Iklan
 

Dagelan 88 ?

Mei 14, 2010

(Dikutip dari posting Hanibal W. di Facebook)

Dagelan Penggerebegan Teroris

Share Yesterday at 8:20pm

Ada banyak kejanggalan dalam operasi penggerebegan teroris di Solo hari ini. Ada apa sebenarnya?

Beberapa hari terakhir masyarakat kembali dikejutkan oleh operasi

penangkapan dan penembakan teroris. Pekan lalu, belasan orang ditangkap

di kawasan Pejaten, yang hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari markas

Badan Intelijen Negara (BIN). Rabu siang lalu (12/5) sekelompok orang

ditangkap di Cikampek, Jawa Barat, dan menewaskan dua orang di antara

mereka. Beberapa jam kemudian, tiga tersangka teroris juga diterjang

timah panas polisi dan tewas saat turun dari taksi di keramaian jalan

Sutoyo Siswomihardjo, kawasan Cililitan, Jakarta Selatan.

Lewat corong media massa, polisi mengatakan bahwa mereka adalah

tersangka teroris. Awalnya polisi baru mengatakan bahwa mereka terlibat

dalam kasus teroris Aceh yang ditangkap dan didor dua bulan lalu.

Belakangan, polisi mengatakan bahwa mereka juga terlibat kasus bom

Marriott dan bom Kedubes Australia. Bahkan kabarnya salah seorang

tersangka yang ditembak polisi adalah Umar Patek, salah satu pelaku Bom

Bali I, yang sempat diberitakan tewas di Filipina.

Hari ini, Kamis (13/5) polisi ternyata sudah langsung bergerak ke Solo,

termasuk komandan lapangan Densus 88 Kombes Muhammad Syafei yang sampai

kemarin sore masih berada di Cikampek. Sang Kombes juga sempat

memberikan clue kepada tim liputan kami bahwa, “Akan ada gunung meletus

di Solo.” Di Solo polisi ternyata menangkap tiga orang tersangka, entah

di mana ditangkapnya, kemudian menyerbu sebuah rumah bengkel. Di tempat

inilah polisi menemukan sepucuk M-16, pistol, peluru, dan buku-buku

jihad (!)… Hmmm… Sigap nian polisi kita.

Namun ada yang menarik dalam penggerebegan teroris di Solo kali ini.

Sebab, sebelum penggerebegan itu, polisi sempat menggelar brieffing

terlebih dahulu dan persiapan-persiapan seperlunya di sebuah rumah

makan. Di tempat itu pula –di pinggir jalan— mereka baru memakai rompi

anti peluru setelah melempar-lemparkannya sebentar di antara mereka,

memasang sabuk, penutup kepala, senjata api dan persiapan-persiapan

lain. Beberapa warga yang melintas sempat menonton mereka show of

force, dan terkagum-kagum heran melihat semua persiapan itu. “Wah, iki

Densus 88 yo, Mas, edan tenan…,” kata seorang warga.

Acara persiapan pra penyerbuan yang sangat terbuka seperti ini tentu

saja jarang terlihat pada penggerebegan sebelumnya. Pada

penyerbuan-penyerbuan sebelumnya, biasanya polisi sudah memakai pakaian

tempur lengkap dan masuk ke lokasi di malam hari atau pagi buta.

Sementara pada acara persiapan tadi pagi, matahari sudah mulai hangat

di tengkuk. Saat itu sebenarnya beberapa wartawan cetak dan elektronik

sudah mulai berdatangan ke rumah makan itu. Sayang mereka tidak berani

mengambil momentum bersejarah ini…

Nah, setelah semua anggota lapangan memakai peralatan rapi, mereka lalu

masuk ke mobil dan langsung bergerak. Hanya bergerak sebentar tiba-tiba

mobil-mobil Densus 88 itu berhenti. Para anggota lapangan pun bergerak

mengepung sekitar lokasi dan kemudian memasuki rumah yang dipakai

menjadi bengkel itu. Para wartawan yang mengikuti mereka sampai

tergopoh-gopoh karena terkejut. Mereka tidak mengira rumah sasaran

sedekat itu. Tahukah anda, berapa jaraknya dari rumah makan tadi? Hanya

200 meter, dan terlihat jelas dari restoran tadi!!

Maka drama penggerebegan yang tidak lucu itu pun terjadi. Para wartawan

bisa mendekat ke TKP bahkan sampai ke pintu rumah bengkel tadi. Para

anggota Densus 88 itu pun bisa diambil gambarnya dalam jarak dekat.

Mereka sama-sekali tidak berusaha menghalangi atau melarang, mereka

juga tidak mengusir para wartawan. Para petugas membiarkan para

cameraman televisi mengambil gambar hingga di pintu rumah itu, dan bisa

mengambil gambar ketika anggota densus 88 berada di salah satu ruangan.

Dalam rekaman para cameraman televisi, Lazuardi reporter/cameraman

Metro TV dan Ecep S Yasa, dari TV-One tampak diberi privilege untuk

mengambil gambar terlebih dahulu dari wartawan lain. Meskipun demikian

mereka juga sempat disuruh keluar terlebih dahulu, “Nanti dulu-nanti

dulu, belum siap,” kata seorang anggota Densus 88. Para wartawan sempat

bertanya-tanya, apanya yang belum siap. Namun ketika boleh masuk, para

wartawan melihat bahwa barang bukti sudah tersusun rapi di lantai.

Yang sangat menarik, bagi wartawan yang sudah biasa meliput penangkapan

teroris, tampak jelas dari bahasa tubuh mereka, bahwa para anggota

Densus 88 itu tidak menunjukkan tanda-tanda stres yang menyebabkan

adrenalin melonjak. Mereka tampak lebih santai dari pada ketika mereka

menggerebeg tersangka teroris sebelumnya. Bahkan mereka menunjukkan

kegembiraan yang janggal ketika saling mengacungkan jempol, tos dan

sebagainya, setelah operasi dinyatakan berhasil.

Perilaku yang aneh juga tampak ketika para perwira Densus 88 termasuk

komandan lapangan mereka, Kombes Muhammad Syafei datang ke rumah

bengkel itu dan mau diambil gambarnya oleh para wartawan, bahkan dalam

posisi close-up. Padahal selama ini dia dikenal paling alergi dengan

kamera wartawan. Tak segan-segan ia menyuruh wartawan mematikan camera

atau menghapus gambar yang ada dirinya.

Kejanggalan pun semakin lengkap ketika beberapa warga mengakui bahwa

sebenarnya sehari sebelumnya rumah bengkel itu sudah didatangi sejumlah

orang bertampang tegap, yang menurut warga adalah polisi…. “Ya mirip

mereka-mereka itu, mas…,” kata mereka.

Lalu, apa artinya semua ini?

Iklan

Tewas Lagi

Mei 13, 2010

Lagi. Lagi dan lagi. Anak bangsa ditembaki dengan legalisasi antek teroris. Sebelumnya, saya mohon izin mengumpat: “Guoblok itu densus. Guoblok itu polisi. Guoblok itu Kapolri!”

Anak kecil, belum bisa memancing, belum bisa bawa jaring, langkah gampang: gunakan Potasium. Orang desa bilang “diportas”. Iya, diracun! Semua klepek-klepek.

Persis apa yang dilakukan densus salep 88 dengan dar-der-dor ala koboi. Membabi gak pakai buta. Cuma membabi! Ya, apa? Ada masalah? Mau dibilang teroris juga? Ah, makin guoblok aja densus!

Saya menulis dalam keadaan kesal. Lihat di tipi BHD bangga anak buahnya menghilangkan nyawa orang. Edan! Dunia macam apa ini? Lebih mending nonton Anang sang raja hoki yang dengan mulus dipelak-peluk Syahrini.

Iya, tidak semua warga setuju pelabelan teroris bisa seenaknya dicap pada setiap jidat warga. Pekerjaan intelejen pun seharusnya bukan dijadikan komoditi politik. Silahkan bunuh warga indonesia yang kamu anggap salah tapi tak perlu digembar-gemborkan.

Bunyi dalam laporan! Bukan dalam pemberitaan. Bahkan kerja sama dengan menjual informasi. Tayangan langsung via tivi.

Memangnya teroris kayak chelsea vs liverpool?

Densus 88 ke laut aje. Kesal? Tapi tulisan gak bikin hilangnya nyawa orang kan?

Payah.. Tak secuil pun rasa hormat tersemat padamu.

Terima kasih.


Hutang Bulan April

April 30, 2010

Ini adalah tulisan hutang. Supaya April tidak nihil dari postingan.

Untuk kali ini kita bicara apa?
Apakah kita hendak bicara social media? Perkara cinta? Bicara influenza? Atau bicara politik nusantara maupun mayantara.

Untuk yang pertama mungkin ada baiknya kita bicara social media. Apa ya? Apalagi kalau bukan twitter yang makin oye saja! Semua suka semua ceria!

Lihat saja bagaimana si pakar politik bisa berdebat sengit dengan wartawan junior. Atau penulis naskah film yang jujur ngaku gay bicara bonek lantas dicaci-maki tapi tetap santai saja sesantai Shania. “Santaaaai saja..”.

Itulah dunia maya. Jagad tanpa batas tergantung kecepatan koneksi dan daya pikat. Tapi yang utama: kreatifitas.

Ya. Cuma yang kreatif yang bertahan. Kreatif dalam berpolitik, dalam berbicara, kreatif dalam ngelawak. Kreatif dalam mengambil sikap.

Lihat saja @fiksimini yang menarik minat para penulis untuk memaknai kata dengan cermat. Diurai dengan penuh ketelitian. Irit huruf, kata dan tentu saja tanda baca.

Ya sudahlah.
Lebih enak cukupkan saja. Tulisan ini cuma petanda. Bukan apa-apa. Bahwa April, selain saya berulang tahun, menunggu anak kedua, juga makin aktif di mayantara. Sayangnya bukan di blog ini. Tapi di sana. Di akun twitter yang itu.

Selamat malam.
Wiken ini saya masih harus berkerja.

++


8 Blogger Bicara Tentang “Dunia Berbagi”

Maret 26, 2010

Selamat Datang Di Dunia Berbagi

 

 

Apa yang anda bayangkan dengan dunia saat ini? Apakah sesuatu yang penuh materi, dengan sifat banal, dipenuhi pendaki karir, dan melupakan sifat yang ilahiah?

Tentu tidak salah. Berbagai aspek kehidupan menunjukkan kecenderungan itu.

Tapi apa salahnya bila berbagi adalah suatu kebutuhan. Tentu saja berbagi dalam hal yang baik-baik saja. Kalau berbagi keburukan malah nantinya kita terjerumus dalam kehidupan nerakawi. Bahaya! Hihihi..

Nah, berikut ini adalah beberapa penggalan pendapat mereka beberapa narablog tentang ngeblog. Sebuah kebiasan, pekerjaan, hobby, atau kelakuan yang bikin kecanduan? Namun yang jelas, ngeblog bagi mereka adalah suatu media untuk berbagi.

Mereka terdiri dari sosok manusia yang tak pernah tinggal diam. Jiwanya selalu gelisah. Geli-geli basah? Ah, ndak juga. Saya yakin, andaikan pun blog tak pernah diketemukan, mereka punya caranya sendiri untuk memberoikan sesen-dua sen pencerahan, baik lewat guyon, tulisan ringan, berbobot, puitis, ndakik-ndakik, hingga penuh gejolah proggresif revolusioner.. halah! Bisa jadi bila blog tak ditemukan, mereka akan menjadi vandalis yang melukis jalanan dengan tulisan indah dan penuh makna.

Selamat menikmati. Baca entri selengkapnya »


beragam pilihan memperoleh informasi

Maret 25, 2010

Ada lintas berita. Ada juga bataviase. Juga tak kalah menariknya: urbanesia.

Semuanya bagusssss.

Lintas berita, adalah pengumpul informasi dunia sosial media. Sedangkan bataviase lebih sebagai perangkum di ranah media cetak. Sedangkan urbanesia, adalah pencari jejak dunia nyata via mayantara.

🙂


Tembakau Indonesia

Maret 14, 2010

Twitter pagi ini banyak membahas tentang Muhammadiyah yg mendapat bantuan Rp5miliar utk program anti-rokok dari Bloomberg.

Hasilnya, setiap pertemuan resmi ormas tersebut, kepulan asap rokok dilarang ada. Hebat bukan?

Berdasarkan data dari The Tobacco Atlas; Campaign for Tobacco-Free Kids; Bloomberg initiatives: dan Philip Morris International, Indonesia memiliki 62,1% pria merokok. Indonesia juga dikenal sebagai pasar tembakau (rokok) paling terbuka lebar untuk perusahaan-perusahaan rokok saat ini. Produsen rokok bisa beriklan di TV dan mensponsori tim olahraga (djarum kudus) serta konser (a mild live, dan konser besoaar lainnya).

Perjuangan anti tembakau saat ini memili pendana besar yaitu Bloomberg/Gates. Sudah 178 grant senilai $125juta atau setara Rp1,2trilyun di 38 negara di Indonesia.

Hal yang menarik adalah dari Indonesia, penerima grant adalah seorang gadis manis, berkaca mata, masih 25 tahun, berjilbab, lulusan fakultas hukum bernama Dina Kania. (@kunelz). Sayang, twitternya tidak digunakan dengan optimal.

Ia datang seorang diri ke rapat tahunan Altria, produsen rokok terbesar dunia untuk menyatakan kekhawatirannya pada Camilleri, CEO Philip Morris, si produsen Marlboro (rokok kesukaan @ndorokakung). Ya, tentu saja ia datang bersama dengan aktivis lainnya dr seluruh belahan dunia. Aktivis yang mengenakan kain chiffon hitam dari ujung kaki hingga rambut, untuk melambangkan: ke-ma-tia-an.

Ketika Kania selesai berbicara, Camilleri mengatakan padanya bahwa semestinya ia senang perusahaan Philip Morris membeli Sampoerna karena mereka akan bersikap etis. Sedikit beralasan, karena setiap tahun, Philip Morris memberikan kesempatan kepada seluruh warga dari manapun bertanya padanya, dan CEO akan menjawabnya. Persis seperti kontes ketahanan layaknya Pansus Century. Dan dalam forum inilah Kania diberi kesempatan berbicara langsung dengan sang CEO.

Tapi apa boleh buat, Philip Morris lebih pintar. Mereka memasarkan produknya dengan dana iklan, pemasaran kreatif yang menyasar kepada perokok muda. Konser musik, kompetisi olah raga, hingga yayasan pendidikan yg memberikan beasiswa.

Tapi Kania cukup pintar, saat Alicia Keys akan manggung di Indonesia, lekas-lekas ia mengontak manajemen Keys. Maka, Kania menjadikan pihak Keys tahu keterlibatan Sampoerna dalam konsernya. Hasilnya: Penyanyi itu mengancam membatalkan konser kecuali produsen rokok itu mau mundur.

Hebat Kania!

Ps: sebagian tulisan hasil membaca sebuah artikel di Business Week edisi Mei 2009.

Sent from my BlogBerry®
powered by blog kopidangdut
https://kopidangdut.wordpress.com/
~dari urusan serius seperti dangdut hingga hal remeh sekadar politik jenaka~


Ekonomi Periuk Nasi

Februari 28, 2010

Lama ga ngga ngeblog, karena lebih sering ngetwit. Sama ya? Hihi.

ngeblog itu sebetulnya bisa lebih mengasyikkan dalam merangkai logika dan menyusun struktur dalam berpikir.

“Halah, ngeblog kok njlimet banget to?”

Biar ringkas, sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui. Sekalian curhat, apa salahnya belajar mengemukakan pendapat lewat ngeblog dengan disertai argumentasi yang kuat.

Kalau ngetwit, pilihan kata lebih utama. Kudu ngirit kata untuk menyampaikan sebuah gagasan. Atau dua buah. Semuanya bermanfaat bagi kita dalam melatih komunikasi tertulis.

“Lantas kalau ada menteri komunikasi menyampaikan ralat, banyolan via twitter hingga berjilid-jilid, bagaimana?”

Boleh saja dan kita harus bersyukur sehingga kita diberi contoh komunikasi efektif itu seperti apa, yang blunder itu bagaimana, dan yang (maaf) kampungan juga bagaimana.

Hal yang menggelikan justru muncul dari pilihan kata pak tifatul ( http://twitter.com/tifsembiring ) yang entah karena kurang percaya diri atau jengah dengan followers-nya yang doyang ngeritik dengan menuliskan:

“Kalau tidak suka jangan baca”.

Bingung ga? Kalau saya super-duper bingung. Logika berpikir yang aneh.

1) Tidak suka dengan siapa? Atau apa? Tulisannya atau @tifsembiring nya? 2) Bagaimana tidak baca, lha wong timeline-nya sekonyong-konyong masuk kok. 3) Bukannya kalau sudah baca, baru bisa bilang tidak suka?

Bukannya yang lebih tepat itu seperti ini:

1) Yang tidak suka tulisan ini jangan comment.
2) Yang tidak suka saya unfollow saja.
3) Yang sudah terlanjur baca kalau garing ya sudah.
4) Kalau tidak suka saya ga perlu komentar.
5) Saya ga suka kamu. Kamu mau apa. Suka-suka gw mau nulis apa.

Mungkin nomer 5 ini yang harusnya dilontarkan Pak Menteri komunikasi yang merasa asyik ini.

Akhir kata, saya jadi ingat kata-kata mendiang Asmuni, yang cukup satu kata menyatakan kata pengakhir sekaligus berarti tak dapat ditolong lagi:

“Wassalam”.

Jakarta, 11:57:43 AM Sun, Feb 28, 2010


Kepergian dan Makna Kesehatan

Januari 21, 2010

sehat

a way to a healthy life

Apa makna di balik kepergian?

Kemarin Michael D Ruslim, Presdir Astra tiada. Usianya baru 56th. Lantas saya teringat juga dengan mBah Surip yang beberapa waktu yg lalu telah tiada. Mereka memiliki persamaan: “Meninggal saat di puncak karir”. Saya menulis status itu di twitter. Ouw, rupanya banyak yang me-retweet (RT), seperti yg dilakukan @beritalifestyle -nya okezone.com (http://lifestyle.okezone.com/) Baca entri selengkapnya »


Negeri Pancasila: Anak-anak yang dipelihara oleh cuaca?

Januari 11, 2010

“Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya” (Ali bin Abi Thalib ra)

Sebetulnya siapa sih yang harus menjaga anak-anak? Orang tuanya, negara atau orang berpunya?Anak-anak yang statusnya berubah menjadi “terlantar” itu bagaimana bisa?

Dalam hukum, ada istilah “mumayiz”. Belum baligh. Siapa yang bertanggung jawab atas pri kehidupannya? Orang tua kan?

Lantas ada juga istilah hak alimentasi yaitu hak anak mendapatkan pengasuhan orang tua. Bukannya begitu aturan mainnya selama ini? Lantas kalau orang tuanya sendiri tak bisa menghidupi dirinya sendiri apa yang dapat diharapkan dari mereka padahal hobby-nya sesuai cita-citanya: Bikin keluarga besar.

Boleh-boleh saja konstitusi berkata: Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Nyatanya? Untuk memelihara keberlangsungan tata negara yang tertib saja sulit. Bagaimana mampu mengurusi hal-hal lainnya?

Lantas muncul cerita ngeri yang lain. Episode kekerasan berlanjut ke bab selanjutnya. Sodomi dan mutilasi kembali mencuat. Ingatan menerawang kembali sebuah nama: Robot Gedeg. Ingat?

Mengapa kisah-kisah pilu macam ini terus saja menghiasi wajah negeri ini?

Ya! Di negeri maju gemah ripah loh jinawi pun tak steril dari dunia kriminal. Pasti ada saja jalan bagi kekerasan menemukan mangsanya. Tapi apa iya kita tak mau berubah, minimal mencegah dan meminimalisir potensi ke arah timbulnya kekerasan tadi.

Jadilah orang tua yang murni dan konsekwen. Bukankah sudah diperingatkan bahwasanya persiapan ekonomi sebelum memiliki buah hati sangat dianjurkan? Bayi laki-laki 2 ekor kambing. Satu kambing bagi bayi jelita. Bukankah itu bermakna bahwa perencanaan dan persiapan adalah mutlak adanya?

Budaya saling tolong menolong di kota besar tanpa ikatan sejarah yang sama, latar belakang ekonomi yang berbeda, jurang pendidikan yang menganga adalah modal dasar bagi kota antah berantah penuh daki kejahatan di sana-sini.

Haruskah kita berbuat sesuatu atau berdiam diri.

Perlukah pemerintah sampai melakukan tindakan represif mengambil atau bahkan merenggut hak pengasuhan orang tua jika terbukti tak mampu. Lantas mau dibawa kemana anak-anak ini?

Apakah negara mampu melakukannya?

Lingakaran setan makin jelas. Orang tua miskin. Akses yang terbatas pada sumber-sumber penghidupan, akses sosial, kesehatan, pendidikan, melahirkan keturunan yang cacat sosial sejak dilahirkan.

Tapi anehnya di satu sisi, sebagian keluarga memiliki akses sosial yang obesitas. Apapun, dimanapun, mau apapun ia mampu. Tinggal tunjuk, hanya mengerdipkan mata, maka semua terjadi.

Keluarga yang termajinalkan secara sosial tak memiliki kemampuan untuk mandiri. Apakah ini yang dinamakan negeri fakir? Ketika diberi makan pagi hari, sore hari mereka tak mampu mencari sendiri?

Atau jangan-jangan cuma hasil dari karakter bangsa yang dimanja ketertindasan, kemalasan dan berharap pada “iba”?

Sungguh malang nasib kita.

Negeri pancasila. Itu saja. Tanpa membawa efek apa-apa..

>Apakah ente punya usul atau pendapat?


UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas: Sudah Saatnya Kita Ciptakan dan Atur Saja Teleportasi

Januari 11, 2010

malem

lalin malem hari

Transportasi tentu saja beda dengan teleportasi. Transportasi melibatkan perpindahan fisik melalui ruang dan waktu sedangkan teleportasi merupakan perpindahan fisik yang dapat menembus ruang (dan mungkin) waktu.

Transportasi membutuhkan kendaraan biar cepat sampai ke tujuan. Motor, Mobil, Pesawat, dan becak merupakan contoh alat transportasi. Khusus motor, mobil dan becak, mereka akan banyak berjumpa dan berinteraksi di jalanan. Belum bila disebutkan juga sepeda, bajaj, bemo, delman, dan transportasi aneh bin ajaib lainnya. Kecepatan, kecanggihan, harga tiap kendaraan berbeda. Bila ingin lebih jauh lagi, pola pendidikan para pengendara pun berbeda. Baca entri selengkapnya »


Keluh Kesah Pegawai Swasta

Januari 10, 2010

Ia menyebut dirinya “Rain” (21th), ingin berbagi sbb:

permisi…
sekedar berbagi sedikit mengenai apa yang terjadi pada saya saat ini..
saya seorang karyawan swasta yang baru sekitar 4 bulan bekerja di salah satu perusahaan swasta terkemuka di Indonesia yang bertaraf internasional..
umur saya baru 21 tahun dan sangat bersyukur ketika mendapat panggilan kerja dari perusahaan disaat saya baru satu bulan diwisuda..sungguh peluang yang baik untuk menjauh dari label “Sarjana Pengangguran”..

Pada awalnya saya bercita-cita ingin jadi PNS yang merupakan profesi favorit di lingkungan tempat tinggal saya, tetapi ternyata keinginan untuk bisa hidup mandiri telah mengalahkan harapan awal saya sehingga ketika ada kesempatan dari perusahaan swasta maka tanpa berpikir panjang saya langsung memanfaatkannya..

Bahkan ketika ada lowongan CPNS, saya sama sekali tidak mencuri-curi kesempatan untuk berebut kursi panas PNS..

Namun akhir-akhir ini saya merasa jenuh dengan pekerjaan saya sekarang ini, hal ini disebabkan berbagai alasan antara lain jam kerja yang “LUAR BIASA”, suasana kerja yang penuh tekanan dan sikap rekan-rekan kerja yang saling menjatuhkan dan masih banyak lagi yang lainnya, sungguh menyebalkan…
kadang-kadang saya merasa iri dengan teman-teman yang baru terangkat jadi PNS, walaupun gaji mereka lebih kecil dari gaji saya tapi waktu mereka untuk berkumpul dengan keluarga, pacar, dan waktu santai sering membuat saya ingin teriak sekencang-kencangnya..

Dilain sisi timbul perasaan dilema dibenak saya, bertahan di Swasta atau memilih PNS.. Baca entri selengkapnya »


Saya Suka Ruhut Sitompul

Januari 8, 2010

Kalau Gus Dur masih ada, maka ia akan berujar: “gitu aja kok repot..” Terhadap kelakuan Ruhut Sitompel eh Sitompul. Tapi sayangnya Gus Dur sekarang sedang ongkang-ongkang kaki, nyeruput kopi dan ngerjain Munkar Nakir dengan beribu banyolan tiada tara.

Kalau ane jadi boss mah, Ruhut emang oke. Mana mungkin gag nyaman punya anak buah galak, ngelindungin majikannya, dan berani dicerca, mau jadi korban untuk jadi TOA.

Ia berbakat sebagai Prof, sayangnya prof di sini salah eja. Seharusnya prov. Kependekan dari provokator. Atau ya semacem agitator deh.. Itu juga boleh.

Ruhut itu hebat. Wakil rakyat yang mewakili rakyat entah bagian mana. Ane sendiri bingung.

Sebetulnya dengan gaya bicara, sopan santunnya yang elegan, ia lebih pantas beredar di jam sewa, seputaran kampung melayu tanah abang atau pulogadung. Eits, bukan sebagai sopir tembak lho.. Apalagi kernet, karena dua profesi terakhir itu sangat terhormat (asalkan gak oper penumpang seenak ketiaknya). Ruhut pantas jadi bagian calo penumpang. Tinggal nongkrongin halte, cawe’ pakai tangan, bawain barang sedikit, lantas minta duit. Gag dikasih kernet? Atau duit persenan kurang? Tinggal lempar sendal dan teriak-teriak. Baca entri selengkapnya »


Sejarah dan Semesta Peristiwa Silsilah Bangsa

Januari 4, 2010

dari flickr.com

creative commons

Rosihan Anwar mengumpulkan tulisan-tulisannya yang ringkas namun mendalam dalam Sejarah Kecil “le petit historie” yang berjumlah (sementara ini) 3 jilid buku.

Sejarah kecil ini secara sederhana dapat diartikan sebagai kisah-kisah lain yang luput dari garis besar sejarah bangsa. Bukan bagian dari arus utama. Hanyalah anak sungai yang mencabang dalam belantara sejarah Indonesia yang gelap gulita. Cerita tentang si Fulan, tentang si Toyib atau siapapun yang kisahnya asyik untuk diceritakan, walau tidak selalu terkait hal-hal yang besar, yang mengubah arah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Beberapa hari yang lalu, ketika di Medan, sembari menyantap sajian makanan laut, ane sempat mengobrol ngalor-ngidul sama sohib ane disana, namanya Ryan. Kami bicara perlunya kita mengambil jarak ketika menelusuri sejarah antara kita sebagai subyek dan pokok bahasan sejarah sebagai objek, sehingga sejarah bukanlah dipandang sebagai sepenggal kisah pembenar atas keunggulan golongan si penelusur, namun semata-mata menyambung puzzle fakta yang terserak dalam berbagai artefak, catatan, buku ekspedisi, tutur lisan yang dapat dipercaya, atau dugaan-dugaan yang selama ini hanya disebut sebagai dongeng belaka.

Dalam kesempatan itu kami bicara sejarah pra kemerdekaan. Bagaimana Danau Toba terbentuk, bagaimana dalam budaya batak terdapat gambar perahu, bagaimana warna kulit dan bentuk wajah orang Aceh sangat khas, berbeda dengan suku Batak. Bagaimana Sriwijaya, konon katanya merupakan pusat perkembangan ilmu Budha dan bukannya negeri China. Lantas cerita Arung Palaka, cerita daerah Angke (Jakarta) yang dalam bahasa Makassar Sulawesi Selatan artinya harta diduga merupakan pemberian Belanda atas bantuannya menguasai Batavia-bersama-sama dengan Kapten Jonker dari Maluku (yang mendapatkan jatah daerah Marunda). Baca entri selengkapnya »


Garuda Puasa Minum

Januari 4, 2010

eagles

burung garuda

Apa pendapat Anda?

###
Minggu, 03/01/2010 16:37 WIB
Tak Angkut Bos Freeport, Garuda Tak Diberi BBM di Timika -Indra Subagja – detikNewsJakarta –

Garuda dengan nomor penerbangan GA 652 rute Jakarta-Denpasar- Timika-Jayapura tidak diberi bahan bakar saat mendarat di Bandara Timika, Papua. Persoalannya hanya karena pilot pesawat itu menolak mengangkut rombongan bos PT Freeport dari Jayapura.

“Rombongan Presdir PT Freeport itu seharusnya naik pesawat GA 653, bukan pesawat GA 652. Kita sudah menjelaskan itu tidak memungkinkan, karena masing-masing sudah ada dokumen dan pesawat sendiri,” jelas Kepala Humas PT Garuda Indonesia, Pujobroto, saat dikonfirmasi melalui telepon, Minggu (3/1/2009).

Pujo menjelaskan, pesawat GA 652 semestinya tidak ke Jayapura, namun ke Timika, sesuai dengan rute penerbangan yakni dari Denpasar ke Timika.

“Karena cuaca di Timika tidak memungkinkan saat hendak mendarat, jadi pergi ke Jayapura lebih dahulu. Setelah cuaca baik, kemudian baru ke Timika,” terangnya.

Nah, saat di Jayapura itulah, rombongan Presdir PT Freeport menginginkan untuk ikut bersama pesawat GA 652, padahal tiket yang mereka kantongi untuk pesawat GA 653.

“Itu tidak memungkinkan, rombongan itu mempunyai dokumen sendiri. Dan tentu itu juga akan membuat delay lebih panjang,” ujar Pujo.

Pesawat yang dipiloti Kapten Manotar Napitupulu itu kemudian berangkat dengan tidak mengangkut rombongan PT Freeport. Namun kemudian, setibanya di Timika dan hendak kembali di Denpasar, mereka tidak diberi izin untuk mengisi BBM.

“Padahal Kapten Manotar sudah menjelaskan kepada pihak Bandara Timika mengenai alasan tidak diangkutnya rombongan PT Freeport. Tapi di pihak bandara tidak mengerti,” terangnya. (ndr/nrl)

###

Makin hebat khan negeri ini?
😀


Inul dan Gus Dur

Januari 1, 2010

Entah kenapa, setiap inget Gus Dur, otomatis ane inget sama si goyang ngebor, Inul.

Dua-duanya lucu. Gus Dur lucu karena kepinterannya, dan Inul lucu karena kepolosannya. Dua-duanya dari Jawa Timur. Dua-duanya dekat dengan masyarakat “bawah” seperti ane. Makanya, waktu Gus Dur diberitakan telah kembali, ane merasa merugi.

tebak siapa dia?

inul-ku

Gus Dur itu kocak. Bikin terhibur. Semua hal adalah banyolan. Justru itu ane demen banget dah! Sudut pandang yang indonesia banget. Love melulu. Mangan-ora mangan sing penting haha-hihi.

Setiap orang pasti punya kesan sendiri-sendiri tentang beliau.

Begitu pun dengan Inul. Entah mengapa ia sekarang jarang muncul. Kisah nyata bagaimana puan polos yang menarik hasrat sebagian pria saat berlenggak-lenggok menghibur kita semua.

Saya yakin ia bukan mengutamakan liukan tubuh. Tapi semangat dan enerjiknya yang begitu serta-merta. Mantap! Bukan syahwat yang ane dapat, tapi sekadar hiburan semata. Sungguh. 😀

Gus Dur dan Inul adalah fenomena. Mereka Indonesia banget, tak didapat dan ditemukan di negeri lain. Sama halnya seperti Waljinah, atau Sudjiwo Tedjo. Mereka begitu khas. Baca entri selengkapnya »


Gurita Cikeas: Sekadar Makanan Ringan Demi Keuntungan?

Desember 28, 2009

Peluncuran Buku Gurita Cikeas

Cara marketing yang ampuh supaya produk cepat laku salah satunya adalah memanfaatkan momen terhadap “trending topics”.

Tentu saja, saat ini yang lagi ramai adalah urusan gurita cikeas.

George Junus Aditjondro memang ahlinya urusan mengintip kekayaan dan kehidupan penguasa.

Dulu ia mempublikasikan tetek bengek keluarga cendana. Sekarang ia berkisah tentang cikeas. Wow! Hobi yang menggiurkan. Intip, hitung, tulis, (kasih bumbu), lantas jual. Apa bedanya dengan infotainment?

Lantas bagaimana substansi dari buku itu, yang katanya sulit ditemui di toko buku? Apakah benar? Apakah fitnah? Atau kah penuh bumbu? Semi-benar (opo iki?)..? Ah, sebelumnya boleh saja kita bertanya: “Apa perlu?”.

Bagi saya ini 100% bermotifkan materialistik alias jualan buku.

Mengapa? Baca entri selengkapnya »


Emosi

Desember 26, 2009

"emosi?"

AngRy

Apa sih yang lebih hebat dari emosi manusia, tentu saja selain urusan ketuhanan lho ya?

Mesin bisa diatur setelannya. Rumah bisa dirancang mau jadi apa. Tapi emosi manusia, siapa yang bisa atur?

Bahkan dirinya sendiri pun mati-matian menjaga emosi.

Ane ga ngerti juga apakah emosi disini sama dengan nafsu, plus alam pikiran, plus sikap batin, plus suara hati nurani. Tapi yang jelas emosi yang maksud adalah output/ keluaran yang ada dan mempengaruhi pola pikir, pola bicara, pola tindak dan suasana hati kita.

Bisa jadi seorang bos merasa disegani dengan nurutnya seluruh karyawan saat diperintah. Tapi ia tak tahu kalau 90% karyawannya menyimpan dendam kesumat pada bosnya yang begitu otoriter dan tak pernah mendengar. Lama-kelamaan, karyawan akan melakukan hal-hal yang sejatinya merugikan bosnya. Dari memperlama pekerjaan, mengerjakan tugas asal-asalan, berangkat telat dan pulang “tenggo”, dan masih banyak lagi kelakuan anak buah yang sejatinya adalah bentuk dari perlawanan (diam-diam).

Sikap batin sulit diarahkan. Bahkan diciptakan.

Banyak pencipta robot dan rekayasa mesin apapun yang dapat mengerjakan perintah sesuai “task” yang diminta. Tapi belum ada satu pun engine yang mampu menanamkan emosi pada mesin dan robot secara mandiri. Yang ada hanyalah emosi yang ditanamkan sesuai program. Bisa saja unpredictable, namun sesungguhnya hanyalah hasil randomisasi/ pengacakan dari berbagai “if” yang telah dipersiapakan oleh pencipta.

Apakah emosi sama dengan mood? Baca entri selengkapnya »


Hancock Tetap Tipikal Film Hollywood

Desember 10, 2009

hancock

poster film Hancock

Ada yang sudah menyaksikan film Hancock?

John Hancock, adalah tokoh dalam film tentang PR (pencitraan), percintaan dan tentu saja kepahlawanan. Baru saja saya tonton filmnya di HBO Hits. Hancock, itu judul filmya.

Hancock yang tanpa sengaja bertemu “mantan istrinya”, dan tiba-tiba seluruh kekuatan supernya hilang. Ia menjadi manusia biasa. Menjadi pemuda, menjadi lelaki, menjadi manusia yang berdarah bila tertembak.

Ada yang berbeda dari film khas hollywood lainnya. Lewat film Hancock, Peter Berg, si pembuat film ingin mencoba ramuan lain untuk menampilkan wajah baru pahlawan yang membumi. Dewa yang menjadi manusia. Namun, lagi-lagi seperti film khas hollywood lainnya, pembuat film tetap gatal untuk menjadikan super hero tetaplah super, dengan akhir cerita yang khas Amerika. Maskulin, tak terkalahkan dan berakhir bahagia.

Film Hancock tak ubahnya seperti kisah Hulk. Pahlawan tempramental yang jatuh cinta pada anak Jendral. Menjadi makhluk hijau mengerikan namun bisa dikendalikan oleh si pujaan hati.

Tentu saja konsep kepahlawanan versi Hollywood berbeda dengan kepahlawanan versi Timur seperti Jepang atau versi Prancis seperti kisah dalam film Taxi (yang sekuelnya hampir menyaingi Sinetron tersanjung itu).

Versi Jepang seperti Sailor Moon, Doraemon, atau Dash Yankuro (walau yang terakhir hanyalah film endorse produk mainan mobil-mobilan Tamiya), namun menampilkan wajah pahlawan yang berbeda dengan Hollywood. Baca entri selengkapnya »