Iklan
 

Berita di Detikcom: Hampir 80% Pegawai Bank Indonesia Menolak OJK

Desember 2, 2010

Wah apakah benar?
http://www.detikfinance.com/read/2010/12/02/170106/1507815/5/hampir-80-pegawai-bi-tolak-gabung-ojk?f9911023
tulisan dari Herdaru Purnomo – detikFinance
Jakarta – Mayoritas pegawai Bank Indonesia (BI) menyatakan penolakannya untuk bergabung dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ikatan Pegawai Bank Indonesia (IPEBI) mengungkapkan dari 473 responden pegawai BI, 76,98% menyatakan menolak bergabung dengan OJK.

“Hasil survei dengan responden sebanyak 473, dimana 61% responden-nya dari jumlah pengawas bank di Kantor Perwakilan, yang menyatakan untuk menolak bergabung di OJK sebanyak 76,98%,” ujar Ketua IPEBI, Agus Santoso kepada detikFinance di Jakarta, Kamis (02/12/2010).

Agus juga mengungkapkan, hanya sebanyak 14,3% bersedia untuk ditempatkan di OJK dan sisanya 9,89% lebih memilih untuk pensiun.

“Survei ini dilakukan sejak bulan Maret 2010,” tambahnya.

Agus menyampaikan, hasil survei ini disampaikan secara resmi kepada Tim Panitia Khusus RUU OJK DPR-RI ddalam pertemuan pagi tadi di Hotel Aryaduta, Jakarta.

“Kami IPEBI merasa datang kerumah rakyat dan mendapatkan perhatian dan kasih sayang luar biasa. Semoga harapan-harapan itu tidak saja didengar namun dapat dipahami dalam proses penyusunan bentuk koordinasi yang tepat dalam membangun kestabilan sistem keuangan nasional kita,” ungkapnya.

Agus menambahkan, menyatakan karyawan BI bukan menolak OJK namun yang ditolak adalah bila OJK disusun tidak sesuai kebutuhan.

“Dimana bila OJK disusun bukan atas dasar kebutuhan nyata yang urgensinya jelas maka kita tolak,” tukasnya.

Aspirasi Karyawan Bank Indonesia ini diterima langsung oleh Ketua Tim Pansus OJK Nusron Wahid pada pukul 09.00 sampai pukul 10.00 di Hotel Aryaduta.

Iklan

Debat Kusir [Ber] Kacamata Kuda

Januari 18, 2009

 381621368_33029f0e77

 

 

Debat kusir itu mengasyikkan namun menjerumuskan. Asyik, karena kita bisa seolah-oleh duduk di depan kamera, disaksikan jutaan pemirsa, seperti layaknya komentator olah raga. Bisa mengeritik tanpa perlu pusing memberikan solusi.

 

Andaikan pun solusi dikehendaki, bisa asal comot dari pemikiran tokoh A di Koran S, tokoh U di radio I, atau jawaban dari rumusan sendiri yang tidak perlu secara ilmiah dipertanggungjawabkan metode dan sistematika berpikirnya.

 

Asal lawan debat tak berkutik, itu adalah sebuah kemenangan. Apalagi bila disaksikan oleh banyak pendengar setia. Biasanya hal ini terjadi di warung kopi, angkringan, atau warung indomi.

 

Namun, debat kusir bisa menjerumuskan. Jauh panggang dari api. Terkadang pembahasan tentang asbak, bisa diperdebatkan menjadi bagaimana bisa duren tumbuh di atas ruang tamu yang mejanya terdapat asbak. Susah. Tidak nyambung. Ndak kontekstual. Yang penting manggung!

 

Sakit memang bila kita berdebat secara elegan dengan orang bijak yang berwawasan luas. Kita bisa bertekuk lutut. Namun, banyak makna yang tak terpermanai. Banyak pengetahuan yang kita dapatkan. Ilmu yang tersedot dan masuk ke dalam jiwa raga kita.

 

Namun akan jauh lebih sakit bila kita berdebat dengan orang kerasa kepala namun sejatinya bodoh dan modal nekat. Kita hanya menghabiskan waktu, dan menjadi merugi. Mengapa? Karena tak ada apa-apa yang kita dapatkan. Tiada hikmah, yang ada malah sumpah serapah dan sampah.

 

Terkadang volume suara dalam perdepatan yang live show sangat menentukan. Diskusi jalanan yang benar-benar jalanan. Terkadang ada ekspresi melecehkan, melotot, nyengir kuda meremehkan, hingga suar menggelegar.

 

Beda juga dengan jaman masa kini, bilamana debat berlangsung hiruk pikuk di mailing list dan forum dunia maya. Tidak seperti perdebatan teman-teman Asterix yang meributkan dagangan ikan, daging  dimulai dengan tamparan dan diakhiri dengan tumpuk-tumpukkan para pendebat diiringi alunan sang musikkus Galia, mailing list atau milis biasanya perdebatan dimulai dengan pernyataan SARA, perbedaan pandangan politik, ideologi dan paling utama ya itu tadi, SARA, khususnya masalah agama. Baca entri selengkapnya »