Analisis Triwulanan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran


dari Bank Indonesia
Analisis Triwulanan.pdf

Iklan

masyarakat digital


naik trans jakarta apakah bisa dengan uang tunai? apakah parkir di jalan sabang boleh pakai uang receh? sepertinya tidak.

ada perkembangan zaman yang tak bisa kita tolak. uang mengalir melebihi kecepatan cahaya? ah berlebihan. tapi setidaknya, sistem pembayaran dalam masa pencerahan.

bitcoin. paypal. square. ipay.

nanti dilanjut. postingan ini maksudnya  baru bikin rumah/ kolom, buat dilanjut. besok atau pas mood. hhe

 

IMG_0617

Daftar Peraturan Otoritas Jasa Keuangan 2014


PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN TAHUN 2014
NO. AGENDA NOMOR PERIHAL TANGGAL Nomor Lembaran Negara dan Tambahan Lemnbaran Negara
1 1/POJK.07/2014 Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa di Sektor Jasa Keuangan Thursday, January 16, 14 LNRI Nomor 12 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5499
2 2/POJK.05/2014 Tata Kelola Perusahaan Yang Baik Bagi Perusahaan Perasuransian Friday, March 28, 14 LNRI Nomor 71 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5526
3 3/POJK.02/2014 Tata Cara Pelaksanaan Pungutan Oleh Otoritas Jasa Keuangan Tuesday, April 1, 14 LNRI Nomor 66 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5521
4 4/POJK.04/2014 Tata Cara Penagihan Sanksi Administratif Berupa Denda di Sektor Jasa Keuangan Tuesday, April 1, 14 LNRI Nomor 67 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5522
5 5/POJK.05/2014 Perizinan Usaha dan Kelembagaan Lembaga Penjaminan Monday, April 7, 14 LNRI Nomor 72 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5527
6 6/POJK.05/2014 Penyelenggaraan Usaha Lembaga Penjaminan Monday, April 7, 14 LNRI Nomor 73 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5528
7 7/POJK.05/2014 Pemeriksaan Lembaga Penjaminan Monday, April 7, 14 LNRI Nomor 74 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5529
8 8/POJK.03/2014 Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah (Pesanan Pak Nelson via There) Wednesday, June 11, 14 LNRI Nomor 134 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5544
9 9/POJK.05/2014 Pembubaran dan Likuidasi Dana Pensiun Tuesday, July 15, 14 LNRI Nomor 163 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5555
10 10/POJK.05/2014 Penilaian Tingkat Resiko Lembaga Jasa Keuangan Non Bank Wednesday, August 27, 14 LNRI Nomor 197 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5575
11 11/POJK.05/2014 Pemeriksaan Langsung Lembaga Jasa Keuangan Non Bank Wednesday, August 27, 14 LNRI Nomor 198 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5576
12 12/POJK.05/2014 Perizinan Usaha dan Kelembagaan Lembaga Keuangan Mikro Friday, October 31, 14 LNRI Nomor 342 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5621
13 13/POJK.05/2014 Penyelenggaraan Usaha Lembaga Keuangan Mikro Friday, October 31, 14 LNRI Nomor 343 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5622
14 14/POJK.05/2014 Pembinaan dan Pengawasan Lembaga Keuangan Mikro Friday, October 31, 14 LNRI Nomor 344 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5623
15 15/POJK.04/2014 Laporan Bulanan Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset Friday, November 7, 14 LNRI Nomor 345 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5624
16 16/POJK.03/2014 Penilaian Kualitas Aset Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah Tuesday, November 18, 14 LNRI Nomor 347 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5625
17 17/POJK.03/2014 Penerapan Manajemen Risiko Terintegrasi Bagi Konglomerasi Keuangan Tuesday, November 18, 14 LNRI Nomor 348 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5626
18 18/POJK.03/2014 Penerapan Tata Kelola Terintegrasi Bagi Konglomerasi Keuangan Tuesday, November 18, 14 LNRI Nomor 349 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5627
19 19/POJK.03/2014 Layanan Keuangan Tanpa Kantor Dalam Rangka Keuangan Inklusif Tuesday, November 18, 14 LNRI Nomor 350 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5628
20 20/POJK.03/2014 Bank Perkeditan Rakyat Tuesday, November 18, 14 LNRI Nomor 351 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5629
21 21/POJK.03/2014 Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum Syariah Tuesday, November 18, 14 LNRI Nomor 352 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5630
22 22/POJK.04/2014 Prinsip Mengenal Nasabah Oleh Penyedia Jasa Keuangan di Sektor Pasar Modal Tuesday, November 18, 14 LNRI Nomor 353 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5631
23 23/POJK.04/2014 Pedoman Penerbitan dan Pelaporan Efek Beragun Aset Berbentuk Surat Partisipasi Dalam Rangka Pembiayaan Sekunder Perumahan Wednesday, November 19, 14 LNRI Nomor 358 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5632
24 24/POJK.04/2014 Pedoman Pelaksanaan Fungsi-fungsi Manajer Investasi Wednesday, November 19, 14 LNRI Nomor 359 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5633
25 25/POJK.04/2014 Perizinan Wakil Manajer Investasi Wednesday, November 19, 14 LNRI Nomor 360 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5634
26 26/POJK.04/2014 Penjaminan Penyelesaian Transaksi Bursa Wednesday, November 19, 14 LNRI Nomor 361 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5635
27 27/POJK.04/2014 Perizinan Wakil Penjamin Emisi Efek dan Wakil Perantara Pedagang Efek Wednesday, November 19, 14 LNRI Nomor 362 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5636
28 28/POJK.05/2014 Perizinan Usaha dan Kelembagaan Perusahaan Pembiayaan Wednesday, November 19, 14 LNRI Nomor 363 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5637
29 29/POJK.05/2014 Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan Wednesday, November 19, 14 LNRI Nomor 364 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5638
30 30/POJK.05/2014 Tata Kelola Perusahaan Yang Baik Bagi Perusahaan Pembiayaan Wednesday, November 19, 14 LNRI Nomor 365 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5639
31 31/POJK.05/2014 Penyelenggaraan Usaha Pembiayaan Syariah Wednesday, November 19, 14 LNRI Nomor 366 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5640
32 32/POJK.04/2014 Rencana dan Penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham Perusahaan Terbuka Monday, December 8, 14 LNRI Nomor 374 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5644
33 33/POJK.04/2014 Direksi dan Dewan Komisaris Emiten Atau Perusahaan Publik Monday, December 8, 14 LNRI Nomor 375 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5645
34 34/POJK.04/2014 Komite Nominasi dan Remunerasi Emiten atau Perusahaan Publik Monday, December 8, 14 LNRI Nomor 376 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5646
35 35/POJK.04/2014 Sekertaris Perusahaan Emiten atau Perusahaan Publik Monday, December 8, 14 LNRI Nomor 377 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5647
36 36/POJK.04/2014 Penawaran Umum Berkelanjutan Efek Bersifat Utang dan/atau Sukuk Monday, December 8, 14 LNRI Nomor 378 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5648
37 37/POJK.04/2014 Reksa Dana Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif Penyertaan Terbatas Monday, December 8, 14 LNRI Nomor 379 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5649
38 38/POJK.04/2014 Penambahan Modal Perusahaan Terbuka Tanpa Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu Monday, December 29, 14 LNRI Nomor 395 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5652
39 39/POJK.04/2014 Agen Penjual Efek Reksa Dana Monday, December 29, 14 LNRI Nomor 396 Tahun 2014, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5653

Tentang PCS OJK


Minggu pagi kemarin, adik ipar saya tumben bangun pagi. Usut-punya usut, dirinya akan menjalani tes pendahuluan untuk penerimaan PCS OJK. Apa itu PCS OJK? Pendidikan Calon Staff Otoritas Jasa Keuangan. Kalau ndak salah untuk kali ini PCS angkatan ke-2.

PSC sepertinya mirip dengan PCPM BI. Kalau PCPM BI sudah banyak aku tulis soal dari ujung kuku sampai ujung siku. Berhubung OJK masih baru, makanya agak sulit juga merabaraba PCS ini bagaimana.

887ojk

Pertanyaan:

1. PCS angkatan ke-1 menerima pegawai hingga 500 orang. Angka yang fantastik. Untuk apa?

2. Desas-desus OJK terkait integritas proses penerimaan yang “agak-agak”. Ada komentar?

3. Saluran PCS akan terbuang percuma jika jenjang karir dan ada saluran lain dalam penerimaan masuk, seperti jalur PKWT yang deras mengalir. Ini sama dengan BI lewat MLE, namun transparansi lowongan masih perlu ditingkatkan. Termasuk proses rekrutmennya hingga wawancara user.

 

Bank Indonesia terkenal akan integritas proses penerimaan pegawainya. Hampir dipastikan nol proses adanya kongdikalikong. Anak siapa asal kompeten dan berintegritas serta lolos tes hingga 6-7 tahapan, maka berhak penyandang gelar PCPM BI. Pendidikan Calon Pegawai Muda Bank Indonesia.

__

SDM adalah faktor kunci. Masa depan OJK ditentukan dari proses rekrutmen ini.

salam anget,

Kopdang.

 

 

Zakat


sebagian menangisi kepergian bulan suci ramadan. di kala barokah dari yang maha pemberi barokah akan berakhir, tibalah hari kemenangan. hari sang juara.

juara karena dalam waktu yang singkat telah berupaya menjadi yang lebih baik. tujuannya satu: menjadi orang yang bertaqwa. yang selalu menjalankan perintah tuhan dan menjauhi larangan-Nya. untuk menjadi patuh secara ikhlas. untuk berbuat baik. lebih baik. terbaik. dan mendarah daging.

lantas apakah lebaran dirayakan dengan mudik sudah cukup? bermaaf-maafan dengan sesama dianggap rampung?

ada desakan ekonomi yang harus dihadapi.
bayar zakat fitrahmu.
tunaikan dan sucikan hartamu.
sholat, puasa, dan berzakat.

zakat adalah ibadah berdimensi sosial ekonomi. puncak dari ibadah ruhani? bagi saya iya. keikhlasan membagi sebagian rejeki adalah sesuatu yang mulia.

berhasil secara ekonomi tentunya akan dituntut untuk berhasil secara sosial. sebagian dari harta kita adalah milik mereka yang tak berpunya.

bagi. dan rayakan.
senyum bersama. menciptakan kesejahteraan lahir dan batin.

semoga.

Pemikir


setelah lama saya pikir-pikir, sepertinya saya memang lebih berbakat sebagai pemikir. iya pemikir sejati. hanya berpikir. itu saja. sudah. tidak seperti menjadi penulis, yang menuangkan buah pikir dalam tulisan, menjadi pemikir lebih enak. sekadar berpikir. tanpa hasil apapun kecuali pikiran yang berkecamuk. atau malah jangan-jangan pemikir itu dapat berpikir secara efektip dan efisien sehingga dalam berpikir dapat dilakukan ‘secukupnya’ saja.

menjadi pemikir akan menghayati segala kejadian secara lebih intim, intens dan ikrib. semua dipikirkan dari pangkal hingga ujung. dicara hal-ihwal, sebab musabab, asal mula, mengapa begini mengapa begitu, hingga proses kejadian, apa yang terjadi, apa dan bagaimana, kapan hingga pada akhirnya hasilnya menjadi demikian. pemikir adalah orang yang melakukan proses jalan sunyi. jangan-jangan pemikir lebih ampuh daripada filsuf maupun para sufi. pemikir tidak perlu menuangkan apa-apa sebagai tanda hasil pekerjaannya. dia ndak mau riya. cukup disimpan dalam logika, jalan pikir, daya ingatan dan diwujudkan dengan perbuatan. dia diam-diam berubah. diam-diam memperbaiki diri. tidak menyuruh tapi meneladani dan memberi tauladan. nah ini baru bener. pemikir yang tujuannya untuk mengubah diri sendiri menjadi lebih oke. sebelum dia memberikan contoh bagi orang lain.

tapi apa ya kuat. banyak mikir tanpa sempat berak intelektualitas dan menjadikannya buah lisan dan buah tulis itu pasti ngempet banget. banyak pikiran tapi ndak diutarakan. bisa stres sendiri. bisa-bisa senewen. bakalan galau. kalau kata mare, anak saya, ini namanya garut. galau rutin. hhe hhe.

toh pada akhirnya pemikir itu semacam olahraga kata pada bela diri karate. dia bergerak penuh tenaga, dengan gongfu meyakinkan, dalam setiap kelebatnya menyiratkan disiplin berlatih diri. pemikir banyak berlatih dengan logika, analisa, hipotesa, dan coba merumuskan pemecahannya hingga terbukti apa yang dipikirkannya dengan menyelaraskan fakta kejadian yang sebenarnya. pemikir juga akan coba menampuh jalan kegelapan berupa mencari titik terang atas sesuatu yang masih gulita. tapi pada akhirnya ia butuh lawan tanding. perlua ada hasrat yang disalurkan.

dalam bentuk ngomyang? bisa jadi. butuh teman ngobrol? bisa jadi. lebih elegan jika pemikir menuangkan buah pikirnya dalam bentuk tulisan. dan akhirnya pemikir itu menjadi seorang penulis.

naik derajat apa turun derajat.

jika melihat urut-urutan waktu dan kejadian dalam proses tulisan tertuang, maka penulis sejatinya lebih hebat dari pemikir. tapi dengan satu syarat: apa yang ia tulis memang dipikir dulu.

gitu.

 

selamat sore.

 

whatsapp


dulu bbm grup yang begitu dominan sebagai media jejaring pertemanan. teman smp, sma, kuliah, sepermainan, klab hobi kumpul dalam bbm grup ini. kira-kira sejak 2008 hingga 2012. lantas berangsur-angsur seiring semakin mudahnya akses internet, murah, lancar dan menjamurnya gawai layar sentuh yang didominasi sistem operasi android maka aplikasi whatsapp menggantikan bbm grup ini.

bb tinggal kenangan. whatsapp lebih menjanjikan. ringan dan mudah. apalagi terintegrasi dengan nomor gawai kita.

seperti biasa, bahasa lisan, kebiasaan kongkow dan senang bercanda terakomodir hampir sempurna dengan whatsapp ini. akhirnya, semua grup pindah ke whatsapp.

cetang cetung tiada henti.

apalagi jika seluruh grup aktip. teman sepermainan bawel. temen alumni kuliah apalagi. belum teman rekan kerja. kalau terus diladeni kita tiada henti merespon setiap notifikasi.

bagaimana kita harus menyikapinya? klise: perlakukan dengan bijak. padahal ya itu tadi, sembari tidur-tiduran kita dapat melepas rindu. sembari di kamar mandi kita bisa ketawa-ketiwi. dunia.. oh dunia. kapan lagi kamu berhenti menebar racun dunia.

jika kita anggap sarana ini adalah ajang silaturahmi, maka whatsapp menjadi sesuatu yang begitu membantu. namun tentu saja, noise yang ditimbulkan dapat mengganggu ritme kerja, ritme bercengkrama secara langsung.

mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.

tapi apa boleh buat, demikian adanya.

salam cetang cetung
kopdang.
yang baru saja dipaksa masuk grup whatsapp jaman kuliah. ūüėĀ

Bulan Puasa


Seberapa sering puasa hadir dalam kehidupan kita? puasa ramadan, tentu saja. Setiap tahun. sebulan penuh. Karena puasa adalah kewajiban.

lantas bagaimana dengan puasa dalam artian lain. menahan sesuatu. tidak hanya soal menahan sesuatu dari makan-minum namun juga kepada keinginan-keinginan printilan yang menghiasi keseharian kita. Misalnya saja perlukah kita memiliki sepatu sedemikian banyak. baiklah. tidak banyak. hanya beberapa.  dua pasang untuk kerja, dua pasang untuk olahraga, sepasang untuk santai, satu lagi untuk renang. wajar? masih wajar sepertinya. bagi sebagian dari kita.

bagaimana dengan tas. sedemikian banyak tas kita miliki. untuk kerja saja ada lima. untuk berpergian tiga. untuk jalan-jalan empat. untuk arisan sepuluh. ah masa sih segitunya? fakta berbicara.

sisi material yang mulai mendarah daging dalam kehidupan, memang agak mencemaskan. jika kita tilik dari sisi kewajaran karena fungsi, bisa jadi begitu banyak alasan pembenaran. karena menyesuaikan lingkungan. karena kepraktisan. karena keindahan. karena saya mampu. karena tas adalah bagian dari syarat tampil prima.

koleksi. ini bisa jadi menjadi alasan utama pembenaran. karena koleksi duduk manis bersama hobi. jika sudah hobi maka perlu disematkan kata wajar. yang berlebihan menjadi kewajaran. yang kemahalan menjadi untuk dan atas nama hobi sebagai sesuatu yang patut dimiliki. kepuasan batin.

jadi ini soal refleksi sebetulnya. kemarin saya menghitung kaos oblong saya sudah berjejalan dalam lemari. satu-dua-tiga-blablabla.. delapan belas! padahal kaos oblong itu kaos oblong yang bukan untuk tidur. itu kaos oblong jalan-jalan. lain lagi dengan kaos oblong yang enak buat diajak bobo. untungnya celana jins saya cuma dua. itupun yang satu tak tahu rimbanya. hilang ditelan tumpukan cucian.

bagaimana dengan cd? nah ini juga penyakit lainnya. saya begitu kalap untuk soal cd musik. duta suara begitu bahagia jika saya datang. satu-dua, tidak. ada 4 dus. ini belum termasuk saya membeli secara daring dengan mengunduh musik di iTunes.

masih ada hal lain? yap. buku. begitu banyak buku yang terbeli namun sempat tersentuh. Selalu membayangkan hal-hal menyenangkan yang dapat dilalui bersama buku  ketika tangan saya menimang buku, membaca ringkasan sampul belakang dan mencermati harganya. mahal tapi berilmu. ilmu tiada batasnya. beli saja. kan enak bisa sembari tidur-tiduran. kenyataannya: bahkan masih dengan sampul plastik. bukan sampul plastik buku dengan bandrol harga lho ya. tapi dengan plastik kresek gramedia atau gunung agung. bahkan dikeluarkan dari itu pun belum.

__

memang soal kebutuhan manusia [patut diperjuangkan. singkatnya sandang, pangan, papan. bekerja untuk beli beras sudah begitu jarang terdengar. gaji itu buat ke salon, beli pulsa, tagihan cicilan gawai, bensin non-subsidi, cicilan mobil, belikan kerudung, belikan kosmetik, dan apalagi? isi sendiri.

seberapa tinggikah kita pada standar hidup. makan di warteg dengan fine dining tentu saja beda. soal selera. soal harga. soal prioritas. makan abuba, holycow, outback tentu saja beda. pizza hut, dominos, express, atau pizza e bira tentu juga beda. bahkan soal gawai dari evercross, mito, xiaomi, oppo, samsung, nokia, hingga iphone. ini semua ada rupa dan harga.

__

sandang pangan papan.

pendidikan bagaimana? pendidikan swasta. apakah juga sebuah tindakan yang berlebihan? untuk menulis hal ini saya agak malas. mungkin Anda bisa membrikan tambahan. Silakan.

 

Karena menulis adalah sebuah keniscayaan.


Jika menulis memerlukan alasan, maka menulis tak akan menjadi kegiatan yang menyenangkan. Menulis terkadang tak perlu sebuah alasan. Menulis yang tak tentu tujuan dan latar belakang akan terasa lebih menyenangkan. Sepertinya..

Menulis tanpa alasan bisa jadi hanya omong kosong belaka dan menghabiskan waktu. Tapi setidaknya waktu tak terbuang percuma diisi dengan lamunan. Eits, jangan-jangan lamunan pun perlu dan menyehatkan. Bisa jadi.

Apakah suatu hal harus dengan alasan dan tujuan. Apakah semua kegiatan harus dikatakan sebagai kegiatan yang bermanfaat? Mengeja kata, merangkumnya dalam bentuk tulisan, menuangkan buah pikir, bahkan hanya ocehan bisa jadi sekadar menjaga kewarasan. Nah, ini dia. Jangan-jangan kegiatan menulis adalah obat penyembuh luka, pengerem dari perasaan senang berlebihan, dan memumulihkan gundah gulana. Sekali lagi: bisa jadi.

Media tulisan yang sedemikian bergelimpangan membuat gairah menulis malah terhenti. Kita terlalu terbiasa menjadi reaksioner. Mendengar dari telinga kanan, tanpa sempat diendapkan lantas menjadi ucapan. Menulis membantu kebiasaan itu dengan sedikit proses, atau banyak, atau bahkan tak sempat ditulis. Endapan pikiran akan menjadi alasan dalam menulis. Tapi bisa jadi tulisan spontan terwujud hanya karena sebuah lintasan pendengaran dan bukan buah pikiran. Tapi sekali lagi: tak apa. Toh setidaknya menulis mengharuskan kita berdialog dengan diri sendiri. Apa yang hendak diutarakan. Apa yang hendak disampaikan. Apa yang hendak kita bicarakan.

Menulis bagi sebagian orang adalah bagian dari pekerjaan. Sebagian hanya untuk kesenangan. Sebagian kecil lainnya sekadar untuk membunuh waktu dengan tanpa melibatkan perasaan. Toh menulis ya tetap menulis. Tanpa ada maksud dibaca ulang. Bahkan tak perlu dibaca lagi oleh penulisnya sendiri seketika setelah tulisan terbentang. Semacam buang hajat di kala pagi hari. Kebelet, salurkan, dan lupakan. Keliru? Terserah.

Lantas kapan waktu terbaik menulis? Pagi. Siang. Malam. Atau tak tentu? Jika kita sibuk kapan sebaiknya, maka tulisan tak akan terwujud. Menulislah selakgi mampu. Maka menulis akan menjadi sebuah kewajiban yang jika tidak dilaksanakan tidak berbuah dosa, namun merasa kehilangan. Menyia-nyiakan waktu tanpa pernah meninggalkan jejak buah pikir. Merugi bukan?

Ah, kenapa terjebak pada perihal untung dan rugi. Atau jangan-jangan memang kita diciptakan dalam bayang-bayang transaksional. untung-rugi. Bicara keuntungan. Bicara kerugian.

Ada baiknya, sepertinya, menulis dan hal apapun yang kita kerjaan tanpa dasar perhitungan semacam ini. Menulis tanpa memikirkan apa manfaatnya bagi penulis. Sejak huruf disusun, sejak kata dirangkai, sejak kalimat dipadupadankan, dan akhirnya menjadi sebuah tulisan, penulis akan banyak sekali pertimbangan. Pilihan kata. Penggunaan tanda baca. Pemikiran bagaimana tulisan akan diakhiri.

Saat generasi instan semakin dominan, menulis panjang jadi sesuatu yang membosankan. Segera ditinggalkan. Tulisan menjelma menjadi sebuah hal yang menarik perhatian. Tidak ada tanggapan, apa asyiknya. Komentar dan tanggapan sebegitunya diharapkan. Padahal menulis sejatinya tak perlu pamrih. Menulis sajalah tanpa perlu banyak harapan. Menulis menulis dan menulis.

Menulis surat cinta, menulis laporan, menulis angka-angka pengeluaran per bulan, menulis tentang kesengsaraan, menulis tentang perjalanan, menulis tentang kehidupan, menulis tentang tuhan, menulis tentang menulis.

Karena kita bahagia saat menyatakan seuatu, baik lisan maupun tulisan. Namun menulis akan lebih memuaskan. Bagi saya tentu saja.

Apakah menulis perlu mengajak teman-teman? Perlukah menulis mengharap decak kagum pembaca? sah-sah saja. Namun bukan lagi menjadi suatu hal yang hakiki, yang melampaui arti kemuliaan hidup ini. Menulis dengan penuh hasrat akan menjadi titik ekstase bagi sebagian orang. Masturbasi intelejensi? Ah terlalu melayang-layang. Menulis bisa jadi justru menjadikan kita terus menjejakkan kaki ke bumi. Menulis tentang hal apa saja secara jujur dan tanpa dibuat seolah-olah.

Kita sudah terlalu terjebak pada citra diri. Merawat imaji. Menciptakan persepsi dan sibuk untuk mengarahkan pandangan orang lain terhadap diri kita. Kapan sebenarnya kita dapat merdeka? Bagi saya, sekali lagi, adalah saat kita sibuk menulis. Kejujuran yang tidak perlu dipikirkan masak-masak. Toh menulis dalam taraf paling sederhana adalah mencurahkan apa adanya tentang kita sendiri. Curhat.

Jadi perlukah tulisan diawali dengan alasan-alasan dan atau tujuan?

 

PCPM BI Vs PCS OJK


Hal yang cukup jarang terjadi dalam satu kawasan gedung BI adalah bertemunya warga beda institusi. Biasanya di kawasan perkantoran BI isinya ya orang BI semua. Sisanya pihak ketiga yang menjadi warga penunjang BI. Nah, dengan adanya kehadiran teman-teman OJK maka terbitlah harapan saling curi pandang, curi tampil dan curi perhatian.

PCPM adalah anak kinyis-kinyis BI. PCS adalah anak kinyis-kinyis OJK. Mana yang menjadi bintang di komplek perkantoran bank indonesia?

1. Penampilan.

Anak PCPM pakai kemeja yang sama dengan PCS. Mirip ladhen. Celana hitam kemeja putih. Bedanya anak PCPM pakai dasi biru. PCS? Merah.

2. Paras

PCPM BI masih unggul soal paras ini. Lebih lucu-lucu. pada wajah PCS dapat terlihat jelas guratan  perjuangan hidupnya.

3. Postur

Anak PCPM BI jauh lebih unggul. dasi biru dan tubuh sintal lebih keren daripada dasi merah dengan postur tubuh proporsional. Postur PCPM BI pria lebih gagah dan cocok mengenakan putih hitam.

4. Komunikasi

Belum jelas, karena belum berimbang. Saya lebih banyak berinteraksi dengan PCS karena masih dalam penempatan di OJK. Oh, wait.. apa karena saya lebih sering beriteraksi dengan PCS OJK makanya lebih menyukai rumput tetangga.

5. apa lagi?

Gaji?

Nah ini dia! untuk soal ini PCS OJK lebih unggul dari PCPM BI. hhe hhe…

 

ya nanti diteruskan lagi soal PCPM vs PCS ini.

 

Seberapa besarkah pengaruh blog?


Jika ditanya apa yang menyenangkan dengan dunia maya? saya tidak akan menjawab perihal media sosial seperti path, twitter atau facebook. Saya lebih menyukai blog. Dunia blogging adalah dunia yang menyenangkan bagi saya. Blog bagi saya dapat menjadi tempat curhat, berbagi dan memperkenalkan diri. Bahkan saya tidak menyadari kekuatan blog sedemikian besar ketika junior saya di kantor lebih mengenal blog saya dibandingkan mengenal sosok saya secara pribadi. 

Persepsi yang ditampilkan, atau konten isi blog ternyata lebih membekas daripada sekadar portal berita atau forum diskusi karena lebih menampilkan sosok narablog. Tentu saja ini semacam pedang bermata dua. Baik buruk. Lucu Menakutkan. Informatif atau ala kadarnya dan menghabiskan waktu.

Dunia anak muda, remaja atau boleh dikatakan bukan kategorisasi usia melainkan faktor ekonomi: kelas menengah, akan didominasi dunia maya. dunia daring. bangun tidur nge-path. komunikasi dengan teman melalui whatsapp. diskusi dengan atasan di bbm group. mendapatkan info terkini dari twitter. undangan reuni melalui facebook. semuanya tak lepas soal gadget, koneksi, alat telekomunikasi.

Blog bagi saya agak berbeda. Dia butuh perhatian lebih dan butuh kesabaran. Curhat-nya pun relatif lebih panjang. Interkasi komentar tidak terlalu intens namun yang diutamakan adalah berbagi informasi dengan lebih rinci. Lucunya nge-blog jadi seperti ritual purba. Agak kuno, kaku dan tidak populer di kalangan anak usia SMA dan Mahasiswa saat ini.

Ketika beberapa hal saya masukkan sebagai materi blog, misalnya soal penerimaan pegawai Bank Indonesia dimana saya bekerja, rupanya informasi ini menjadi sebuah sumber informasi yang cukup dijadikan pegangan. Saya tidak terlalu menyadari itu hingga tiba saatnya ketika junior berkata: “oh, ini mas yang itu”.

JENG JENG.

Maka ngeblog sejatinya sebuah kegiatan yang menyenangkan. Kita bisa saja menggunakan peluang anonimitas. Tapi apakah akan selamanya. Seberapa besar nilai validitas informasi dari seorang anonim di era keterbukaan informasi? Ngeblog juga bisa menjadi jalan tengah dari kesibukkan kegiatan rutin kantor dan keinginan untuk menyampaikan buah pikiran yang tiba-tiba terlintas. Memang ada twitter yang lebih singkat. tapi ngeblog, tetap lebih asyik.

apakah anda masih memelihar blog anda?

Gerakan Anti Bangunin Orang Lagi Tidur


Jika anda baca kompas terbitan hari ini, ada tulisan dalam kolom udar rasa yang ditulis Jean costeau atau siapalah gitu, orang bule yang pingin banget jadi orang jawa tapi apa daya, dengan tetap mengagung-agungkan rasionalisasinya, tentang banyaknya gerakan anti di bumi pertiwi. misalnya: aliansi anti syiah. aneh bin ajaib. aliansi itu pertemuan beberapa kesamaan tapi untuk menganti-antikan sesuatu. juga anti JIL. juga anti ahmadiyah. gerakan anti-nya itu patut disayangkan. aliansinya sih ndakpapa. hehehe.

nah intinya bukan itu. tadi cuma permulaan. inti dari tulisan ini adalah bahwa ada gerakan anti yang sedang saya usung, yaitu anti bangunin orang yang lagi tidur. kenapa? adana beberapa alasan:

satu:
sepenting apa sih kegiatan yang menanti orang yang lagi tidur? ada telpon? ada sms masuk? ada tamu? disuruh sholat? kenapa tidurnya dikalahkan kegiatan itu?

dua:
ada terselip arogansi dari orang yang bangunin atau yang menyuruh bangunin orang yang agar tidur prang lain terhenti.

tiga:
pernah rasanya dipotong saat sedang berbicara?
bagaimana kamu tau dan yakin orang yang lagi tidur itu ndak sedang berbicara di alam mimpinya?

empat:
semua hal bisa ditunggu. rasa lelah? istirahat segera.

lima:
tidur adalah kegiatan paling intin antara tubuh dan waktu. ia menyandarkan tubuhnya pada waktu, manakala ia tak memiliki sandaran bahu dan bosan bersujud atau berlutut pada-Nya.

ya cukup lima hal itu dulu aja.
pokoknya mah yak tidur itu perlu dan tak boleh diganggu. okay?

selamat lanjutkan tidur anda.

salam tidur

Daniel Kahneman: Teori Ekonomi Perilaku


Saya cuplik ceramah ybs dalam program Ted. Alamat lengkapnya disini: Cerita tentang Pengalaman dan Ingatan. Saat ini juga sedang membaca tulisannya dalam “thinking fast and slow”.

Terima kasih untuk R. Pawitra dan Judge Pau

 

Inilah ceramah Daniel selengkapnya dalam Bahasa Indonesia:

Semua orang berbicara tentang kebahagian akhir-akhir ini.¬†Saya meminta seseorang menghitung jumlah buku¬†yang judul bukunya mengandung kata “kebahagiaan” dan yang telah diterbitkan lima tahun terakhir.¬†dan mereka menyerah setelah sekitar 40 (buku), padahal masih ada lebih banyak lagi.¬†Ketertarikan terhadap kebahagiaan sangat besar,dikalangan para peneliti.¬†Ada banyak pembimbingan kebahagiaan.¬†Semua orang ingin membuat orang lain lebih bahagia.¬†Tapi meskipun begitu banyak penelitian telah dilakukan,ada beberapa jebakan nalar¬†yang membuat hampir mustahil untuk berpikir jernih¬†tentang kebahagian

Dan pembicaraan saya hari ini sebagaian besar mengenai jebakan-jebakan nalar itu.¬†Ini berlaku bagi orang kebanyakan yang berpikir tentang kebahagiaan mereka sendiri,¬†dan juga berlaku bagi kaum terpelajar yang berpikir mengenai kebahagiaan,¬†karena kenyataannya kita sama “parah”-nya dengan orang lain.¬†Jebakan pertama¬†adalah keengganan untuk mengakui kerumitan.¬†Kenyataannya kata kebahagiaan itu¬†tidak terlalu berarti lagi¬†karena kita menggunakannya untuk terlalu banyak hal yang berbeda¬†Saya pikir kita bisa batasi maknanya menjadi hanya satu arti tertentu¬†tetapi secara umum¬†ini akan menjadi suatu pengorbanan¬†dan kita harus menerima pandangan yang lebih kompleks¬†tentang arti kesejahteraan.¬†Perangkap kedua adalah adanya kerancuan antara pengalaman dan ingatan:pada dasarnya ini adalah soal merasa bahagia dalam hidup anda¬†dan merasa senang tentang hidup anda.¬†atau merasa senang dengan hidup anda¬†Dan kedua hal itu merupakan dua konsep yang sangat berbeda,¬†dua hal itu adalah ganjalan dalam teori kebahagiaan.¬†Dan yang ketiga adalah ilusi yang timbul karena pemusatan perhatian,¬†dan kenyataan pahit bahwa kita tidak mampu memikirkan apapun¬†yang berpengaruh pada kesejahteraan¬†tanpa membiaskan apa yang penting.¬†Jadi ini benar-benar sebuah perangkap nalar.¬†Yang tidak bisa dihindari

Sekarang, saya akan mulai dengan sebuah contoh¬†tentang seseorang yang melakukan tanya jawab¬†setelah kuliah saya.¬†[tidak jelas…]¬†Dia bilang dia pernah mendengarkan sebuah simponi¬†yang musiknya luar biasa indah¬†tapi diakhir rekaman musik itu,¬†ada cacat suara yang sangat jelek.¬†Dan ia menambahkan dengan sangat emosional,¬†hal itu merusak kesan keseluruhannya.¬†Padahal tidak demikian.¬†Apa yang rusak adalah ingatan tentang kesan itu.¬†Ia tetap mengalami pengalaman itu.¬†Ia menikmati musik yang luar biasa indah selama 20 menit.¬†Yang hilang percuma¬†karena sebuah ingatan;¬†ingatan yang rusak,¬†dan hanya ingatan rusak itulah yang ia simpan.

Apa yang ditunjukkan hal itu, sebenarnya,¬†adalah mungkin kita memikirkankan diri kita dan orang lain¬†dalam dua sisi yang berbeda.¬†Kita mempunyai sisi yang mengalami,¬†yang hidup di saat ini¬†dan menyadari saat ini,¬†yang mampu merasakan kembali masa yang telah berlalu¬†padahal sisi itu hanya memiliki saat ini.¬†Sisi yang mengalami ini yang membuat seorang dokter–¬†biasalah, ketika dia bertanya,¬†“Sakit tidak kalau saya sentuh disini?”Kemudian ada sisi yang mengingat,¬†sisi yang mengingat ini yang hitung-hitungan,¬†dan yang memelihara cerita hidup kita,¬†yang membuat seorang dokter datang¬†dan bertanya,¬†“Apa yang kamu rasakan akhir-akhir ini?”¬†atau “Bagaimana perjalanan anda ke Albania?” atau hal lain semacam itu¬†Keduanya adalah hal yang sangat berbeda,¬†Sisi yang mengalami dan sisi yang mengingat¬†Ketidakmampuan membedakan keduanya adalah bagian dari kerancuan¬†dalam teori kebahagiaan.

Sisi yang mengingat ini,¬†adalah pendongeng.¬†Dan sebenarnya berawal dari respon dasar ingatan kita–¬†yang mulai dengan seketika.¬†Kita tidak hanya bercerita ketika kita ingin bercerita.¬†Ingatan kita senantiasa bercerita,¬†apa yang kita simpan dari semua pengalaman kita¬†adalah sebuah cerita.¬†Dan ijinkan saya mulai dengan sebuah contoh.¬†Ini adalah sebuah penelitian lama.¬†Tentang pasien-pasien yang menjalani prosedur yang menyakitkan (pemeriksaan via dubur).¬†Saya tidak akan perjelas. Sekarang prosedurnya sudah tidak begitu menyakitkan.¬†namun masih menyakitkan ketika penelitian itu dilaksanakan pada tahun 1990-an.¬†Pasien-pasien diminta melaporkan sakit yang mereka rasakan setiap 60 detik.¬†Pada dua orang pasien.¬†Itu adalah rekam jejak mereka.¬†Kalau ada yang bertanya, “Siapa yang lebih merasakan sakit?”¬†dan itu adalah sebuah pertanyaan sederhana.Sebenarnya, Pasien B lebih merasakan sakit.¬†Proses kolonoskopi nya lebih panjang,¬†dan dari setiap menit rasa sakit yang dirasakan oleh Pasien A¬†Pasien B lebih lama merasakannya.

Tapi, bila ada pertanyaan lain:¬†“Penderitaan sebesar apa yang pasien-pasien ini pikir mereka rasakan ?”¬†Inilah kejutannya:¬†Ternyata Pasien A¬†memiliki ingatan lebih buruk tentang proses kolonoskopi¬†dibanding Pasien B.¬†Ada perbedaan cerita tentang proses kolonoskopi¬†dan karena bagian paling kritis adalah bagaimana ceritanya berakhir —¬†dan memang kedua ceritanya sendiri biasa-biasa saja —¬†namun salah satu dari cerita ini meninggalkan bekas… (tertawa)¬†salah satu dari cerita ini meninggalkan bekas lebih dalam dibanding yang lain.¬†Dan cerita yang lebih berbekas¬†adalah ketika rasa sakit terasa pada puncaknya di penghujung proses.¬†Dia menjadi cerita yang buruk.¬†Bagaimana kami mengetahuinya?¬†Karena kami bertanya pada pasien-pasien itu sehabis proses kolonoskopi,dan bertanya lagi jauh setelah prosesnya selesai,¬†“Seburuk apakah keseluruhan proses?”dan apa yang dalam ingatan A jauh lebih buruk daripada yang di ingatan B.

Disini ada konflik tajam. antara sisi yang mengalami dan sisi yang mengingat. Dari sudut pandang sisi yang mengalami, tentunya, B yang lebih menderita. Sekarang, apa yang bisa dilakukan terhadap pasien A, dan kami sungguh-sungguh melakukan eksperimen klinis,yang sudah pernah dilakukan dan terbukti berhasil, kita sebenarnya bisa memperpanjang proses kolonoskopi pasien A dengan membiarkan selangnya tetap didalam tanpa terlalu banyak menggoyangnya. yang akan tetap menyebabkan pasiennya menderita, namun hanya sedikit dan sakitnya jauh lebih berkurang dari sebelumnya. Dan apabila hal ini dilakukan selama beberapa menit, kalian telah membuat sisi yang mengalami dari Pasien A merasa lebih parah, Dan membuat sisi yang mengingat dari Pasien A merasa lebih baik,karena sekarang kita telah memberikan Pasien A cerita yang lebih baik tentang pengalamannya. Apa hakekat sebuah cerita? Dan ini berlaku untuk semua cerita yang diceritakan oleh ingatan pada kita, dan juga berlaku untuk semua cerita yang kita karang.Hakekat sebuah cerita adalah perubahan. perubahan besar antara momen dan akhir cerita.Akhir cerita adalah sangat penting dan dalam hal ini, akhir cerita menjadi penentu.

Sedangkan, sisi yang mengalami¬†hidup terus menerus tanpa akhir.¬†Ia memiliki momen-momen pengalaman sambung menyambung¬†Lalu, Apa yang terjadi dengan momen-momen itu?¬†Jawabannya cukup jelas.¬†Mereka hilang untuk selamanya.¬†Maksud saya, hampir semua momen hidup kita —¬†dan saya hitung — dimana keberadaan kejiwaan¬†adalah sepanjang kira-kira 3 detik.¬†Yang artinya adalah, kalian tahu,¬†dalam satu kehidupan terdapat sekitar 600 juta (keberadaan psikologis)¬†Dalam sebulan terdapat 600.000.¬†Hampir semua tidak meninggalkan jejak.¬†Hampir semua terabaikan.¬†oleh sisi yang mengingat.Namun, meski begitu, kita tetap merasa¬†bahwa mereka adalah penting,¬†dan yang terjadi pada saat mengalami momen-momen tersebut¬†adalah hidup kita.¬†Terhadap sumberdaya terbatas yang kita habiskan¬†ketika kita masih dibumi ini.¬†Cara menghabiskannya¬†tampak menjadi seusatu yang relevan,¬†namun cerita itu¬†bukan cerita yang disimpan oleh sisi yang mengingat.

Jadi kita memiliki sisi yang mengingat dan sisi yang mengalami. dan keduanya sangat berbeda satu dengan lainnya. Perbedaan terbesar antara mereka adalah dalam memaknai waktu. Dari sudut pandang sisi yang mengalami, ketika berlibur, dan minggu kedua sama bagusnya dengan minggu pertama, maka pengalaman liburan selama dua minggu dua kali lebih baik dari pada liburan satu minggu. Itu tidak berlaku bagi sisi yang mengingat. Bagi sisi yang mengingat, liburan selama dua minggu tidak jauh berbeda dengan liburan selama satu minggu karena tidak ada penambahan ingatan baru. ceritanya belum berubah. Dalam hal ini, waktu merupakan variabel yang kritis yang membedakan sis yang mengingat dari sisi yang mengalami Waktu hanya sedikit berpengaruh pada cerita ini.

tapi sisi yang mengingat melakukan lebih dari sekedar¬†mengingat dan bercerita.¬†Sisi yang mengingatlah yang sebenarnya membuat keputusan¬†karena, bila kalian memiliki seorang pasien yang pernah…¬†mengalami dua proses kolonoskopi dengan dua dokter yang berbedadan sedang memutuskan untuk memilih (dokter) yang mana,¬†yang memilih adalah¬†sisi yang mempunya ingatan yang lebih menyenangkan¬†dan dengan cara itulah dokter tersebut terpilih.¬†Sisi yang mengalami¬†tidak memiliki suara dalam hal ini.¬†Kita sebenarnya tidak memilih berdasarkan pengalaman-pengalaman.¬†Kita memilih berdasarkan ingatan dari pengalaman-pengalaman.¬†Bahkan ketika kita berpikir tentang masa depan,¬†kita biasanya tidak menganggap masa depan kita sebagai pengalaman.¬†Kita menganggap masa depan kita¬†sebagai ingatan yang kita harapkan.¬†Dan pada dasarnya memang tampaknya,¬†kita dijajah oleh sisi yang mengingat,¬†dan kalian bisa berpikir bahwa sisi yang mengingat¬†seperti menyeret sisi yang mengalami¬†kedalam pengalaman-pengalaman¬†yang tidak dibutuhkan sisi yang mengalami.

Saya merasa begitu ketika kita pergi berlibur dan ini yang biasanya sering terjadi, alasan kita berlibur sebagian besar karena demi memuaskan sisi yang mengingat itu. Dan ini memang agak kurang masuk akal menurut saya Maksud saya, seberapa banyak sebenarnya ingatan yang kita pakai ? Ini salah satu penjelasan tentang besarnya dominasisisi yang mengingat ini Dan ketika saya memikirkan ini, saya teringat pada liburan kami di Antartika beberapa tahun lalu, yang merupakan liburan terbaik yang pernah saya alami, dan secara relatif saya lebih sering memikirkan liburan itu dibanding liburan-liburan yang lainSaya mungkin hanya menggunakan ingatan saya tentang liburan selama tiga minggu itu, mungkin, sebanyak kurang lebih 25 menit dalam 4 tahun terakhir. Jika saya membuka folder yang berisi 600 foto, saya mungkin akan menghabiskan 1 jam waktu tambahan. Nah, liburannya tiga minggu, tapi ingatannya paling lama satu setengah jam. Kelihatannya ada suatu keanehan. Mungkin ini terdengar sedikit berlebihan, mengenai begitu mnimnya keinginan saya untuk mengkonsumsi ingatan, namun, meskipun saya melakukan lebih banyak lagi, akan tetap muncul sebuah pertanyaan. Mengapa kita sangat menekankan ingatan dibandingkan pengalaman?

Jadi mari kita lakukan sebuah percobaan terhadap pikiran kita Bayangkan jika liburan kalian selanjutnya anda tahu pada akhir liburan semua foto-foto kalian akan rusak, dan kalian akan meminum obat penghapus ingatan sehingga kalian tidak mengingat apa-apa. Nah, apakah kalian akan memilih liburan yang sama? (Tertawa) Meski anda memilih liburan lain, akan tetap terjadi konflik antara kedua sisi itu. dan kalian butuh memikirkan jalan keluar dari konflik itu, dan sebenarnya tidak semua mudah dimengerti karena, jika kalian berpikir berdasarkan waktu, maka kalian akan mendapat satu jawaban. Dan bila kalian berpikir berdasarkan ingatan, kalian juga bisa mendapatkan jawaban yang lain. Kenapa kita memilih liburan yang kita lakukan, hal ini adalah sebuah masalah yang kita hadapi sebuah pilihan diantara kedua diri kita

Saat ini, kedua diri kita¬†memunculkan dua teori kebahagiaan.¬†Tetapi terhadap diri kita, kedua konsep kebahagiaan itu¬†hanya bisa diterapkan salah satu dari konsep itu.¬†Jadi anda bisa tanya tentang: Seberapa bahagia sisi yang mengalami itu ?¬†Dan anda bisa tanya tentang: Seberapa bahagia momen-momen¬†dalam hidup sang sisi yang mengalami ?¬†Dan semua itu — kebahagian dalam tiap momen¬†adalah sebuah proses yang rumit.¬†Emosi-emosi apa saja yang bisa diukur?¬†Dan, ngomong-ngomong, sekarang setelah kita punyapemahaman yang lumayan bagus¬†tentang kebahagiaan dari sisi yang mengalami sejalan dengan waktu.¬†Bila kalian bertanya tentang kebahagiaan dalam sisi yang mengingat¬†akan menjadi suatu hal yang sangat berbeda.¬†Ini bukan mengenai seberapa bahagia kehidupan seseorang¬†ini adalah mengenai seberapa puas seseorang¬†ketika ia memikirkan tentang hidupnya.¬†Hal yang sangat berbeda.¬†Siapa saja yang tidak dapat membedakan hal itu,¬†akan mengacaukan penelitian tentang kebahagiaan,¬†dan saya adalah bagian dari peneliti kesejahteraan¬†yang sudah lama ikut mengacaukan pelajaran mengenai kebahagiaan¬†karena hal itu.

Keberadaan dari kebahagiaan sisi yang mengalami dan kepuasan sisi yang mengingat telah diakui secara luas dalam beberapa tahun terakhir, dan saat ini ada upaya-upaya untuk mengukur keduanya secara terpisah, Gallup Organization mengadakan sebuah pollingdimana setengah juta orang telah diwawancara tentang apa opini mereka tentang hidup mereka sendiri dan tentang pengalaman mereka. Dan telah ada upaya-upaya lain di jalur yang sama Jadi beberapa tahun terakhir ini kita telah mulai mempelajari tentang kebahagiaan dalam dua diri kita. Dan pelajaran utama yang kita dapat menurut saya,adalah keduanya sangat berbeda. Kalian dapat mengetahui seberapa puas seseorang terhadap hidup mereka. tapi itu tidak memberikan pencerahan apa-apa tentang seberapa bahagia mereka dalam menjalani hidupnya, dan sebaliknya. Hanya untuk memberikan kalian sedikit korelasi, korelasi ini mengenai 5 Apa artinya bila kalian bertemu seseorang,dan anda diberitahu, oh ayahnya setinggi 6 kaki, Tapi apa yang kalian tahu tentang tingginya? Kalian mungkin mengetahui sesuatu tentang tinggi orang itu, namun ada banyak ketidakpastian. Sama tidak pastinya ketika saya memberitahu kalian bahwa ada orang yang memberi nilai 8 tentang hidupnya dalam skala 1 sampai 10, Ada banyak sekali ketidakpastian mengenai seberapa bahagia sisi yang mengalami dalam diri mereka Jadi korelasinya rendah.

Kita tahu tentang sesuatu yang mengontrol kepuasan dalam kebahagiaan diri. Kita tahu bahwa uang itu sangat penting, tujuan adalah sangat penting. Kita tahu bahwa kebahagiaan pada dasarnya adalah merasa puas dengan orang-orang yang kita sukai, menghabiskan waktu dengan orang-orang yang kita sukai. Ada banyak kesenangan-kesenangan lain, namun hal ini mendominasi. Jadi, bila kalian ingin memaksimalkan kebahagiaan dalam dua diri, kalian akan berakhir melakukan dua hal yang sangat berbeda. Pada dasarnya yang saya katakan disini adalah kita seharusnya tidak usah memikirkan kebahagiaan sebagai sebuah pengganti kesejahteraan Itu adalah dua hal yang berbeda.

Sekarang, singkatnya,¬†alasan lain kita tidak dapat berpikir jernih mengenai kebahagiaankarena kita tidak memperhatikan hal yang sama¬†ketika kita berpikir tentang kehidupan, dan ketika kita menjalani hidup.¬†Jadi, kalau kalian menanyakan pertanyaan sederhana tentang seberapa bahagia orang-orang di California,¬†kalian tidak akan mendapat jawaban yang tepat.¬†Ketika kalian menanyakan hal itu,¬†kalian berpikir orang-orang pasti lebih bahagia di California,¬†dibandngkan, sebut saja, orang yang hidup di Ohio.¬†(Tertawa)¬†Dan yang terjadi adalah¬†ketika kalian berpikir tetang hidup di California,¬†kalian memikirkan kesenjangan yang ada¬†antara California dan tempat-tempat lain,¬†dan kesenjangan itu, sebut saja, ada dalam iklim.¬†Namun, ternyata iklim¬†tidak begitu penting bagi sisi yang mengalami¬†dan bahkan tidak seberapa penting bagi cerminan diri¬†yang memutuskan seberapa bahagia seseorang itu.¬†Sekarang, karena cerminan diri itu lebih berkuasa,¬†kalian mungkin akan memutuskan — beberapa orang mungkin akan memutuskan¬†pindah ke California.¬†Dan menarik untuk diikuti apa yang kemudian terjadi¬†pada orang-orang yang pindah ke California dengan harapan lebih bahagia.¬†Sisi yang mengalami dari diri mereka¬†tidak akan menjadi lebih bahagia.¬†Kita tahu itu.¬†Namun satu hal akan terjadi. Mereka pikir mereka lebih bahagia,¬†karena, ketika memikirkan kebahagiaan¬†mereka teringat pada seberapa buruk iklim di Ohio.¬†Dan mereka akan merasa kalau mereka membuat keputusan tepat.

Akan sangat sulit untuk berpikir jernih tentang kesejahteraan, dan saya harap saya telah memberikan kepada kalian gambaran kesulitan itu.

Terima kasih.

(Tepuk tangan)

Chris Anderson: Terima kasih. Saya memiliki satu pertanyaan untuk anda. Terima kasih banyak. Ketika kita melakukan pembicaraan telepon beberapa minggu lalu, anda mengatakan bahwa ada satu hasil menarik yang muncul dalam survei Gallup. Apakah anda bisa cerita tentang hal itu karena anda masih memiki sisa waktu saat ini?

Daniel Kahneman: Tentu saja.¬†Saya kira hasil paling menarik yang dapat kita temukan dalam survei Gallup¬†adalah suatu pencerahan yang kita tidak sangka akan temukan.¬†Kita menemukan itu dalam hal kebahagiaan¬†sisi yang mengalami.¬†Juga ketika kami melihat bagaimana perasaan¬†dipengaruhi perbedaan pendapatan.¬†ternyata, pendapatan dibawah60.000 dollar per tahun untuk seorang Amerika,¬†dan ini dari jumlah sampel yang sangat besar sekitar 600.000 orang Amerika,¬†jadi sampelnya cukup mewakili,¬†adalah ketika pendapatan orang dibawah 600.000 dollar per tahun…

CA: 60,000.

DK: 60.000. (Tertawa) 60.000 dollar pertahun, orang-orang kurang bahagia, dan makin miskin orangnya, secara progressif mereka jadi makin tidak bahagia Diatas itu, kita mendapatkan garis yang sangat rata. Maksud saya, saya jarang menemukan garis yang serata itu. Sudah jelas yang terjadi adalah uang tidak bisa membeli pengalaman bahagia,namun kurangnya uang sudah pasti membuat penderitaan, dan kita dapat mengukur penderitaan itu dengan sangat-sangat jelas. Tetapi dalan konteks diri yang lain, sisi yang mengingat kita mendapatkan cerita yang berbeda. Semakin banyak uang yang kalian hasilkan semakin kalian merasa puas. Namun hal itu tidak berlaku terhadap emosi.

CA: Tapi Danny, seluruh usaha orang Amerika adalah mengenai kehidupan, kebebasan dan mengejar kebahagiaan. Bila orang-orang menanggapi serius temuan tersebut, maksud saya, sepertinya akan membalikkan semua yang kita percaya, sebut saja, kebijakan pajak, dll. Apakah mungkin beberapa politisi, sebagian besar penduduk, akan menganggap serius temuan itu dan menjalankan kebijakan publik berdasarkan hal tersebut?

DK: Kalian tahu saya pikir sudah ada yang mengakui mengenai peranan penelitian kebahagiaan dalam kebijakan publik. Pengakuan ini akan lambat di Amerika, pastinya, tapi di Inggris, hal ini sedang terjadi, dan di negara-negara lain juga sedang terjadi. Masyarakat mulai mengakui mestinya mereka lebih memikirkan tentang kebahagiaan ketika mereka berpikir tentang kebijakan publik. Akan memakan waktu, dan masyarakat akan berdebatapakah mereka mau mempelajari pengalaman kebahagiaan, atau mereka mau mempelajari evaluasi kehidupan, jadi kita perlu untuk melakukan debat itu dalam waktu dekat,Bagaimana meningkatkan kebahagiaan, caranya akan sangat berbeda tergantung pada bagaimana kita berpikir, dan apakah kita bertolak dari sisi yang mengingat atau bertolak dari sisi yang mengalami. Hal ini saya kira akan mempengaruhi kebijakan dalam beberapa tahun kedepan. Di Amerika, upaya-upaya sedang dilakukan untuk mengukur kebahagiaan yang dialami oleh populasi yang ada. Dalam beberapa dekade kedepan, hal ini menurut saya akan menjadi bagian dari statistik nasional.

CA: Jadi bagi saya, hal ini akan atau paling tidak mestinya menjadi, diskusi kebijakan yang paling menarik untuk diikuti untuk beberapa tahun kedepan. Terima kasih banyak sudah menciptakan ekonomi perilaku. Terima kasih Danny Kahneman.

Pendapat:

Menurut saya pemikiran Daniel akan sangat berguna dalam proses kerja pengawasan perbankan termasuk motif perilaku kaum banker dan kemungkinan dalam kesadaran melakukan fraud.

Pidato Gubernur Bank Indonesia di Acara Perpisahan dengan Pegawai Bank Indonesia Yang Ditempatkan di Otoritas Jasa Keuangan


SAMBUTAN GUBERNUR BANK INDONESIA UPACARA KHUSUS DALAM RANGKA PENUGASAN PEGAWAI BANK INDONESIA KE OTORITAS JASA KEUANGAN
20 Desember 2013
Yang Kami hormati,
Deputi Gubernur Senior dan Anggota Dewan Gubernur
Asisten Gubernur
Para Pimpinan Satuan Kerja di Kantor Pusat dan di Kantor Perwakilan
Dalam Negeri
Para Pegawai Bank Indonesia yang kami cintai dan kami banggakan,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salam Sejahtera
untuk kita semua.
1. Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa, karena hanya atas perkenan-Nya kita semua bisa hadir dalam kesempatan dan suasana yang baik ini. Pada pagi hari ini, kita tidak hanya akan meneguhkan tekad kita untuk membangun Indonesia yang lebih baik, namun juga menyampaikan rasa bangga kepada para pegawai yang akan mengemban tugas khusus membangun perekonomian dan sistem keuangan Indonesia yang lebih tangguh.
Anggota Dewan Gubernur dan Para Pegawai yang kami cintai,

2. Sebagaimana lembaga pemangku kebijakan publik lainnya, Bank Indonesia memiliki keunikannya tersendiri dalam keseluruhan
kontinuum kebijakan publik di negeri kita. Bank Indonesia adalah salah satu lembaga utama penyedia tiga pilar stabilitas yang menjadi penopang dan elemen-elemen penyinambung (elements of continuity) proses pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

3. Tiga pilar stabilitas tersebut adalah: (a) stabilitas nilai rupiah, (b) industri perbankan yang sehat dan tangguh sebagai penopang
stabilitas sistem keuangan, dan (c) sistem pembayaran modern yang lancar, aman, cepat dan murah untuk mendukung kegiatan transaksi dalam perekonomian.

4. Kami dapat mengatakan bahwa upaya untuk mewujudkan berbagai aspirasi yang terkandung dalam mandat tadi telah membuahkan hasil-hasil yang sangat penting, yang telah turut menjaga momentum kesinambungan pembangunan perekonomian nasional. Hasil-hasil tersebut telah diperoleh dalam semangat kemandirian pelaksanaan tugas, sesuai arah dan langkah yang selaras dengan kepentingan masyarakat.

5. Oleh karenanya pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan apresiasi pada seluruh jajaran di Bank Indonesia, yang telah
memberikan kerja dan karsa terbaiknya, serta menunjukkan kualitasnya sebagai first rate professionals yang mandiri dalam
berpikir, dan senantiasa mengambil keputusan yang mendahulukan kepentingan masa depan rakyat dan negerinya.
Anggota Dewan Gubernur dan para pegawai yang kami banggakan,

6. Perwujudan kongkrit dari hasil dharma bhakti dan profesionalisme yang terus dipupuk di jajaran Bank Indonesia antara lain tampak pada kinerja sistem perbankan yang membesarkan hati. Hari ini, tigapuluh tahun sejak era perbankan modern dimulai, Indonesia sudah memiliki sistem perbankan yang dapat dipersandingkan dengan negara-negara lain di Asia. Indonesia kini memiliki bank-bank yang memiliki ketahanan tinggi dan mampu mendukung perekonomian nasional dengan pembiayaan yang beragam, untuk memfasilitasi aktivitas ekonomi dan bisnis di semua lapisan masyarakat.

7. Kita bersama-sama juga menyaksikan bagaimana lembaga perbankan secara efisien mengalirkan likuiditas kepada kegiatan produktif dan masyarakat hingga di pelosok pedesaan. Itu semua adalah bukti nyata dari pengabdian para pemeriksa dan pengawas bank, serta para cendekia perumus kebijakan perbankan, sebagai putera-puteri terbaik
Bank Indonesia.

8. Namun demikian, kita tidak boleh berhenti hanya sampai disini dan berpuas diri serta terlena dengan segala pencapaian tadi. Pengabdian masih harus terus berlanjut. Masih banyak yang harus dilakukan untuk memperbaiki modal dasar perekonomian, agar akselerasi pembangunan ekonomi dapat direalisasikan. Sebagai pengawal sistem perbankan nasional, masih banyak kerja yang harus kita lakukan untuk perumusan strategi pengembangan sistem, produk, teknologi, jaringan dan layanan perbankan serta sistem keuangan lainnya.

9. Keahlian pegawai Bank Indonesia untuk melakukan pengaturan dan pengawasan bank tidak ada yang meragukan lagi. Berbagai
pengakuan dari komunitas bank sentral dan lembaga keuangan internasional telah membuktikan prestasi dan keunggulan itu. The
Asian Bankers pada tahun 2012 telah menobatkan Bank Indonesia sebagai The Best Systemic and Prudential Regulator . Bahkan hasil Financial Sector Assesment Program yang dilakukan World Bank dan IMF di tahun 2012 menyimpulkan bahwa Bank Indonesia telah secara efektif melakukan perbaikan pada sistem perbankan paska krisis 1997/1998.

10. Selain keberhasilan dan pengakuan dunia internasional diatas, kita pernah pula mengalami peristiwa dan catatan yang kurang
menggembirakan, ketika harus melakukan penutupan maupun penyelamatan bank bermasalah. Namun demikian, kami meyakini
bahwa hal ini bukanlah karena sistem pengawasan yang kurang tertata. Tidak ada satu sistem pengawasan pun di dunia ini yang
dapat menjamin tidak adanya bank bermasalah. Pengawasan bank oleh Bank Indonesia adalah garda kedua, sementara faktor manajerial dan governance serta komitmen pemegang saham merupakan garda terdepan, sekaligus faktor penentu kelangsungan usaha bank. Anggota Dewan Gubernur dan Para Pegawai yang kami cintai,

11. Beberapa hari lagi kita akan bersama-sama menyaksikan hari bersejarah bagi Republik Indonesia, khususnya di sistem keuangan. Pada 31 Desember 2013 nanti, fungsi, tugas, dan kewenangan pengaturan dan pengawasan mikroprudensial bank akan beralih dari Bank Indonesia kepada Otoritas Jasa Keuangan.

12. Disini ada dua tantangan yang mengemuka. Pertama, bagaimana agar proses pengaturan dan pengawasan bank dapat terus berjalan baik dan tidak menjadi terganggu dengan adanya pengalihan tersebut. Kedua, bagaimana agar fungsi, tugas, dan kewenangan Bank Indonesia lainnya tetap dapat berjalan efektif paska pengalihan diatas.

13. Ketika pengalihan sudah efektif dilaksanakan, tentunya kita tidak menginginkan sistem pengawasan yang selama ini dibangun dan diakui oleh dunia internasional menjadi tidak optimal, karena tidak tertangani dengan baik. Putera-puteri terbaik Bank Indonesia harus turun tangan mengawal dan menjaga kelangsungan pengawasan bank, serta mengembangkannya untuk menjadi lebih baik lagi, dan terintegrasi dengan pengawasan sektor jasa keuangan lainnya.

14. Selain itu, putera dan puteri terbaik Bank Indonesia yang mengemban tugas di Otoritas Jasa Keuangan juga diharapkan dapat memfasilitasi sinergi kerjasama antar otoritas, untuk memastikan masing-masing lembaga dapat menjalankan fungsi, tugas, dan kewenangannya secara efektif. Termasuk dalam hal ini adalah kelancaran koordinasi pengawasan makro-mikroprudensial antara Bank Indonesia dengan Otoritas Jasa Keuangan.

15. Ibarat sebuah permata yang akan tetap berkilau dimana pun permata itu berada, kami meyakini hal tersebut juga akan tampak pada pegawai Bank Indonesia yang akan bertugas di Otoritas Jasa Keuangan. Etos kerja, kompetensi, dan keahlian mengawasi bank yang selama ini ditempa, merupakan modal utama yang melekat kepada setiap pengawas bank dan akan terus menjadi kilau yang bersinar dimana pun mengabdi dan bertugas. Para Pegawai Bank Indonesia yang kami cintai dan kami banggakan,

16. Dimana pun kita mengabdi dan melaksanakan tugas, ingatlah bahwa pada akhirnya kita masih anak bangsa yang sama, dengan cita-cita kebangsaan yang juga sama. Dimanapun kita mengabdi, kita tetap melangkah di bumi Indonesia yang sama, menghirup udara Indonesia yang sama, menghidupkan spirit satu Indonesia yang sama, dan mempersembahkan pengabdian kepada rakyat dan bangsa yang sama.

17. Oleh karena itu, kepada para pegawai yang dipercaya untuk mengawal kelangsungan pengaturan dan pengawasan bank, serta
mereka yang berkontribusi di shared function Otoritas Jasa Keuangan, kami berpesan untuk terus menunjukkan kualitas terbaik
dalam bekerja. Tidak perlu ragu, bimbang, dan ada kekhawatiran mengenai penugasan ini. Laksanakan dan jalankan tugas di Otoritas Jasa Keuangan sepenuh hati dan dengan tekad bulat, membawa nama baik Bank Indonesia.

18. Bawalah rasa kebanggaan lembaga ini, sebagai bekal keyakinan untuk membuktikan keutamaan keahlian putera dan puteri terbaik Bank Indonesia di tempat tugas yang baru. Kerja keras dan kerja cerdas untuk membuat sistem perbankan dan keuangan yang efisien, sehat, dan govern, tidak boleh berhenti.

19. Bank Indonesia akan berbesar hati jika kemudian ada pegawainya yang dalam penugasan merasa terpanggil dan memilih untuk terus memberikan kontribusi terbaik kepada negara, bangsa, dan masyarakat melalui Otoritas Jasa Keuangan. Kami juga akan merasa bangga dan tersanjung jika ada pegawai dalam penugasan yang mendapatkan kepercayaan penuh dari Otoritas Jasa Keuangan dan diminta untuk melanjutkan pengabdian di lembaga tersebut. Hal ini merupakan pengakuan atas kredibilitas, kompetensi, dan keahlian sebagai pengawas yang sudah terbangun selama ini di Bank Indonesia.

20. Akhir kata, kami atas nama Dewan Gubernur dan seluruh pegawai Bank Indonesia mengucapkan selamat kepada Saudara/Saudari yang akan menunaikan tugas negara di Otoritas Jasa Keuangan. Kami percaya kehormatan dan nama baik Bank Indonesia akan senantiasa dijaga dalam setiap kerja dan karsa, dimana pun berkarya. Mudah-mudahan semua yang kita lakukan untuk kemajuan negara, bangsa, dan masyarakat diridhoi Tuhan Yang Maha Kuasa, dan kita semua diberikan kekuatan untuk menjalaninya. Amiin.
Billahittaufik WalHidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh.
Gubernur Bank Indonesia
Agus D.W. Martowardojo