Statistika


Jika blog ini tiba-tiba banyak yang mengunjungi, berdasarkan pengalaman karena ada yang kepo.

Sisi positifnya: Banyak yang ingin mengenal saya lebih dalam. Sayangnya, diam-diam. 🙂

Iklan

catatan kecil juga


entah kenapa saya sudah tak begitu menggemari menyaksikan pertandingan sepakbola. seharusnya ini ndak berkaitan dengan usia. ini lebih kepada minat saja. saya juga mulai mengurangi waktu baca. padahal untuk menulis yang baik salah satu caranya adalah perbanyak membaca segala.

bisa jadi yang saya baca bukan lagi deretan huruf. bukan lagi buku atau artikel atau tweet atau postingan teman dalam path. saat ini saya lebih menyukai membaca sekitar. berinteraksi dan mengalami. berbicara dengan banyak orang dan banyak situasi.

dari sekian banyak hal yang terjadi di tahun 2016 maka ada baiknya ulangi kebaikannya untuk 2017 dan mengurangi hal-hal jeleknya.

selamat malam senin.

Catatan Kecil


Ramai soal dugaan uang NKRI dicetak oleh swasta?

Sebetulnya dengan membaca ketentuan di bawah ini, akan paham bahwa uang akan selalu dicetak oleh Peruri, kecuali dalam keadaan tertentu.

UU No. 7 tahun 2011 tentang Mata Uang

Bagian Ketiga

Pencetakan

Pasal 14

(1) Pencetakan Rupiah dilakukan oleh Bank Indonesia.

(2) Pencetakan Rupiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan di dalam negeri dengan menunjuk badan usaha milik negara sebagai pelaksana Pencetakan Rupiah.

(3) Dalam hal badan usaha milik negara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menyatakan tidak sanggup melaksanakan Pencetakan Rupiah, Pencetakan Rupiah dilaksanakan oleh badan usaha milik negara bekerja sama dengan lembaga lain yang ditunjuk melalui proses yang transparan dan akuntabel serta menguntungkan negara.

(4) Pelaksana Pencetakan Rupiah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus menjaga mutu, keamanan, dan harga yang bersaing.

Penjelasan:

Pasal 14

Ayat (1)

Untuk menjaga kualitas keamanan Rupiah, dalam Pencetakan Rupiah, Bank Indonesia meminta masukan dari badan yang mengoordinasikan pemberantasan Rupiah Palsu.

Ayat (2)

Yang dimaksud dengan “badan usaha milik negara” adalah badan usaha milik negara yang bergerak dalam bidang pencetakan Rupiah.

Ayat (3)

Yang dimaksud dengan “tidak sanggup melaksanakan Pencetakan Rupiah” adalah ketidaksanggupan yang disebabkan oleh keadaan kahar (force majeure) dan bencana sosial.

Ayat (4)

Yang dimaksud dengan “harga yang bersaing” adalah harga yang batasannya ditentukan berdasarkan peraturan perundangundangan mengenai pengadaan barang dan jasa.

Bagaimana membuktikannya?

Tinggal mintakan saja kontrak kerjasama antara BI dan Peruri. Termasuk seluruh korespondensi dan risalah rapat rencana pencetakan uang baru.

Juga minta bukti pengadaan kertas oleh Peruri.

Sedangkan di sisi BI dapat membuktikan dari banyak sisi. Semenjak desain akan dibuat, juga rencana pencetakan dan proses kerjasama.

Oleh karena itu, ndak perlu iseng untuk menuduh bahwa uang NKRI dicetak oleh swasta dan merugikan negara atau  memperkaya pihak tertentu.

-=-

Demo Aksi Berbeda dengan Demokrasi?


Sebulan lalu, tepatnya 4 November, demo masak terjadi. Juga dua hari lalu. Demo lanjutan. Menu masakannya sama.

Maka jangan salahkan orang dulu yang bilang bahwa agama dan politik di negeri ini memang sulit dipisahkan. Untuk kepentingan politik boleh bawa-bawa agama. Dan demi kepentingan agama juga sebagian besar bawa urusan politik.

Sebagai seorang birokrat, maka saya pribadi ini adalah sebuah hal biasa. Mesin birokrasi harus jalan terus. Dia apolitis. Siapapun dirijennya, lagu harus terus diputar.

 

Dering Hape


Beberapa hari yang lalu hape saya berdering di waktu jam makan siang. Saya tengok dan nomor yang tidak saya kenal. Saya diamkan. Berhenti sendiri. Lalu berdering lagi. Begitu terus berulang kali.

Esok harinya saya mengikuti sebuah rapat di pinggiran kota jakarta. Saat meeting hape saya berdering dengan nomor yang sama kemarin. Saya angkat. Ternyata yang menelpon adalah orang yang duduk dua korsi di sebelah saya.

“Oh kirain hapenya rusak. Bisa diangkat juga toh”.

Saya ndak paham maksud dia. Dia menganggap bahwa kewajiban bagi setiap insan untuk angkat telpon demi sopan santun. Saya malah lebih menjaga privasi. Jika memang hendak menghubungi saya, kenapa tidak sms dahulu dan perkenalkan diri. Sehingga jika saya tahu itu siap, saya dapat pertimbangkan untuk angkat telpon atau tidak.

Hingga saat ini saya tidak tahu nama Bapak itu.

 

salam,

 

Talenta Terbaik Tidak Ada Hubungannya Dengan Politik


Karena talenta terbaik bicara cukup dua saja, plus satu. Integritas dan kompetensi, plus reputasi. Jika mau mendapatkan darah segar yang mumpuni, maka darah itu ndak perlu dipertaruhkan dengan kelanggengan jabatan atau institusi. Pureblood.

Maka, untuk dapatkan terbaik, jika kebetulan juga kuat secara politik, maka menjadi wajar.

  • Dia hebat, eh ternyata juga rendah hati banget. Ponakan Bu Mulyani Lho.
  • Lulusan Inggris dia. Beasiswa chevening. Ga taunya dia mantunya Pak ini lho.

Bedakan dengan:

  • Apaan, dia lulus juga karena dapet sms dari Pak Bos.
  • Selain dia, ada sepupunya tiga orang lagi. Iyah, rombongan Komisi XXX.

Selamat berkarya.

Mau Dibawa Kemana BPR dan BPRS


Jika ingin bermain bola harus sedia kocek modal Rp. 6 Miliar. Apalagi jika belum sampai pada tahap itu semua berpuasa. Ndak boleh menikmati dividen. Hingga 2024 nanti.

Padahal BPR/BPRS cita-citanya buat rakyat bawah. Buat modal dagang bakso. Buat beli pot dan berjualan tanaman hias.

JIka konsolidasi dilakukan untuk memastikan BPR dengan modal kuat saja yang boleh bermain, ya ndak-papa. Toh ekonomi kita adalah ekonomi kerakyatan berbasis kapitalis liberal. Ahahaha.

Dengan KPMM dan Modal inti yang semakin besar dipersayaratkan, maka penguatan permodalan menjadi lebih jelas. Bagaimana dengan pemilik bank? Mereka akan berpikir ulang, apakah bank memang sebuah investasi yang menjanjikan?

[]

Kolam Ikan


Bayangkan bahwa kita memiliki kolam ikan yang berbatasan dengan laut lepas. Kolam yang bagian paling tepinya bercampur alir asin dari laut dan beraneka ragam ikan hidup di dalamnya. Ada ikan teri, ikan mas koki, ikan mujaer, ikan nila, ikan bandeng, ikan hiu, sampai ikan paus.

Ikan paus bebas bermain ke pinggir kolam yang menjorok ke daratan. Ikan hiu juga boleh bermain di tepi kolam. Anehnya ikan hiu juga makan plankton berebut dengan teri.

Jika ikan itu adalah bank, bayangkan jika semua bank boleh bercampur dalam kolam yang sama.

 

Budaya Kerja OJK


Ketika dua lembaga saling bertemu, misalnya Bank Indonesia dan Bapepam LK, maka salah satu menu favorit yang bisa menjadi aplikasi pemersatu adalah “budaya kerja”. Hal ini terjadi di OJK, ketika eks pengawas bank dari BI dan eks Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan dari Kemenkeu bersatu dan bekerja dalam satu atap. Budaya kerja menjadi semacam “american dream” bagi OJK.

Kemudian dibentuklah sebuah satuan kerja khusus yang mengurusi soal ini. Manajemen Perubahan. Mengubah dari A menjadi Z. Baik jika mereka secara menyeluruh membudayakan karakteristik OJK. Keren. Tak ada lagi mental institusi lama. Terbitlah budaya lembaga baru.

Tapi ada baiknya perlu secara akurat mendengar karakteristik masing-masing satker. Ada beberapa satker yang menjadi krusial untuk dinomorsatukan disatukan. Misal satuan kerja yang berada di wilayah abu-abu bernama manajemen strategis. Dalam satu satker mereka bertemu. Eks BI dan eks bapepam. Seharusnya di satker-satker seperti ini diberlakukan khusus dengan tambahan budget, perhatian dan menjadi pilot project.

Kenapa?

Di komperatemen perbankan, secara alamiah sudah terbentuk karakter homogen. Begitu juga Pasar Modal. Termasuk dalam hal ini juga Pengawas Asuransi dan lembaga keuangan nonbank lainnya.

Tapi coba tengok departemen hukum, SDM, logistik, keuangan dan satuan kerja “shared function” lainnya. Begitu heterogen. Disinlah tantangan OJK sesungguhnya. Satuan kerja yang mengurusi budaya kerja, manajemen perubahan dan pembentukan identitas OJK perlu mau bekerja lebih teliti menilik dan mengajak satuan kerja tersebut diatas untuk lebih giat.

Dalam tubuh departemen hukum misalnya. Pertemuan langsung antar eks BI dan eks bapepam. Perlu ada resep jitu dan dana lebih untuk membuat kegiatan bersama yang dapat memberikan pemahaman sama dan visi bersama demi dan untuk atas nama OJK kedepan.

Jika perlombaan menjadi tolok ukur, maka ada sedikit keliru. Garis start yang berbeda kompartemen pasar modal, perbankan dan lembaga keuangan lainnya (homogen), dengan kompartemen shared function (hukum, keuangan, logistik, sdm) yang berbeda latar belakang antarkaryawan menjadi tak seimbang.

Perlu kiranya satuan kerja yang mengurusi ini menggenjot program di satker tertentu yang “kritis”. Mulai dari mana? Atas. Coba tengok seberapa besar keadaran dan pemahaman, serta aplikasi dalam keseharian dari para pejabat atas di satker ini terhadap budaya kerja. Apakah mereka rela anak buahnya ikut aktif membuat acara yang berkaitan dengan mitra perubahan? Apakah rela jika jam kerja digunakan untuk acara semacam ini?

Coba cari tahu.

salam anget,

 

Tantangan


Ketika menjadi sebuah lembaga publik, maka soal “kewajaran” dan “tata kelola yang baik” menjadi syarat utama menyelenggarakan tugas keseharian.

Buka sekadar proyek cari nama, namun mengakar hingga pertanyaan mendasar: berguna?