Iklan
 

Ihwal Kantuk dan Lelap

Mei 26, 2008

Ketika Kumbakarna akhirnya memutuskan tetap membela Alengka, maka itu adalah perwujudan kebangkitannya dalam menunjukkan rasa patriotisme dan cinta cinta tanah airnya.

 

Namun, yang perlu dicatat adalah kebangkitannya pun bermakna lahiriah, karena sebelum berperang melawan Rama dan pasukan bedhesnya, Bung Kumba memang sedang tertidur lelap dan lelapnya hingga berbulan-bulan.

 

Utusan Rahwana membangunkan Kumbakarna dengan menggiring gajah agar menginjak-injak badannya serta menusuk badannya dengan tombak, kemudian saat mata Kumbakarna mulai terbuka, utusannya segera mendekatkan makanan ke hidung Kumbakarna. Setelah menyantap makanan yang dihidangkan, Kumbakarna benar-benar terbangun dari tidurnya. 

 

Setelah bangun, Kumbakarna menghadap Rahwana. Ia mencoba menasihati Rahwana agar mengembalikan Sita dan menjelaskan bahwa tindakan yang dilakukan kakaknya itu adalah salah. Rahwana sedih mendengar nasihat tersebut sehingga membuat Kumbakarna tersentuh. Tanpa sikap bermusuhan dengan Rama, Kumbakarna maju ke medan perang untuk menunaikan kewajiban sebagai pembela negara.

 

Dalam petikan wiracarita tersebut  termaktub bahwasanya sehabis tidur panjang, Bung Kumba, menasehati Rahwana tentang perlunya segera menyerahkan Dewi Sinta. Biar sumber masalah selesai. Tak ada perang. Tak ada yang terluka. Mungkin, ia pun tak perlu repot-repot memeras keringat untuk maju ke medan laga dan meneruskan tidurnya.

 

Tidur. Kantuk. Mengantuk. Kebutuhan lahiriah dan perwujudan betapa lemahnya makhluk Tuhan. Apakah ada yang sanggup tak tidur selama berminggu-minggu, Bung?

Baca entri selengkapnya »

Iklan