Iklan
 

Debat Kusir [Ber] Kacamata Kuda

Januari 18, 2009

 381621368_33029f0e77

 

 

Debat kusir itu mengasyikkan namun menjerumuskan. Asyik, karena kita bisa seolah-oleh duduk di depan kamera, disaksikan jutaan pemirsa, seperti layaknya komentator olah raga. Bisa mengeritik tanpa perlu pusing memberikan solusi.

 

Andaikan pun solusi dikehendaki, bisa asal comot dari pemikiran tokoh A di Koran S, tokoh U di radio I, atau jawaban dari rumusan sendiri yang tidak perlu secara ilmiah dipertanggungjawabkan metode dan sistematika berpikirnya.

 

Asal lawan debat tak berkutik, itu adalah sebuah kemenangan. Apalagi bila disaksikan oleh banyak pendengar setia. Biasanya hal ini terjadi di warung kopi, angkringan, atau warung indomi.

 

Namun, debat kusir bisa menjerumuskan. Jauh panggang dari api. Terkadang pembahasan tentang asbak, bisa diperdebatkan menjadi bagaimana bisa duren tumbuh di atas ruang tamu yang mejanya terdapat asbak. Susah. Tidak nyambung. Ndak kontekstual. Yang penting manggung!

 

Sakit memang bila kita berdebat secara elegan dengan orang bijak yang berwawasan luas. Kita bisa bertekuk lutut. Namun, banyak makna yang tak terpermanai. Banyak pengetahuan yang kita dapatkan. Ilmu yang tersedot dan masuk ke dalam jiwa raga kita.

 

Namun akan jauh lebih sakit bila kita berdebat dengan orang kerasa kepala namun sejatinya bodoh dan modal nekat. Kita hanya menghabiskan waktu, dan menjadi merugi. Mengapa? Karena tak ada apa-apa yang kita dapatkan. Tiada hikmah, yang ada malah sumpah serapah dan sampah.

 

Terkadang volume suara dalam perdepatan yang live show sangat menentukan. Diskusi jalanan yang benar-benar jalanan. Terkadang ada ekspresi melecehkan, melotot, nyengir kuda meremehkan, hingga suar menggelegar.

 

Beda juga dengan jaman masa kini, bilamana debat berlangsung hiruk pikuk di mailing list dan forum dunia maya. Tidak seperti perdebatan teman-teman Asterix yang meributkan dagangan ikan, daging  dimulai dengan tamparan dan diakhiri dengan tumpuk-tumpukkan para pendebat diiringi alunan sang musikkus Galia, mailing list atau milis biasanya perdebatan dimulai dengan pernyataan SARA, perbedaan pandangan politik, ideologi dan paling utama ya itu tadi, SARA, khususnya masalah agama. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Berbahasa dengan Good dan Right

Oktober 30, 2008

Koko

Ditulis oleh Koko diwaktu malam, diuplot di waktu siang.

Setelah ngomong tentang suku, marilah kita berbicara dengan bahasa, mumpung Sumpah Pemuda lagi anget-angetnya.

Ada yang tahu peringatan sumpah pemuda di Atmajaya? Untuk mengenangkan sebuah sumpah yang 80 tahun yang lalu, Universitas Atmajaya bekerja sama dengan Universitas Al Azhar dan Universitas Indonesia mengadakan acara 80 jam non stop memperingati Sumpah Pemuda.

Judulnya : Reborn Indonesiaku. Wadezig! <Memutar lagu Ironic – Alanis Morissette>

Tapi saya pikir lagi, mungkin reborn adalah kata yang tepat. Mungkin kalau judul acaranya “Indonesia Terlahir Kembali” dengan harga lima ribu rupiah per huruf, spanduknya menjadi cukup mahal.

Bahasa menurut saya adalah baju. Jika bajunya sudah tidak sesuai, jangan ubah badan pemakainya, namun ubahlah bajunya. Apakah bahasa Indonesia menjadi baju yang terlalu ketat dan membatasi keinginan kita untuk berekspresi?

Kata mengunduh dan mengunggah dalam konteks download dan upload, belum terdapat di KBBI Daring. Anjuran berbahasa Indonesia yang baik dan benar dengan baju yang sama sejak saya masih SD terus didengungkan, namun tetap saja semua selebritis, politikus, jurnalis, mahasiswa yang mengerjakan tugas akhir dan blogger sekalipun menyisipkan satu dua kata bahasa Inggris dalam ucapannya dan tulisannya.

Ini dilakukan semata-mata anggapan bahwa bahasa Indonesia tidak memiliki kata yang sesuai sebagai pengganti bahasa Inggris tersebut.

Jadi bolehkah memasukkan kata serapan fesyen (fashion), copas dan kupipes (copy and paste), pitalebar (bandwidth), donlot (download), uplot (upload) ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia?

Tapi saya juga mesti mengerti bahwa saya tidak cukup kapasitas untuk mengerti bahasa Indonesia. Wali Kelas waktu saya sekolah pernah bilang begini ke saya, “Ngaku-ngaku orang Indonesia, tapi kok nilai bahasa Indonesianya lebih rendah daripada nilai Bahasa Inggrisnya?”

I don’t know about that..