK dan sisanya 9,89% lebih memilih untuk pensiun.

“Survei ini dilakukan sejak bulan Maret 2010,” tambahnya.

Agus menyampaikan, hasil survei ini disampaikan secara resmi kepada Tim Panitia Khusus RUU OJK DPR-RI ddalam pertemuan pagi tadi di Hotel Aryaduta, Jakarta.

“Kami IPEBI merasa datang kerumah rakyat dan mendapatkan perhatian dan kasih sayang luar biasa. Semoga harapan-harapan itu tidak saja didengar namun dapat dipahami dalam proses penyusunan bentuk koordinasi yang tepat dalam membangun kestabilan sistem keuangan nasional kita,” ungkapnya.

Agus menambahkan, menyatakan karyawan BI bukan menolak OJK namun yang ditolak adalah bila OJK disusun tidak sesuai kebutuhan.

“Dimana bila OJK disusun bukan atas dasar kebutuhan nyata yang urgensinya jelas maka kita tolak,” tukasnya.

Aspirasi Karyawan Bank Indonesia ini diterima langsung oleh Ketua Tim Pansus OJK Nusron Wahid pada pukul 09.00 sampai pukul 10.00 di Hotel Aryaduta.

Gayus, Wig dan Merapi


Adakah hubungannya antara tiga kata di atas? Saya tak tahu pasti. Namun yang jelas, ketiga kata tersebut sedang hangat-hangatnya diperbincangkan warga.

Gayus begitu menggoda. Ganteng sih nggak, tapi kalau dilihat dari jumlah duitnya yang masih belum jelas juga berapa jumlahnya, siapa yang tak penasaran. Gayus bikin ulah lagi. Semakin mempersulit posisi Ditjen Pajak. Apa kata dunia?

Ia jalan-jalan di saat masa tahanannya masih berlaku. di ranah twitter, ia dianggap sebagai “the nekat traveller”. Konyol sekaligus lucu. Keluar kandang tapi kok di tempat keramaian.
Entahlah apakah ini berhubungan dengan kehadiran Bakrie di pertandingan tenis di saat yang bersamaan.

Apalagi saat dia ketahuan menggunakan piranti mengelabui warga: Wig. Hihihi. Apa sih yang dpikirkan Gayus dengan sebuah wig. Seberapa hebatkah khasiatnya sehingga ia dengan percaya diri menikmati tenis (atau malah tidak menikmatinya?), dan berada di kerumunan massa.

Ulahnya yang membuat heboh ini tentu saja merepotkan. Bukan rahasia lagi bahwa masa tahanan memang masa yang penuh keragu-raguan. Dengan negosiasi dan angpau sejumlah tertentu orang boleh hilir mudik dengan lasan periksa kesehatan dan alasan lainnya. Tapi apa ya tidak terpikir bahwa Gayus adalah persona istimewa.

Gedung Pajak di manapun akan disebut sebagai gedungnya Gayus. Guyonan anak kecil gak lagi bicara harta karun untuk menunjukkan kepemilikkan uang yang cukup. “ih, Gayus lho..tumben dompet lo tebel, traktir dooong..”.

Wig bukan sesuatu yang menutupi wajah. Ia hanya penghilang ciri khas. Gayus dan orang-orangnya lupa, bahwa wajahnya sudah begitu melekat di hati warga. Ia fenomena. Anak pajak yang kaya raya. Hebat bukan?

Seketika itu juga kita lupa, bahwa masih saja ada warga yang berjuang demi masa depannya. Merapi masih menggelora. Masih mengeluarkan dahak dan sedikit batuk-batuk. Merapi kalah suara dari Mas berwig itu.

Bagaimana pun juga, inilah Indonesia. Penuh cerita romantika. Bahkan yang tak mungkin ada di negeri lainnya. Indonesia, tanah pusaka. Namun juga penuh cerita ria jenaka.

Rekrutmen Bank Indonesia


Saat ini sedang diadakan ujian via online untuk posisi Pegawai Tata Usaha Bank Indonesia. Namun apa boleh buat, antara jumlah peserta dan kapasitas server sepertinya tak berbanding lurus, sehingga banyak keluhan susahnya melakukan login.

Perlu kiranya panitia rekrutmen memikirkan kembali proses ujian dengan cara online. Walaupun ringkas dan murah, namun pelaksanaan yang penuh gangguan, tidak membuat nyaman peserta.

Saya memang tidak ikut ambil bagian, hanya saja karena internal BI banyak juga yang turut serta, maka keluhan ini sampai juga ke telinga saya, hingga kalimat ini ditulis.

Sekian dan terima kasih.
🙂

Mencairkan Blog


Maksud saya mencairkan di sini mirip dengan istilah dalam kredit. Yap! Artinya lebih kepada menerima uang. Mencairkan kredit, menerima uang kredit. Deal!

Nah, selama ini sepertinya belum banyak blog yang berhasil mendapatkan keuntungan dari iklan seperti halnya situs berita. Entah apakah http://dailysocial.net/ sudah dapat melakukannya. Bahkan blog dengan sosok terkenal di jagat media sosial semacam http://ndorokakung.com/ lebih banyak meraup keuntungan finansial melalui postingan dengan konten tertentu mirip advertorial pada surat kabar.

Oh iya, dalam hal ini, adSense google tidak saya kategorikan sebagai pemasang iklan, karena berbeda dengan pemasangan iklan dalam artian memasang banner tanpa perlu memperhitungkan jumlah “klik”.

Apakah karena jumlah pengunjung yang sedikit? Tidak juga.

Coba sesekali Anda tengok blog seperti http://terselubung.blogspot.com/ .
Sehari, blog tersebut bisa dikunjungi 50 ribu kali. Admin blog tersebut pun sudah mempersilahkan pemasang iklan untuk bekerja sama dengannya. Namun, hingga saat ini belum ada banner iklan satu pun yang nyantol di sana.

Ada apa?

Entahlah. Target iklan tidak hanya bicara jumlah pengunjung rupanya. Namun juga “pengakuan dan segmen yang dituju”. Detik.com, kompas.com sudah jelas siapa pembacanya. Situs berita itu sudah layak dan terpercaya, walau dalam tanda kutip. Okelah, gak adil kalau dibandingkan dengan itu. Bagaimana dengan techcrunch? ( http://techcrunch.com/ ). Ah itu memang blog namun ia berada di Amerika. Gak adil juga dan susah dibandingkan karena situasi dan kondisinya yang beda.

Lantas siapa?
Dailysocial.net? Yang digawangi oleh @rampok? Saya pun belum begitu jelas apakah memang benar-benar blog yang mirip techcrunch ini sudah dapat meraup iklan, dibiayai oleh capital venture, atau bagaimana? Karena saya dengan Bung Rama Mamuaya, si @rampok sudah dapat konsentrasi mengelola blog-nya tersebut tanpa perlu bekerja di tempat lain. Kabar burung yang baik.

Lantas bagaimana dengan blog karismatik peraup komentar dan pujian, misalnya blogombal.org ( http://blogombal.org/ ) . Apakah juga telah dapat menarik perhatian pengiklan? Atau jangan-jangan malah si empunya tidak berkenan blognya dibebani iklan kedap-kedip gak keruan. Mungkin lebih memilih untuk menggunakan cara advertorial seperti ndorokakung (dahulu).

Saya bukan ahli dunia virtual dan segala tetek bengek bisnisnya, seperti yang ditasbihkan oleh Nukman luthfie, bahkan tidak dapat dikatakan sebagai pemerhati blog, karena saya pun jarang blogwalking apalagi kopi darat dengan para penggiat blog (blogger). Apalagi profesional dunia maya seperti Budi Putra (@budip) yang menggawangi Yahoo! Indonesia.

Cuma saya hanya merenung dan penasaran sampai sejauh apa para pemasang iklan mau menyambangi dunia blog sebagai media yang layak untuk meraih konsumennya.

Apakah blog di Indonesia hanya berkutat pada dunia paguyuban. Guyub dan mengguyubi, tanpa bisa menjadi sebuah lahan mata pencaharian?! Entahlah. Dunia nge-blog adalah dunia yang menarik. Seharusnya, setiap hal yang menarik, manis, akan didatangi semut. Namun hingga saat ini sepertinya blog masih mutar-muter di situ-situ saja.

Oh iya, dan sepertinya adsense ala google pun telah diikuti segera oleh sitti, http://sittibelajar.com/ yang menawarkan kerjasama antara blogger dan sitti untuk pemasangan iklan. Kita lihat saja bagaimana perkembangannya ke depan.

Baiklah. Itu cuma renungan. Bukan urun rembug dan sumbang saran apalagi pencerahan. Maklum, hanya penonton.

Wassalam.

Pesta Blogger 2010


Saat tulisan ini dibuat, di sebelah sana, epicentrum rasuna, jakarta, sedang digelar perhelatan pesta blogger 2010. Ini adalah acara terakhir dari rangkaian acara #pb2010 yang sebelumnya dilangsungkan di berbagai kota.

Acaranya mestinya meriah, sesuai dengan namanya “Pesta” Blogger. Hampir sebagian besar blogger akan senang berjumpa langsung dengan rekan-rekannya sesama blogger dari berbagai daerah. Kumpul plek!

Keren, merayakan keragaman. Saling berbagi.

Bahkan. Panitia tahun ini juga melangsungkan acara amal dengan mengumpulkan sake atau sampah kertas dan babe atau barang bekas yang nantinya disumbangkan.

Malam tadi, sehari sebelum acara pesta blogger, dilangsungkan juga muktamar bhi, alias bundaran hotel indonesia, di mana sebagian blogger ibukota melangsungkan kopi darat, kongkow-kongkow, bercengkrama dan bertukar cerita. Dulu acara ini rutin, hampir setiap minggu, namun pernah suatu ketika dilarang oleh pengelola gedung di sekitar bundaran HI. Entah alasan apa yang menjadikan mereka tak memperbolehkan blogger duduk-duduk santai di sana.

Kembali ke perayaan pesta blogger, acara dibuat sedemikian rupa dengan penuh atraktif. Kali ini panitia membuat booth-booth kecil untuk para kontributor dan sponsor untuk memajang atau setidaknya memperkenalkan karya mereka. Bagus. Saling mengisi dan diisi.

Namun untuk pesta blogger kali ini saya tak hadir. Dua kali pesta blogger sebelumnya, saya hadir dan bertemu rekan-rekan blogger.

Bukan karena ada bencana mentawai, wasior, atau merapi yang mengurungkan niat saya. Apalagi dengan alasan bahwa episentrum itu adalah gedung milik bakrie. Bukan. Sama sekali bukan itu.

Saya hanya kehilangan selera.
Itu saja.
🙂

Jakarta, 30 November 2010

Mau Dibuat Jadi Apa Ya?


Enaknya dibuat apa ya? Ceritanya aku buat blog baru, myJKT, alamatnya di http://myjkt.com/

Awalnya sih mau dibuat mirip situs-situs resmi pariwisata tentang semua hal Jakarta. Mirip situs-situs kota besar lainnya di dunia kayak ilovenewyork ( http://iloveny.com/ ). Cerita tentang sejarah, kegiatan, sarana transportasi, dan hal lainnya supaya pengunjung blog bisa secara instant mengetahui segala tetek bengek jakarta sama dengan warga lokal. Ini lebih mirip panduan bagi pendatang.

Lantas kepikiran mau dibuat kayak situs majalah “the newyorker” ( http://newyorker.com/ ). Nyastra gitu deh. Lebih menekankan karya. Cerita feature, liputan tentang sesuatu, esai, cerita fiksi, dan hal lainnya. Penulis dari kontributor alias kamu-kamu semua. Tapi kepentok sama banyaknya tulisan dan perlu dana sebagai imbalan atas tulisan yang dikirim. Bagus sih kalau jalan. Bisa jadi media alternatif.

Tapi lama-kelamaan tergoda juga mau buat yang lebih niche jadi khusus agenda Jakarta, bicara event yg ada di jakarta setiap hari. Mau aku buat jadi kayak one stop blogwalking untuk tahu acara-acara apa yang terjadi. Misalnya tentang konser, pameran, pertunjukkan musik, pensi, dan lain-lain.

Sampai sekarang sih masih bingung, belum punya konsep yang jelas mau kemana. Ada yg bisa kasih masukkan atau mau ikut ngeblog bareng?

Hihi.

Terima kasih sebelumnya.
🙂

12:34:13 Tue, Oct 19, 2010

Perihal KeIndonesiaan Kita


Mungkin klise, tapi tak apalah. Berapa sih orang kaya Indonesia?

Berdasarkan survey, orang kaya Indonesia sekitar 6% dari total jumlah penduduknya. Ya kira-kira 12juta-an orang lah. Jumlah ini melebihi jumlah warga Singapura.

Jumlah penduduk Indonesia yg kaya banget?

Maksudnya adalah yg kekayaannya lebih dari 1juta USD atau di atas 9 milyar. Kira-kira ada 24000 orang. Banyak bukan? Ya lumayanlah.

Tapi ya itu, kita hanya melihat jumlah orang kaya. Padahal pendapatan per kapita kita baru 48juta pertahun alias 4 juta per bulan. Ini seperduabelas pendapatan per kapita Singapura yang mencapai 500jutaan lebih per tahun.

Perdapatan per kapita pun menjebak. Mengapa? Seperti yg diutarakan oleh Naseem Taleb dalam bukunya Black Swan, atau buku-buku yang lain seperti Outliers-nya Malcolm Gladwell bahwa ada satu dua orang bahkan ratusan yang kekayaannya di atas rata-rata. Jauh di atas rata-rata. Merek yang mendongkrak perdapatan per kapita ini.
Mereka adalah puncak dari puncak dalam teori pareto. Sekelompok orang yang menguasai hampir keseluruhan kekayaan suatu negara. Hidup seperti teratai. Musim kemarau bisa hidup di lumpur, musim penghujan bisa hidup tenang di atas permukaan air. Mereka tak kasat mata. Tidak terlalu suka popularitas. Yang penting kenyang dan happy. 🙂 tidak suka main facebook, yahoo! mim, twitter, apalagi lingkedIn.

Lantas gerak roda ekonomi bangsa dimulai darimana?

Kesalahan masa lalu adalah ketika Era Soeharto meyakini sangat mengenai “trickle down effect”, yaitu kaum berpunya, apalagi konglomerat, akan menciptakan industri yang pada turunannya menciptakan lapangan kerja dan kemaslahatan umat jelata.

Preeet! Fakta membuktikan lain.

Di dalam teori manapun, termasuk sejarah, membuktikan bahwa kelas menengah adalah penghubung dan penggerak segala pri kehidupan.

Tidak kaya-tidak miskin. Tidak apolitis, tidak melulu pekerja, namun juga tidak melulu pengusaha. Mereka selalu gelisah. Intelektualitas dan kemakmuran dijadikan barang yang disegani.

Maka usaha menuju kemakmuran tidak hanya bisa dilihat secara sepenggal. Berbanggalah kita dianggap anomali dengan kemajuan di dunia maya. Penetrasi yang cukup besar oleh masyarakat, dianggap sebagai pelecut kereta intelektualitas dan kemakmuran.

Berterimakasih pada hape china, facebook dan twitter, serta RPM konten yang tak jadi, karena itulah salah satu modal pembangunan lahir batin. Lebay ya? Hihi.

Lihat, techcrunch bingung dengan kita. Koprol dibeli Yahoo!. Super swarm terjadi di dunia foursquare dan bikin bingung dunia maya tingkat dunia. Negeri dengan segala macam berita miring masih bisa muncul berita baik. Tegak.

Ekonomi kreatif yang makin cihuy. Dunia prakarya, sosial budaya yang kaya, batik yang mendunia, adalah salah satu kekayaan yang begitu berharga bagi kita.

Jangan loyo deh kayaknya. @Pandji dengan nasional.is.me sudah menggugah kita. Indonesia itu kaya, hanya saja kita belum yakin benar dengan kekayaan kita.

Mari kita bergandengan tangan. Ajak tetangga kita untuk yakin akan kemajuan bangsa. Maju dunia akhirat. Tentu saja, dengan iklim politik demokrasi yang semoga makin sehat.

Bidang pertanian masih banyak yang perlu dibenahi. Bidang pendidikan masih perlu diurus, dan terutama, kedewasaan dalam berpolitik dan berkewarganegaraan.

Bekerja, belajar, dan berdoa.

Semoga kita jaya!

Dagelan 88 ?


(Dikutip dari posting Hanibal W. di Facebook)

Dagelan Penggerebegan Teroris

Share Yesterday at 8:20pm

Ada banyak kejanggalan dalam operasi penggerebegan teroris di Solo hari ini. Ada apa sebenarnya?

Beberapa hari terakhir masyarakat kembali dikejutkan oleh operasi

penangkapan dan penembakan teroris. Pekan lalu, belasan orang ditangkap

di kawasan Pejaten, yang hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari markas

Badan Intelijen Negara (BIN). Rabu siang lalu (12/5) sekelompok orang

ditangkap di Cikampek, Jawa Barat, dan menewaskan dua orang di antara

mereka. Beberapa jam kemudian, tiga tersangka teroris juga diterjang

timah panas polisi dan tewas saat turun dari taksi di keramaian jalan

Sutoyo Siswomihardjo, kawasan Cililitan, Jakarta Selatan.

Lewat corong media massa, polisi mengatakan bahwa mereka adalah

tersangka teroris. Awalnya polisi baru mengatakan bahwa mereka terlibat

dalam kasus teroris Aceh yang ditangkap dan didor dua bulan lalu.

Belakangan, polisi mengatakan bahwa mereka juga terlibat kasus bom

Marriott dan bom Kedubes Australia. Bahkan kabarnya salah seorang

tersangka yang ditembak polisi adalah Umar Patek, salah satu pelaku Bom

Bali I, yang sempat diberitakan tewas di Filipina.

Hari ini, Kamis (13/5) polisi ternyata sudah langsung bergerak ke Solo,

termasuk komandan lapangan Densus 88 Kombes Muhammad Syafei yang sampai

kemarin sore masih berada di Cikampek. Sang Kombes juga sempat

memberikan clue kepada tim liputan kami bahwa, “Akan ada gunung meletus

di Solo.” Di Solo polisi ternyata menangkap tiga orang tersangka, entah

di mana ditangkapnya, kemudian menyerbu sebuah rumah bengkel. Di tempat

inilah polisi menemukan sepucuk M-16, pistol, peluru, dan buku-buku

jihad (!)… Hmmm… Sigap nian polisi kita.

Namun ada yang menarik dalam penggerebegan teroris di Solo kali ini.

Sebab, sebelum penggerebegan itu, polisi sempat menggelar brieffing

terlebih dahulu dan persiapan-persiapan seperlunya di sebuah rumah

makan. Di tempat itu pula –di pinggir jalan— mereka baru memakai rompi

anti peluru setelah melempar-lemparkannya sebentar di antara mereka,

memasang sabuk, penutup kepala, senjata api dan persiapan-persiapan

lain. Beberapa warga yang melintas sempat menonton mereka show of

force, dan terkagum-kagum heran melihat semua persiapan itu. “Wah, iki

Densus 88 yo, Mas, edan tenan…,” kata seorang warga.

Acara persiapan pra penyerbuan yang sangat terbuka seperti ini tentu

saja jarang terlihat pada penggerebegan sebelumnya. Pada

penyerbuan-penyerbuan sebelumnya, biasanya polisi sudah memakai pakaian

tempur lengkap dan masuk ke lokasi di malam hari atau pagi buta.

Sementara pada acara persiapan tadi pagi, matahari sudah mulai hangat

di tengkuk. Saat itu sebenarnya beberapa wartawan cetak dan elektronik

sudah mulai berdatangan ke rumah makan itu. Sayang mereka tidak berani

mengambil momentum bersejarah ini…

Nah, setelah semua anggota lapangan memakai peralatan rapi, mereka lalu

masuk ke mobil dan langsung bergerak. Hanya bergerak sebentar tiba-tiba

mobil-mobil Densus 88 itu berhenti. Para anggota lapangan pun bergerak

mengepung sekitar lokasi dan kemudian memasuki rumah yang dipakai

menjadi bengkel itu. Para wartawan yang mengikuti mereka sampai

tergopoh-gopoh karena terkejut. Mereka tidak mengira rumah sasaran

sedekat itu. Tahukah anda, berapa jaraknya dari rumah makan tadi? Hanya

200 meter, dan terlihat jelas dari restoran tadi!!

Maka drama penggerebegan yang tidak lucu itu pun terjadi. Para wartawan

bisa mendekat ke TKP bahkan sampai ke pintu rumah bengkel tadi. Para

anggota Densus 88 itu pun bisa diambil gambarnya dalam jarak dekat.

Mereka sama-sekali tidak berusaha menghalangi atau melarang, mereka

juga tidak mengusir para wartawan. Para petugas membiarkan para

cameraman televisi mengambil gambar hingga di pintu rumah itu, dan bisa

mengambil gambar ketika anggota densus 88 berada di salah satu ruangan.

Dalam rekaman para cameraman televisi, Lazuardi reporter/cameraman

Metro TV dan Ecep S Yasa, dari TV-One tampak diberi privilege untuk

mengambil gambar terlebih dahulu dari wartawan lain. Meskipun demikian

mereka juga sempat disuruh keluar terlebih dahulu, “Nanti dulu-nanti

dulu, belum siap,” kata seorang anggota Densus 88. Para wartawan sempat

bertanya-tanya, apanya yang belum siap. Namun ketika boleh masuk, para

wartawan melihat bahwa barang bukti sudah tersusun rapi di lantai.

Yang sangat menarik, bagi wartawan yang sudah biasa meliput penangkapan

teroris, tampak jelas dari bahasa tubuh mereka, bahwa para anggota

Densus 88 itu tidak menunjukkan tanda-tanda stres yang menyebabkan

adrenalin melonjak. Mereka tampak lebih santai dari pada ketika mereka

menggerebeg tersangka teroris sebelumnya. Bahkan mereka menunjukkan

kegembiraan yang janggal ketika saling mengacungkan jempol, tos dan

sebagainya, setelah operasi dinyatakan berhasil.

Perilaku yang aneh juga tampak ketika para perwira Densus 88 termasuk

komandan lapangan mereka, Kombes Muhammad Syafei datang ke rumah

bengkel itu dan mau diambil gambarnya oleh para wartawan, bahkan dalam

posisi close-up. Padahal selama ini dia dikenal paling alergi dengan

kamera wartawan. Tak segan-segan ia menyuruh wartawan mematikan camera

atau menghapus gambar yang ada dirinya.

Kejanggalan pun semakin lengkap ketika beberapa warga mengakui bahwa

sebenarnya sehari sebelumnya rumah bengkel itu sudah didatangi sejumlah

orang bertampang tegap, yang menurut warga adalah polisi…. “Ya mirip

mereka-mereka itu, mas…,” kata mereka.

Lalu, apa artinya semua ini?

Tewas Lagi


Lagi. Lagi dan lagi. Anak bangsa ditembaki dengan legalisasi antek teroris. Sebelumnya, saya mohon izin mengumpat: “Guoblok itu densus. Guoblok itu polisi. Guoblok itu Kapolri!”

Anak kecil, belum bisa memancing, belum bisa bawa jaring, langkah gampang: gunakan Potasium. Orang desa bilang “diportas”. Iya, diracun! Semua klepek-klepek.

Persis apa yang dilakukan densus salep 88 dengan dar-der-dor ala koboi. Membabi gak pakai buta. Cuma membabi! Ya, apa? Ada masalah? Mau dibilang teroris juga? Ah, makin guoblok aja densus!

Saya menulis dalam keadaan kesal. Lihat di tipi BHD bangga anak buahnya menghilangkan nyawa orang. Edan! Dunia macam apa ini? Lebih mending nonton Anang sang raja hoki yang dengan mulus dipelak-peluk Syahrini.

Iya, tidak semua warga setuju pelabelan teroris bisa seenaknya dicap pada setiap jidat warga. Pekerjaan intelejen pun seharusnya bukan dijadikan komoditi politik. Silahkan bunuh warga indonesia yang kamu anggap salah tapi tak perlu digembar-gemborkan.

Bunyi dalam laporan! Bukan dalam pemberitaan. Bahkan kerja sama dengan menjual informasi. Tayangan langsung via tivi.

Memangnya teroris kayak chelsea vs liverpool?

Densus 88 ke laut aje. Kesal? Tapi tulisan gak bikin hilangnya nyawa orang kan?

Payah.. Tak secuil pun rasa hormat tersemat padamu.

Terima kasih.

Hutang Bulan April


Ini adalah tulisan hutang. Supaya April tidak nihil dari postingan.

Untuk kali ini kita bicara apa?
Apakah kita hendak bicara social media? Perkara cinta? Bicara influenza? Atau bicara politik nusantara maupun mayantara.

Untuk yang pertama mungkin ada baiknya kita bicara social media. Apa ya? Apalagi kalau bukan twitter yang makin oye saja! Semua suka semua ceria!

Lihat saja bagaimana si pakar politik bisa berdebat sengit dengan wartawan junior. Atau penulis naskah film yang jujur ngaku gay bicara bonek lantas dicaci-maki tapi tetap santai saja sesantai Shania. “Santaaaai saja..”.

Itulah dunia maya. Jagad tanpa batas tergantung kecepatan koneksi dan daya pikat. Tapi yang utama: kreatifitas.

Ya. Cuma yang kreatif yang bertahan. Kreatif dalam berpolitik, dalam berbicara, kreatif dalam ngelawak. Kreatif dalam mengambil sikap.

Lihat saja @fiksimini yang menarik minat para penulis untuk memaknai kata dengan cermat. Diurai dengan penuh ketelitian. Irit huruf, kata dan tentu saja tanda baca.

Ya sudahlah.
Lebih enak cukupkan saja. Tulisan ini cuma petanda. Bukan apa-apa. Bahwa April, selain saya berulang tahun, menunggu anak kedua, juga makin aktif di mayantara. Sayangnya bukan di blog ini. Tapi di sana. Di akun twitter yang itu.

Selamat malam.
Wiken ini saya masih harus berkerja.

++

8 Blogger Bicara Tentang “Dunia Berbagi”


Selamat Datang Di Dunia Berbagi

 

 

Apa yang anda bayangkan dengan dunia saat ini? Apakah sesuatu yang penuh materi, dengan sifat banal, dipenuhi pendaki karir, dan melupakan sifat yang ilahiah?

Tentu tidak salah. Berbagai aspek kehidupan menunjukkan kecenderungan itu.

Tapi apa salahnya bila berbagi adalah suatu kebutuhan. Tentu saja berbagi dalam hal yang baik-baik saja. Kalau berbagi keburukan malah nantinya kita terjerumus dalam kehidupan nerakawi. Bahaya! Hihihi..

Nah, berikut ini adalah beberapa penggalan pendapat mereka beberapa narablog tentang ngeblog. Sebuah kebiasan, pekerjaan, hobby, atau kelakuan yang bikin kecanduan? Namun yang jelas, ngeblog bagi mereka adalah suatu media untuk berbagi.

Mereka terdiri dari sosok manusia yang tak pernah tinggal diam. Jiwanya selalu gelisah. Geli-geli basah? Ah, ndak juga. Saya yakin, andaikan pun blog tak pernah diketemukan, mereka punya caranya sendiri untuk memberoikan sesen-dua sen pencerahan, baik lewat guyon, tulisan ringan, berbobot, puitis, ndakik-ndakik, hingga penuh gejolah proggresif revolusioner.. halah! Bisa jadi bila blog tak ditemukan, mereka akan menjadi vandalis yang melukis jalanan dengan tulisan indah dan penuh makna.

Selamat menikmati. Lanjutkan membaca “8 Blogger Bicara Tentang “Dunia Berbagi””

Tembakau Indonesia


Twitter pagi ini banyak membahas tentang Muhammadiyah yg mendapat bantuan Rp5miliar utk program anti-rokok dari Bloomberg.

Hasilnya, setiap pertemuan resmi ormas tersebut, kepulan asap rokok dilarang ada. Hebat bukan?

Berdasarkan data dari The Tobacco Atlas; Campaign for Tobacco-Free Kids; Bloomberg initiatives: dan Philip Morris International, Indonesia memiliki 62,1% pria merokok. Indonesia juga dikenal sebagai pasar tembakau (rokok) paling terbuka lebar untuk perusahaan-perusahaan rokok saat ini. Produsen rokok bisa beriklan di TV dan mensponsori tim olahraga (djarum kudus) serta konser (a mild live, dan konser besoaar lainnya).

Perjuangan anti tembakau saat ini memili pendana besar yaitu Bloomberg/Gates. Sudah 178 grant senilai $125juta atau setara Rp1,2trilyun di 38 negara di Indonesia.

Hal yang menarik adalah dari Indonesia, penerima grant adalah seorang gadis manis, berkaca mata, masih 25 tahun, berjilbab, lulusan fakultas hukum bernama Dina Kania. (@kunelz). Sayang, twitternya tidak digunakan dengan optimal.

Ia datang seorang diri ke rapat tahunan Altria, produsen rokok terbesar dunia untuk menyatakan kekhawatirannya pada Camilleri, CEO Philip Morris, si produsen Marlboro (rokok kesukaan @ndorokakung). Ya, tentu saja ia datang bersama dengan aktivis lainnya dr seluruh belahan dunia. Aktivis yang mengenakan kain chiffon hitam dari ujung kaki hingga rambut, untuk melambangkan: ke-ma-tia-an.

Ketika Kania selesai berbicara, Camilleri mengatakan padanya bahwa semestinya ia senang perusahaan Philip Morris membeli Sampoerna karena mereka akan bersikap etis. Sedikit beralasan, karena setiap tahun, Philip Morris memberikan kesempatan kepada seluruh warga dari manapun bertanya padanya, dan CEO akan menjawabnya. Persis seperti kontes ketahanan layaknya Pansus Century. Dan dalam forum inilah Kania diberi kesempatan berbicara langsung dengan sang CEO.

Tapi apa boleh buat, Philip Morris lebih pintar. Mereka memasarkan produknya dengan dana iklan, pemasaran kreatif yang menyasar kepada perokok muda. Konser musik, kompetisi olah raga, hingga yayasan pendidikan yg memberikan beasiswa.

Tapi Kania cukup pintar, saat Alicia Keys akan manggung di Indonesia, lekas-lekas ia mengontak manajemen Keys. Maka, Kania menjadikan pihak Keys tahu keterlibatan Sampoerna dalam konsernya. Hasilnya: Penyanyi itu mengancam membatalkan konser kecuali produsen rokok itu mau mundur.

Hebat Kania!

Ps: sebagian tulisan hasil membaca sebuah artikel di Business Week edisi Mei 2009.

Sent from my BlogBerry®
powered by blog kopidangdut
https://kopidangdut.wordpress.com/
~dari urusan serius seperti dangdut hingga hal remeh sekadar politik jenaka~

Ekonomi Periuk Nasi


Lama ga ngga ngeblog, karena lebih sering ngetwit. Sama ya? Hihi.

ngeblog itu sebetulnya bisa lebih mengasyikkan dalam merangkai logika dan menyusun struktur dalam berpikir.

“Halah, ngeblog kok njlimet banget to?”

Biar ringkas, sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui. Sekalian curhat, apa salahnya belajar mengemukakan pendapat lewat ngeblog dengan disertai argumentasi yang kuat.

Kalau ngetwit, pilihan kata lebih utama. Kudu ngirit kata untuk menyampaikan sebuah gagasan. Atau dua buah. Semuanya bermanfaat bagi kita dalam melatih komunikasi tertulis.

“Lantas kalau ada menteri komunikasi menyampaikan ralat, banyolan via twitter hingga berjilid-jilid, bagaimana?”

Boleh saja dan kita harus bersyukur sehingga kita diberi contoh komunikasi efektif itu seperti apa, yang blunder itu bagaimana, dan yang (maaf) kampungan juga bagaimana.

Hal yang menggelikan justru muncul dari pilihan kata pak tifatul ( http://twitter.com/tifsembiring ) yang entah karena kurang percaya diri atau jengah dengan followers-nya yang doyang ngeritik dengan menuliskan:

“Kalau tidak suka jangan baca”.

Bingung ga? Kalau saya super-duper bingung. Logika berpikir yang aneh.

1) Tidak suka dengan siapa? Atau apa? Tulisannya atau @tifsembiring nya? 2) Bagaimana tidak baca, lha wong timeline-nya sekonyong-konyong masuk kok. 3) Bukannya kalau sudah baca, baru bisa bilang tidak suka?

Bukannya yang lebih tepat itu seperti ini:

1) Yang tidak suka tulisan ini jangan comment.
2) Yang tidak suka saya unfollow saja.
3) Yang sudah terlanjur baca kalau garing ya sudah.
4) Kalau tidak suka saya ga perlu komentar.
5) Saya ga suka kamu. Kamu mau apa. Suka-suka gw mau nulis apa.

Mungkin nomer 5 ini yang harusnya dilontarkan Pak Menteri komunikasi yang merasa asyik ini.

Akhir kata, saya jadi ingat kata-kata mendiang Asmuni, yang cukup satu kata menyatakan kata pengakhir sekaligus berarti tak dapat ditolong lagi:

“Wassalam”.

Jakarta, 11:57:43 AM Sun, Feb 28, 2010