Iklan
 

Garuda Puasa Minum

Januari 4, 2010

eagles

burung garuda

Apa pendapat Anda?

###
Minggu, 03/01/2010 16:37 WIB
Tak Angkut Bos Freeport, Garuda Tak Diberi BBM di Timika -Indra Subagja – detikNewsJakarta –

Garuda dengan nomor penerbangan GA 652 rute Jakarta-Denpasar- Timika-Jayapura tidak diberi bahan bakar saat mendarat di Bandara Timika, Papua. Persoalannya hanya karena pilot pesawat itu menolak mengangkut rombongan bos PT Freeport dari Jayapura.

“Rombongan Presdir PT Freeport itu seharusnya naik pesawat GA 653, bukan pesawat GA 652. Kita sudah menjelaskan itu tidak memungkinkan, karena masing-masing sudah ada dokumen dan pesawat sendiri,” jelas Kepala Humas PT Garuda Indonesia, Pujobroto, saat dikonfirmasi melalui telepon, Minggu (3/1/2009).

Pujo menjelaskan, pesawat GA 652 semestinya tidak ke Jayapura, namun ke Timika, sesuai dengan rute penerbangan yakni dari Denpasar ke Timika.

“Karena cuaca di Timika tidak memungkinkan saat hendak mendarat, jadi pergi ke Jayapura lebih dahulu. Setelah cuaca baik, kemudian baru ke Timika,” terangnya.

Nah, saat di Jayapura itulah, rombongan Presdir PT Freeport menginginkan untuk ikut bersama pesawat GA 652, padahal tiket yang mereka kantongi untuk pesawat GA 653.

“Itu tidak memungkinkan, rombongan itu mempunyai dokumen sendiri. Dan tentu itu juga akan membuat delay lebih panjang,” ujar Pujo.

Pesawat yang dipiloti Kapten Manotar Napitupulu itu kemudian berangkat dengan tidak mengangkut rombongan PT Freeport. Namun kemudian, setibanya di Timika dan hendak kembali di Denpasar, mereka tidak diberi izin untuk mengisi BBM.

“Padahal Kapten Manotar sudah menjelaskan kepada pihak Bandara Timika mengenai alasan tidak diangkutnya rombongan PT Freeport. Tapi di pihak bandara tidak mengerti,” terangnya. (ndr/nrl)

###

Makin hebat khan negeri ini?
😀

Iklan

Seimbang

Mei 23, 2008

Hidup itu seperti sekotak coklat, kata emaknya Forrest Gump.

“Life’s a box of chocolates, Forrest. You never know what you’re gonna get.”

Ada juga yang bilang kalau hidup itu sekadar rehat minum. Lain lagi yang berpendapat bahwa hidup itu adalah perjuangan. Bagi saya hidup itu seperti balon. Mengkilat, menarik namun getas. Terlalu kencang bisa bahaya, terlalu lembek malah tidak menarik. Harus pas. Proporsional. Seimbang.

Bicara soal seimbang, balon itu volume udara yang terkandung di dalamnya selalu tetap, kecuali balon karbitan dan balon yang bocor. Bila kita pencet satu sisi, maka akan mengelembung di sisi lainnya. Tekan sana, muncul sini. Pletot sini, mumbul sana. Volume yang tetap, hanya bentuknya yang akan acakadut.

Sama halnya dengan permainan jungkat-jungkit anak TK. Satu naik-maka yang satu turun. Kecuali ada anak TK yang obesitas, hanya mampu menikmati jungkat-jungkit dengan lawan dua temannya lain yang berbadan ceking. Ada lawan yang sepadan. Itu yang dibutuhkan.

Merokok pun harus ada lawannya, yaitu api. Rokok tak nikmat tujuh turunan bila di ujungnya tak tersulut api, mau sampai kempot pun. Rokok rupanya perlu api, walau itu mengahabisinya. Demonstran butuh lawan yang mendengarkan. Mana ada mahasiswa yang nekat teriak-teriak hingga turun berok, bila dia berdiri menghadap laut, kecuali menurutnya ratu kidul telah menaikkan BBM semena-mena.

Bila ada kawan, maka biar hidup kita seimbang  carilah lawan. Dengan catatan lawan kita sepadan. 

Begitu pun situasi pri kehidupan manusia Indonesia, dengan segala gundah-gulananya. Bila memang harga-harga harus naik tanpa kecuali dan susah diturunkan, maka sebaiknya kita mencari sesuatu yang memang bisa diturunkan.

Maka dengan prinsip seimbang, maka kenaikan harga harus diimbangi dengan penurunan Bapak-bapak itu. Tak usah saya tunjuk siapa dia.

Makan bakso sama emak di pinggir kali
kok rasanya pedas khas sambal melayu?
Ah Bapak kalau memang minyak naik lagi
Apa boleh buat ane’ ajak Bapak turun yuk.. 
😀