Bundar Bulat Itu Ibu Saya


Jika diperhatikan, bentuk tubuh ibu saya makin bulat saja. Alhamdulillah.

padahal setahun yang lalu, beliau masih agak kurusan, pasca operasi tulang belakang dan dipasang semacam pen dari titanium di ruas tulang belakangnya.

Sebelum operasi, Untuk sholat harus duduk, sujud mana bisa. Tidur harus pakai kasur keras, bahkan pakai triplek, agar selama tidur tulang belakangnya tidak menekuk.
Kata dokter ruas keberapa dari tulang ekornya remuk. Akibat penuaan dan kecelakaan di tahun 2002.

Untung saja Ibu saya mau dibujuk untuk operasi tulang belakang. dipasang pen, dengan penanganan dokter syaraf, dokter tulang dan dokter lainnya. Saya tidak tahu pasti dokter apalagi yang ikut menanganinya.

Sekarang, sholat bisa sewajarnya, bahkan renang pun sudah bisa seperti apollo, ulang alik kesana kemari tanpa henti. Tapi tetap saja, tulang sepuh harus tetap dijaga. belia masih disangga sabuk kesehatan yang dibeli di Ungaran sana, dan harus banyak istirahat.

Efek lain pasca operasi ia menjadi kembali pada hobi lamanya: ngemil dan ngemol. maka,…

yang bulat dan bundar itu adalah ibuku.
bukan hanya topi saya…

Sent from my iPad

Iklan

Sugesti Diri


Dalam ilmu kedokteran, konon katanya ada yang dinamakan dengan efek placebo, yang konon katanya sugesti diri yang positif dari pikiran kita adalah obat mujarab dari kesembuhan tubuh. Pikiran yang sehat membuat tubuh sakit menjadi pulih. Demikian kira-kira.

Lantas, untuk tujuan semacam itulah saya aktifkan blog saya yang pernah dibuat namun belum pernah ada posting tulisan sama sekali di pria masa kini (http://priamasakini.wordpress.com/) untuk saya jadikan blog sugesti diri.

Blog Pria masa kini bukan berisi gambar perempuan masa kini berbikini. Ini adalah blog yang menganut paham project #365 yang mana berusaha akan menampilkan satu tulisan setiap hari sehingga genap satu tahun akan komplit berjumlah 365. Isinya sederhana: Saya berhenti merokok. Itu saja. Idealnya sih setiap saya teringat dan tergoda untuk merokok, saya akan posting satu tulisan singkat untuk terus bertahan dari godaan rokok.

Bukan masalah gagal, jadi, tidak jadi namun upaya. Semoga dengan adanya blog ini saya bisa lebih terdorong untuk segera berhenti merokok (lagi) supaya bisa dijuluki kedua anak saya seorang ayah masa kini.

Demikian
Selamat malam.

Sent from my iPad

Gudang Century


di kolom ini akan dibuat secara berderet dan berturutan semua hal tentang century dan antaboga dan semoga akan diupdate setiap ada tulisan bagus.

semata-mata demi arsip belaka.

 

(1) sumber http://masyarakatjalantolindonesia.blogspot.com/2009/09/kasus-century-berawal-dari-antaboga.html

KASUS CENTURY BERAWAL DARI ANTABOGA, Bapepam-LK Harus Bertanggung Jawab

Badan Pengawas Pasar Modal – Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) harus ikut bertanggung jawab atas kasus Bank Century. Sebab, kolapsnya bank tersebut berawal dari penerbitan discretionary fund oleh PT Antaboga Delta Sekuritas yang dimiliki keluarga Tantular.

Discretionary fund adalah kontrak pengelolaan dana (KPD) antara nasabah dan manager investasi (MI). Dalam kasus Century, dosa Bapepam-LK adalah membiarkan perusahaan sekuritas menjual produk discretionary fund yang ternyata bodong. Selain itu, investor publik tidak memperoleh informasi memadai terkait skandal Century, padahal bank tersebut adalah listed company.

Hal itu diungkapkan pengamat hukum pasar modal Indra Safitri, praktisi hukum Ery Yunasri, ekonom Indef Iman Sugema, dan Ketua Masyarakat Investor Sekuritas Indonesia (Missi) Nyak Dan Murdani di Jakarta, akhir pekan lalu.

“Bapepam tidak boleh lepas tangan, karena Antaboga selaku manajer investasi mendapat izin dan di bawah pengawasan Bapepam. Apalagi Bank Century juga merupakan perusahaan terbuka,” tegas Indra Safitri kepada Investor Daily.

Sementara itu, Iman Sugema mengatakan, kolapsnya Bank Century berawal dari gagal bayar discretionary fund Antaboga yang dipasarkan melalui Bank Century. Sejak itu, kepercayaan nasabah runtuh dan mereka ramai-ramai menarik dana dari Bank Century sehingga bank tersebut kolaps.

“Kasus Century merupakan kesalahan berjamaah,” kata dia. Tak hanya Bank Indonesia (BI), Menteri Keuangan, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang “berdosa” karena memutuskan penyelamatan bank tersebut sehingga berpotensi merugikan negara triliunan rupiah, tetapi juga Bapepam-LK. Sebab, kolapsnya Bank Century berawal dari lemahnya pengawasan Bapepam-LK atas manajer investasi, yakni PT Antaboga Delta Sekuritas.

Ketika dikonfirmasi tentang hal itu, Ketua Bapepam-LK Fuad Rahmany mengatakan, penjualan produk investasi oleh Antaboga Delta Sekuritas melalui Bank Century bukan merupakan tanggung jawab otoritas pasar modal. Pasalnya, produk tersebut diperjualbelikan di Bank Century dan bukan Antaboga. “Jadi ini bukan tanggung jawab Bapepam-LK,” kata dia.

Menurut Fuad, produk yang dijual Antaboga tersebut bukanlah produk reksa dana melainkan discretionary fund. Produk tersebut juga bukan merupakan produk investasi yang pernah mendapat peringatan dari Bapepam-LK pada 2005. Dia menilai, produk investasi yang telah menampung dana sebesar Rp 1,4 triliun dan diperjuabelikan di Bank Century merupakan produk palsu.

Fuad mengaku pihaknya tidak dapat memproteksi nasabah Bank Century, karena otoritas pasar modal hanya melindungi para pemegang saham perseroan. “Kami sudah melakukan semuanya, meminta report, laporan keuangan, dan pelaporan aksi korporasi ataupun suspensi ketika ada masalah,” tandas dia.

Pengawasan Lemah

Iman Sugema menegaskan, sudah menjadi rahasia umum bahwa pengawasan Bapepam-LK sangat lemah. Ini tercermin dari banyaknya kasus di pasar modal, mulai dari transaksi repo, produk derivatif, hingga kasus Sarijaya Sekuritas.

Dalam kasus Antaboga, kata dia, Bapepam – LK semestinya memberikan early warning kepada investor bahwa produk yang dipasarkan Bank Century itu bukan produk pasar modal. Namun, Bapepam tidak bertindak apapun hingga akhirnya masyakarat tertipu dengan total kerugian sekitar Rp 1,4 triliun.

Kisruh produk Antaboga berawal pada Agustus 2008, ketika pegawai customer service Bank Century menawarkan pengalihan dana di rekeningnya untuk diinvestasikan ke salah satu produk Antaboga dengan iming-iming bunga 13% dalam tiga bulan. Sebagai bukti investasi, para nasabah hanya diberi selembar kertas sertifikat berwarna coklat, berlabelkan tulisan discretionary fund di pojok kanan atas.

Pada pertengahan November 2008, direksi Antaboga mengeluarkan surat edaran tentang waktu jatuh tempo redemption. Direksi Antaboga meminta para nasabah memperpanjang redemption seluruh produk investasi hingga beberapa bulan lagi. Dengan rincian, 10% akan dibayar pada bulan pertama, 40% bulan ketiga, dan sisanya akan dibayarkan enam bulan kemudian.

Pengumuman ini menimbulkan kecurigaan para nasabah bahwa discretionary fund Antaboga tidak beres sehingga redemption besar-besaran pun tak terhindarkan dan akhirnya gagal bayar.

Menurut Indra, meskipun discretionary fund Antaboga tidak mendapat izin dari Bapepam, otoritas pasar modal ini tidak bisa lepas dari tanggung jawab. Pasalnya, setiap perusahaan efek dan manajer investasi wajib menyampaikan laporan keuangannya kepada Bapepam. “Dalam konteks Antaboga saat ini, Bapepam setidaknya ikut membantu bagaimana caranya mengembalikan dana nasabah,” ujar Indra.

Untuk ke depannya, Bapepam seharusnya mencermati laporan berkala dari setiap manajer investasi. Tidak hanya reksa dana, juga produk KPD yang banyak dijual MI. Pengawasan secara ketat itu sangat penting supaya tidak menimbulkan kasus penggelapan dana nasabah.

Hal serupa juga ditegaskan Ery Yunasri. Menurut dia, Bapepam dapat menjerat Antaboga dengan Undang-Undang (UU) Pasar Modal yang mengatur tentang penggelapan dana nasabah perusahaan efek atau manajer investasi. “Saya dengar, Bapepam sedang melakukan penyidikan secara khusus,” kata dia.

Merugikan Masyarakat

Sementara itu, Ketua Masyarakat Investor Sekuritas Indonesia (Missi) Nyak Dan Murdani mengatakan, kasus Bank Century Tbk dan PT Antaboga Delta Sekuritas merupakan contoh terkini kejahatan para pengelola emiten dan MI atau sekuritas yang merugikan pemegang saham publik. “Sampai sekarang para pemegang saham publik Bank Century tidak jelas nasibnya,” ujarnya.

Padahal, menurut dia, pemegang saham publik harus mendapat prioritas perlindungan dari otoritas pasar modal dan otoritas bursa. Berlarut-larutnya kasus Bank Century dan Antaboga, kata Murdani, harus menjadi pendorong pembentukan lembaga penjamin dana investor (investor protection fund/IPF). “Dalam kasus ini kan investor dirugikan akibat kejahatan pihak-pihak tertentu di pasar modal, bukan akibat naik-turunnya harga saham,” ucapnya.

Murdani mengatakan, Bapepam-LK dan pihak-pihak berwenang lainnya, seperti BI seharusnya bisa segera menyelesaikan kasus Bank Century dan Antaboga.

Dari Surabaya dilaporkan, para nasabah korban penipuan Bank Century terus memperjuangkan hak mereka, yakni menuntut pengembalian dana yang disimpan di bank tersebut. Mereka juga menuntut siapa pun yang bertanggungjawab atas penggelapan dana di Bank Century, apakah pemegang saham atau pejabat terkait, diberi ganjaran setimpal.

Koordinator Nasabah Korban Penipuan Bank Century Cabang Surabaya Edo Abdurahman, dan dua nasabah Bank Century, Doni Sentanu dan Sri Gayatri mengatakan hal itu kepada Investor Daily, Sabtu (12/9).

Menurut Edo, sampai saat ini belum ada satu pun nasabah yang menerima dana pengembalian dari Bank Century. Jumlah nasabah di Surabaya sekitar 500- 600 nasabah dengan total dana sekitar Rp 600-700 miliar.

Edo menyayangkan sikap pemerintah yang lebih mementingkan deposan besar, yang dikabarkan bisa mengambil dana hingga Rp 2 miliar. Sementara dirinya dan kawan-kawan sangat sulit mendapatkan kembali dana yang mereka simpan di Bank Century..

Doni Sentanu, nasabah Bank Century Cabang Kertajaya Surabaya, mengaku bingung harus menuntut kemana atas dana depositonya senilai Rp 100 juta di bank tersebut. Pasalnya, antara Bank Century dan Antaboga justru saling tuding. Padahal, proses pembuatan dan pencetakan bilyet deposito senilai Rp 100 juta di Bank Century tersebut dibuat di bank itu, bukan di Antaboga.

Sementara, Sri Gayatri, akan menggelar aksi demo sampai dananya kembali. Sri menjadi nasabah Bank Century sejak 2004 dengan menyetor dana Rp 2,7 miliar rupiah dalam bentuk deposito dengan bunga 13% per tahun. Namun sejak Mei 2008 hingga kini Bank Century tidak lagi membayar bunga.(jau/az/ls)

14/09/2009 23:55:11 WIB
Oleh Amrozy dan Deviana Chuo
JAKARTA, INVESTOR DAILY
http://www.investorindonesia.com/index.php?option=com_content&task=view&id=69094&Itemid=

Biar Tidak Lupa


Berikut ini daftar repository berbahasa Indonesia dan sebagian masih asing. Untuk Indonesia semuanya dari lingkungan akademik (universitas dan institut) dan satu organisasi masyarakat.

Masih kasar, tapi sebagai pengingat bagi admin saja, bahwa ada pekerjaan rumah untuk melakukan kajian atas beberapa repository berbahasa Indonesia ini.

http://eprints.undip.ac.id/

http://kambing.ui.ac.id/

http://dublincore.org/

http://repository.usu.ac.id/

http://www.dspace.org/

http://repository.usu.ac.id/

http://eprints.undip.ac.id/

http://eprints.uny.ac.id/

http://whoindonesia.healthrepository.org/

http://repo.ugm.ac.id/

http://ftp.itb.ac.id/

Tuna Nikmat, Tuna Harga Diri.


Kamu tahu slideshare.com sepertinya, situs yang menawarkan diri menjadi media berbagi tayanan, powerpoint atau dokumen dalam bentuk slide. Tim slideshare digawangi oleh pendirinya yaitu seorang perempuan muda yang berasal dari India dan telah menetap di San Fransisco Amerika: “Rashmi”. Dia  memiliki gelar PhD dalam keilmuan  “Cognitive NeuroPsychology”.

Menurut wikipedia:

adalah cabang dari psikologi kognitif yang bertujuan untuk memahami bagaimana strukturdan fungsi otak berkaitan dengan proses psikologis tertentu. Ini menempatkan penekanan khusus  mempelajari efek kognitif dari cedera otak atau penyakit neurologis dengan maksud untuk menyimpulkan model fungsi kognitif yang normal. Bukti didasarkan pada studi kasus pasien mengalami kerusakan otak individu yang menunjukkan defisit di daerah otak dan dari pasien yang menunjukkan dissociations ganda. Dari penelitian tersebut peneliti menyimpulkan bahwa area otak yang berbeda sangat spesifik. Hal ini dapat dibedakan dari kognitif neuroscience yang juga tertarik pada pasien rusak otak, tetapi  mengutamakan keilmuan yang  mengungkap mekanisme saraf yang mendasari proses-proses kognitif.

Saya tidak tahu pasti apa arti dai cabang ilmu tadi hingga sampai dipelajari dan mendapat gelar PhD. Tapi yang membuat saya menarik adalah bahwa persoalan psikologi akan terus berkembang dan sangat menarik untuk dipelajari terus menerus di masa yang akan datang.

Bagi ilmu sosial psikologi mengambil peranan penting terhadap perilaku massa maupun individu. Terlebih dengan kondisi kehidupan yang semakin kompetitif, individualis, dan konsumtif. Pasar terus menggempur benak kita untuk melahap seluruh bujuk rayu tas nama gengsi, kebutuhan masa datang, investasi dan segala tetek bengek lainnya.

Efeknya adalah perilaku setiap individu semakin unik dan variatif, namun lucunya semakin sensitif. Individu ingin menjadi unikum yang lain daripada yang lain, namun sekaligus sadar akan trend, mode, gengsi, dan penggiringan perilaku ekonomi yang menjadikan setiap individu menjadi gembala kapitalisme.

Mereka hedonis? Burukkah hedonis? Belum tentu. Sepertinya gaya hidup hedoni pengaruhnya hampir sama dengan gaya hidup asketik yang mengalpakan diri dari ranah duniawi. Sama-sama ekstrim. sama sama berada di pucuk bandul sikap hidup. ekstrim.

Hal ini sangat berkaitan erat dengan pekerjaan utama saya sehari-hari sebagai investigator.

Banyak kejadian perilaku menyimpang terkait dengan dunia perbankan adalah soal gaya hidup. Pelaku kejahatan perbankan dikategorikan sebagai kejahatan white collar crime. Kejahatan yang dilakukan oleh orang necis, parlente, berdasi, wangi dan terhormat. Namun mereka tuna nikmat. Manusia-manusia yang tak penah mengenal kata puas. Lagi. lagi dan lagi.

Entah apa yang ada di benak mereka ketika mereka tidak lapar, mereka tidak bodoh, dan mereka mengaku takut Tuhan, namun dengan sadar melakukan banyak hal yang sesungguhnya adalah perbuatan curang. Sistem yang telah dibuat sedemikian rupa dicar-cari kelemahannya. Dengan kepandaiannya, mereka berpikir bahwa apa yang dilakukannya tidak salah tapi benar. Siapa yang salah? Mereka yang membuat aturan: “kenapa masih bisa kebobolan?”. Saya melakukan bukan karena saya salah, tapi saya dapat mencari jalan yang membuat sistem membolehkan dan tidak ketahuan. Mereka berpikiran seperti itu sementara waktu. Mereka pandai mencari pembenaran. Terang benderang bahwa pembenaran sudah pasti tidak benar yang dibenar-benarkan. Seperti justifikasi, sudah pasti sesuatu yang tidak adil namun dibuat seolah-olah adil. dan sesuai ketentuan.

Setahun yang lalu saya melakukan kursus kilat di Austin Texas yang diselenggarakan ACFE. Soal sederhana. Wawancara. Teknik mewawancarai. Mereka beri judul tingkat Advance. Masih kalah jauh dibandingkan tingkat dewa. Saya, investigator, masih belajar tingkat mahir, mereka, para pelaku sudah melakukannya dengan sedikit keahlian tingkat dewanya.

Para pelaku kejahatan perbankan adalah mereka yang memiliki ramuan dipercaya, pandai, berpengaru dan mempengaruhi dan memiliki akses di dalam tubuhnya.  Hanya orang-orang seperti itulah yang berhasil mengelabui pencatatan, mengelabui audit intern, mengelabui Tuhan.         dengan catatan: sementara waktu.

Pada akhirnya: adakalanya. kala titi mangsa. Ketika tiba waktunya, kebenaran akan muncul. walau desah lirih, kebenaran akan mencuat dan berkembang ke seluruh penjuru. Kesalahan akan terungkap.

Namun bagi mereka ini belum akhir segalanya. Ada cara lain untuk menolak kesaksian. Tidak mengaku. Putar otak sedikit, dan yang paling mudah menujuk batang hidung orang lain. Dunia memang adil. siapapun yang berusaha lebih gigih dan berani biasanya berhasil begitupun dengan usaha jahat.  apalagi ditambah nekat.

belum cukup: sewa pengacara. Jika perlu gugat orang yang menuduhnya. Tuhan tahu apa soal uang. begitu menurut mereka.

Jika ada mesin waktu, saya hanya ingin sedikit mengintip latar belakang budaya keluarga mereka, para pesakitan itu. apakah kurang kasih sayang orang tua, kurang perhatian, orang susah, kurang pergaulan, tidak kenal tuhan, ataukah memang tercipta sejak mereka dilahirkan, dengan pola pikir yang aduhai namun tanpa kesadaran untuk mengutamakan kebenaran, kebaikan, dan bukannya kenikmatan dan kemasyhuran.

Beberapa kali saya bertemu dengan banyak pelaku kejahatan perbankan. Mereka paham. mereka tahu. mereka ahli. tapi mereka lupa atau sengaja melupakan diri.

selamat sore.

Psikologis Suasana Kerja


Beberapa hari yang lalu, saya tidak masuk kerja selama 4 hari. Sakit. Faringitis akut dan gejala tipes, kata dua dokter yang memeriksa kondisi kesehatan saya.

Baru senin kemarin saya masuk. Tak diduga, beberapa karyawan lain juga ternyata sakit. Saya jadi bertanya-tanya, apakah kondisi fisik sangat dipengaruhi beban pekerjaan dan banyaknya pikiran yang berkecamuk?

Untuk sementara ini saya duga: Yes.

Berpikir sebetulnya menguras energi yang cukup banyak. Apalagi jika ditambah beban pekerjaan yang setiap hari bukannya berkurang, melainkan semakin bertumpuk. Stress? Belum sejauh itu tapi akan menuju ke arah sana.

Kesehatan itu Penting.

Katena terkalu penting, terkadang malah tidak dihayati. Beban pekerjaan yang menumpuk, jam kerja yang berlebihan, terlambat makan, kurang minum, posisi duduk yang salah, suasana kerja yang kurang menyenangkan bisa menjadi pemicu dan faktor utama seorang karyawan banyak pikiran.

Maka dari itu, sepertinya kita harus menata ulang cara kerja kita agar lebih efektif. Juga menghilangkan kebiasaan buruk untuk habiskan waktu untuk mengobrol dan diobrol.

Suasana kerja harus dibuat sedemikian rupa sehingga para karyawan betah. Jangan lupa persoalan sosial yang berkecamuk. sistem promosi dan mutasi dapat menimbulkan perpecahan jika tidak dilakukan secara hati hati.

mirip pahala dan dosa.
karyawab bagus, beri penghargaan. karyawan rusuh, ya kenakan sanksi saja. mudah bukan?

Sent from my iPad

WordAds. Gebrakan Baru WordPress.


Lama para blogger menunggu kapan saatnya wp melakukan gebarakan untuk memberikan ruang iklan bagi blog dengan platform wp miliknya, seperti halnya AdSense yang telah lama dilakukan google dengan blogspotnya.

Akhirnya, kemarin pengumuman itu datang. silahkan cek di sini:

http://en.blog.wordpress.com/2011/11/29/wordads/

Tapi.

Setelah saya cek, wordAds ditawarkan bagi para pemilik akun wp yang membeli domain pada wp. iya sih. kopidangdut.org ini termasuk yang masuk dalam hitungan ini. namun bagi kamu yang masih menggunakan wordpress.com dan belum gunakan fasilitas berbayar, sepertinya ini elum dapat dilakukan dan ditawarkan.

 

Kita tunggu saja kabar baiknya.

 

Sastra Versus Budaya


 

 

Hari itu seperti  hari biasanya, saya dan beberapa teman nongkrong ganteng di warung burjo kabita, entah cabang keberapa di Daerah lempong sari Sleman. Kira-kira musim semi di tahun 1999, saat saya berdiskusi santai dengan salah satu dosen Universitas Proklamasi Jogja, saya lupa nama lengkapnya, namun yang sedikit saya ingat saya selalu memanggil dengan nama Mas Hendar.

Kami berselisih pendapat mengenai apakah penggunaan kata Fakultas Budaya merupakan tanda kemajuan bagi sebuah universitas?  Mas Hendar berpendapat bahwa penggunaan istilah Budaya adalah langkah  mundur dari lembaga pendidikan, dibandingkan dengan menggunakan kata Sastra.  Ia lebih memilih Fakultas Sastra dibandingkan Budaya. Lebih impresif, menurutnya.

“Sastra itu sejarah Mas. Budaya itu pra-sejarah”, katanya.

Saya menyangkal: “Budaya itu Negara, sastra itu provinsi”.

“Nah, permasalahannya  adalah provinsi mana, DKI Jakarta atau Papua? Berapa banyak novel, puisi, literatur lainnya yang berasal dari Papua, berlandaskan budaya Papua atau setidaknya manusia Indonesia berdarah Papua”, tanyanya.

Saya diam, tapi sambil ngunyah indomie.

Entah kenapa akhirnya kami meluaskan permasalahan dari perkara budaya dan sastra, menuju perkembangan budaya setiap jengkal wilayah nusantara. Kami bicara siapa sastrawan batak. Apa bedanya budayawan dan sastrawan, mengapa Jawa lebih banyak melahirkan pengarang dibandingkan wilayah Kalimantan, misalnya. Terus-dan terus banyak saling bual di anatara kami. Hingga secangkir kopi tak bersisa lagi.

Saat itu Arundhati Roy sedang naik daun.

“Lihat itu anak muda si Roy, lihat novelnya yang bicara budaya India, dengan bahasa Inggris, ditulis di luar negaranya, dan kisahnya sungguh mengakar mengenai budaya India. Ini lah sastra. Sebuah langkah sofistikasi, memuliakan, mencanggihkan sebuah budaya. Bukan lagi budaya natural yang jebrol langsung kita nunut. Ia dimodifikasi, diberi tambahan personifikasi dari individu yang mengapresiasikan budaya itu, menjadi sastra. “

“Jadi novelnya Roy ini sastra India apa sastra Inggris?”, tiba-tiba teman saya nyeletuk.

Kami berdua akhirnya bingung sendiri. Jika twitter sudah lahir, mungkin saya bisa menghemat Rp.7000 untuk semangkok indomie goring telor, secangkir kopi dan dua batang kretek.

merokok, brainstorming, crowdsoucing atau mediaide


http://mashable.com/2011/08/25/dell-brand-suggestion-box/

coba deh kamu baca tulisan yg link-nya aku tulis di atas.

inspirasi, ide, untuk terus berkembang itu, terutama ide yang baik, adalah sesuatu yang lumrah, namun yang tidak lumrah adalah bagaimana orang-orang berusaha dengan sekuat daya upaya menciptakan ide tersebut.

hal ini aku alami sendiri setelah beberapa minggu ini coba ikut berperan menjadi kontributor peneroka.com yang mana setiap harinya aku berusaha menulis di situs tersebut berupa tulisan feature dan susahnya minta ampun walaupun hanya 5 -7 paragrap panjangnya.

orang jaman dulu, pake alesan cari ilham dengan merokok, ngelamun, atau apapun itu yang sekiranya dapat memunculkan ide tulisan atau ide karya lainnya.

kayaknya sih itu uda enggak jaman ya?

sekarang orang mengumpulkan ide dengan menampung ide ide tersebut secara apik dan terkelola dengan baik. mirip kotak suara, bedanya ini merupakan sumbang saran yang dapat ditindaklanjuti menjadi karya.

kalau seno gumira ajidarma sih enak. dia bilang bahkan daun jatuh pun bisa menjadi kalimat dan jika dikembangkan malah bisa jadi cerpen. jika ada kemauan yang kuat, berawal dari melihat daun jatuh bisa jadi novel!

tapi itu kan dia, yang idenya mungkin segudang.

bagi saya melihatnpercakapan ringan, tayangan iklan, melihat wajah orang lalu lalang bisa memanggil ide untuk muncul.

namun masih terasa sulit untuk mengubah banyaknya ide untuk dikembangkan menjadi karya yang “sesuatu” dan butuh energi serta kesabaran yg luar biasa.

Sent from my iPad

Moral Hazard Penjaminan LPS


LPS muncul menjamin simpanan masyarakat. Walau tidak terapkan blanket guarantee moral hazard masih saja membayangi manakala fee yang dibebankan pada masing-masing bank tidak berdasarkan pada faktor risiko.

Idealnya fee atau sebutlah asuransi bagi dana pihak ketiga yang dikelola nasabah, harus diperhitungkan seperti asuransi pada umumnya, yaitu dengan logika bahwa bank yang sehat akan membayar fee lebih kecil, mempertimbangkan faktor risiko bank tersebut bermasalah lebih kecil.

Jika bank kecil dengan peer group kelas anak bawang dibebankan fee yang lebih besar, apakah tidak memberatkan bank tersebut?

tidak!

setiap bank harus berjuang untuk meningkatkan kinerjanya dan terus menumbuhkan rasa percaya bagi nasabah sehingga faktor risiko berdasarkan tingkat kesehatan bank dapat diperbaiki. setiap bank bergulat dengan nasibnya sendiri.

Tentu saja ini masih terkendala dengan monopoli data tingkat kesehatan bank yang hanya dimiliki oleh Bank Indonesia selaku otoritas perbankan. Rahasia? Ya. Akan jauh lebih mulia jika ada koordinasi dan perjanjian NDC antara BI dan LPs mengenai tingkat kesehatan bank sehingga LPS dapat secara cermat dan akurat memberikan nilai fee atas simpanan masyarakat pada masing-masing bank.

Untungnya hingga saat ini bank yang dikategorikan too big to be fail, dan memiliki dampak signifikan jika bermasalah masih “terkesan” adem ayem. Mereka rela nilai rapot bagusnya disamaratakan dengan bank kecil yang masih dengan gaya lama, manajemen kuno, asas kekeluargaan dan berisiko tinggi.

apalagi jika menengok keberadaan BPR (rural bank), yang seakan-akan memiliki suatu jaminan bahwa apapun kejadiannya, dana simpanan masyarakat akan dijamin LPs selama bunga simpanan dan jumlah simpanan sesuai ketentuan LPS.

Ini sama saja antara perokok dan pria yang hidup sehat membayar nilai polis yang sama.

Perlu ada keberanian untuk mengubah cara ini.

Sent from my iPad

Apakah Rekrutmen Bank Indonesia Sudah Baik?


APa pendapat kamu?

Ini pendapat saya, sebagai salah satu otokritik:
1. Pada dasarnya sudah baik dengan mengumumkan penerimaan karyawan melalui media nasional sehingga secara luas dan tbuka lebar dapat diikuti semua pihak.
2. Penggunaan media online dan tes online masih perlu diperbaiki, terutama kesiapan dari penyelenggara pihak ketiga atau vendor.
3. Proses yang cukup lama dari pengumuman hpenerimaan hingga tahap akhir sejak Oktober 2010 hingga Agustus 2011 (10 bulan) sangat menyita energi.
4. Pengumuman tahap akhir dengan memasukkan nomor pendaftaran tidak menyiratkan keterbukaan secara menyeluruh. Belum 100% transparan.

Demikian.
Bagaimana pendapat kamu?

Sent from my iPad

Lomba Foto Bank Indonesia


Hadiah pemenang pertama 10juta!

Kriteria Lomba Foto Bank Indonesia

  1. Lomba terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya (gratis).
  2. Setiap peserta dapat menyerahkan foto cetak warna atau hitam putih hasil karya sendiri dengan ukuran sisi terpendek 20 cm dan sisi terpanjang maksimal 30 cm, jumlah foto yang diserahkan tidak dibatasi.
  3. Foto belum pernah memenangkan lomba di berbagai event sebelumnya. Panitia berhak menggugurkan pemenang apabila terbukti foto pernah menjadi pemenang dan kepada yang bersangkutan diwajibkan mengembalikan seluruh hadiahnya kepada panitia.
  4. Pada sisi belakang setiap foto agar ditempelkan kertas dengan informasi sebagai berikut:
  • judul foto
  • nama peserta dan nomor identitas (KTP/SIM)
  • nomor telp dan/atau HP
  • alamat email (jika ada)
  1.  Olah digital sewajarnya diperbolehkan, namun bukan merupakan penggabungan foto dan/atau HDR.
  2. Foto yang dikirimkan tidak diperkenankan mengandung unsur provokatif,pornografi dan SARA. Panitia berhak untuk mendiskualifikasikan file foto yang dianggap mengandung unsur-unsur tersebut.
  3. Panitia tidak bertanggung jawab terhadap adanya tuntutan pihak lain ataspenggunaan fasilitas, lokasi, model, dan obyek lainnya dalam foto yang dikirimkan.
  4. Foto diterima paling lambat 22 Agustus 2011, pukul 13.00 WIB di sekretariat panitia dengan alamat: Sdri. Evi ElizaBank Indonesia (DINT/PTLN) – Menara Sjafruddin Prawiranegara lantai 4 Jl. MH. Thamrin No.2 Jakarta Pusat 10350.Telp.021-3818294
  5. Pemenang akan diumumkan pada bulan September 2011 di website Bank Indonesiadan berbagai media komunitas fotografi. Pemenang wajib menunjukkan identitas diri yang masih berlaku dan menyerahkan file hires atau negative film.
  6. Hadiah sudah termasuk kompensasi atas penggunaan foto-foto pemenang apabilafoto tersebut digunakan untuk kepentingan Bank Indonesia. Pemenang dapatmengkomersialkan hasil karyanya kembali setelah 2 tahun dari pengumumanpemenang lomba ini.
  7.  Keputusan Dewan Juri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
  8. Dengan mengikuti lomba foto ini, peserta telah memahami dan menyetujui segalahak dan kewajibannya.
  9. Informasi lomba Sdr. Dedy Sutardi HP. 0878-76901942

Informasi ini juga dapat dilihat pada situs Bank Indonesia

(http://www.bi.go.id/web/id/Ruang+Media/Berita/lomba_foto_bi_hutri_66.htm)

Fraudonomics dot com


Selamat pagi.

Blog ini adalah merupakan pecahan dari blog kopidangdut yang terkenal itu. Saya hanya coba untuk memisahkan diri dari berbagai topik yang berkelindan di blog kopidangdut untuk secara spesifik memberikan kesempatan topik mengenai kecurangan – fraud diulas secara teliti, hati-hati dan (semoga) mendalam.

Siapa Pembaca Blog Ini 

Saya berharap pembaca merupakan bagian dari pelaku dunia finansial, terutama para petugas yang mengendalikan sistem, mengatur dan menjalankan fungsi pengawasan pada lembaga keuangan baik bank maupun non bank. Lebih spesifik lagi pengambil kebijakan dan auditor yang memiliki rutinitas untuk mengelola dan mengawasi jalannya operasional lembaga keuangan.

Bagi pembaca umum tentu saja boleh menikmati juga blog ini. Hanya saja, mungkin banyaknya istilah yang tidak populer akan sedikit menyulitkan dalam mencerna berbagai topik yang akan saya bahas. Harap maklum.

Apa Topik Diskusinya? Lanjutkan membaca “Fraudonomics dot com”