Iklan
 

Hancock Tetap Tipikal Film Hollywood

Desember 10, 2009

hancock

poster film Hancock

Ada yang sudah menyaksikan film Hancock?

John Hancock, adalah tokoh dalam film tentang PR (pencitraan), percintaan dan tentu saja kepahlawanan. Baru saja saya tonton filmnya di HBO Hits. Hancock, itu judul filmya.

Hancock yang tanpa sengaja bertemu “mantan istrinya”, dan tiba-tiba seluruh kekuatan supernya hilang. Ia menjadi manusia biasa. Menjadi pemuda, menjadi lelaki, menjadi manusia yang berdarah bila tertembak.

Ada yang berbeda dari film khas hollywood lainnya. Lewat film Hancock, Peter Berg, si pembuat film ingin mencoba ramuan lain untuk menampilkan wajah baru pahlawan yang membumi. Dewa yang menjadi manusia. Namun, lagi-lagi seperti film khas hollywood lainnya, pembuat film tetap gatal untuk menjadikan super hero tetaplah super, dengan akhir cerita yang khas Amerika. Maskulin, tak terkalahkan dan berakhir bahagia.

Film Hancock tak ubahnya seperti kisah Hulk. Pahlawan tempramental yang jatuh cinta pada anak Jendral. Menjadi makhluk hijau mengerikan namun bisa dikendalikan oleh si pujaan hati.

Tentu saja konsep kepahlawanan versi Hollywood berbeda dengan kepahlawanan versi Timur seperti Jepang atau versi Prancis seperti kisah dalam film Taxi (yang sekuelnya hampir menyaingi Sinetron tersanjung itu).

Versi Jepang seperti Sailor Moon, Doraemon, atau Dash Yankuro (walau yang terakhir hanyalah film endorse produk mainan mobil-mobilan Tamiya), namun menampilkan wajah pahlawan yang berbeda dengan Hollywood. Baca entri selengkapnya »

Iklan

SeNsOR.Cut!

November 29, 2009

“Bercinta itu mengasyikkan, Dik.. Cumbu rayu tak menentu namun mendayu-dayu membuat degup jantung kita makin menggebu. Nafsu menderu. Bahkan bagiku bercinta termasuk cabang olah raga sekaligus rekreasi yang murah meriah..”.

Apakah tulisan seperti itu juga boleh disensor?

Sensor tentu saja bisa terjadi di mana saja. Terutama, yang paling mencemaskan adalah sensor atas nama negara. Buku, film, penampilan di layar kaca, program acara, dan semua hal yang dianggap mengancam dan berbahaya boleh diintervensi. Disunat. “Cekrisss… Auh, sakit!”

Terkadang sensor itu sifatnya ringan. Hanya dipotong sebagian, atau diganti namanya. Namun, untuk sensor kelas berat, total dilarang. Film dilarang ditayangkan, buku dilarang diedarkan, program acara tidak boleh diperpanjang masa tayangnya. Kolom surat kabar dihilangkan. Seperti kolom “asal-usul” harian kompas.

Sensor muncul dari perbedaan posisi tawar. Ada yang berkuasa dan di sisi lain ada yang bermohon. “Saya berkuasa, nah kamu mau apa?”

Ada sensor lainnya yang sebetulnya juga memangkas kreatifitas. Sensor ini dinamakan “kelayakan”.

Semua tulisan di surat kabar, baik kolom maupun pendapat sudah mengalami sensor ringan yang disebut layak dan tidak layak. Ini wajar. Surat kabar punya argumentasi bahwa kualitas tulisan mempengaruhi bobot dan kredibilitas surat kabar di mata pembaca.

Begitu juga dalam dunia hiburan misalnya panggung hiburan, tayangan sinetron, album musik, dan film.

Hanya saja uji kelayakan yang tidak tepat dan cenderung berbahaya adalah atas nama “pasar”.

“Ini kurang komersil”. “Lagu kamu bakal tidak populer”. “Tulisan kamu terlalu nyastra, bikin pusing kepala”. Sensor jenis ini justru akan membelenggu para pembuat karya.

Semuanya akan diawali dengan perhitungan laba-rugi. Populer atau gagal. Rugi bandar atau membikin kita tajir melintir.
Untunglah manusia kreatif ada dan makin banyak yang berpegang teguh pada kemurnian karya. Pada kemerdekaan berpendapat. Namun, tetap dengan rasa tanggung jawab dalam karya-karyanya.

Muncul kemudian apa yang dinamakan blog, band indie, penerbit buku rumahan, forum komunitas internet, milis dengan moderasi ringan.

Dengan adanya berbagai kanal media sebagai alternatif pengejawantahan karya, maka budaya manusia akan terus berkesinambungan. Semua tercatat, semua berpendapat.

Tentu saja arus informasi yang deras, karya kreatif yang membanjir, program acara televisi yang bertubi-tubi akan membawa dampak. Manfaat atau tidak bermanfaat. Damai atau membawa kekacauan.

Tapi bukankah itu asyiknya kehidupan dunia. Terus bergerak, berkecamuk, mengalir, membludak, adil-tidak adil, jahat-baik, kreatif atau menjiplak, untung atau rugi, sementara atau abadi.

Minimal, manusia menemukan jati dirinya, baik sebagai individu, maupun saling berinteraksi dengan individu lainnya, tanpa cemas, tanpa otak, lidah atau tangan yang kelu.

Karena sensor laksana salju. Dingin-dingin empuk yang dapat mematikan! 😀

Indonesia, 10:52:00 AM, Sun, Nov 29, 2009


Antara Anggun, Piyu, Kua Etnika dan Mulan Jameela

Juni 30, 2008

Knowledge Economy
Ekonomi berbasis pengetahuan. Sumber penghidupan yang berasal dari kemampuan mengolah gagasan, kesadaran, keterampilan dan kreativitas, budaya suatu individu maupun komunitas.

Sejatinya, gagasan ekonomi sebagai suatu idea, sebagai satu sikap dan sebagai suatu gaya hidup adalah bukan hal baru bagi manusia Indonesia.

Berangkat dari kelompok manusia proto melayu. Meluruh dan saling melengkapi ketika menetap di gugusan nusantara. Manusia-manusia tangguh yang hidup berburu. Perkakas-perkakas diciptakan. Lalu masa berburu tergantikan dengan kebiasaan menetap lebih lama. Bercocok tanam mulai dilakukan. Terciptalah berbagai alat rumah tangga hingga perhiasan yang tercipta di masa perundagian.

Konon katanya baru di abad keempat salah satu kelompok kecil manusia nusantara sudah masuk dalam masa sejarah. Penandaan dari baca tulis. Engkau baca-engkau tulis. Aku baca dan aku tulis. Engkau baca kembali dan engkau tulis lagi. Maka menjelmalah kita menjadi manusia sejarah. Manusia segala zaman yang akan terus terkenang. Baca entri selengkapnya »


PERANAN MAHASISWA SEBAGAI INTELIGENSIA

Mei 31, 2008

KONSEP CENDEKIAWAN, KEKUASAAN, DAN POLITIK MASYARAKAT JAWA

Saya membuka jendela. Kulihat dunia. Jendela dunia. Prisma. Dengan judul besar “Cendekiawan dan Politik”. Terbitan LP3ES. Lalu saya tiba-tiba pusing. Terlelap. Bermimpi.

ZAAAAP…

Dalam mimpi saya bertemu perempuan cantik. Saya raih ia. ZAAAAP. Tiba-tiba menghilang..! Muncul asap putih. Dari baunya ini bukan asap djiesamsoe yang saya suka. Asap berangsur menghilang dan di hadapan hadir seseorang yang pernah saya kenal wajahnya. Mirip Gie. Ya! Gie yang saya lihat di film Riri Riza. Oh bukan! Ia kakak Gie. Soe Hok Djin. Arief Budiman..! Saya sapa ia.

Halo Bung Arief

Yap.

Boleh saya tanya-tanya Anda? Baca entri selengkapnya »