Iklan
 

Bank Indonesia di Persimpangan Jalan

Juli 4, 2011

Saya kerja di Bank Indonesia. Gede, sayang enggak ada ATM-nya. 🙂

Persimpangan jalan? Iya, karena BI akan disunat dengan melepaskan kewenangan pengawasan perbankan yang siap-siap dilebur bersama Bapepam-LK untuk mengawasi lembaga keuangan bank dan non bank, yang meliputi industri asuransi, bank, pasar modal, hingga pasar becek semacam perusahaan leasing.

Central Banker yang akan Menjadi Ojekers.

Bagi saya, status central banker begitu membanggakan. Central Banker itu bergengsi. Apa buktinya? ya buktinya saya, yang merasa (terlalu) bangga dengan ke-central banker-an saya. Sayang-seribu sayang status ini harus dilepas. Pengawas bank diharapkan bergabung dengan OJK, otoritas jasa keuangan. Siapa yang mau?

Saya? tidak mau.

Ada yang bilang Bank Indonesia itu negara dalam negara, terlalu pongah dengan menerbitkan uang yang beredar, mengatur laju inflasi, mengatur kestabilan rupiah, juga ngurusi sistem pembayaran, dan terakhir ngurusi bank. Kebanyakkan!

Ah, siapa bilang.

Jika ada bank kolaps, apa iya masalah ditimpakan pada pengawas? tentu tidak!

Pihak yang paling bertanggung jawab atas kelangsungan hidup bank adalah seluruh pengurus bank itu sendiri. mereka harus mati-matian menjaga kelangsungan usaha. Buat siapa?

Buat MASYARAKAT dong! yang rela menyisihkan uangnya untuk ditabung alih alih buat foya-foya. Uang itu lah yang selanjutnya diputar bank untuk investasi dalam bentuk kredit dan surat-surat berharga.

Bank yang benar yaitu bank yang amanah, yang tidak lupa kucing akan kumisnya. Tahu bahwa uangnya adalah hasil jerih payah masyarakat. Tahu kalau uang itu adalah uang yang harus dikembalikan saat pemilik membutuhkan. Jadi, bank harus menjadi penjaga amanah yang baik. Jika ada yang beranggapan bahwa bank berguna untuk menyalurkan kredit, tidak sepenuhnya benar. Toh, renternir pun boleh memberikan kredit.

Bank menjadi istimewa karena ia boleh menghimpun dana masyarakat.

__

Kembali ke masalah OJK. Siapa yang akan percaya pada OJK jika lembaga itu tidak jelas juntrungannya mau berjenis kelamin apa? Lelaki, waria, atau nenek nenek setengah tua?

Tarik ulur kepentingan, menjadi pangkal-ujung-pangkal-badan-ujung dan  mbuhlah *ruwet*

Otoritas Jasa Keuangan katanya dipicu oleh kegagalan Bank Indonesia dalam menata industri perbankan. Siapa bilang? Lantas mengapa Pemerintah juga ngebet banget ingin ikut dalam proses penerbitan uang rupiah? dipicu oleh apa?

Apa ndak sekalian aja fungsi “lender of the last resort” diambil pemerintah. Eh tunggu dulu pemerintah yang mana ya? Apakah bisa dibuktikan saat ini kita memiliki pemerintah, misalnya lembaga eksekutif dan legislatif yang eksis dan dihayati benar oleh warga? saya rasa tidak, dan saya semakin ragu soal ini. :p

Urusan bank itu urusan rumit namun juga mudah. Asal kompeten dan berintegritas, semuanya lancar. Sayangnya bank banyak dihuni para banker yang “greedy”, mau gampang kaya, mau terkenal, mau ikut mencicipi tampuk kekuasaan, misalnya dari Dirut jadi Menkeu lah gitu. 🙂

Bank jika dihuni para petualang yang semuanya serba numpang, ya susah deh. Bank yang benar-benar menjalankan proses intermediasi dengan menyalurkan secara konsekwen dana masyarakat untuk kepentingan masyarakat? emang ada?

Saya jadi bertanya-tanya, sebetulnya pemerintah ingin mengubah konstelasi industri perbankan dan sistem stabilitas keuangan itu atas desakan siapa?

Untuk apa sesuatu yang sedang tumbuh berjalan sesuai dengan rel-nya harus dikulik dan diutak-atik demi kepentingan sesaat.

Sesaat? iya sesaat dan sesat!

Banyak bank hanya menjadi korban mesin politik memperebutkan kue durjana bernama kekuasaan. Bank Bali, Bank century, bank global, dan bank-bank lainnya selalu bermasalah manakala pemilihan umum akan dilangsungkan.

__

Ada baiknya Bank Indonesia juga berbenah diri. Jangan terlalu asik bermasturbasi dengan teori-teori tak membumi yang diimpor dari swiss sana. Juga dengan banyakanya orang pinter yang mau sekolah, padahal cuma cari uang saku tambahan dan enak mengenyam pendidikan luar negeri. Bank Indonesia harus bekerja. Jangan hanya numpang hidup. Jadi assets dan hindari bersikap malas yang menjadikannya liabilities.

Apakah pegawai Bank Indonesia baik-baik semua? Tegas saya jawab tidak!

Namun saya yakin dan percaya, bahwa itupun sudah sangat baik dibandingkan dengan institusi lainnya yang warnanya serba abu-abu. Bukan berarti suka korupsi, tapi kekembungan menenggak minuman penuh konspirasi. (opo tho iki?).

Selamat malam,

Jika tersinggung jangan diambil hati. Cukup diambil hikmahnya saja.

Hihihihi..

Iklan

Pelatihan Kopidangdut

Juli 4, 2011

Jika kamu karyawan perusahaan, maka biasanya secara periodik kamu akan diminta untuk mengikuti pelatihan. Betul?

Lucunya, pelatihan biasanya diikuti oleh karyawan yang jarang bekerja, spesialisasi pelatihan, banyak waktu luang dan itu-itu saja. Betul?

Bagi karyawan yang hobi kerja, pelatihan sulit dilakukan mengingat pekerjaan rutin yang terus bergiliran duduk manis menunggu antrian. Maka, jatuhnya pelatihan itu pada karyawan santai yang memang waktu senggangnya itu melebihi waktu kerjanya. Betul?

__

Padahal pelatihan bagi perusahaan yang bagus, akan masuk dalam KPI. Biasanya sih masuk dalam kolom continuous learing, termasuk di dalamnya coaching and counseling, juga training.

Misalnya saya, sebagai pengawas atau auditor. maka waktu yang tersita banyak dilakukan di “lapangan”. Mirip wartawan, bekerja sebagai reporter akan banyak dihabiskan mencari sumber berita primer atau narasumber. Nah, sebagai auditor, bagaimana mungkin diminta pelatihan yang panjangnya 2 minggu, lokasi dalam kota dan di saat jam kerja. Mimpi kali yeee?

Anehnya, SDM akan cuek beibeh. Mereka pun dikejar target KPI dalam pemenuhan pelaksanaan KPI-nya sendiri untuk memberikan pelatihan kepada masing-masing karyawan.

Idealnya SDM mendata dan menelaah, adanya kesenjangan kompetensi dan beban tugas jabatan. Jika masih banyak hal yang kurang pada diri karyawan, mbok yao itu karyawan diberi pelatihan dan pemenuhan kompetensi. Terserah bentuknya, bisa kursus singkat, program magang, ikut seminar, pelatihan terpusat, dan lain-lainnya.

Namun kenyataannya terkadang gap atau kesenjangan kompetensi memang didata dan ditelaah, sayangnya pada saat gilirannya, program pelatihan yang cocok bagi karyawan tersebut tidak terlaksana karena si karyawan tidak dapat meninggalkan pekerjaan rutin sehari-hari.

Akhirnya, karyawan yang sedang main soliter, sibuk bbm, haha hihi ngetwit, yang bakalan ketiban duren runtuh untuk berangkat pelatihan. Karyawan rajin? kerja mulu…

Betul?