Iklan
 

SeNsOR.Cut!

November 29, 2009

“Bercinta itu mengasyikkan, Dik.. Cumbu rayu tak menentu namun mendayu-dayu membuat degup jantung kita makin menggebu. Nafsu menderu. Bahkan bagiku bercinta termasuk cabang olah raga sekaligus rekreasi yang murah meriah..”.

Apakah tulisan seperti itu juga boleh disensor?

Sensor tentu saja bisa terjadi di mana saja. Terutama, yang paling mencemaskan adalah sensor atas nama negara. Buku, film, penampilan di layar kaca, program acara, dan semua hal yang dianggap mengancam dan berbahaya boleh diintervensi. Disunat. “Cekrisss… Auh, sakit!”

Terkadang sensor itu sifatnya ringan. Hanya dipotong sebagian, atau diganti namanya. Namun, untuk sensor kelas berat, total dilarang. Film dilarang ditayangkan, buku dilarang diedarkan, program acara tidak boleh diperpanjang masa tayangnya. Kolom surat kabar dihilangkan. Seperti kolom “asal-usul” harian kompas.

Sensor muncul dari perbedaan posisi tawar. Ada yang berkuasa dan di sisi lain ada yang bermohon. “Saya berkuasa, nah kamu mau apa?”

Ada sensor lainnya yang sebetulnya juga memangkas kreatifitas. Sensor ini dinamakan “kelayakan”.

Semua tulisan di surat kabar, baik kolom maupun pendapat sudah mengalami sensor ringan yang disebut layak dan tidak layak. Ini wajar. Surat kabar punya argumentasi bahwa kualitas tulisan mempengaruhi bobot dan kredibilitas surat kabar di mata pembaca.

Begitu juga dalam dunia hiburan misalnya panggung hiburan, tayangan sinetron, album musik, dan film.

Hanya saja uji kelayakan yang tidak tepat dan cenderung berbahaya adalah atas nama “pasar”.

“Ini kurang komersil”. “Lagu kamu bakal tidak populer”. “Tulisan kamu terlalu nyastra, bikin pusing kepala”. Sensor jenis ini justru akan membelenggu para pembuat karya.

Semuanya akan diawali dengan perhitungan laba-rugi. Populer atau gagal. Rugi bandar atau membikin kita tajir melintir.
Untunglah manusia kreatif ada dan makin banyak yang berpegang teguh pada kemurnian karya. Pada kemerdekaan berpendapat. Namun, tetap dengan rasa tanggung jawab dalam karya-karyanya.

Muncul kemudian apa yang dinamakan blog, band indie, penerbit buku rumahan, forum komunitas internet, milis dengan moderasi ringan.

Dengan adanya berbagai kanal media sebagai alternatif pengejawantahan karya, maka budaya manusia akan terus berkesinambungan. Semua tercatat, semua berpendapat.

Tentu saja arus informasi yang deras, karya kreatif yang membanjir, program acara televisi yang bertubi-tubi akan membawa dampak. Manfaat atau tidak bermanfaat. Damai atau membawa kekacauan.

Tapi bukankah itu asyiknya kehidupan dunia. Terus bergerak, berkecamuk, mengalir, membludak, adil-tidak adil, jahat-baik, kreatif atau menjiplak, untung atau rugi, sementara atau abadi.

Minimal, manusia menemukan jati dirinya, baik sebagai individu, maupun saling berinteraksi dengan individu lainnya, tanpa cemas, tanpa otak, lidah atau tangan yang kelu.

Karena sensor laksana salju. Dingin-dingin empuk yang dapat mematikan! 😀

Indonesia, 10:52:00 AM, Sun, Nov 29, 2009

Iklan

Wim Tangkilisan Raja Media Baru..?

November 26, 2008

Wim Tangkilisan. Saya tahu baru sore ini nama tersebut.

 

Awalnya saya membaca koran perkenalan yang tergeletak di sudut mesin fotokopi, Jakarta Globe. Rupanya masih nomor perkenalan dengan bandrol harga Rp8500. Mahal! Mungkin karena koran edisi berbahasa inggris kali ya, dengan sasaran kaum intelektual berkantong lumayan.

 

Awalnya saya tertarik dengan “publisher”-nya yaitu Sigit Pramono, Ketua Perbanas sekaligus Mantan Presdir Bank BNI. Namun yang menarik bagi saya tentu saja Pemred-nya. Di sana tertera Wim Tangkilisan.

 

Siapakah Dia?

 

Tak dinyana rupanya ia bukan pemain baru. Hanya saya saja yang ndak tahu siapa dia. Yang saya tahu kan pemain media hanya sekelas Dahan Iskan, Jacob Oetama, Surya Paloh, Hary Tanoesoedibjo, dan Keluarga Soedarjo.

 

Lihatlah deretan media yang ia kelola: