Iklan
 

Berani Kopidangdut

Juli 4, 2011

Jadilah pemberani.

Berani tidak ada batasnya seperti kejujuran. Karena jalan lurus takkan berujung. Berani dan jujur butuh energi sangat tinggi.

Jadilah penjilat.

Jadi penjilat itu enak, membual sedikit, rendahkan diri dan buat senang orang lain, maka kamu layak mendapat apa yang kamu inginkan. Mirip kamu ngambil jalan pintas saat berkendara. Saat selamat kamu merasa benar, padahal kamu melanggar peraturan dan menyebabkan banyak pengendara lain kerepotan. JIka kamu mau jadi penjilat silakan. Toh kesuksesan, kegagalan, semua ada di pundak kamu. Tuhan akan membiarkan. Kecuali kamu disyanag, belum apa-apa sudah ditegur dengan berbagai cobaan.

Jadilah orang jujur.

Honesty is the best solution.

Jika kamu sudah mentok, maka ambil jalan kejujuran saja. Dimarahi ya enggak papa. itu memang risiko yang akhirnya ditanggung. Tapi hati kamu tetap semulia intan. Kamu akan selamat secara batin. Kamu orang merdeka sesuai dengan cita-cita Bapak Bangsa.

Jangan malu dengan kenyataan. Jadilah manusia apa adanya. Jika kamu bercita-cita jadi dewa ya silakan. Bicara yang mengawang-awang. Bicara mengenai hal-hal mulia tanpa kerja nyata.

Berani. Berani dan berani.

Hidup sekali, lalu mati.

Jadi suami harus berani. Jadi lelaki harus berani. Jadi karyawan harus berani. Jadi buruh harus berani. Jadi bos apalagi. Jadi pemimpin apalagi.

Khusus bagi kamu yang merasa memimpin sesuatu, apalagi sebuah negeri yang seharusnya gemah ripah loh jinawi cuma ada satu kalimat:

“Berani atau banci”..

Iklan

Bank Indonesia di Persimpangan Jalan

Juli 4, 2011

Saya kerja di Bank Indonesia. Gede, sayang enggak ada ATM-nya. 🙂

Persimpangan jalan? Iya, karena BI akan disunat dengan melepaskan kewenangan pengawasan perbankan yang siap-siap dilebur bersama Bapepam-LK untuk mengawasi lembaga keuangan bank dan non bank, yang meliputi industri asuransi, bank, pasar modal, hingga pasar becek semacam perusahaan leasing.

Central Banker yang akan Menjadi Ojekers.

Bagi saya, status central banker begitu membanggakan. Central Banker itu bergengsi. Apa buktinya? ya buktinya saya, yang merasa (terlalu) bangga dengan ke-central banker-an saya. Sayang-seribu sayang status ini harus dilepas. Pengawas bank diharapkan bergabung dengan OJK, otoritas jasa keuangan. Siapa yang mau?

Saya? tidak mau.

Ada yang bilang Bank Indonesia itu negara dalam negara, terlalu pongah dengan menerbitkan uang yang beredar, mengatur laju inflasi, mengatur kestabilan rupiah, juga ngurusi sistem pembayaran, dan terakhir ngurusi bank. Kebanyakkan!

Ah, siapa bilang.

Jika ada bank kolaps, apa iya masalah ditimpakan pada pengawas? tentu tidak!

Pihak yang paling bertanggung jawab atas kelangsungan hidup bank adalah seluruh pengurus bank itu sendiri. mereka harus mati-matian menjaga kelangsungan usaha. Buat siapa?

Buat MASYARAKAT dong! yang rela menyisihkan uangnya untuk ditabung alih alih buat foya-foya. Uang itu lah yang selanjutnya diputar bank untuk investasi dalam bentuk kredit dan surat-surat berharga.

Bank yang benar yaitu bank yang amanah, yang tidak lupa kucing akan kumisnya. Tahu bahwa uangnya adalah hasil jerih payah masyarakat. Tahu kalau uang itu adalah uang yang harus dikembalikan saat pemilik membutuhkan. Jadi, bank harus menjadi penjaga amanah yang baik. Jika ada yang beranggapan bahwa bank berguna untuk menyalurkan kredit, tidak sepenuhnya benar. Toh, renternir pun boleh memberikan kredit.

Bank menjadi istimewa karena ia boleh menghimpun dana masyarakat.

__

Kembali ke masalah OJK. Siapa yang akan percaya pada OJK jika lembaga itu tidak jelas juntrungannya mau berjenis kelamin apa? Lelaki, waria, atau nenek nenek setengah tua?

Tarik ulur kepentingan, menjadi pangkal-ujung-pangkal-badan-ujung dan  mbuhlah *ruwet*

Otoritas Jasa Keuangan katanya dipicu oleh kegagalan Bank Indonesia dalam menata industri perbankan. Siapa bilang? Lantas mengapa Pemerintah juga ngebet banget ingin ikut dalam proses penerbitan uang rupiah? dipicu oleh apa?

Apa ndak sekalian aja fungsi “lender of the last resort” diambil pemerintah. Eh tunggu dulu pemerintah yang mana ya? Apakah bisa dibuktikan saat ini kita memiliki pemerintah, misalnya lembaga eksekutif dan legislatif yang eksis dan dihayati benar oleh warga? saya rasa tidak, dan saya semakin ragu soal ini. :p

Urusan bank itu urusan rumit namun juga mudah. Asal kompeten dan berintegritas, semuanya lancar. Sayangnya bank banyak dihuni para banker yang “greedy”, mau gampang kaya, mau terkenal, mau ikut mencicipi tampuk kekuasaan, misalnya dari Dirut jadi Menkeu lah gitu. 🙂

Bank jika dihuni para petualang yang semuanya serba numpang, ya susah deh. Bank yang benar-benar menjalankan proses intermediasi dengan menyalurkan secara konsekwen dana masyarakat untuk kepentingan masyarakat? emang ada?

Saya jadi bertanya-tanya, sebetulnya pemerintah ingin mengubah konstelasi industri perbankan dan sistem stabilitas keuangan itu atas desakan siapa?

Untuk apa sesuatu yang sedang tumbuh berjalan sesuai dengan rel-nya harus dikulik dan diutak-atik demi kepentingan sesaat.

Sesaat? iya sesaat dan sesat!

Banyak bank hanya menjadi korban mesin politik memperebutkan kue durjana bernama kekuasaan. Bank Bali, Bank century, bank global, dan bank-bank lainnya selalu bermasalah manakala pemilihan umum akan dilangsungkan.

__

Ada baiknya Bank Indonesia juga berbenah diri. Jangan terlalu asik bermasturbasi dengan teori-teori tak membumi yang diimpor dari swiss sana. Juga dengan banyakanya orang pinter yang mau sekolah, padahal cuma cari uang saku tambahan dan enak mengenyam pendidikan luar negeri. Bank Indonesia harus bekerja. Jangan hanya numpang hidup. Jadi assets dan hindari bersikap malas yang menjadikannya liabilities.

Apakah pegawai Bank Indonesia baik-baik semua? Tegas saya jawab tidak!

Namun saya yakin dan percaya, bahwa itupun sudah sangat baik dibandingkan dengan institusi lainnya yang warnanya serba abu-abu. Bukan berarti suka korupsi, tapi kekembungan menenggak minuman penuh konspirasi. (opo tho iki?).

Selamat malam,

Jika tersinggung jangan diambil hati. Cukup diambil hikmahnya saja.

Hihihihi..


Gurita Cikeas: Sekadar Makanan Ringan Demi Keuntungan?

Desember 28, 2009

Peluncuran Buku Gurita Cikeas

Cara marketing yang ampuh supaya produk cepat laku salah satunya adalah memanfaatkan momen terhadap “trending topics”.

Tentu saja, saat ini yang lagi ramai adalah urusan gurita cikeas.

George Junus Aditjondro memang ahlinya urusan mengintip kekayaan dan kehidupan penguasa.

Dulu ia mempublikasikan tetek bengek keluarga cendana. Sekarang ia berkisah tentang cikeas. Wow! Hobi yang menggiurkan. Intip, hitung, tulis, (kasih bumbu), lantas jual. Apa bedanya dengan infotainment?

Lantas bagaimana substansi dari buku itu, yang katanya sulit ditemui di toko buku? Apakah benar? Apakah fitnah? Atau kah penuh bumbu? Semi-benar (opo iki?)..? Ah, sebelumnya boleh saja kita bertanya: “Apa perlu?”.

Bagi saya ini 100% bermotifkan materialistik alias jualan buku.

Mengapa? Baca entri selengkapnya »


Seperti Apakah Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum itu?

November 24, 2009

SBY dalam pidatonya, Senin malam, 23 November 2009:

“Khusus untuk menyukseskan gerakan Pemberantasan Mafia Hukum, saya sedang mempersiapkan untuk membentuk Satuan Tugas di bawah Unit Kerja Presiden yang selama 2 tahun kedepan akan saya tugasi untuk melakukan upaya Pemberantasan Mafia Hukum.

Saya sungguh mengharapkan dukungan dan kerja sama dari semua Lembaga Penegak Hukum, dari LSM dan Media Massa, serta dari masyarakat luas. Laporkan kepada Satgas Pemberantasan Mafia Hukum jika ada yang menjadi korban dari praktik-praktik Mafia Hukum itu, seperti pemerasan, jual-beli kasus, intimidasi dan sejenisnya.” ..

Mafia hukum. Seperti apakah mafia hukum itu? Bila kita cermati mafia hukum itu apakah ada? Apa yang mau diberantas? Orangnya atau perbuatannya?

Mengapa tidak dimulai dengan memberhentikan Susno Duadji, Abdul Hakim Ritonga, Bambang Hendarso Danuri, dan Hendarman Supandji, serta mengusut tuntas Anggodo cs.

APA SIKAP MASYARAKAT

Percayalah, bahwa kepercayaan masyarakat kepada SBY semakin luntur, walaupun sejatinya itu bukanlah yang diharapkan masyarakat Indonesia.

Logikanya sederhana. Rekomendasi Tim 8 yang ia bentuk sendiri pun tidak dilaksanakan dengan tegas melalui perintah langsung yang jelas kepada aparat penegak hukum di bawah dirinya untuk segera mengundurkan diri, atau melakukan penghentian kasus.

Untuk apalagi membuat “kue kekuasaan” baru di bawah kendali dirinya.

Tim 8 yang ada saja sudah mendapatkan reaksi antipati oleh Penegak hukum seperti Kepolisian dan Kejaksaan, lantas apa jadinya Satgas Mafia Hukum ini?

Menciptakan posisi baru? Mengalihkan perhatian? Berusaha menentramkan jiwa-jiwa yang haus rasa keadilan dengan menciptakan “gimmick” tak jelas lainnya?

Sudahlah..

Bereskan saja dengan runut permasalahan ini dengan menguraikan satu-persatu, sehingga kekusutan benangnya mulai dapat diketahui. Mana pangkal mana ujung.

KUE KEKUASAAN BARU

Apakah orang media, LSM, dan sebagian aparat penegak hukum diminta untuk menyertakan orang-orangnya dalam Satgas ini?

Apakah tidak cukup dengan memberikan tambahan kursi “wakil menteri”..?

Pembentukan satgas ini adalah pembungkaman secara halus terhadap gejolak masyarakat yang penuh dinamika aspirasi.

Dua tahun keberadaan mafia hukum justru ingin melemahkan kontrol masyarakat untuk berhadapan langsung dengan Presiden dalam menyuarakan keluh kesah rasa keadilan yang sudah babak belur tak berbentuk.

Sudahlah Bapak Presiden. Masyarakat sudah lelah untuk sekadar beradu argumentasi, berlomba menganalisis maksud pernyataan khas Bapak yang retoris dan sulit dimaknai dengan jelas, dan disuguhi macam-macam lembaga karbitan.

Ada baiknya dengarkan apa yang mereka keluhkan, bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap beberapa individu di lingkungan Kepolisian dan Kejaksaan sudah pada ambang batas toleransi.

Copot mereka. Jadikan pejabat-pejabat itu duta besar negara sahabat di Afrika. Minta maaf lah pada Masyarakat dan seraya dengan itu menertibkan tokoh-tokoh partai Demokrat, para sponsor dan penyumbang dana yang akan makin rakus, atas ke-GR-an mereka merasa berjasa mendanai keberhasilan pada Pemilu 2009 kemarin.

Hapus fitnah dengan bukti nyata.

Pastikan pembangunan jembatan Jawa Sumatra bukan sekadar proyek balas budi. Pastikan individu-individu pejabat nista dilengserkan dengan penuh keyakinan, bahwasanya:

“Orang terbaik Bangsa masih banyak yang dapat bicara, mengapa harus mempertahankan sumber daya mafia yang ada..?”

Jadikan kepemimpinan Anda di periode kedua, adalah masa keemasan Bangsa Indonesia menuju masyarakat berpendidikan yang unggul dan sejajar dengan warga negara dunia lainnya.

Bukan saatnya lagi kita bermain tikus dan kucing, cicak dan buaya, apalagi seakan-akan ada fitnah yang ingin mencelakakan Anda.

Semuanya semata-mata karena rasa cinta kami pada Tanah Tumpah Darah Indonesia!

Maka, urungkan niat untuk membentuk tim satgas “mafia hukum”. Karena sesungguhnya, demokrasi mungkin memang harus meminta biaya yang mahal. Namun, ketegaran jiwa, sikap ksatria, akan dicatatat sepanjang sejarah peradaban manusia.

Sekali lagi: Minta maaflah kepada rakyat, sehingga apa pun hasilnya nanti, perasaan dendam, tidak suka dan dengki perlahan-lahan luruh dalam tidur malam dengan mimpi-mimpi yang begitu indah, tanpa perlu basah..

Satgas?

Lebih baik dananya dihabiskan untuk kesejahteraan masyarakat luar Pulau Jawa.

😛

Terima kasih 🙂

Indonesia, 12:31:00 AM, Tue, Nov 24, 2009


Hikmah Cicak Buaya Dalam Iklim Keterbukaan Informasi

November 3, 2009

Pada tingkatan tertentu, sepertinya kita memang harus berbagi kesusahan. Dapat dibayangkan bila saja Bibit dan Chandra berjalan sendirian, atau Susno berkelahi tanpa teman, mungkin gak terlalu heboh dan tidak ada banyak cerita yang dapat kita ambil hikmahnya.

1. Rahasia sangat dekat dengan kebohongan, karena kerahasiaan akan memberi kesempatan pada ketidakjujuran. Berbeda dengan berksikap transparan, semua pihak tahu, maka bila ada kebohongan akan terkuak dengan cepat. Birokrasi harus terus berusaha bersikap transparan. Bukan materi atau substansi yang memang perlu ada rahasia, tapi pada “proses”.

2. Polisi perlu terus didukung masyarakat. Kekuasaan tanpa dukungan rakyat, sama saja seperti cebok pake tisu. Gak marem dan terus-menerus diikuti perasaan tidak nyaman.

3. Media makin mengambil peranan sebagai kekuatan baru. Apalagi dengan tingkat peradaban yang makin maju dan kemajuan cara berkomunikasi, dalam sekejab informasi tersebar tanpa dapat dikendalikan secara penuh. Hidup new media!

4. Opini publik makin gampang untuk dipancing, namun ya itu tadi, sulit untuk dikendalikan. Kalau untuk beberapa waktu, pengelabuan wacana hangat dengan menghembuskan berita baru yang lebih heboh dan menarik perhatian memang manjur, namun ingat. Nuarani masih ada di sini, Bung!

5. Hikmah terbesar adalah, penguasa tak lagi menganggap remeh masyarakat, terutama kelas menengah yang bekerja, dengan asumsi terdekat lebih berpendidikan, lebih kritis dan terpenting: berani mengambil sikap. Apakah kita perlu bicara substansi?

Maka coba tim pencari fakta Bibit-Chandra dibubarkan saja, dan ganti dengan Tim-tim pencari fakta berikut ini:

1. Kasus Century

2. Kasus Dana Yayasan Kepedulian apa gituh. (ane lupa) yang dewan pembina isinya terdiri dari 4 menteri yang sekarang bercokol.

3. Jangan coba berani-berani BIN dikepalai Polisi. Bakal runyam mulu ntar.

4. Mereview kasus Bank Indonesia dengan melibatkan besan.

Apalagi ya…?


Calon Kabinet Blackmagic

Juli 13, 2009

barack-obama-blackberry2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Apa perbedaan antara Barack Obama dibandingkan salah satu pemimpin kita?” Baca entri selengkapnya »


SBY itu Seperti Fernando Torres, JK itu Sama Seperti Raul Gonzales

Maret 1, 2009

torres-kb3Susilo Bambang Yudhoyono

Cuy…
Ente pada suka nongton sepak bola kan? Pastinya kenal donk ye ama Fernando Torres, Raul Gonzales, Beckham, Ronaldo atau Anelka..

Mereka pinter banget giring bola, ada juga yang jago ngumpan, ada yang jago cetak gol, tapi juga jangan lupa, mereka pun tak segan-segan menjegal kaki lawan. Gedebruk..klontang-klontang..!

Ente pastinya juga paham di mana mereka bermain. Entah di Liverpool, Madrid, Inter, Milan, MU, Chelsea, atau Arsenal.

Nah, ente juga mestinya paham, mereka punya pelatih di klub masing-masing. Ada Benitez, ada Maurinho, ada si Wenger, dan lainnya. Terkadang pelatih terlihat elegan, pandai membuat strategi namun juga seringkali terlihat arogan.

Mereka membela klub mati-matian. Sikap professional. Biar bisa ngangkat pila kejuaraan, biar ndak dipecat dan biar bisa (tetep) jadi jutawan.

“Lah hubungannya sama SBY dan JK apaan, Boy..?”

Sabar…

Ente juga tentunya suka nongton sampe pagi pan? Begadang, ditemenin kacang, kopi, kemulan sarung, atau bagi yang berduit tentu saja lebih maknyuss kalau dibarengi taruhan duit. Persis kaya kelakuan Herjunot Ali di film “Gara-gara Bola”.

Penggila bola bisa jadi termotivasi kalau timnya menang, atau setidaknya pemain idolanya mencetak gol. Syukur=-syukur malah dapet menag taruhan. Cihuy abizzzz..!

Tapi apakah kita setelahnya terus merasa seneng? Toh esok harinya, paling banter jadi obrolan pagi (hingga berbusa-busa dan beraoma jigong!) dengan teman sekantor, rekan kerja, teman kuliah atau bahan obrolan dengan calon mertua.

Seminggu kemudian?
Sudah lupa…

Begitu pun politik. Baca entri selengkapnya »


WASP

Oktober 14, 2008

Apakah isu WASP (dahulu saya menyebutnya WAP) masih berlaku bagi perjalanan politik dunia barat seperti Inggris dan Amerika? Ketika pada ujungnya yang dibutuhkan adalah sekadar White, Anglo-Saxon dan Protestan…?

Bagi ane’ itu adalah sebuah momok yang menakutkan. Ketika kemungkinan berdemokrasi pada akhirnya berujung pada pilihan tertentu dan tak ada pilihan lain.

Begitu akan sangat menarik dan mendobrak mitos WASP itu, bilamana pada akhirnya tanggal 4 November bulan depan, warga Amerika mayoritas memilih Obama dibandingkan McCain. Hal ini menunjukkan Obama, dipilih oleh warga Amerika yang rasional dan berlandaskan akal sehat untuk membangun peradaban dunia yang lebih baik, mengutamakan pertumbuhan ekonomi yang berpihak pada masyarakat kelas menengah.

Kita lihat saja bersama-sama, sejauh mana negera yang gembar-gembor meneriakkan demokrasi dapat menerapkannya sendiri.

Lha Indonesia sendiri bukannya JAMUL..?

Apaan tuh..

Jawa, Muslim, dan Lelaki..

😛

Hahaha, bukannya untuk “lelaki” sudah didobrak oleh ibu Megawati..? Dan “Jawa” sudah dibuktikan tidak berlaku oleh BJ Habibie?

Kalau “muslimnya?”

ehh…..

Emang ada yang berani..?
😆


Andaikan SBY jadi Presiden Lagi..

Oktober 12, 2008

 

Presiden SBY

Presiden SBY

Sore tadi saat menyaksikan Seputar Indonesia, beberapa lembaga survey politik menyatakan bahwa popularitas SBY untuk memimpin negeri ini masih besar. Antara 35-39 % rakyat masih menyukai dirinya untuk menjadi Presiden RI. Di urutan kedua adalah Megawati. Popularitasnya antara 20-28%. Di urutan selanjutnya tertera Wiranto, Gus Dur dan Prabowo.

 

Oke lah, bila keadaan ini terus berlanjut di saat Pemilu, apalagi bila SBY mengambil kebijakan popular seperti menurunkan harga BBM yang memang sudah semestinya, dan ia terpilih lagi, maka tentunya SBY harus lebih banyak mendengar dan melaksanakan apa yang sudah menjadi amanat baginya.

 

Plus Minus SBY

Saya kutip dari tulisan Wimar.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono adalah orang baik. Modal aslinya bagus. Tapi begitu dia menjadi tokoh besar, malah menjadi pejabat tertinggi di Indonesia, struktur modalnya menjadi tidak jelas. Kelihatannya beliau merasa berhutang pada pihak-pihak yang mendukung beliau, lepas dari baik buruknya pihak pendukung itu. Bahkan pendukung asli SBY yang sejalan dengan pikiran asli beliau banyak yang tergeser Padahal modal SBY terbesar adalah mandat kuat dari hasil Pemilihan Presiden 2004, yang membuat SBY menjadi orang yang meraih suara langsung terbanyak dalam sejarah dunia. Dengan jumlah suara jauh diatas semua saingannya dalam Pemilihan Presiden 2004, SBY tidak perlu terpengaruh oleh orang yang mendompleng pada kekuasaannya, apakah itu politisi, pejabat kabinet atau orang bisnis, apalagi orang yang merangkap ketiganya itu.

Dinilai secara obyektif, SBY punya banyak plus dalam dirinya. Karena itu dia bisa punya karir yang cukup baik dan reputasi positif. Tapi sejak menjadi Presiden, plus beliau tidak bertambah, malah minus jadi banyak. Yang paling mengecewakan adalah kelemahan beliau dalam mengambil keputusan. Kemudian kalaupun mengambil keputusan, seringkali keputusannya salah. Baca entri selengkapnya »


Pak SBY, Terima kasih Berkenan Mampir…..

Mei 27, 2008

 

 

 

 

Bapak SBY,

 

Silahkan Bapak duduk di sini. Luangkan waktu sejenak bersama saya di beranda rumah saya yang mungil dan masih ngontrak ini.

 

Bapak boleh tengok ke belakang, di ujung gang sana, selokan mampet sampah di mana-mana dan ini masih di Jakarta. Tak jauh dari Istana maupun Cikeas.

Baca entri selengkapnya »


Seimbang

Mei 23, 2008

Hidup itu seperti sekotak coklat, kata emaknya Forrest Gump.

“Life’s a box of chocolates, Forrest. You never know what you’re gonna get.”

Ada juga yang bilang kalau hidup itu sekadar rehat minum. Lain lagi yang berpendapat bahwa hidup itu adalah perjuangan. Bagi saya hidup itu seperti balon. Mengkilat, menarik namun getas. Terlalu kencang bisa bahaya, terlalu lembek malah tidak menarik. Harus pas. Proporsional. Seimbang.

Bicara soal seimbang, balon itu volume udara yang terkandung di dalamnya selalu tetap, kecuali balon karbitan dan balon yang bocor. Bila kita pencet satu sisi, maka akan mengelembung di sisi lainnya. Tekan sana, muncul sini. Pletot sini, mumbul sana. Volume yang tetap, hanya bentuknya yang akan acakadut.

Sama halnya dengan permainan jungkat-jungkit anak TK. Satu naik-maka yang satu turun. Kecuali ada anak TK yang obesitas, hanya mampu menikmati jungkat-jungkit dengan lawan dua temannya lain yang berbadan ceking. Ada lawan yang sepadan. Itu yang dibutuhkan.

Merokok pun harus ada lawannya, yaitu api. Rokok tak nikmat tujuh turunan bila di ujungnya tak tersulut api, mau sampai kempot pun. Rokok rupanya perlu api, walau itu mengahabisinya. Demonstran butuh lawan yang mendengarkan. Mana ada mahasiswa yang nekat teriak-teriak hingga turun berok, bila dia berdiri menghadap laut, kecuali menurutnya ratu kidul telah menaikkan BBM semena-mena.

Bila ada kawan, maka biar hidup kita seimbang  carilah lawan. Dengan catatan lawan kita sepadan. 

Begitu pun situasi pri kehidupan manusia Indonesia, dengan segala gundah-gulananya. Bila memang harga-harga harus naik tanpa kecuali dan susah diturunkan, maka sebaiknya kita mencari sesuatu yang memang bisa diturunkan.

Maka dengan prinsip seimbang, maka kenaikan harga harus diimbangi dengan penurunan Bapak-bapak itu. Tak usah saya tunjuk siapa dia.

Makan bakso sama emak di pinggir kali
kok rasanya pedas khas sambal melayu?
Ah Bapak kalau memang minyak naik lagi
Apa boleh buat ane’ ajak Bapak turun yuk.. 
😀